
Malam ini, Fabian sudah berada di kamarnya bersama Syanum istrinya. Sejak tadi, mereka hanya bisa diam. Tak ada yang mengucapkan sepatah katapun. Syanum masih berdiri di sisi jendela. Raut wajahnya terlihat sangat sedih. Entah apa yang sedang dia fikirkan saat ini.
'Syanum kenapa sih. Kenapa sejak tadi diam aja,' batin Fabian.
Fabian sejak tadi masih menatap istrinya.
'Apa mungkin, Syanum sedih karena hubungan kita semalam?'
Fabian hanya bisa bertanya-tanya dalam hati. Apa yang membuat Syanum menjadi sedih. Apakah karena Fabian yang semalam memaksanya untuk berhubungan.
Fabian mendekat ke arah istrinya.
"Kamu kenapa Syanum?" tanya Fabian.
"Aku nggak apa-apa Mas," jawab Syanum.
"Kalau nggak apa-apa, kenapa kamu diam aja sejak tadi?"
"Aku cuma lagi kangen aja sama ibu aku."
Syanum menatap ke arah suaminya.
"Syanum," ucap Fabian sembari meraih tangan Syanum.
"Aku mau minta maaf. Soal kejadian semalam. Maafkan aku ya?"
Syanum tersenyum.
"Mas, kalau soal semalam. Nggak apa-apa Mas. Kenapa kamu harus minta maaf. Kita itu kan suami istri. Jadi, wajarkan kalau kita melakukannya."
Fabian menghela nafas dalam.
'Iya. Tapi bagaimana kalau Syanum hamil. Aku belum siap punya anak. Apa lagi anak dari Syanum.' batin Fabian.
Sejak tadi Fabian diam. Dia tampak sedang memikirkan sesuatu.
"Kenapa Mas?" tanya Syanum.
"Nggak apa-apa," jawab Fabian.
Tok tok tok...
Suara ketukan pintu sudah terdengar dari luar kamar Fabian.
Fabian buru-buru melangkah menghampiri pintu untuk membuka pintu. Di depan pintu, sudah tampak Dila berdiri dan menatap Fabian.
"Kalian kenapa masih ada di sini. Oma dan Opa udah datang lho. Sekarang kamu turun ke bawah dan ajak istri kamu ke bawah!" pinta Dila.
__ADS_1
"Iya Kak. Sebentar lagi aku turun."
"Cepat ya! Jangan membuat kami menunggu lama!"
"Iya Kak."
Dila kemudian melangkah pergi meninggalkan kamar adiknya. Sementara Fabian, masuk ke kamar dan menghampiri Syanum yang masih berdiri di sisi jendela kamar.
"Sudah, nggak usah sedih terus. Ibu kamu sudah bahagia di alamnya. Nggak usah di fikirin terus. Sekarang kita turun ke bawah. Katanya Oma dan Opa aku, sudah ada di bawah."
Syanum mengangguk. "Iya Mas."
Fabian kemudian merangkul bahu istrinya dan mengajak istrinya ke luar dari kamar dan turun ke bawah.
Mereka melangkah ke ruang makan. Karena semua orang sudah menunggu mereka di ruang makan.
Oma dan Opa, tampak tersenyum saat melihat ke dua pasangan itu. Opa dan Oma, kemudian saling menatap.
"Fabian, ini istri kamu?" tanya Oma Marla pada Fabian cucunya.
"Iya Oma," jawab Fabian.
"Cantik ya istri kamu. Maafkan Opa dan Oma. Nggak sempat datang waktu acara pernikahan kalian," ucap Opa David.
"Nggak apa-apa Opa," ucap Fabian.
Fabian kemudian mencium punggung tangan Oma dan Opanya.
Suasana makan malam kali ini memang begitu ramai. Karena Oma dan Opa Fabian yang tak lain adalah orang tua Bu Reva, sudah datang bertamu ke rumah mereka.
Bu Reva adalah anak sulung dari tiga bersaudara. Ke dua saudara Bu Reva tinggal di Aceh. Begitu juga dengan ke dua orang tua Bu Reva. Oma Marla dan Opa David juga tinggal di Aceh. Mereka memang sengaja datang ke Jakarta untuk main ke rumah Bu Reva.
"Kenapa kalian harus nginap di hotel sih Pak, Bu. Di sini juga masih ada kamar kosong kok," ucap Bu Reva pada kedua orang tuanya.
"Iya. Nggak apa-apa Rev. Kami memang lebih suka tinggal di hotel. Tapi kami akan selalu bolak-balik ke sini kok. Mungkin kami akan tinggal di Jakarta selama seminggu," jelas Oma David.
"Maafkan saya ya Pak, Bu, karena saya tidak pernah main lagi ke Aceh. Jadwal saya padat sekali di sini. Jadi tidak bisa untuk mengajak Reva dan anak-anak untuk ke kampung ibu dan bapak," ucap Pak Damar di sela-sela kunyahannya.
"Iya nggak apa-apa Damar. Nanti, biar kamu saja yang akan sering main ke sini," ucap Opa David.
Syanum dan Fabian sejak tadi masih diam. Mereka tampak masih menikmati makanannya.
"Fabian. Apa istri kamu sudah hamil?" tanya Oma Marla.
Fabian terkejut mendengar ucapan Omanya.
"Belum Bu. Mungkin belum waktunya," ucap Pak Damar.
__ADS_1
"Kalau hamil, nanti cepat-cepat kabarin Oma ya. Nanti Oma dan Opa main ke sini lagi, kalau istri kamu sudah melahirkan," Oma Marla menatap lekat ke arah Fabian.
"Iya," ucap Fabian singkat.
Fabian hanya diam. Sebenarnya dia malas jika keluarganya harus membahas soal kehamilan Syanum. Fabian saja masih belum ingin punya anak. Dia belum mau direpotkan dengan kehadiran anak di kehidupannya.
Fabian sejak tadi, tampak sedang memikirkan sesuatu. Dia tampak sedang memikirkan, bagaimana nanti jika sampai Syanum hamil dan ngidam. Pasti Syanum akan ngidam yang aneh-aneh.
'Ih, aku kok, jadi mikirin Syanum sih.' Fabian selalu menepis fikiran dia tentang Syanum.
****
Pagi ini, Fabian sudah sampai di kantornya. Dia sudah duduk di ruangannya. Beberapa saat kemudian, suara ketukan seseorang dari luar ruangan Fabian terdengar.
Beberapa saat kemudian, Aira masuk ke dalam ruangan Fabian.
"Selamat pagi Pak Fabian," sapa Aira.
"Selamat pagi. Ada apa?" tanya Fabian.
"Ini Pak. Ada berkas-berkas yang harus bapak tanda tangani," jawab Aira.
Aira kemudian mendekat ke arah Fabian untuk memberikan berkas-berkas penting pada Fabian.
"Kenapa kamu yang ngantar berkas-berkas ini, ke sini?" tanya Fabian.
"Aku juga di suruh Pak," jawab Aira.
Fabian melihat berkas-berkas itu dan mulai menandatanganinya. Tiba-tiba saja, Aira memekik saat dia pura-pura jatuh ke pelukan Fabian.
Fabian segera menangkap tubuh Aira. Dia tidak mau Aira sampai jatuh dan memeluknya.
"Ehem..Ehem...!" Seseorang, tampak berdehem saat melihat Fabian dan Aira.
Aira dan Fabian tampak sangat dekat. Tubuh mereka dekat hampir tak berjarak.
Fabian segera mendorong tubuh Aira.
Aira dan Fabian menoleh ke arah Ryan secara bersamaan.
"Apa yang sedang kalian lakukan?" tanya Ryan.
Fabian tampak gugup saat melihat Ryan. Sementara Aira tersenyum. Dia memang sengaja melakukan hal itu. Entah apa yang ada di dalam fikirannya sekarang.
"Em, Ryan. Ini tidak seperti apa yang kamu fikirkan. Tadi, Aira hampir jatuh," jelas Fabian.
Ryan hanya geleng-geleng kepala. Sementara Fabian, tampak ketakutan. Dia takut kalau Ryan akan salah paham dan Ryan akan melaporkan hal ini pada Pak Damar atau Syanum.
__ADS_1
Ryan pergi dari ruangan Fabian. Namun, Fabian segera mengejar dan menyusul Ryan ke luar.
"Pak Fabian...! berkasnya," ucap Aira.