
Hari minggu. Fabian masih santai berada di rumahnya bersama sang istri. Setiap weekend, mereka tidak pernah mau menghabiskan waktu di luar. Mereka lebih memilih bercengkrama di rumah saja.
Seperti layaknya pengantin baru, mereka hanya menghabiskan waktu-waktunya di kamar saja. Sementara Firen, mereka percayakan pada suster Lili, pengasuh barunya. Kecuali kalau malam. Firen akan tidur bersama mama dan papanya.
Hari ini, sudah satu minggu Bu Reva dan Pak Damar ke luar kota. Sementara hari ini, Mbak Asih akan pulang ke kampungnya. Dia akan cuti untuk beberapa waktu. Karena anaknya ada yang mau nikahan.
"Mas, kita ke luar yuk! bete di kamar terus. Sekali-kali lah Mas, ajak aku dan Firen jalan-jalan," ucap Syanum.
"Sabarlah sayang. Anak kita itu masih kecil. Gampang masuk angin. Nanti aja kalau Firen udah sedikit besar. Kita bisa bawa dia jalan-jalan ke mana saja sesuka kita," ucap Fabian.
Syanum mengangguk. "Iya Mas."
Selama menjadi istri Fabian, Syanum itu tidak pernah membantah sedikit pun ucapan suaminya. Dia selalu patuh pada sang suami.
Fabian merangkul bahu istrinya. Dia kemudian mengajak istrinya ke luar kamar. Mereka melangkah untuk ke ruang tengah.
Fabian dan Syanum kemudian duduk di sofa ruang tengah. Beberapa saat kemudian, Mbak Asih menghampiri mereka
"Lho. Mba Asih. Udah mau pulang?" tanya Syanum.
Dia terkejut saat melihat Mbak Asih, sudah membawa banyak barang-barangnya.
"Iya Non. Hari ini Mbak mau pulang kampung," ucap Mbak Asih.
"Mbak Asih. Katanya nanti sore perginya?" tanya Fabian.
"Tuan muda. Mba naik mobil pribadi Tuan muda. Nggak naik bus. Jadi bisa berangkat kapan aja. Sesuai jemputan."
"Oh. Sewa mobil?" ucap Syanum.
"Iya Non. Tujuan ke Purwakarta."
"Jadi ngga usah di antar ke terminal?" tanya Fabian.
"Nggak usah Tuan muda. Mbak bisa nunggu di luar. Nanti mobilnya akan jemput Mbak ke sini."
"Enak ya. Jaman sekarang. Ada mobil khusus yang bisa Anata jemput dari kota ke kampung dan sebaliknya," ucap Fabian.
Syanum bangkit berdiri. Dia kemudian melangkah mendekat ke arah Mbak Asih.
"Mbak. Mau balik ke sini lagi kan?" tanya Syanum.
Dia tampak sedih saat melihat Mbak Asih akan pulang kampung. Karena Mbak Asih itu sudah baik sekali pada Syanum. Dan Syanum juga sudah menganggap Mbak Asih, seperti ibu kandungnya sendiri.
"Insya Allah ya Non," ucap Mbak Asih.
"Sebenarnya Mbak ini pulang kampung mau ngapain sih?" tanya Syanum.
__ADS_1
"Anak Mbak yang pertama itu kan mau nikahan. Masak Mbak anaknya mau nikahan nggak pulang sih. Kan kasihan Non. Lagian Mbak kan udah lama minta izin sama Nyonya dan Tuan" ucap Mba Asih.
"Aku jadi sedih deh nggak ada Mbak Asih. Apa Mbak Asih sudah izin sama Kak Dila?" tanya Syanum.
"Sudah Non. Dan Non Dila itu juga baru saja pergi," jawab Mbak Asih.
"Oh. Jadi Kak Dila udah pergi? pantas aja rumah sepi banget. Udah seperti makam aja," ucap Fabian.
"Iya. Dia lagi jalan-jalan sama Dimas dan temannya Non Dila. Tadi ada yang jemput Non Dila ke sini," ucap Mbak Asih.
"Teman?" Fabian menatap Mbak Asih lekat.
"Iya Tuan muda. Teman. Tadi sih, yang Mbak lihat, temannya Non Dila itu lelaki."
"Sejak kapan Kak Dila punya teman lelaki." Fabian tampak berfikir.
"Ya udah ya Non Syanum, Tuan muda, Mbak pergi dulu. Mbak juga pulangnya nggak lama kok. Paling juga setengah bulanan."
"Ya udah. Hati-hati di jalan ya Mbak," ucap Syanum.
"Emang mobilnya udah sampai?" tanya Fabian.
"Sudah dari tadi Tuan muda," jawab Mbak Asih.
"Kok nggak kedengaran ya," ucap Fabian.
"Ya udah. Hati-hati di jalan ya Mbak."
Fabian dan Syanum mengantar Mba Asih sampai ke luar rumah. Mereka tampak sedih melihat kepergian Mbak Asih. Karena Mbak Asih, sudah lama kerja di rumah Bu Reva.
Setelah Mbak Asih pergi, Fabian dan Syanum saling menatap.
"Sepi banget Mas. Sejak kepergian Mama sama papa, suasana rumah jadi sepi banget begini. Di tambah lagi Mbak Asih yang pulang kampung. Kita sekarang cuma berdua aja," ucap Syanum.
Fabian tersenyum.
"Bukannya itu lebih bagus sayang."
Dia kemudian mendekat ke arah Syanum
"Lebih bagus gimana?" tanya Syanum.
"Kita kan bisa romantis-romantisan terus,"
Syanum tersenyum.
"Apaan sih Mas."
__ADS_1
Fabian merangkul bahu Syanum dan mengajak Syanum masuk ke dalam.
****
"Ya ampun Firen...! Firen kemana ..! kok dia nggak ada di boks bayi," ucap Suster Lili.
Dia terkejut saat tidak melihat Firen ada di dalam boks bayi. Padahal Firen baru di tinggal sebentar ke kamar mandi. Tapi, setelah suster Lili ke luar dari kamar mandi, Firen malah sudah tidak ada.
Suster Lili kemudian melangkah pergi meninggalkan kamar Firen untuk melaporkan pada majikannya. Dia kemudian melangkah untuk menghampiri majikanya yang ada di ruang tengah.
"Non Syanum, Tuan muda, apakah Firen bersama kalian?" tanya suster Lili tampak panik.
Syanum dan Fabian saling menatap.
"Lho. Kok nanya ke kami. Kan Firen ada di kamarnya bersama kamu. Dari tadi kami belum ke kamar Firen. Dan Firen kan dari tadi pagi sama kamu," ucap Fabian.
"Tadi Firen memang ada di kamar bersama saya. Tapi, saja ke toilet sebentar. Dan waktu saya kembali Firen sudah tidak ada di dalam boks bayi Tuan muda," ucap Suster Lili menuturkan.
Fabian menghela nafasnya dalam. Dia kemudian menatap suster Lili tajam.
"Jadi maksud kamu? Firen hilang?" ucap Fabian dengan nada tinggi.
"Maafkan saya Tuan muda. Gara-gara saya, Firen jadi menghilang.".
"Terus, siapa yang sudah mengajak Firen pergi. Nggak mungkin kan Firen jalan sendiri dari boks bayi," ucap Syanum.
Fabian, Syanum dan Suster Lili tampak panik. Tanpa banyak bicara, mereka kemudian mencari Firen. Mereka mencari Firen ke depan.
"Mbak Fani. Mbak Fani dari tadi di sini kan? Mbak Fani lihat ada orang masuk nggak ?" tanya Fabian
"Nggak Tuan muda. Ada apa sih? kok kayaknya pada panik begitu?"
"Firen, Firen hilang."
"Apa! Firen hilang?" Mbak Fani tampak terkejut.
"Iya. Firen hilang," jawab Fabian.
"Apa jangan-jangan Firen di culik?" ucap Mbak Fani.
Fabian menatap Mbak Fani tajam.
"Di culik? lalu siapa yang akan menculik anak saya?" ucap Fabian
"Firen....!" seru Syanum.
Tiba-tiba saja Syanum menangis histeris. Dia benar-benar takut akan kehilangan bayinya
__ADS_1
Fabian langsung memeluk istrinya dan mencoba untuk menenangkan istrinya.
"Sabar sayang. Jangan nangis. Mas janji, akan menemukan Firen secepatnya," ucap Fabian.