
Deru mobil, sudah terdengar di depan rumah Luna.
"Itu pasti Kak Ryan pulang," ucap Luna.
Sesampai di depan rumah, Ryan turun dari mobilnya. Dia kemudian melangkah masuk ke dalam rumah. Dia bersiul dan bersenandung riang. Sepertinya saat ini, dia sedang bahagia.
Ryan melangkah ke ruang tengah. Dia terkejut saat melihat Syanum ada di dalam.
"Wah, rupanya ada tamu cantik di sini," ucap Ryan.
Ryan meletakan tasnya di sofa ruang tengah. Setelah itu, dia membuka dasinya dan duduk di sofa berbaur bersama Syanum dan Luna.
"Sudah makan Kak?" tanya Luna.
"Sudah," jawab Ryan singkat.
"Sejak kapan Kak Syanum ada di sini?" tanya Ryan.
"Sejak pagi Kak," jawab Luna.
Sejak tadi Syanum masih diam. Dia sama sekali tidak menyapa Ryan. Dia hanya sekilas menatap dan tersenyum kecil saat Ryan datang. Mungkin, dia masih sedih dan masih memikirkan suaminya. Hatinya benar-benar terluka saat ini.
"Oh. Ya udah deh. Kalian lanjutin aja ngobrolnya. Aku mau ke kamar dulu ya. Aku capek banget. Mau mandi dulu." Ryan bangkit dari duduknya.
"Kak, aku mau bicara sama kakak."
"Bicara apa?" Ryan menatap adiknya.
"Ikut aku sebentar."
Luna melangkah ke arah Ryan . Dia meraih tangan Ryan, dan menyeret Ryan untuk menjauh dari Syanum.
"Kak. Aku mohon, nanti kalau kakak ketemu sama Kak Fabian, Om Damar, Tante Reva atau pun Kak Dila, nggak usah bilang ya, kalau Kak Syanum ada di sini."
"Lho. Kenapa emang?" tanya Ryan.
"Sudah deh. Nurut aja sama aku. "
Ryan melirik ke arah Syanum yang masih berada di sofa.
"Ada apa sih? jadi kepo. Lagi ada masalah ya Syanum sama Fabian?"
"Ceritanya panjang Kak. Aku cuma mau nolong Kak Syanum aja. Agar Kak Fabian tidak semena-mena lagi dengan Kak Syanum," ucap Luna.
"Semena-mena gimana maksud kamu?"
"Sudahlah. Ceritanya nanti aja. Aku cuma kasihan aja melihat Kak Syanum. Dia selalu aja disakiti oleh Kak Fabian."
Ryan terkejut mendengar ucapan adiknya.
"Disakiti. Fabian udah menyakiti Syanum?"
"Iya. Nanti aku ceritain deh. Mending sekarang Kakak ke kamar aja dulu. Barang kali kakak capek, atau mau mandi dulu."
__ADS_1
"Ya udah. Jadi intinya Syanum itu lagi galau?"
"Yah, begitulah."
"Ya udah kalau begitu. Sekarang kamu temani Kak Syanum sana!" pinta Ryan.
"Iya."
Ryan pergi ke arah kamarnya. Sementara Luna kembali duduk di sisi Syanum.
Sejak tadi, Luna selalu memberi semangat ke Syanum untuk tidak terlalu memikirkan suaminya. Karena Luna tahu kalau stres, bisa berpengaruh ke kandungan Syanum.
Sebisa mungkin, Luna selalu menghibur Syanum. Karena dia juga tau, ayah Syanum belum genap empat puluh hari meninggal. Pasti Syanum sedihnya berkali-kali lipat sekarang.
"Kak. Kita ke kamar yuk! kakak nggak ngantuk?" tanya Luna
Syanum menggeleng. "Aku belum ngantuk Lun."
"Malam ini, kakak tidur sama aku ya?"
"Iya Lun."
"Ya udah Kak, aku ke kamar dulu ya."
"Iya Lun. Kalau kamu mau tidur dulu, nggak apa-apa kok. Nanti aku nyusul ke dalam."
Luna kemudian melangkah pergi ke kamarnya dan meninggalkan Syanum di ruang tengah.
****
Dia menatap ke atas langit-langit kamar.
"Kenapa lagi sih dengan Syanum dan Fabian. Aku jadi kepo dengan masalah mereka. Apa aku tanya langsung aja ya sama Syanumnya," gumam Ryan.
Ryan bangkit duduk. Setelah itu, dia turun dari tempat tidurnya dan menuju ke arah ruang tengah. Dia terkejut saat melihat Syanum masih berada di ruang tengah.
'Udah malam begini, ngapain dia belum masuk kamar,' batin Ryan.
Ryan melangkah dan mendekat ke arah Syanum. Dia kemudian menghempaskan tubuhnya dan duduk di dekat Syanum.
"Ryan. Kamu ngagetin aja sih," ucap Syanum.
"Hehe...makanya, jangan kebanyakan ngelamun. Nanti kesambet setan loh."
"Siapa yang ngelamun sih. Orang aku nggak ngelamun juga."
"Hah, nggak ngelamun gimana. Tadi aku lihat kamu ngelamun kok. Udah malam. Kenapa belum tidur sih?" tanya Ryan.
"Aku belum ngantuk," jawab Syanum.
"Halah, bilang aja kalau kamu lagi mikirin suami kamu. Iya kan?"
Ryan mengambil camilan yang ada di atas meja.
__ADS_1
"Dari pada mikirin Fabian, lebih baik makan kacang aja sama aku." Ryan menyuap sebutir kacang ke dalam mulutnya yang menjadi cemilannya malam ini.
"Aku nggak suka kacang."
"Terus sukanya apa?"
"Aku nggak suka apa-apa."
"Heh, aku ingatin ya Syanum sama kamu. Jangan terlalu banyak mikirin Fabian. Tinggalin aja lelaki model gitu. Dia itu udah punya penyakit bucin akut sama si Mentari. Nggak pantas deh, lelaki seperti itu dipertahanin," ucap Ryan di sela-sela kunyahannya.
Syanum menatap lekat ke arah Ryan. "Kamu tahu dari mana soal Mentari? apa Luna sudah cerita semuanya sama kamu?"
"Sudahlah, nggak penting aku mau tahu dari mana soal itu. Aku cuma nebak-nebak aja kok."
Syanum menghela nafas dalam. Saat ini, dia memang belum bisa untuk melupakan kejadian semalam. Hatinya masih terlalu sakit, saat mendengar ucapan-ucapan Fabian yang begitu menyakitkan malam itu.
"Lelaki di dunia itu ada banyak Kak. Kamu itu cantik, kamu bisa mendapatkan lelaki yang lebih baik dari Fabian, lebih tajir, lebih keren, karena kamu itu cantik."
Syanum menatap Ryan. Entah sudah berapa kalinya, Ryan memuji Syanum cantik. Tapi memang begitulah Ryan, setiap bicara dengan wanita.Sikapnya yang hangat, bisa meluluhkan semua hati wanita.
Makanya, banyak wanita yang menggilainya. Namun dari semua wanita itu, tak ada satupun wanita yang benar-benar Ryan cintai. Ryan tidak ingin bermain hati. Karena dia tidak mau sakit hati hanya gara-gara wanita.
Syanum tersenyum. Dia tidak berkomentar sedikitpun dengan ucapan Ryan.
"Kalau Kak Fabian nggak mau sama kamu, sama aku aja Kak. Aku pasti bisa membahagiakan kamu."
Syanum terkejut dan langsung menatap ke arah Ryan.
"Hehe... kalau Kak Fabian menceraikan kamu, nikah aja Kak sama aku."
"Apa! nikah sama kamu?"
"Haha... nggak usah serius gitu Kak. Aku cuma becanda." Ryan tergelak saat melihat ekspresi wajah Syanum.
Syanum memukul bahu Ryan dengan keras.
"Bushet, sakit banget Kak pukulan kamu."
"Emang aku mau apa, nikah sama lelaki play boy macam kamu. Kalau aku nikah sama kamu, bisa mati muda aku. Karena setiap hari kamu gonta-ganti selingkuhan."
"Haha... tapi jangan samakan aku sama Kak Fabian. Karena aku bukan lelaki bucin. Dari semua wanita yang aku dekatin, aku nggak pernah naruh rasa. Karena cinta aku, hanya untuk wanita yang akan terpilih menjadi istri aku."
"Oh ya? kamu pacaran tanpa rasa? jadi kamu nggak pernah cinta sama pacar-pacar kamu?"
"Ya nggaklah. Kalau aku sudah nikah, baru aku akan setia sama istri aku Kak. Aku akan sayangi istri aku dan anak-anak aku nanti. Dan aku akan tutup hati aku, untuk para mantan."
"Iya. Seharusnya suamiku bisa seperti itu. Tapi sayangnya, dia tidak bisa seperti itu."
Syanum bangkit dari duduknya.
"Ryan. Aku mau ke kamar Luna. Aku udah ngantuk."
"Ya udah Kak. Selamat tidur."
__ADS_1
Syanum tersenyum dan dia pergi meninggalkan Ryan sendiri.
***