Mempelai Pengganti Tuan Muda

Mempelai Pengganti Tuan Muda
Fabian tanpa Syanum


__ADS_3

"Aghhh..." Fabian berteriak frustasi.


Sejak tadi dia masih mengajak bicara foto Syanum.


"Terserah kamu Syanum, kalau kamu mau pergi. Silahkan pergi...! pergi yang jauh...! aku juga nggak butuh kamu Syanum...! kamu menyebalkan, kamu kampungan...! apa kamu fikir, aku akan sedih kalau kamu pergi. Nggak Syanum...!" Fabian sudah mulai emosi.


***


Prank...


Suara teriakan disertai suara bantingan sebuah benda sudah terdengar dari dalam kamar Fabian. Membuat orang-orang rumah yang masih di dalam kamar terkejut.


"Mama, mama, bangun Ma." Tampak Dimas membangunkan Dila.


Dila mengerjapkan matanya. Tiba-tiba saja, Dimas memeluknya.


"Ma, aku takut Ma. Ada suara di atas. Sepertinya itu suara Om deh." Dimas menuturkan.


Dila mendengar dengan seksama suara apa yang ada di lantai atas.


"Sayang. Nggak ada apa-apa kok."


"Tapi aku dengar, kalau Om tadi teriak kenceng banget Ma."


"Ya udah. Kamu tunggu di sini ya. Biar Mama yang akan lihat ke atas."


Dimas mengangguk. Dila beringsut duduk dan turun dari tempat tidurnya. Dia kemudian melangkah ke luar dan naik ke lantai atas menuju kamar Fabian.


Tok tok tok...


"Bi. Abi. Kamu baik-baik aja kan Bi."


Tidak ada sahutan dari dalam kamar, membuat Dila penasaran. Dila langsung masuk saja ke dalam kamar adiknya waktu dia tahu kalau kamar Fabian tidak terkunci.


Dila terkejut.


"Apa-apaan ini si Abi. Kamar berantakan lagi begini. Nggak bisa di diamin kalau begini terus. Bisa habis barang-barang Mama."


Dila masuk ke dalam kamar Fabian. Namun, Fabian tak nampak ada di dalam kamarnya. Mungkin dia pergi setelah dia berhasil memecahkan vas bunga dan foto Syanum.

__ADS_1


Di sisi kolam renang, Fabian berdiri. Dia masih tampak menatap air yang tergenang di dalam kolam renang.


Fabian terkejut saat tangan halus sudah menyentuh bahunya.


"Aku tahu Syanum. Kalau kamu pasti akan kembali. Kamu tidak akan pernah bisa jauh dari aku," gumam Fabian sembari mengelus tangan lembut itu dan menggenggam erat.


Plak...


Satu pukulan keras mengenai bahu Fabian. Dila memukul Fabian dengan keras dengan tangannya. Mencoba untuk menyadarkan lamunan Fabian.


"Syanum..! Syanum...! kamu fikir aku Syanum. Lihat ke belakang Abi."


Fabian menoleh ke belakang. Tampak Dila sudah menatap Fabian tajam. Fabian terkejut saat melihat kakaknya.


"Kak. Ngapain kakak ke sini?" tanya Fabian.


"Bi. Kamu itu kenapa sih. Kayak anak kecil banget. Suka sekali berantakin kamar. Kamu tahu, gara-gara kamu anak aku jadi ketakutan. Apa sih sebenarnya mau kamu itu Bi?"


"Aku nggak mau apa-apa."


"Aku tahu Bi. Apa yang sedang kamu fikirkan sekarang. Kamu kefikiran Syanum kan. Nyesel kan Bi kamu ditinggalin dia heh...!"


"Bi. Penyesalan itu memang selalu datang terlambat. Kalau kamu punya perasaan dengan Syanum. Cari Syanum sampai ketemu. Bawa dia kembali pulang ke rumah ini. Minta maaf sama dia dengan semua yang telah kamu perbuat padanya."


"Emang, apa salah aku Kak. Aku juga nggak tahu kesalahan aku apa. Untuk apa aku minta maaf sama Syanum."


"Bi. Kamu itu jadi lelaki kok gitu amat sih Bi. Egois banget. Kalau kamu nggak punya kesalahan, Syanum tidak akan pernah pergi ninggalin kamu. Kalau seorang istri sudah memutuskan untuk pergi meninggalkan suaminya, itu artinya kamu sudah melakukan kesalahan yang sangat fatal Bi."


Fabian diam. Dia tampak berfikir. Selama ini, Fabian merasa kalau dia sudah memberikan kebahagiaan untuk Syanum. Dia sudah memberikan Syanum nafkah yang tercukupi, sehingga Syanum bisa membeli semua kebutuhannya.


"Aku nggak pernah punya salah sama Syanum Kak. Aku sudah menjadi suami yang baik untuk dia Kak. Aku sudah ngasih dia nafkah lahir. Bahkan aku juga sudah memberikan dia nafkah batin. Syanumnya aja yang udah ngga betah lama-lama nikah sama aku. Menurut aku dia itu kurang bersyukur Kak. Dia sudah dikasih suami yang super baik dan suami super sempurna seperti aku, tapi malah ditinggalin. Mungkin dia ingin cari yang lebih sempurna lagi dari aku."


CK ck ck... Dila geleng-geleng kepala.


Dia kemudian buru-buru pergi meninggalkan Fabian.


"Aku bisa gila, kalau aku terus ngeladenin Abi. Dia itu susah sekali untuk di nasihati. Usianya sudah mendekati kepala tiga. Tapi sifatnya masih saja kayak anak kecil," gerutu Dila sembari pergi.


Percuma Dila menasihati adiknya. Karena setiap Dila memberi masukan, Fabian selalu membantah.

__ADS_1


****


Di ruang makan, Kak Dila, Bu Reva, Pak Damar dan Dimas, sudah tampak berkumpul di meja makan. Sementara sejak tadi, Fabian masih belum terlihat.


"Ke mana Fabian? dia nggak ikut makan bareng kita?" tanya Bu Reva.


"Nggak tahu Ma ke mana Fabian," ucap Dila sembari menyuapkan satu sendok makan nasi ke dalam mulut Dimas.


"Tadi aku lihat Om Abi ke luar Oma," ucap Dimas di sela-sela kunyahannya.


"Ke luar? dia udah ke kantor?" tanya Pak Damar.


"Katanya Om Abi mau lari pagi Opa."


"Dia nggak mau ke kantor?" tanya Bu Reva.


"Tadi pagi, Abi itu ngamuk lagi Ma. Foto Syanum aja dia pecahin lagi." Dila menuturkan.


"Oh iya. Kenapa dengan dia?" tanya Bu Reva.


"Nggak tahu Ma. Dia itu sekarang jadi aneh banget. Beda banget dari Abi yang dulu," ucap Dila.


"Papa tahu kenapa dengan Abi. Semua ini gara-gara Mentari. Kehadiran Mentari sudah mengacaukan semua. Seharusnya sekarang Abi itu sudah melupakan Mentari dan mencintai Syanum. Tapi gara-gara Mentari, hubungan Syanum dan Abi berantakan," ucap Pak Damar yang sudah tahu dengan masalah Fabian dan Syanum yang sebenernya. Dia sudah tahu penyebab Syanum pergi meninggalkan Fabian.


Dila dan Bu Reva saling menatap. Mereka kemudian menatap Pak Damar lekat.


"Papa tahu dari mana kalau Mentari sudah kembali?" tanya Dila.


"Papa kemarin ke rumah Pak Riko. Dan papa melihat Mentari ada di rumahnya. Dan katanya Fabian itu sudah menemui Mentari lagi. Entah apa yang ada difikiran anak itu. Dia sudah punya istri, tapi dia masih saja menemui Mentari."


"Oh, apa itu ya yang membuat Syanum pergi. Terus, di mana Syanum sekarang ya," ucap Bu Reva.


Bu Reva dan Dila menang tidak ada yang tahu keberadaan Syanum sekarang. Karena Pak Damar belum cerita apapun tentang Syanum pada mereka.


Sebenarnya Pak Damar juga ingin ke rumah Luna untuk melihat Syanum. Tapi Pak Damar belum ada waktu karena dia masih sibuk dengan pekerjaan di kantornya.


"Ya udah Dil, Ma, Papa mau berangkat dulu ke kantor." Pak Damar bangkit berdiri.


Setelah berpamitan dengan keluarganya, dia kemudian pergi meninggalkan rumah.

__ADS_1


__ADS_2