
Sore ini, Fabian masih berada di kantornya. Sejak tadi, dia masih menatap Syanum yang masih terlelap di atas sofa ruang kerjanya.
Fabian bangkit berdiri. Setelah itu, dia melangkah ke arah Syanum dan duduk di sisi sofa.
Fabian tersenyum, saat melihat istrinya tertidur pulas.
"Syanum, kalau kamu lagi tidur seperti ini, kamu jadi sangat kalem, tidak banyak tingkah, dan tidak banyak bicara. Dan aku suka kalau kamu lagi tidur. Kamu pasti lelah sekali hari ini. Aku kurung kamu setengah hari di dalam ruanganku," ucap Fabian.
Syanum tiba-tiba saja mengerjapkan matanya. Dia menatap ke arah suaminya.
"Mas Fabian. Kamu kenapa ada di sini?" tanya Syanum sembari beringsut duduk. Dia takut karena Fabian sudah berada di dekat Syanum.
"Aku cuma mau bangunin kamu aja tadi. Tapi aku nggak tega. Soalnya kamu tidurnya pulas banget Syanum."
Syanum tersenyum.
"Iya Mas, aku lelah banget," ucap Syanum sembari mengucek matanya yang masih mengantuk.
"Ya udah. Sekarang kita pulang! Semua karyawan juga sudah pulang."
"Kamu nggak mau lembur Mas?" tanya Syanum.
Fabian menggeleng.
"Nggak. Aku mau ajakin kamu makan malam."
"Kamu yakin Mas? bukannya tadi siang kamu masih kesal sama aku?"
Fabian menghela nafas dalam.
"Nggak. Aku udah nggak marah kok."
Syanum mengernyitkan alisnya bingung. Memang suaminya itu lelaki yang sulit untuk ditebak. Kadang baik, dan kadang juga suka marah-marah nggak jelas.
Syanum dan Fabian kemudian ke luar dari kantor mereka. Mereka menuju ke parkiran kantor untuk mengambil mobilnya. Syanum kemudian masuk ke dalam mobil suaminya. Begitu juga dengan Fabian yang ikut masuk ke dalam mobil. Mereka kemudian meluncur pergi meninggalkan kantor.
"Kita mau ke mana Mas?" tanya Syanum.
"Pakai nanya lagi. Aku kan sudah bilang. Kalau aku mau ngajak kamu makan malam."
"Jadi kita mau langsung aja nih. Nggak mau pulang dulu."
"Ya nggaklah. Aku juga udah lapar begini."
"Oh, oke lah Mas, terserah kamu."
Syanum sebenarnya lelah dan dia masih ngantuk. Tapi dia juga tidak bisa menolak ajakan Fabian untuk pergi dengannya.
Beberapa saat kemudian, mobil Fabian sudah sampai di depan parkiran cafe.
"Turun!" ucap Fabian.
'Ih, dasar cowok nggak peka banget sih. Sama sekali nggak romantis. Bukannya bukain pintunya malah cuek banget gitu,' batin Syanum.
__ADS_1
Syanum mengangguk. Fabian dan Syanum kemudian turun bersama dan mereka melangkah ke arah cafe. Mereka berdua masuk ke dalam cafe dan mencari tempat duduk yang ada di dalam cafe.
Syanum dan Fabian, kemudian duduk di cafe dan memesan makanan.
Beberapa saat, mereka menunggu pelayan datang.
"Syanum, kamu kenapa?" tanya Fabian yang melihat Syanum sejak tadi diam. Entah apa yang sedang Syanum fikirkan saat ini.
"Aku capek Mas. Sebenarnya aku masih ngantuk," ucap Syanum
"Ya udah. Kita makan dulu.
Setelah itu, nanti kita pulang."
Syanum mengangguk.
Beberapa saat kemudian, seorang pelayan datang dan menyajikan makanan pesanan Syanum di atas meja cafe.
"Silahkan Mas, Mbak, selamat menikmati."
"Makasih," ucap Fabian.
Fabian dan Syanum kemudian makan bersama.
Sejak tadi, Fabian tampak masih mengunyah makanannya. Sementara Syanum, hanya mengaduk-aduk makanannya saja.
"Syanum. Kamu kenapa sih? diajak dinner malah diam aja gitu. Kamu nggak suka makan malam sama aku?" Fabian tampak emosi.
"Aku nggak kenapa-kenapa Mas. Aku cuma lagi malas aja."
"Malas kenapa?"
"Mas, sebenarnya siapa sih cewek yang tadi siang makan di kantin sama kamu?" tanya Syanum tiba-tiba.
Ternyata Syanum masih kefikiran dengan wanita yang bersama Fabian tadi siang. Dia kepo dengan hubungan Fabian dengan wanita yang ada di kantin itu.
"Untuk apa kamu tanyain dia?" Fabian menatap tajam Syanum. Sepertinya dia tidak suka, Syanum terlalu ikut campur dengan urusannya.
"Aku cuma penasaran aja. Sepertinya kamu suka ya sama dia?" terka Syanum.
Fabian melotot ke arah Syanum.
"Kamu bilang apa tadi?" ucap Fabian dengan nada tinggi.
"Kamu suka sama dia? kamu itu, sepertinya seneng banget makan bareng dia."
"Syanum. Kamu itu bicara apa sih. Kamu nggak kenal sama dia. Dia itu namanya Aira. Dia itu teman lama aku, waktu aku sekolah dulu."
"Yakin cuma teman? apa kamu pernah punya hubungan sama dia?" tanya Syanum.
Fabian diam. Dia bingung harus menjelaskan apa sama Syanum tentang Aira.
Dulu, Fabian memang pernah pacaran dengan Aira waktu mereka masih duduk di bangku SMP. Tapi itu juga tidak sampai setahun, karena hubungan mereka harus kandas di tengah jalan.
__ADS_1
"Aira itu sepupunya Mentari Syanum. Dia teman satu sekolah aku. Dan dia sekarang kerja di kantor aku," jelas Fabian.
"Benar, dulu kamu nggak pernah punya hubungan apa-apa sama dia?"
"Kamu kenapa sih nanya kayak gitu. Kamu cemburu ya?"
"Ah, nggak. Untuk apa aku cemburu," bohong Syanum. Padahal sebenarnya dia memang cemburu pada kedekatan Aira dan Fabian.
"Kalau nggak cemburu, ngapain kamu tanya-tanya!"
"Aku cuma tanya aja."
"Kamu kan sekarang udah tahu, kalau aku dan Aira nggak punya hubungan apa-apa. Jadi sekarang, kamu makan. Dan nggak usah tanya-tanya dia lagi."
Syanum kemudian mulai makan. Setelah Fabian dan Syanum menghabiskan makanannya, mereka kemudian memutuskan untuk pulang ke rumah.
Sebelum pergi, Fabian membayar semua makanan yang sudah dia pesan. Setelah itu, dia dan Syanum melangkah pergi meninggalkan cafe. Mereka melangkah ke arah parkiran mobil.
Sebelum sampai ke parkiran, Fabian menghentikan langkahnya.
"Ada apa?" tanya Syanum.
"Sepertinya ponsel aku ketinggalan di dalam Syanum. Aku ambil dulu ya."
Syanum mengangguk. Fabian kemudian melangkah masuk kembali ke dalam cafe untuk mengambil ponselnya.
Syanum menatap ke sekeliling.
"Kenapa sepi banget ya di sini. Nggak ada orang sama sekali," gumam Syanum.
"Heh, serahkan tas kamu dan seluruh barang-barang kamu pada ku!" seru seorang lelaki bertopeng yang tiba-tiba saja sudah menghadang Syanum di depan Syanum.
Syanum terkejut. Dia benar-benar takut sekali.
"Heh, siapa kamu?" Syanum memberanikan diri untuk bertanya, walau sebenarnya dalam hatinya dia begitu sangat takut.
"Nggak usah banyak tanya. Sini tas kamu...!"
"Jangan...! jangan ambil tas aku...!"
Syanum dan lelaki bertopeng itu saling merebut. Dan akhirnya, tas Syanum di bawa kabur juga oleh lelaki itu.
Syanum tidak tinggal diam. Dia kemudian meminta tolong pada orang-orang yang ada di sekitar.
"Jambret...! jambret...! tolong...! tolong...!" seru Syanum.
Beberapa saat kemudian, seorang lelaki berkelebat dengan cepat berlari ke arah jambret tadi. Sepertinya dia sedang mengejar penjabret tadi.
Syanum hanya bisa menangis karena kehilangan tasnya. Padahal di dalam tas itu, sudah ada banyak barang-barang berharganya. Seperti uang, ponsel, kartu ATM, KTP, dan masih banyak lagi.
Beberapa saat kemudian, Fabian ke luar dari cafe. Dia melangkah menuju istrinya.
"Syanum, ada apa? kenapa kamu menangis?" tanya Fabian yang melihat Syanum menangis.
__ADS_1