
"Syanum...! Syanum...!" Seruan dari luar rumah sudah terdengar.
Mbak Asih buru-buru melangkah menghampiri majikannya.
"Mbak Asih. Di mana Syanum? aku udah bawakan dia makanan," ucap Bu Reva.
"Em, Itu Nya. Non Syanum, nggak ada."
Bu Reva mengernyitkan alisnya bingung.
"Nggak ada gimana?"
"Em, anu Nya. Sejak Nyonya Reva pergi, sepertinya Non Syanum juga ikutan pergi."
"Mbak Asih. Syanum bilang nggak mau pergi ke mana?"
Mbak Asih menggeleng.
"Nggak. Non Syanum nggak bilang apa-apa Nya."
Pak Damar mendekat ke arah istrinya.
"Ada apa sih Ma, ribut-ribut?"
"Kata Mbak Asih, Syanum pergi Pa."
"Iya Tuan. Tapi dia nggak bilang mau ke mana."
"Di kamar mungkin."
"Nggak ada Tuan. Di kamar, cuma ada Tuan muda."
"Apa! Fabian ada di rumah? bukannya dia ke kantor tadi pagi?"
Mbak Asih menggeleng.
"Nggak Tuan. Tuan Fabian nggak ke kantor. Tadi pagi dia ke kantor. Terus, dia pulang lagi."
Pak Damar yang penasaran buru-buru melangkah ke arah kamar anaknya. Dia kemudian mengetuk kamar Fabian.
"Bi. Apa kamu ada di dalam?"
Tidak ada jawaban dari dalam kamar.
Pak Damar langsung membuka pintu kamar Fabian. Sontak dia langsung terkejut saat melihat anaknya sedang terlelap di atas ranjang.
Pak Damar buru-buru masuk menghampiri anaknya.
"Bi. Fabian bangun...!"
Fabian mengerjapkan matanya. Dia terkejut saat melihat ayahnya.
"Mana Syanum?" tanya Pak Damar.
"Aku nggak lihat Pa," ucapnya santai.
"Nggak lihat gimana."
"Palingan ke warung atau pergi sama Kak Dila Pa. Mungkin aja dia ngikut Kak Dila ke sekolah Dimas."
"Masa sih. Apa kamu udah telpon dia?"
__ADS_1
"Udah. Tapi nomernya ngga aktif Pa. Aku yakin, dia pasti lagi sama Kak Dila. Kalau nggak percaya coba aja telpon Kak Dila."
Pak Damar tanpa menunggu waktu lama, segera mengeluarkan ponselnya. Dia kemudian menelpon nomer Dila.
"Halo Dil."
"Halo Pa. Ada apa Pa?"
"Kamu di mana Dil?"
"Aku masih ngantar Dimas sekolah Pa."
"Sama Syanum juga?"
"Nggak Pa. Emang kenapa?"
"Kata Mbak Asih, Syanum sejak tadi pagi nggak ada di rumah."
"Lho. Bukankah dia juga ikut kita sarapan?"
"Iya. Katanya sewaktu Mama dan Papa pergi, Syanum juga pergi. Tapi dia nggak bilang dulu mau pergi ke mana."
"Duh, apa jangan-jangan ini gara-gara si Abi ya Pa. Jangan-jangan Syanum trauma dengan kejadian semalam. Semalam, Syanum kelihatan ketakutan banget. Dan dia juga kelihatan sedih banget waktu masuk ke kamar aku Pa."
"Terus maksud kamu apa Dil? apa Syanum pergi meninggalkan rumah? tapi dia mau pergi ke mana? saudaranya kan jauh dari sini."
"Ya udah Pa. Papa nggak usah khawatir. Nanti, biar Dila yang akan cari Syanum. Papa hubungi Abi Pa. Kasih tahu dia kalau Syanum pergi."
"Orang Papa juga lagi sama Fabian kok."
"Oh, terus dia lagi ngapain?"
"Dia lagi tidur di kamar."
"Ya udah Dil. Nanti, Papa dan Mama juga akan cari Syanum."
Setelah bertelponan dengan Dila, Pak Damar menatap tajam ke arah Fabian.
"Kenapa kamu masih berdiam diri di sini?" Pak Damar melotot ke arah Fabian.
"Em, terus. Aku harus gimana Pa?"
"Ya cari istri kamu sampai ketemu...!" Pak Damar sudah menaikan nada bicaranya.
Fabian buru-buru berdiri.
"Sekarang cari Syanum sampai ketemu. Syanum pergi pasti gara-gara kamu kan? dia takut sama amukan kamu semalam. Apa kamu nggak ngerasa heh...!"
Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Fabian pergi meninggalkan kamarnya.
Fabian menuruni anak tangga dan melangkah melewati ruang tengah.
"Bi. Kamu mau ke mana? buru-buru banget?"
Fabian tidak menjawab pertanyaan ibunya. Dia bergerak pergi meninggalkan rumah.
"Dasar anak aneh. Ditanyain bukannya di jawab, malah diam aja."
Beberapa saat kemudian, Pak Damar turun dan menghampiri istrinya.
"Ma."
__ADS_1
"Itu si Abi mau ke mana?" tanya Bu Reva.
"Papa suruh dia untuk nyari istrinya."
"Syanum benar-benar nggak ada di kamarnya Pa?"
Pak Damar menggeleng.
"Nggak ada Ma. Dan Syanum juga nggak ada sama Dila."
"Em, ke mana ya dia. Mama jadi bingung Pa. Di sini kan Syanum nggak pernah pergi-pergi kecuali ke warung. Dia nggak punya kenalan, teman atau sahabat di sini. Kalau ke rumah keluarga ayahnya, juga jauh banget. Apa jangan-jangan dia ke pulang kampung?"
"Nggak mungkinlah Ma. Kalau dia pulang kampung, dia pasti izin dululah sama kita."
Di luar rumah, Fabian sudah bergegas masuk ke dalam mobilnya. Dia harus mencari Syanum saat ini juga. Karena dia tidak mau disalahkan oleh ayah dan ibunya.
Fabian kemudian melajukan kendaraannya untuk mencari Syanum. Sesampai di tengah jalan, Fabian menelpon Mentari.
"Halo..."
"Halo Tar. Aku ke rumah kamu sekarang ya."
"Untuk apa?"
"Aku mau bicara sama kamu."
"Bicara apa Bi? semalam kan kita sudah bicara panjang lebar. Untuk apa kita bicara lagi. Kayaknya udah nggak ada yang perlu kita bicarakan lagi deh. Semua udah jelas kan Bi."
"Kamu mau nggak bantuin aku?"
"Bantu apa?"
"Istri aku pergi. Aku mau kamu temani aku untuk mencari istriku."
"Apa kamu udah gila Bi? aku bisa didamprat ibu kamu Bi. Apa yang akan orang bilang tentang kita."
"Untuk apa kita harus perduli dengan ucapan orang lain. Selama kita nyaman, ya nggak apa-apa. Lagian, Papa dan Mama aku, juga nggak akan tahu kan kalau kita jalan bareng."
"Aku nggak mau Bi. Aku nggak mau disalahkan oleh orang tua kamu. Aku nggak mau menemani kamu untuk mencari istri kamu. Cari aja sendiri istri kamu. Aku nggak mau ya Bi, cari-cari masalah. Beban hidup aku itu udah berat. Aku nggak mau, dekat kamu karena aku nggak mau menambah beban masalahku."
Tut Tut Tut...
Mentari mematikan saluran telponnya dengan sepihak.
"Ah, belum selesai juga udah di matiin," gerutu Fabian.
Entah apa yang sebenarnya Fabian Inginkan. Seharusnya dia sudah bisa melupakan Mentari sejak dulu. Tapi dia malah ingin dekat lagi dengan Mentari. Dia seperti lupa, kalau di sisinya ada hati istrinya yang harus dia jaga. Mentari saja bisa tahu diri. Tapi, Fabian sama sekali tidak tahu diri.
****
Malam ini, Syanum masih berada di rumah Luna. Dia sejak tadi, masih duduk di ruang tamu rumah Luna.
Sejak tadi, Syanum masih diselimuti kesedihan. Sakit sekali saat mengetahui kalau suaminya itu, masih perhatian sama wanita lain.
Syanum menghela nafas dalam.
'Kenapa sih, dengan Mas Fabian. Dia udah mau menyentuh aku, dia udah mau bersikap baik sama aku, aku fikir selama ini dia udah mulai cinta dan sayang sama aku. Tahunya, semua itu palsu. Karena hatinya masih aja untuk Mentari. Aku nggak mau, menyakiti diri aku sendiri. Aku harus lupakan cinta aku untuk suamiku.' batin Syanum.
Fikiran Syanum sudah ke mana-mana. Dia ingin sekali mengakhiri hubungan rumah tangganya bersama Fabian. Dia tidak sanggup disakiti terus oleh suaminya. Lebih baik dia sendiri dari pada harus terus disakiti.
"Kak Syanum. Apa yang kakak fikirkan? pasti kakak lagi mikirin Kak Fabian ya? untuk apa difikirkan Kak. Percuma, nggak ada untungnya mikirin suami seperti dia. Lebih baik, sekarang kakak mikirin calon Dedek bayinya saja. Biar dia tetap sehat di dalam kandungan. Udah berapa bulan sih Kak?" tanya Luna.
__ADS_1
"Satu bulan Lun."
"Sabar ya Kak. Aku tahu rasanya ada di posisi Kakak. Karena aku juga perempuan Kak. Pasti sakit banget, jika kita tahu kalau pasangan kita, belum bisa move on dari mantannya."