Mempelai Pengganti Tuan Muda

Mempelai Pengganti Tuan Muda
Pertemuan Mario dengan Aira.


__ADS_3

"Ah, sial. Pakai acara mogok lagi," gerutu Aira saat mobilnya tiba-tiba saja berhenti di tengah-tengah jalan. Aira memukul setir mobilnya karena emosi.


Aira turun dari mobilnya untuk mengecek kondisi mobilnya di luar. Pertama kali yang dia cek adalah ban mobilnya. Namun, dari keempat ban itu, sama sekali tidak ada yang kempes atau pun bocor. Aira melangkah ke depan, untuk membuka bagian depan mobilnya.


"Apanya yang rusak lagi ya. Kenapa baru kemarin di servis sudah mogok lagi," gumam Aira sembari mengamati bagian-bagian mesin mobilnya.


"Auh...!" pekik Aira saat kepalanya tiba-tiba terkena batu kerikil kecil.


Aira menatap ke bawah dan mengambil batu kerikil itu. Dia kemudian mengambil batu itu dan menatap ke sekeliling.


"Siapa yang melempar batu ini ke kepala gue ya,"ucap Aira sembari menatap ke sekeliling.


Aira terpaku saat melihat sosok lelaki berkaos oblong, dan celana jeans yang robek bagian lututnya. Lelaki itu tidak melihat Aira. Dia sejak tadi masih tampak menggerutu sembari menendang apa saja yang ada di depannya.


Lelaki itu kembali menendang botol minum sampai ke depan kaki Aira.


"Ini semua kerjaan lelaki itu nih. Gue harus samperin dia." Aira sudah mulai emosi.


Aira buru-buru menghampiri lelaki yang tampak sedang frustasi itu.


"Heh. Ini pasti kerjaan lu kan? lu kan yang udah nimpuk gue pakai batu ini?" Aira memperlihatkan batu kerikil itu di depan lelaki itu.


Lelaki itu menatap Aira. Dan Aira terkejut saat melihat siapa lelaki yang sekarang ada di depannya.


"Mario. Lu Mario kan? lelaki sok ganteng itu," ucap Aira.


Aira masih ingat betul dengan Mario. Salah satu teman sekolahnya sewaktu SMA. Mario yang sudah tergila-gila dengan Mentari sepupunya Aira.


Mario menatap Aira lekat. Sejak tadi dia masih terdiam. Mario tampak seperti sedang mengingat-ingat di mana dia pernah bertemu dengan Aira.


"Em, lu siapa?" tanya Mario.


"Oh, ternyata lu lupa ya sama gue Mario?"


"Lu kenal nama gue?" Mario menatap lekat Aira.


"Ya kenal banget lah. Lu kan lelaki yang menjadi biang rusuh di sekolah. Lelaki sok ganteng, dan sok kaya itu. Kok sekarang penampilan lu, berubah. Mana Mario yang dulu gue kenal. Mario yang katanya anak orang paling tajir sejagat raya ini."


"Heh, jangan sembarangan lu ngatain gue. Kenal juga kagak. Main ngatain orang sembarangan," gerutu Mario tampak kesal.


"Lu mau tahu siapa gue heh...!" Aira mencengkeram kerah baju Mario.


Mario seperti lupa dengan Aira. Dia sama sekali tidak mengenali Aira. Gadis yang dulu sering dia ejek karena gendut. Dulu Mario dan teman-temannya, memang sering membully Aira. Dan Aira yakin, kalau sekarang mereka-mereka semua pasti tidak akan pernah mengenali Aira.


Karena Aira berubah drastis setelah kepulangannya dari luar negeri.


Mario melepaskan tangan Aira dengan kasar.

__ADS_1


"Apaan sih lu!" Mario melotot ke arah Aira


"Mario. Gue benar-benar nggak terima. Tadi lu udah nimpuk gue pakai batu. Sekarang lu harus minta maaf sama gue," ucap Aira.


"Kalau gue nggak mau gimana?"


"Heh, lu harus minta maaf. Cepat...!"


"Siapa sih sebenernya lu?"


"Gue Aira. Sepupunya Mentari. Gadis yang dulu sering sekali lu Bully."


Mario tampak terkejut mendengar ucapan Aira.


"Lu serius? kalau lu itu Aira?"


"Ya gue serius. Untuk apa gue bohong."


Mario tersenyum sembari menatap Aira dari atas ke bawah dan sebaliknya.


"Lu berubah banget sekarang Ra," ucap Mario.


"Heh. Berhentilah menatap gue seperti itu! atau gue lempar lu pakai sepatu gue."


"Wish, ampun Ra. Oke, gue nggak akan menatap lu. Gue minta maaf Ra, soal tadi. Gue benar-benar nggak sengaja tadi Ra."


"Baguslah kalau lu nyadar," ucap Aira.


Mario mendekat ke arah mobil Aira. Dia kemudian, menatap mobil Aira.


"Mobil kamu kenapa Ra? mogok?"


"Iya nih. Nggak tahu kenapa. Padahal kemarin baru aja di servis."


"Oh, itu sih gampang Ra. Di lem biru aja."


"Apa tuh?"


"Lempar dan beli yang baru."


"Hehe...bisa aja lu. Ya nantilah, kalau punya duit. Gue aja lagi boke gini. Lu bisa nggak benerin mobil gue?"


"Yah, bisa sih. Tapi, gue lagi malas Ra. Tapi nanti gue bantu deh. Oh iya, lama banget ya kita nggak ketemu. Gimana kalau kita cari tempat yang enak aja untuk ngobrol. Ada banyak hal yang ingin gue obrolin sama lu Ra."


"Apa?"


Mario mengedarkan pandangannya. Dia kemudian menatap ke arah kursi yang ada di dekat taman.

__ADS_1


"Lihat deh, itu ada kursi. Kita duduk di sana aja yuk?"


Aira mengangguk.Dia kemudian melangkah bersama Mario ke taman yang kebetulan tampak sepi siang ini.


Mario dan Aira duduk bersama di kursi itu.


Sebenernya, Mario ingin menanyakan tentang Mentari pada Aira. Sudah lama, Mario tidak pernah bertemu dengan Mentari sejak kejadian di malam itu.


"Ra. Kapan lu pulang dari luar negeri?" tanya Mario menatap Aira lekat.


"Sepertinya, kurang lebihnya sudah satu bulanan lah."


"Sudah lama ya."


"Iya lumayan."


"Kenapa lu mutusin untuk kembali ke Indonesia. Dulu lu bilang, lu nggak akan pernah menginjakan kaki lu lagi di tanah air lu?"


"Yah, memang ada misi tertentu yang membuat gue bertekad untuk tetap tinggal di sini."


"Misi apa?"


"Ada deh..."


"Ra. Gue mau tanya soal Mentari dong. Mentari benar-benar sudah menikah ya dengan Fabian? soalnya gua sampai sekarang belum pernah melihatnya lagi."


"Lu yakin? nggak tahu soal ini Mario?"


Mario mengernyitkan alisnya bingung. Dia memang tidak tahu menahu tentang hancurnya pernikahan Fabian dengan Mentari.


"Soal apa Ra? cepat ngomong!" Mario tampak sangat penasaran.


"Sebenarnya, Fabian dan Mentari itu nggak jadi menikah."


"Apa! mereka nggak jadi nikah? kenapa?"


"Mentari kabur dari rumah Mar. Dan kita semua tidak tahu keberadaannya sekarang."


"Lu serius?" Mario menatap tajam Aira.


"Iya gue serius lah. Untuk apa gue bohong ama lu."


"Terus, sekarang Mentari ada di mana? apa lu sudah pernah melihat Mentari sejak lu tinggal di sini?"


Aira menggeleng.


"Gue belum pernah ketemu Mentari lagi. Sekarang Mentari itu masih berada dalam pencarian polisi dan berita orang hilang."

__ADS_1


"Oh..." Mario hanya manggut-manggut. Dia tidak merasa bersalah sedikitpun karena telah membuat hubungan Mentari dan Fabian hancur.


'Gue yakin, hubungan Mentari dan Fabian jadi hancur gara-gara gue. Gue lelaki yang sudah memaksa Mentari untuk tidur dengan gue. Gue yang udah menjebak dia dan mencekoki dia dengan minuman keras. Dan gue bahagia. Karena Mentari dan Fabian tidak jadi menikah. Karena jika gue tidak bisa memiliki Mentari, jangan harap lelaki lain juga bisa memilikinya. Karena selamanya Mentari akan menjadi milik gue.' batin Mario.


__ADS_2