Mempelai Pengganti Tuan Muda

Mempelai Pengganti Tuan Muda
Ingatan Fabian pada Syanum


__ADS_3

Malam ini, Mentari masih berada di depan ruang operasi. Ayahnya sekarang sedang melakukan operasi. Fabian sejak tadi masih setia menemani Mentari. Sehari semalam dia tidak pulang ke rumah. Telponnya juga memang sengaja di matikan. Agar keluarganya tidak ada yang tahu di mana keberadaannya sekarang.


"Bi. Kamu nggak mau pulang dulu?" tanya Mentari.


"Kalau aku pulang, kamu sama siapa?" Fabian menatap Mentari lekat.


"Tapi keluarga kamu nggak nyariin kamu? dari semalam kamu kan nggak pulang Bi."


"Sudahlah biarin aja."


"Hari ini kamu juga bolos kantor kan?"


"Iya. Nggak usah di fikirin. Yang penting sekarang ayah kamu dulu. "


Mentari tersenyum. Dia kemudian meraih tangan Fabian dan menggenggamnya erat.


"Makasih ya Bi. Kamu udah mau pinjamin aku uang untuk biaya operasi papa aku."


"Iya Mentari."


"Ponsel kamu ke mana?" tanya Mentari.


"Batrenya habis. Dan aku taruh di dalam mobil."


"Lho kok gitu. Nanti gimana kalau Mama kamu nelpon. Kamu nggak ngabarin mereka kalau kamu ada di sini."


'Ah, ngabarin mereka gimana Mentari. Aku aja sekarang nggak boleh dekat lagi sama kamu. Kalau keluarga aku sampai tahu aku bersama kamu di sini, bisa marah besar mereka sama aku' batin Fabian.


"Bi. Kenapa kamu malah diam?"


"Sudahlah. Kita tunggu saja operasi ayah kamu ya."


"Iya."


Beberapa saat kemudian, seorang dokter ke luar dari ruang operasi.


Mentari buru-buru melangkah ke arah dokter.


"Dokter, bagaimana keadaan Papa aku Dok?" tanya Mentari.


"Operasinya sudah berjalan dengan lancar. Dan sekarang kita tinggal menunggu Pak Riko siuman," ucap Dokter.


"Alhamdulillah," ucap Mentari dan Fabian bersamaan.


"Saya permisi dulu ya. Sebentar lagi, Pak Riko akan dipindahkan ke ruang rawat."


"Iya Dok."


Dokter kemudian pergi meninggalkan Mentari dan Fabian.


"Aduh perut aku..."


Fabian terkejut saat melihat Mentari. Tiba-tiba saja, Mentari memegangi perutnya.


"Perut kamu kenapa Mentari?" tanya Fabian.


"Perut aku sakit banget Bi. Udah dari kemarin aku tahan-tahan Bi. Tapi sekarang aku nggak kuat banget."

__ADS_1


"Ya udah. Kamu tunggu dulu di sini. Aku akan panggilkan dokter."


Fabian buru-buru melangkah pergi untuk mencari dokter.


"Dokter. Tolong teman saya Dok. Teman saya perutnya sakit. Bisa periksa dia Dok?"


"Di mana teman anda?"


"Dia ada di sana Dok."


Fabian dan Dokter, kemudian melangkah untuk menemui Mentari.


"Kenapa Mbak?" tanya Dokter


"Perutku dari kemarin rasanya sakit banget Dokter. Aku nggak tahu kenapa," ucap Mentari.


"Ini sih namanya kontraksi."


"Jadi Mentari mau lahiran Dok?" tanya Fabian.


"Iya."


"Aduh Abi... sakit banget...!" Mentari tiba-tiba saja mencengkeram lengan Fabian dengan kuat.


"Mas bisa ikut ke ruang persalinan?" tanya Dokter.


"Untuk apa Dok? kan dia yang mau lahiran. Kenapa aku yang disuruh ke ruang persalinan?


Fabian tampak bingung.


"Siapa tahu Mas mau ikut masuk ke ruang persalinan untuk menemani Mbak Mentari lahiran."


"Maaf Dok. Saya nggak bisa menemani dia. Dia itu bukan istri saya."


"Oh. Maaf kalau gitu. Berarti saya salah."


"Abi... Abi... perut aku Abi."


Dokter kemudian melangkah membawa Mentari ke ruang persalinan.


"Apa-apaan sih Dokter. Emang dia fikir aku suaminya apa. Di suruh ikut ke ruang persalinan" gerutu Fabian.


Fabian kemudian duduk kembali di depan ruang operasi.


"Sebenarnya kasihan sih Mentari sama Om Riko. Nggak ada saudara yang dekat dengan mereka. Saat ini mereka juga sedang dalam masa sulit. Om Riko sejak sakit nggak pernah kerja lagi sekarang. Dan Mentari, dia juga melahirkan tanpa suami. Seharusnya itu Mario, yang ada di sini. Kenapa harus aku sih."


Tiba-tiba fabian teringat dengan istrinya.


"Tadi Mentari kesakitan. Apa Syanum juga akan sama seperti itu ya, saat melahirkan anak aku nanti. Dan nanti, kalau Syanum nggak kembali ke rumah aku, dia akan melahirkan tanpa seorang suami juga di sisinya. Aku nggak mau Syanum melahirkan sendiri. Aku harus cari Syanum. Aku ingin mendampingi dia lahiran. Dia sekarang pasti butuh aku."


Fabian sejak tadi masih bergumam sendiri. Entah kenapa dia jadi teringat dengan istrinya.


Seorang dokter tiba-tiba saja menghampiri Fabian.


"Dokter. Bagaimana dengan Mentari. Dia baik-baik aja kan?"


"Iya. Dia sudah melahirkan bayi laki-laki."

__ADS_1


"Alhamdulillah. Syukurlah kalau begitu."


"Mas bisa ikut saya. Bayinya belum ada yang mengadzani Mas. Kalau boleh saya tahu, di mana suami Mbak Mentari?"


Fabian diam.


"Dia ada kok Dok. Nanti aku yang akan mencarinya. Soalnya, dia suka kabur-kaburan terus."


"Ikut saya sebentar Mas!"


"Iya Dok."


Fabian kemudian melangkah untuk ikut Dokter ke ruang persalinan Mentari.


Seorang bayi lelaki tampak sudah berada di dalam boks bayi.


"Dokter. Apa saya yang harus mengadzani bayi ini?"


Dokter Anita tersenyum.


"Iya. Biasanya kalau di masjid yang adzan itu kan lelaki. Di sini kan nggak ada lelaki. Kebetulan malam ini, cuma Mas yang lelaki. Dokter lelakinya juga baru bisa datang besok."


"Baiklah.Tapi, saya tidak bisa gendong bayi ini Dok."


"Gimana sih Mas? mas juga akan jadi calon ayah kan nanti. Latihan gendong dong. Jadi nanti kalau udah punya istri, dan istrinya mau lahiran. Udah bisa gendong bayi," ucap dokter Anita.


"Baiklah."


Dokter Anita kemudian membantu Fabian untuk mengangkat bayi Mentari.


Fabian lekas mengadzani bayi itu. Tiba-tiba saja, setetes air mata mengalir dari pelupuk matanya.


"Lho. Mas ini kok malah nangis?" Dokter mengambil bayi yang ada di tangan Fabian. Dia kemudian meletakan bayi itu kembali di atas boks bayi.


"Aku cuma terharu aja Dok. Aku jadi teringat sama istri saya Dok. Dia juga lagi hamil sekarang," ucap Fabian sembari mengusap air matanya.


Dokter Anita mengernyitkan alisnya.


"Oh. Jadi Mas juga punya istri yang lagi hamil?"


"Iya.Tapi saya tidak tahu istri saya ada di mana sekarang. Dia kabur dari rumah. Dan sekarang dia belum kembali."


Dokter Anita menghela nafas dalam.


"Satu-satunya yang biasa dilakukan untuk menyadarkan istri Mas itu, berdoa di sepertiga malam. Minta sama yang Maha Kuasa agar istri Mas dikembalikan pada Masnya."


Fabian menatap Dokter Anita.


"Benarkah Dok?"


"Iya. Itu waktu yang paling mustajab. Minta agar jodoh Mas itu di panjangkan."


Fabian menatap jam tangannya. Waktu sudah menunjukkan jam 12 malam.


"Iya Dok. Benar. Nanti setelah ini aku mau berdoa. Agar Tuhan mau mengembalikan istriku."


"Ya udah. Tungguin dulu Mbak Mentarinya ya Mas. Dia lagi tidur. Mungkin dia masih kelelahan. Nanti kalau dia sudah bangun, panggil saya. Saya ada di ruang dokter. Besok, Mbak Mentari akan dipindahkan juga di ruang rawat."

__ADS_1


"Iya Dokter."


Dokter Anita kemudian pergi meninggalkan ruangan Mentari. Sementara Fabian masih diam. Dia masih terus mengingat Syanum istrinya.


__ADS_2