Mempelai Pengganti Tuan Muda

Mempelai Pengganti Tuan Muda
Ancaman untuk Fabian


__ADS_3

"Apa yang kamu lakukan di sini heh...!" suara Fabian menggelegar dari semua sudut kamarnya.


Sepulang kerja, dia marah-marah pada Syanum yang sekarang sedang berada di kamarnya.


"A-aku... cu-cuma mau mengganti seprei aja, Tuan muda." Mentari tergagap karena saking takutnya mendapatkan bentakan dari suaminya.


"Mengganti seprei? siapa yang menyuruhmu heh...!"


"Tidak ada. Ta- tapi... ini kan sudah waktunya di ganti Tuan muda."


"Di ganti? aku nggak nyuruh kamu ganti seprei aku Syanum. Aku cuma mau Mbak Asih yang mengganti seprei aku."


"Tapi, biasanya juga aku kan yang menggantinya Tuan muda."


"Tapi sekarang kamu nggak boleh mengganti seprei kamarku. Apa lagi masuk-masuk kamar aku."


Syanum semakin bingung. Apa sebenarnya mau suaminya itu. Dulu dia juga tidak pernah melarang Syanum untuk membereskan dan membersihkan kamarnya. Tapi sekarang dia melarang Syanum untuk masuk ke dalam kamarnya.


"Ma, di atas itu seperti suara Fabian. Fabian lagi marah-marah sama siapa?" Pak Damar dan Bu Reva hanya bisa saling menatap.


"Nggak tahu Pa. Coba sana papa cek. Apa yang sedang terjadi di kamar Fabian."


"Iya Ma. Papa akan cek sekarang."


Pak Damar kemudian naik ke atas. Dia melangkah ke arah kamar anaknya.


"E..e...e...eh... apa-apaan ini Fabian. Kenapa kamu teriak-teriak? Dila dan Dimas masih sakit. Kamu malah teriak-teriak di sini.Kamu tahu nggak sih, mereka bisa terganggu dengar suara kamu Dimas."


Fabian dan Syanum menatap Pak Damar bersamaan.


"Maaf Pa. Aku sudah membuat keributan di sini. Sebenarnya aku cuma mau membereskan kamar Tuan Fabian. Tapi, aku nggak tahu, kenapa tiba-tiba saja Tuan Fabian marah-marah sama aku."


"Cukup...! papa nggak mau dengar alasan apapun dari kalian. Mulai malam ini, kalian tidak boleh tidur terpisah. Kalian harus tidur satu kamar. Mengerti...!"


"Apa...!" Syanum dan Fabian saling menatap. Mereka terkejut saat mendengar ucapan Pak Damar.


"Dan satu hal lagi Syanum. Jangan pernah panggil Fabian dengan sebutan Tuan lagi. Panggil di Mas...! Karena kalian itu suami istri. Bukan pembantu dan majikan lagi. Mengerti kalian...!"


"Ta-tapi Pa," ucap Fabian.


"Nggak ada tapi-tapian Fabian. Kamu harus nurut dengan aturan Papa. Kalau kamu nggak mau nurut, keluar aja kamu dari rumah ini! dan papa akan cabut semua fasilitas yang sudah papa berikan padamu."

__ADS_1


Fabian diam. Dia benar-benar kesal dengan ayahnya. Setega itu ayahnya sama Fabian. Dia akan mengusir Fabian dari rumahnya sendiri jika Fabian tidak mau menurut dengannya.


'Apa-apaan ini papa. Kenapa sekarang dia jadi jahat begini sama aku. Masak aku di paksa untuk satu kamar dengan Syanum. Dan kenapa juga papa harus ngancam aku segala.'


"Terserah papa mau bilang apa. Aku udah nggak perduli...!" Fabian buru-buru pergi meninggalkan kamarnya.


Syanum sejak tadi masih menundukkan kepalanya. Dia merasa bersalah dengan semua ini. Dia merasa kalau dialah yang sudah menjadi penyebab bertengkarnya Fabian dan Pak Damar.


"Maafkan aku Pa. Gara-gara aku Tuan Fabian pergi."


"Tuan? jangan panggil Tuan. Dia bukan majikan kamu. Panggil saja dia Mas, atau Bang."


Syanum hanya mengangguk. Setelah itu dia berpamitan untuk ke luar dari kamar.


"Aku ke dapur dulu Pa."


"Mau ngapain ke dapur? tempat kamu itu sekarang bukan di dapur Syanum. Mulai sekarang, ini kamar kamu. Dan kamu bawa baju-baju kamu ke sini. Atau nanti, saya akan minta Mbak Asih untuk bantuin kamu beres-beres. Ngerti kamu Syanum?"


Syanum mengangguk


"Dan Fabian, biarkan saja dia pergi. Sebentar lagi, dia juga pasti akan kembali kok."


"Iya Pa."


"Syanum. Sini Mbak bantuin kamu untuk beresin baju-baju kamu," ucap Mbak Asih.


Mbak Asih kemudian melangkah masuk ke dalam kamar Syanum. Dia membantu Syanum untuk membereskan baju-baju Syanum.


"Kamu yakin, akan pindah ke kamar Tuan muda?" tanya Mbak Asih.


Syanum mengangguk.


"Iya. Tuan Damar yang menyuruh saya untuk memindahkan semua baju-baju saya ke kamar Tuan muda."


"Oh. Tapi, memang harus seperti itu sih."


"Tapi, Tuan muda ngambek. Dia pergi dari rumah Mbak Asih. Dan aku juga nggak tahu dia pergi ke mana."


"Sudah. Nggak usah fikirkan laki-laki seperti dia. Kamu fikirkan diri kamu sendiri aja. Sekarang kamu sudah menjadi wanita yang paling beruntung, karena bisa mendapatkan kamar mewah seperti kamar Tuan muda. Dan kamu bisa tidur pakai AC, pakai selimut tebal, dan nggak usah fikirkan tentang Tuan muda. Dia memang lelaki egois."


"Iya Mbak. Makasih banyak ya."

__ADS_1


Setelah Mbak Asih dan Syanum memasukan semua barang-barang itu ke dalam tas, mereka kemudian melangkah untuk naik ke atas. Tempat kamar Fabian berada. Sebelum sampai ke tangga, Bu Reva menghampiri Syanum dan Mbak Asih.


"Kalian mau ke mana? kok bawa-bawa tas begitu? mau pulang kampung?" tanya Bu Reva, yang sama sekali tidak tahu kalau malam ini, Syanum akan pindah tidur di kamar Fabian.


"Ini. Non Syanum. Dia di suruh Tuan Damar untuk pindah ke atas. Ke kamarnya Tuan muda."


"Lho. Bukannya kamu dan Fabian setiap hari sudah tidur satu kamar ya?"


"Nggak Nyonya. Semenjak Non Syanum menikah, Non Syanum selalu tidur di belakang. Di samping kamar saya. Dia belum pernah tidur dengan suaminya. Saya juga kasihan sama Non Syanum. Dia itu kan pengantin baru. Masak harus tidur di belakang sih."


Bu Reva menepuk keningnya.


"Kenapa kamu nggak bilang Mbak Asih. Seharusnya kamu bilang sama saya. Biar saya yang akan marahi Fabian kalau dia tidak mau tidur dengan Syanum."


"Ma, aku mau minta izin untuk tidur di kamar Tuan muda."


"Iya Syanum. Sudah seharusnya kamu tidur bersama suamimu. Walaupun seperti apa sikap anak saya, kamu harus bisa memakluminya ya. Dia memang anak yang keras kepala dan susah untuk di atur."


Syanum mengangguk. "Iya Ma. Nggak apa-apa kok. Aku ke atas dulu ya sama Mba Asih."


Bu Reva hanya mengangguk.


Mbak Asih dan Syanum kemudian melangkah menaiki tangga, dan melangkah menuju ke kamar mewah Fabian.


Ceklek.


Syanum membuka pintu kamar suaminya. Setelah itu, dia dan Mbak Asih masuk ke dalam. Mbak Asih membantu Syanum untuk mengepaki baju-baju Syanum ke dalam lemari Fabian.


Setelah semua beres, kamar Fabian sudah rapi dan bersih, Mbak Asih menatap Syanum.


"Nah, udah beres kan Non. Malam ini, Non bisa tidur nyenyak. Syukur-syukur, Tuan muda mau ngajakin Non malam pertama. hi..hi..hi.."


Syanum diam. Pipinya merona merah. Dia sebenernya malu, jika harus di singgung malam pertama.


"Mbak bicara apaan sih. Malam pertama apaan sih." Syanum tersenyum malu-malu.


"Ya udah. Mbak mau ke dapur. Mbak belum selesai beres-beres dapurnya. Sebentar lagi juga mau makan malam. Mbak mau menyiapkan makan malam dulu untuk kalian semua."


"Iya Mbak. Maksud banyak ya, udah mau bantuin aku beres-beres dan bersihin kamar ini."


"Iya. Sama-sama Non. Selamat beristirahat ya Non. Mbak tinggal dulu."

__ADS_1


Syanum mengangguk. Setelah itu, Mbak Asih pun pergi meninggalkan kamar Fabian dan melangkah menuju ke dapur.


__ADS_2