Mempelai Pengganti Tuan Muda

Mempelai Pengganti Tuan Muda
Kedatangan Bu Reva dan Luna


__ADS_3

Pagi-pagi sekali, Luna sudah sampai di depan rumah Bu Reva. Luna ke luar dari mobilnya dan buru-buru melangkah masuk ke dalam rumah Bu Reva.


Kedatangan Luna ke rumah tantenya, karena dia ingin menceritakan kalau kemarin dia sempat melihat Fabian bersama Mentari di rumah sakit.


Luna mengetuk pintu rumah Bu Reva. Beberapa saat kemudian, Mbak Asih membuka pintu.


"Eh, ada Non Luna. Cari siapa Non?"


"Tante Reva ada di dalam kan?" tanya Luna.


"Ada. Masuk aja Non. Dia ada di ruang tengah sekarang."


Luna mengangguk. Setelah itu dia masuk ke dalam rumah Bu Reva. Luna menuju ke ruang tengah.


"Pagi Tan..." Luna melangkah ke arah Bu Reva dan mencium punggung tangan Bu Reva. Setelah itu Luna duduk di dekat Bu Reva.


"Tumben kamu pagi-pagi gini sudah sampai. Mana Syanum? dia nggak di ajak?"


"Kak Syanum nggak mau di ajak ke sini Tan. Aku ke sini juga cuma mau bilang sesuatu yang sangat penting sama Tante."


"Sesuatu apa?" tanya Bu Reva.


"Kak Abi mana? dia udah ke kantor?"


"Itu dia Lun. Udah dua malam dia nggak tidur di rumah. Di telpon juga nomernya nggak aktif. Entah dia menghilang ke mana. Katanya kamu mau bicara penting. Soal apa?" tanya Bu Reva.


"Em, itu Tan. Kemarin kan aku ke rumah sakit. Aku melihat Kak Fabian sedang duduk berdua bersama Mentari. Ternyata mereka di sana sedang menunggui Pak Riko yang sedang sakit."


"Apa! jadi Fabian sekarang ada di rumah sakit? dia menemui Mentari di sana?" Bu Reva terkejut saat mendengar penuturan Luna.


"Iya Tan. Kemarin aku lihat Kak Fabian ada di rumah sakit. Dia lagi menemani Mentari nungguin Om Riko di sana," Luna memperjelas ucapannya.


"Fabian benar-benar keterlaluan. Tante kan sudah bilang Lun sama dia. Kalau dia jangan pernah temui wanita itu lagi. Tapi nyatanya, dia malah bela-belain nggak pulang nungguin orang lain di rumah sakit."


"Tan. Kalau Tante, pengin rumah tangga Kak Syanum dan Kak Fabian utuh, harusnya Tante nggak biarin dong Kak Fabian itu menemui Mentari dan dekat lagi dengan dia."


"Tante benar-benar nggak tahu dengan masalah ini Lun. Sekarang antar Tante ke sana Luna. Tante ingin melabrak Fabian sekalian Mentarinya juga."


"Iya Tan."


Bu Reva sangat kesal dengan penutur Luna. Bu Reva kemudian melangkah masuk ke dalam kamarnya untuk bersiap-siap pergi dengan Luna. Dia ingin membuktikan kalau ucapan Luna itu benar.


Bu Reva tidak ingin, Fabian dan Syanum sampai bercerai. Dia ingin Syanum mau kembali lagi dengan Fabian. Karena Bu Reva sudah terlanjur sayang pada Syanum. Dia sudah menganggap Syanum seperti anak kandungnya sendiri.


Bu Reva melangkah menghampiri Luna yang ada di ruang tamu.


"Luna. Tante mau mencari Abi. Tolong antar Tante, dan kasih tahu Tante, di mana kemarin kamu lihat Abi. Dia nggak pulang dari kemarin Lun. Udah dua malam, dia nggak tidur di rumah."


"Ayo Tan."


Luna kemudian melangkah ke arah mobilnya dan membawa Bu Reva untuk ke rumah sakit.


****

__ADS_1


Fabian sejak tadi masih berada di dekat Mentari.


"Bi. Bagaimana kondisi ayah aku?" tanya Mentari.


"Dia baik-baik aja Mentari. Kamu nggak usah khawatir. Dia ada di ruangannya sendiri."


"Makasih banyak ya Bi. Kamu udah mau menemani aku di sini. Kamu juga udah repot bolak-balik ke rumah aku untuk mengambil keperluan aku."


"Iya. Nggak apa-apa."


Fabian sebenarnya lelah dan semalam dia paksakan untuk begadang menunggui Mentari.


"Wajah kamu pucat banget Bi? kamu kenapa? apa kamu sakit?" tanya Mentari.


Fabian menggeleng.


"Nggak Mentari. Aku nggak apa-apa. Kamu tenang aja."


"Bi. Aku jadi nggak enak sama kamu Bi. Karena aku sudah banyak ngerepotin kamu."


"Kamu nggak usah fikirin itu."


Ooeek...ooeeek...


Bayi kecil itu tiba-tiba saja menangis. Membuat Mentari dan Fabian terkejut.


"Anak aku," ucap Mentari.


Fabian bangkit berdiri. Dia kemudian melangkah ke boks bayi tempat di mana bayi Mentari berada.


Mentari tersenyum.


"Iya Bi."


Beberapa saat kemudian, seorang suster masuk ke dalam ruangan Mentari.


"Kenapa bayinya? bangun ya?" Suster mendekat ke arah bayi Mentari.


"Dia sepertinya haus dan lapar Sus," ucap Fabian.


Suster mengangkat bayi Mentari. Dia kemudian memberikan bayi itu pada Mentari.


"Berikan ASI dulu Bu, bayinya. Karena setelah ini, saya akan memandikan bayi ibu."


"Iya Sus."


***


Sesampai di parkiran, Luna menghentikan laju mobilnya. Luna dan Bu Reva kemudian turun dari mobilnya dan melangkah masuk ke dalam rumah sakit. Luna mengajak Bu Reva ke tempat di mana kemarin dia melihat Mentari dan Fabian.


"Kemarin aku melihat mereka ada di sini. Dan mereka masuk ke dalam ruangan itu Tan," Luna menunjuk ke sebuah ruangan yang sekarang tampak kosong.


"Kok. Di ruangan itu nggak ada siapa-siapa Lun. Ke mana Pak Rikonya?"

__ADS_1


"Apa mungkin Om Riko udah pulang ya," ucap Luna.


Seorang Suter berjalan melewati Luna dan Bu Reva.


"Suster. Tahu orang yang kemarin ada di ruangan ini nggak? namanya Pak Riko. Kemarin aku lihat dia ada di ruangan ini," tanya Luna pada suster.


"Oh. Udah pindah ruangan Mbak. Dia ada di kamar Melati nomer 5," jawab suster.


"Oh. Makasih banyak ya Sus."


"Iya Mbak."


"Ayo Tan. Pasti Kak Fabian dan Mentari ada di sana."


Bu Reva dan Luna kemudian melangkah ke ruang Melati nomer lima.


"Tan. Kita masuk aja Tan. Om Riko pasti sekarang ada di dalam."


"Iya."


Bu Reva dan Luna kemudian masuk ke dalam ruangan Melati nomer 5 di mana Pak Riko berada.


Tanpa permisi, Bu Reva dan Luna masuk ke dalam. Pak Riko tampak terkejut saat melihat kedatangan Bu Reva dan Luna.


"Kalian..." ucap Pak Riko.


"Pak Riko. Saya ke sini, cuma mau tanya. Apa Fabian ada di sini?" tanya Bu Reva tanpa banyak basa-basi.


Pak Riko tidak bisa berbohong dengan Bu Reva. Dia kemudian mengangguk.


"Iya. Dia ada di sini."


"Sekarang, di mana anak saya?"


"Dia ada di ruangan khusus ibu melahirkan bersama Mentari."


Luna dan Bu Reva saling menatap. Bu Reva semakin murka saja.


"Anak bapak sudah melahirkan?" tanya Bu Reva.


"Iya Bu Reva."


"Dan Fabian menemaninya?"


Pak Riko mengangguk.


"Kenapa Pak Riko membiarkan begitu saja Fabian dekat lagi dengan Mentari. Pak Riko itu gimana sih. Fabian itu sudah punya istri. Apa Pak Riko tahu, gara-gara anak bapak yang kegatelan itu, rumah tangga Syanum dan Fabian hampir berantakan."


"Saya mau minta maaf, atas nama anak saya Bu Reva. Karena dia sudah selalu mengganggu Fabian. Tapi Mentari tidak ada maksud untuk merebut Fabian dari Syanum. Mereka cuma berteman "


"Halah. Mana ada mantan jadi teman. Yang ada mah CLBK. Nggak percaya aku kalau Mentari tidak punya maksud tertentu ke Kak Abi. Aku yakin, kalau dia masih cinta ke Kak Abi. Mentari mendekati Kak Fabian, pasti ada maksud tertentu," celetuk Luna.


Bu Reva menghela nafas dalam. Mencoba untuk meredam emosinya. Bagaimana pun juga, sekarang Pak Riko sedang sakit. Tidak mungkin dia marah-marah ke Pak Riko.

__ADS_1


"Ya udah Lun. Kita cari Fabian. Dari kemarin telponnya di matikan. Nggak pulang lagi dua malam."


Bu Reva dan Luna kemudian melangkah untuk menemui Mentari dan Fabian.


__ADS_2