
Aira dan ibunya, siang ini masih berada di ruang tengah. Sejak tadi, mereka tampak masih bersantai di ruang tengah rumahnya.
Bu Novi sejak tadi masih memperhatikan Aira makan cemilan dan membaca majalah.
"Ra," ucap Bu Novi.
"Hemm..."
"Kamu sudah ketemu Fabian lagi belum?" tanya Bu Novi.
Aira menggeleng. Dia kemudian menutup majalahnya dan menatap ke arah mamanya.
"Aku cuma melihatnya sekali waktu mobil Fabian mogok. Dan ke sininya, kami cuma sering berhubungan lewat telpon aja."
"Kok kamu nggak ngajak dia pergi sih. Contoh, ajak dia nonton , ke mall, atau dinner."
Aira tersenyum.
"Nggak segampang itu Ma. Asal mama tahu aja. Sekarang Fabian itu sudah kerja di kantor ayahnya. Dan mungkin sebentar lagi, dia akan menggantikan posisi ayahnya menjadi direktur utama di kantornya."
"Bagus dong kalau gitu. Ini itu, kesempatan bagus buat kamu untuk mendekati Fabian lagi. Mumpung Mentari nggak ada dan belum kembali."
"Iya Ma. Mama tenang aja. Santai aja kali Ma. Aku sudah punya rencana kok untuk itu."
"Ra. Jangan kelamaan kamu deketin Fabiannya. Nanti keburu dia di dekati gadis lain dan jatuh cinta sama gadis lain. Kamu harus gerak cepat. Kamu nggak mau kan, kehilangan dia lagi."
Aira mengangguk.
"Iya Ma. Aira tahu kok itu. Tapi untuk saat ini, Aira belum bisa mengajak Fabian jalan. Karena Fabian itu masih sibuk. Dan sudah tiga hari ini, ponsel Fabian juga nggak bisa dihubungi. Dan tadi saja aku telpon dia nggak di angkat."
"Ya udah. Kamu sekarang telpon lagi. Siapa tahu nanti Fabian mau angkat telpon dari kamu."
"Tapi kalau siang, Fabian itu ada di kantor Ma. Dan aku nggak mau ganggu dia."
"Coba aja telpon. Biasanya di jam-jam segini, orang kantor itu lagi istirahat siang."
"Iya deh."
Aira kemudian mengambil ponselnya yang ada di atas meja. Dia kemudian menekan nomer Fabian dan menelpon Fabian.
****
Ring ring ring...
Suara deringan ponsel Fabian terdengar. Fabian yang masih sakit, tidak memperdulikan deringan ponselnya. Beberapa kali, Aira menelponnya. Namun Fabian masih malas untuk mengangkat telpon dari Aira.
__ADS_1
"Aku yakin, itu pasti telpon dari Aira. Kasihan dia nelpon terus. Aku angkat aja deh."
Fabian kemudian mengambil ponsel yang ada di atas nakas. Dia kemudian mengangkat telpon dari Aira.
"Halo..."
"Halo Bi. Dari kemarin, aku telpon, kenapa kamu nggak mau angkat? dan nomer kamu juga sekarang jarang aktif sih. Kenapa?"
"Maaf ya Ra. Aku lagi nggak enak badan. Udah tiga hari ini, aku sakit dan nggak bisa masuk ke kantor."
"Oh. Kamu sakit ya Bi. Sakit apa?"
"Cuma demam aja kok."
"Terus, gimana sekarang kondisi kamu?"
"Aku sudah mendingan. Sudah minum obat dan mungkin sebentar lagi aku juga akan sembuh."
"Duh Bi. Jadi sekarang kamu ada di rumah?"
"Iya."
"Oh iya. Boleh nggak aku main ke rumah kamu. Aku pengin lihat kondisi kamu."
"Jangan Ra."
"Maksud aku, kamu nggak usah repot-repot ke sini segala. Aku udah sembuh kok. Dan mungkin besok aku juga udah bisa mulai kerja."
"Oh, ya udahlah. Semoga cepat sembuh ya. Dan jangan lupa minum obat."
"Iya Ra."
"Oh iya Bi. Aku pengin deh, kapan -kapan kita jalan. Jalan berdua maksud aku. Aku kangen pengin ngobrol-ngobrol sama kamu lagi."
"Oh, gitu ya. Boleh deh. Tapi nanti ya kalau aku sudah sembuh. Nanti kita atur deh pertemuan kita."
"Iya Bi."
Sejak tadi, Syanum masih berdiri di depan pintu kamarnya. Samar-samar, dia mendengar Fabian berteleponan sangat mesra dengan seseorang.
Syanum yakin, kalau yang sedang berteleponan dengan Fabian itu seorang wanita.
"Siapa sih, yang nelpon suami aku. Dan Tuan muda, kenapa jadi sumringah gitu mendapat telpon dari wanita itu. Aku tahu, kalau wanita itu, yang sering berteleponan dengan suamiku. Aku nggak akan membiarkan suamiku dekat dengan wanita manapun. Termasuk Mentari. Aku nggak mau Tuan muda menceraikan aku hanya karena wanita lain," gumam Syanum.
Beberapa saat, Syanum menunggu di depan kamar Fabian. Dia tidak berani masuk ke dalam. Dia takut Fabian akan marah karena Syanum sudah menggangunya.
__ADS_1
Dan sepertinya saat ini, Syanum juga cemburu melihat kedekatan Fabian dengan wanita lain. Padahal itu baru di telpon.
Syanum menghela nafasnya dalam.
"Walau aku dan Tuan muda tidak saling cinta, tapi aku tetap istrinya. Dan di dunia ini, tidak ada satu orang istri pun yang rela suaminya mesra-mesraan dengan wanita lain. Kalau sampai Tuan muda ada main dengan wanita lain di belakang aku, aku akan temui wanita itu dan beri dia pelajaran."
Syanum sejak tadi masih disibukan oleh lamunannya. Sampai dia tidak merasa kalau Fabian sudah berdiri di depannya.
"Mau sampai kapan kamu berdiri di sini heh...!" ucap Fabian yang membuat Syanum terkejut.
Syanum menatap wajah Fabian yang lebih tinggi darinya.
"Kenapa? wajahmu kok cemberut gitu?"
"Aku nggak kenapa-kenapa."
"Bisa minggir nggak. Kamu sudah menghalangi jalanku."
Syanum melangkah satu langkah ke samping.
"Silahkan," ucap Syanum memberi jalan untuk Fabian.
Fabian kemudian melangkah meninggalkan Syanum yang masih berdiri mematung di depan kamarnya. Sudah tiga hari Fabian tidak keluar kamar. Rasanya dia juga sudah sangat jenuh berada di kamar selama tiga hari ini. Fabian melangkah ke depan untuk melihat suasana di depan rumah.
Fabian tersenyum saat melihat keponakannya sedang bermain bola bersama kedua pembantu rumahnya.
Fabian geleng-geleng kepala.
"Kasihan kamu Dimas. Sekecil itu, kamu sudah ditinggal ayah kamu. Om janji, Om akan selalu menyayangi kamu. Bila perlu, Om akan menjadikan kamu anak Om. Om akan merawat kamu sampai kamu tumbuh dewasa."
****
Sore ini, Fabian masih bersantai-santai di teras samping rumah. Sejak tadi, dia masih tampak sedang berteleponan dengan Aira. Mungkin karena lama mereka tidak berjumpa, banyak hal yang ingin mereka ceritakan.
Sementara sejak tadi, istri Fabian masih memperhatikan Fabian dari kejauhan.
"Pasti wanita itu nelpon suamiku lagi. Mau ngapain sih wanita itu nelpon terus. Apa dia nggak tahu kalau Fabian itu sudah punya istri. Kesel deh, kalau lihat Tuan muda telponan sama wanita lain," gerutu Syanum.
Syanum memegang dadanya sendiri. Dia mencoba untuk menenangkan hatinya yang sedang galau gara-gara memikirkan suaminya. Dia mulai berfikir.
"Tapi, kenapa aku harus kesal sama mereka. Aku itu kan nggak cinta sama Fabian. Jadi, untuk apa aku cemburu. Seharusnya terserah dia mau telponan sama siapa saja. Itu bukan urusanku. Duh, Syanum... berhentilah untuk memikirkan lelaki egois itu."
Syanum memukul pelan kepalanya sendiri. Dia ingin sadar dari mimpinya. Ya, Syanum sadar diri siapalah dirinya.
Dia hanya anak seorang sopir yang tidak pantas mendapatkan cinta dari anak majikannya yang tampan dan kaya raya itu.
__ADS_1
"Berhentilah bermimpi menjadi Cinderella Syanum. Karena kamu itu Syanum. Bukan Upik abu yang akan berubah menjadi Cinderella. Dan selamanya, Tuan Fabian tidak akan pernah mencintaimu. Karena kamu tidak pantas untuknya. Karena kamu cuma gadis kampung," ucap Syanum pada dirinya sendiri.
Syanum kemudian melangkah masuk ke dalam. Dia tidak mau terlalu banyak memikirkan suaminya yang sejak tadi masih berteleponan dengan seorang wanita.