
Malam ini, Syanum dan Fabian masih berada di kamar hotel. Mereka masih asyik dengan aktifitas mereka masing-masing. Syanum nonton tivi dan baca-baca majalah, sementara Fabian, masih bermain game di handphonenya.
"Syanum. Kamu masih betah di sini?" tanya Fabian.
"Sebenernya sih, aku udah nggak betah Mas. Aku bosen, seperti ini terus. Kita nggak bisa ngapa-ngapain. Kita cuma bengong-bengong aja di sini. Kalau di rumah kan, aku banyak teman. Ada Mbak Asih, sama Mbak Fani. Dan aku bisa bantu-bantu mereka mengerjakan pekerjaan rumah," ucap Syanum.
"Kalau bosan, sekarang kamu tidur aja. Dan besok pagi, kamu harus temani aku ke kolam renang."
"Mau ngapain?" tanya Syanum.
"Ya mau renanglah, masa mau mancing. Nanti setelah itu, aku akan ajakin kamu, jalan-jalan lagi ke tempat lain."
Syanum tersenyum
"Benarkah? tumben kamu baik sama aku?"
"Apa! tumben? jadi selama ini, kamu fikir aku ini jahat? kamu selama ini nggak nyadar kalau aku ini baik."
"Iya deh, baik."
Syanum yang sekarang masih berada di atas ranjang, segera berbaring untuk tidur. Sementara Fabian masih duduk di sofa.
CK ck ck ck...
"Kok bisa ya punya istri seperti dia. Menyebalkan sekali,"decak Fabian.
Setelah Syanum tertidur, Fabian kemudian mematikan saluran tivinya. Setelah itu, dia juga berbaring di sofa dan tidur di sofa.
****
Pagi ini, Syanum dan Fabian sudah berada di kolam renang. Fabian sejak tadi masih berenang. Sementara istrinya masih berdiri di sekitar kolam renang.
"Syanum, Ayo turun!" ucap Fabian sembari mengusap wajahnya yang di penuhi air.
Syanum menggeleng.
"Aku nggak mau," ucap Syanum.
"Kamu bisa berenangkan?" tanya Fabian.
"Aku nggak bisa renang," jawab Syanum.
"Bohong. Kamu pasti bisa renang. Kan kata kamu dulu, kamu suka sekali main di sungai dan memancing. Mana mungkin kamu tidak bisa berenang."
Syanum masih enggan untuk menerima ajakan suaminya untuk berenang. Syanum nggak suka berenang di tempat umum seperti kolam renang. Dia malu, jika harus buka-bukaan di keramaian.
"Ya udah, kalau gitu. Tunggu aja di situ, sampai lumutan."
Fabian kembali berenang. Memang Fabian sangat hobi sekali berenang. Dia lebih suka berenang dari pada berselancar di lautan lepas.
Aaagghhhh....
Syanum menjerit saat tiba-tiba saja, dirinya terjebur ke kolam renang. Syanum gelagapan di dalam kolam renang.
Fabian menoleh ke arah di mana Syanum berdiri.
"Syanum. Ke mana dia. Apa dia pergi." Fabian bingung karena tiba-tiba saja, istrinya sudah tidak ada di sekitar kolam renang.
Pandangan Fabian tiba-tiba saja terpaku, pada seseorang yang tenggelam di dalam kolam renang.
"To-to-tolong...!"
__ADS_1
Beberapa orang yang ada di sekitar kolam renang yang melihat kejadian itu, tiba-tiba saja berkerumun untuk melihat apa yang terjadi.
"Ada orang tenggelam," ucap salah satu dari mereka.
Fabian yang masih berada di dalam kolam renang, segera mendekat ke arah di mana orang-orang berkerumun. Dia akan menyelamatkan wanita yang tenggelam itu, yang ternyata adalah istrinya sendiri.
'Syanum, tunggu aku. Aku akan menyelamatkan kamu.' batin Fabian.
Saat Fabian sadar, kalau yang tenggelam adalah Syanum istrinya sendiri, Fabian buru-buru berenang ke arah di mana Syanum tenggelam.
Fabian merengkuh tubuh mungil Syanum dan membawanya menepi. Fabian kemudian naik ke atas dan membaringkan tubuh Syanum di pinggiran kolam renang.
"Syanum, bangun Syanum." Fabian menepuk-nepuk pipi Syanum.
Namun sejak tadi, Syanum tidak mau bangun. Dia masih pingsan dengan tubuh basah kuyup dan wajah pucat.
Fabian tidak tinggal diam. Dia menekan-nekan dada Syanum beberapa kali. Berharap air yang ada di dalam tubuh Syanum ke luar.
"Mas, kasihan wanita itu. Cepat berikan dia nafas buatan."
Fabian terkejut saat mendengar ucapan seseorang itu.
"Apa! nafas buatan?"
"Iya. Biar dia cepat sadar."
Fabian bingung. Apakah dia harus memberikan nafas buatan untuk Syanum.
'Apa aku harus melakukannya? tapi itu sama aja, aku sudah mencium gadis kampung ini,"
"Mas, cepatan tunggu apa lagi! Nanti gadis itu bisa mati, karena kehilangan banyak oksigen."
Tanpa butuh waktu lama, Fabian mulai menempelkan bibirnya ke bibir Syanum untuk memberikan Syanum nafas buatan.
Syanum tiba-tiba saja tersadar, saat dia merasakan ada benda kenyal menempel di bibirnya.
Syanum membelalakkan matanya dan langsung beringsut duduk. Dia langsung mendorong tubuh suaminya hingga Fabian terjatuh.
Syanum langsung mengusap-usap bibirnya.
'Mas Fabian barusan menciumku' batin Syanum.
Seseorang yang berada di sekeliling Syanum bernafas lega. Karena Syanum sudah tersadar. Mereka semua kemudian melangkah pergi meninggalkan Syanum dan Fabian.
"Kenapa kamu menciumku Mas?" Syanum menatap Fabian tidak percaya.
"Apa? mencium kamu. Jangan kegeeran kamu Syanum. Aku nggak mencium kamu. Tapi, aku cuma lagi ngasih nafas buatan aja untuk kamu. Karena kamu tidak sadar-sadar tadi."
"Tapi sama saja kan," ucap Syanum.
Syanum kemudian bangkit berdiri. Namun, tubuhnya tampak masih lemas. Dia terhuyung akan jatuh ke belakang. Namun, dengan sigap, Fabian buru-buru menangkapnya. Fabian dan Syanum saling menatap sejenak dalam pelukan singkat itu.
Syanum menegakan tubuhnya kembali. Setelah itu dia menatap Fabian.
"Aku mau pulang."
Fabian mengangguk.
"Iya. Ayo kita pulang! tapi kita ganti baju dulu ya."
Syanum mengangguk. Setelah itu, mereka pun mengganti baju mereka dengan baju yang kering. Setelah berenang cukup lama di dalam kolam renang, mereka memutuskan untuk kembali ke hotel.
__ADS_1
Sesampai di hotel, Fabian membuka pintu hotel. Mereka kemudian masuk ke dalam hotel.
"Mas, kapan kita pulang? aku pengin cepat-cepat pulang," ucap Syanum setelah dia sudah duduk di sisi ranjangnya.
"Iya. Besok pagi kita pulang. Kita nginap satu malam lagi di sini."
"Aku udah nggak betah di sini, aku bosen nggak ada teman."
"Iya. Nanti kita pulang. Oh iya. Kenapa tadi kamu bisa sampai terjebur sih. Apa yang terjadi?"
"Waktu aku di tepian kolam renang, ada yang menyenggol tubuh aku. Dan aku terjatuh ke dalam kolam renang yang dalam. Dan aku tidak bisa berenang," jelas Syanum.
"Kamu yakin tidak bisa berenang? aku fikir, kamu pandai berenang"
"Sebenarnya dulu, aku memang pandai berenang. Tapi, sejak kejadian itu, aku jadi takut sama air apalagi berenang."
"Kamu punya trauma?"
Syanum mengangguk.
"Iya Mas. Aku pernah tenggelam di sungai dan hanyut. Untungnya aku masih bisa diselamatkan."
"Oh..." Fabian hanya manggut-manggut mengerti.
"Ya udah. Kamu istirahat aja dulu," ucap Fabian.
Syanum kemudian membaringkan tubuhnya di atas ranjangnya. Dia tampaknya masih lemah karena kejadian tadi.
Syanum memejamkan matanya dan terlelap.
"Yah, Syanum tidur deh. Padahal aku mau ajak dia ke suatu tempat lagi," ucap Fabian.
Ring ring ring...
Suara deringan ponsel Fabian mengejutkan Fabian. Fabian mengambil ponselnya yang ada di atas meja
"Halo Om. Ada apa?"
"Fabian, kamu ada di mana sekarang?"
"Aku lagi ada di Bali Om. Ada apa? apa ada kabar terbaru dari Mentari?"
"Belum ada. Tapi, hari ini Om sudah menyebar info orang hilang. Dan sudah menyebar foto Mentari Fabian."
"Oh, ya syukurlah kalau begitu."
"Doakan saja ya Fabian, semoga Mentari bisa cepat diketemukan."
"Iya Om. Aku doakan."
"Maaf, kalau sudah ganggu waktu kamu."
"Oh, nggak apa-apa kok Om."
"Ya udah. Om cuma mau memberi tahu itu aja. Assalamualaikum."
"Wa'alakiumsalam."
Fabian kemudian meletakan kembali ponselnya.
"Mudah-mudahan saja, Mentari bisa kembali ke rumah Om Riko dan aku bisa menemui dia dan menanyakan tentang kepergian dia. Tidak mungkin Mentari pergi begitu saja, tanpa sebuah alasan. Dia pergi pasti karena ada sebuah alasan, yang kami semua tidak tahu alasan apa itu," gumam Fabian.
__ADS_1