
Malam ini, Syanum masih berada di dapur bersama Mbak Asih. Sejak tadi, dia hanya diam. Entah apa yang sedang dia fikirkan saat ini.
"Non. Kenapa diam aja? Lagi mikirin apa sih?" tanya Mbak Asih.
"Aku cuma lagi prihatin aja sama keluarga ini. Kasihan Nyonya dan Tuan. Belakangan ini, mereka selalu di beri cobaan yang berat."
Mbak Asih manggut-manggut. "Iya."
"Coba deh Mbak Asih fikir. Sejak menghilangnya Non Mentari, cobaan demi cobaan datang silih berganti. Mulai dari kecelakaan pesawat, sampai Nyonya Reva sakit."
"Oh iya. Kok panggilnya Tuan dan Nyonya lagi? Kenapa Non? mereka itu kan mertuamu."
"Iya, aku tahu. Tapi aku ngerasa nggak pantas aja jadi menantu mereka. Aku dan Tuan Fabian itu bagaikan langit dan bumi. Sangat jauh sekali perbedaan derajat sosial kami. Dan lagi, Tuan Fabian juga tidak mau menganggap aku ini istri."
"Berdosa, seorang suami tidak mau menafkahi istrinya. Nafkah itu bukan hanya cuma di materi saja. Nafkah batin juga perlu. Kalau Tuan Fabian tidak mau memberikan nafkah batin untukmu, kenapa kamu harus mau sih menikah dengan dia. Nikah itu butuh cinta. Bukan hanya materi saja."
Mbak Asih sebenarnya prihatin melihat kondisi Syanum. Syanum yang harus menikah dengan lelaki yang sama sekali tidak mencintainya.
Mungkin mustahil seorang Fabian bisa jatuh cinta pada wanita kampung seperti Syanum. Karena Fabian adalah anak seorang direktur. Sementara Syanum, cuma anak sopir. Perbedaan mereka sangat jauh. Dan Fabian juga lelaki yang seleranya sangat tinggi. Dia lelaki yang gengsi dan egonya juga tinggi. Dan entah Syanum sanggup atau tidak bertahan dengan lelaki itu.
"Aku menikah dengan Tuan Fabian, bukan karena materi Mbak. Tapi aku cuma nggak enak saja jika aku harus menolak permintaan Tuan Damar. Aku nggak mau membuatnya kecewa. Karena selama ini aku tahu, kalau Tuan Damar sudah baik banget sama keluargaku."
"Kamu itu memang wanita yang sangat baik Syanum. Seharusnya beruntung banget Tuan Fabian bisa mendapatkan istri sebaik kamu. Kamu selalu mementingkan kebahagiaan orang lain dari pada kebahagiaanmu sendiri."
Syanum menghela nafasnya dalam.
"Entahlah Mbak Asih. Aku bisa atau tidak bertahan dengan pernikahan seperti ini."
"Kalau kamu nggak kuat, untuk menjalani pernikahan ini, lebih baik kamu nggak usah lanjutkan pernikahan ini. Kamu juga berhak bahagia Syanum. Kamu berhak mendapatkan lelaki yang baik dan mencintai kamu."
Syanum mengangguk.
"Mbak nggak ada maksud apa-apa. Sebagai sesama perempuan, Mbak tahu banget perasaan kamu seperti apa. Tidak di anggap istri oleh suami sendiri itu tidak enak Syanum."
Sejak tadi, Syanum dan Mbak Asih masih ngobrol-ngobrol di dapur. Tiba-tiba, suara Pak Damar terdengar.
"Syanum...! Syanum...!" seru Pak Damar.
"Tuh Non. Di panggil ayah mertuanya," ucap Mbak Asih.
"Iya. Aku ke sana dulu ya."
Syanum pergi meninggalkan Mbak Asih dan melangkah ke arah ayah mertuanya.
"Iya Pa."
__ADS_1
"Syanum. Kamu lagi ngapain di dapur?" tanya Pak Damar.
"Lagi bantuin Mbak Asih masak Pa," ucap Syanum.
"Syanum. Sekarang kamu itu menantuku. Kamu nggak usah bantuin Mbak Asih. Mbak Asih pasti bisa sendiri kok. Mulai sekarang, papa minta kamu untuk fokus melayani suami kamu."
"Maksud papa?"
"Kamu itu gimana sih Syanum. Mulai sekarang kamu harus belajar menjadi istri yang baik dong. Sekarang suami kamu sudah harus kerja di kantor papa. Jadi kamu yang harus mengurus semua keperluannya. Seperti menyiapkan baju kerjanya, membuatkan minuman, dan menyiapkan sarapan."
"Iya Pa."
"Papa harus buru-buru ke kantor."
"Papa nggak mau sarapan dulu?"tanya Syanum.
Pak Damar menggeleng.
"Nggak. Oh iya Syanum. Papa mau titip mama, Dimas, dan Dila ke kamu ya. Kamu kan yang ada di rumah. Tolong, rawat mereka sampai mereka sembuh. Cuma kamu, satu-satunya orang yang bisa papa andalkan."
Syanum hanya mengangguk.
"Iya."
"Tolong juga, suami kamu nanti bangunin dan suruh cepat-cepat nyusulin papa ke kantor ya."
Syanum hanya mengangguk.
"Iya."
"Hati-hati di jalan Pa."
Pak Damar mengangguk. Setelah itu dia melangkah pergi meninggalkan Syanum.
***
Di sisi lain, Fabian masih berbaring di kamarnya. Sinar mentari di pagi ini, sudah menembus masuk ke dalam celah-celah jendela kamar Fabian.
Fabian mengerjapkan matanya.
"Duh, silau banget. Jam berapa sih ini," ucap Fabian sembari menutup matanya dengan lengannya.
Fabian melihat ke arah jam yang ada di atas nakas. Waktu sudah menunjukkan jam tujuh pagi.
"Hah, udah jam tujuh. Aku kesiangan. Aku kan harus ke kantor sama papa."
__ADS_1
Fabian beringsut duduk dan langsung turun dari tempat tidurnya. Dia melangkah mengambil handuk dan masuk ke dalam kamar mandi.
Tok tok tok...
"Tuan muda, kamu lagi ngapain di dalam? kenapa kamu sejak tadi nggak keluar-keluar sih?"
Syanum masih berdiri di depan kamar suaminya. Dia takut untuk membangunkan suaminya. Sejak tadi, dia juga masih ragu-ragu untuk masuk ke dalam kamar Fabian.
Tidak ada sahutan dari dalam kamar Fabian. Syanum yang masih penasaran, kemudian mencoba untuk membuka pintu kamar Fabian.
"Oh, ternyata nggak di kunci pintunya. Kalau tahu nggak di kunci, kenapa aku nggak masuk dari tadi aja ya."
Syanum kemudian melangkah masuk ke dalam kamar Fabian. Dia melangkah mendekat ke arah tempat tidur Fabian.
"Tuan Fabian ke mana? apa dia ke luar?" gumam Syanum yang tidak melihat Fabian ada di tempat tidur.
Syanum kemudian duduk di sisi ranjang Fabian sembari mengamati kamar Fabian dan barang-barang Fabian.
Aku nggak nyangka, kalau aku akan menikah dengan lelaki arogan seperti Tuan Fabian. Kenapa hidup aku jadi seperti ini. Menikah dengan lelaki dingin seperti Tuan muda. Dia sama sekali tidak menganggap aku istri.
"Benar apa kata Mbak Asih. Percuma aku bertahan dengan pernikahan yang sama sekali tidak membuat aku bahagia. Aku juga berhak bahagia. Tapi, bukan dengan Tuan muda kebahagiaanku. Jadi, untuk apa aku nikah kalau batinku tersiksa terus seperti ini," gumam Syanum.
Syanum sejak tadi masih melamun di kamar Fabian. Dia tidak menyadari kalau Fabian sudah ke luar dari dalam kamar mandi. Fabian masih melilitkan handuk di pinggangnya.
Fabian terkejut saat melihat istrinya itu ada di dalam kamarnya. Fabian buru-buru melangkah menghampiri Syanum.
"Syanum."
Syanum yang di panggil hanya diam saja. Sepertinya, dia tidak mendengar ucapan Fabian.
"Syanum. Apa yang sedang kamu lakukan di sini?" tanya Fabian.
"Syanum...!" teriak Fabian yang membuat Syanum terlonjak kaget.
"Eh, iya Tuan muda. Ada apa?"
Syanum segera bangkit berdiri dan menatap suaminya.
"Kamu kenapa ada di kamar aku heh...! siapa yang nyuruh kamu masuk ke dalam kamarku Syanum...!"
Syanum tampak gugup. Apalagi saat dia melihat Fabian. Fabian saat ini hanya mengenakan handuk saja dari pinggang sampai lutut. Sebenarnya Syanum malu juga saat menatap tubuh Fabian. Baru kali ini Syanum melihat Fabian bertelanjang dada.
"Ma-maaf, ka-kalau aku lancang masuk ke sini Tuan Muda. Aku cuma...!"
Syanum hanya bisa menegak ludahnya saat menatap Fabian. Fabian sepertinya sangat marah pada Syanum.
__ADS_1
****