Mempelai Pengganti Tuan Muda

Mempelai Pengganti Tuan Muda
Wanita siapa yang kau bawa


__ADS_3

Ting Tong...


Suara bel dari luar apartemen Fadlan, berbunyi. Fadlan saat ini, masih berada di kamar mandi.


Sementara Mentari, sejak tadi masih berada di ruang tengah. Mentari bangkit berdiri dan melangkah ke arah depan untuk membuka pintu.


Mentari terkejut saat di depan pintu, sudah berdiri seorang wanita berpenampilan modis dan menatapnya tajam.


"Siapa kamu?" tanya wanita itu.


"Aku... Em..." Mentari tampak bingung.


"Siapa kamu...!" Nada suara wanita itu semakin meninggi.


"Aku Mentari."


"Mentari? kenapa kamu bisa berada di apartemen calon suamiku?"


Mentari membelalakkan matanya saat mendengar ucapan wanita itu.


"Apa! calon suami?"


"Iya. Fadlan itu calon suamiku."


Wanita itu buru-buru melangkah masuk ke dalam apartemen untuk menemui Fadlan.


"Hei, tunggu! jangan sembarangan masuk kamu! kamu tidak bisa masuk seenaknya di tempat orang. Dokter Fadlan sedang mandi."


Wanita itu menatap sekeliling.


"Mas... Mas Fadlan...! keluarlah Mas...!" seru wanita itu.


"Hei, aku kan sudah bilang. Kalau dokter Fadlan sedang mandi. Apa kamu tuli heh...!"


Wanita itu menatap Mentari tajam.


"Diam kamu! Aku mau ketemu sama Mas Fadlan."


Wanita itu kemudian masuk ke dalam kamar Fadlan dan menunggu Fadlan di depan kamar mandi.


Beberapa saat kemudian, Fadlan ke luar dari dalam kamar mandi. Dia terkejut saat melihat Mentari dan Lisa tunangannya, sudah berdiri di depan kamar mandi.


"Hei, Lis. Kamu ada di sini? sejak kapan kamu datang sayang?" tanya Fadlan sembari mendekat ke arah Lisa.


Lisa melangkah mundur saat di dekati Fadlan.

__ADS_1


"Nggak usah banyak basa-basi kamu Mas. Siapa wanita ini?" tanya Lisa sembari menunjuk ke arah Mentari.


"Dia, Mentari sayang."


"Aku tahu dia Mentari. Tapi dia siapanya kamu Mas?"


"Dia bukan siapa-siapa aku sayang."


"Kalau bukan siapa-siapa kamu, kenapa dia bisa ada di sini sama kamu? apa jangan-jangan, selama ini kamu punya selingkuhan Mas?" terka Lisa.


"Sayang. Kamu jangan salah paham dulu. Aku dan Mentari tidak ada hubungan apa-apa kok. Aku cuma mau nolongin dia aja. Nggak lebih dari itu." Fadlan mencoba menjelaskan.


"Apa! nolongin? kamu nolongin perempuan ini, dengan cara mengajaknya tinggal di sini? aku benar-benar nggak tahu, apa yang ada di dalam jalan fikiran kamu Mas. Kamu mengajak wanita lain tinggal berdua bersamamu. Apa kamu tidak memikirkan perasaan aku Mas?" Lisa tidak mau mendengar penjelasan dari Fadlan. Sejak tadi dia masih nyerocos.


Setetes air mata Lisa, tiba-tiba saja membasahi pipi Lisa. Lisa segera menghapusnya kasar.


"Sayang. Percayalah, aku tidak punya hubungan apa-apa sama Mentari. Mentari cuma akan tinggal sementara saja, di sini. Dan selama dia di sini, kami tidak melakukan apa-apa," jelas Fadlan lagi.


"Bohong. Kamu pasti bohong kan Mas. Aku nggak percaya lagi sama kamu Mas. Aku sudah melihat dengan mata kepalaku sendiri kalau kamu membawa wanita ini untuk tinggal di sini. Kalau nggak ada apa-apa, itu tidak mungkin Mas. Apalagi kalian itu lelaki dan perempuan. Tidak mungkin kalian berdua itu tidak ada apa-apa. Aku benci Mas, sama kamu. Aku benci...!"


Lisa buru-buru pergi meninggalkan Fadlan. Fadlan bingung akan mengejar Lisa. Karena dia saja, masih mengenakan handuk.


Fadlan hanya bisa mengacak rambutnya frustasi.


"Hah, Lisa. Kenapa sih, kamu main pergi begitu aja. Aku kan bisa jelasin semuanya sama kamu Lis."


"Tega sekali Mas Fadlan sama aku. Dia tega selingkuh di belakang aku. Dia tega mengkhianati aku. Hiks...hiks.."


"Aku benar-benar nggak sanggup."


Lisa masuk ke dalam mobilnya dan dia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh. Lisa benar-benar masih dalam keadaan emosi. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan sekarang. Hatinya sudah terlalu sakit, melihat Fadlan tinggal satu atap dengan wanita lain.


Di sisi lain, Fadlan sudah duduk di sofa ruang tengah. Dia sudah mengenakan seragam dokter lengkap. Pagi ini, dia akan berangkat ke rumah sakit untuk bekerja.


"Dokter Fadlan. Maafkan aku. Gara-gara aku, dokter dan tunangan dokter jadi berantem."


Fadlan menatap Mentari.


"Ini bukan salah kamu Mentari. Lisa memang sedang cemburu buta. Dia sudah cemburu sama kamu. Dia sudah salah paham sama kita berdua."


"Iya. Kita ini bukan suami istri. Dan kita juga bukan muhrim. Tidak pantas kita tinggal satu atap seperti ini. Jelas saja, tunangan kamu marah seperti itu. Jika aku jadi Lisa, mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama seperti apa yang Lisa lakukan."


"Sudahlah. Nggak usah di bahas lagi Mentari. Aku akan ke rumah sakit sekarang. Kamu jangan ke mana-mana ya. Tunggu di sini saja."


Fadlan bangkit berdiri. Setelah itu dia mengambil tas kerjanya.

__ADS_1


"Tapi dokter Fadlan. Bagaimana dengan Lisa?"


"Biarkan saja dia. Nanti aku yang akan bicara baik-baik sama dia. Dia memang suka seperti itu."


Mentari tersenyum.


"Aku pergi dulu ya Mentari."


"Iya Dokter."


Dokter Fadlan kemudian ke luar dari apartemennya meninggalkan Mentari.


Dia melangkah ke tempat parkir dan mengambil mobilnya yang terparkir di sana.


Fadlan masuk ke dalam mobilnya dan mengendarai mobilnya sampai ke rumah sakit.


"Ah, kenapa sih semuanya jadi runyam seperti ini. Lisa sekarang marah sama aku. Dia sudah salah paham sama aku. Lalu, aku harus bagaimana," ucap dokter Fadlan di sela-sela menyetirnya.


Fadlan kemudian mengendarai mobilnya sampai ke jalan raya. Tatapan Fadlan, tertuju pada mobil Lisa yang kebetulan sedang melintas di sampingnya dengan kecepatan penuh.


"Bushet tuh si Lisa. Ngapain dia ngebut- ngebut seperti itu di tengah jalan raya. Berbahaya sekali. Aku harus mengejarnya."


Fadlan kemudian mengejar mobil Lisa. Dia ingin menghentikan Lisa dari aksi nekatnya.


"Lisa, hentikan mobil kamu sayang. Kamu bisa membahayakan diri kamu sendiri juga orang lain."


Sejak tadi Fadlan hanya bisa mengikuti mobil Lisa. Fadlan tahu, seperti apa Lisa jika sedang emosi. Lisa wanita yang tidak bisa mengontrol emosinya.


"Sayang, berhentilah sayang."


Di sisi lain, Lisa terkejut saat ada seorang wanita yang akan menyebrang jalan.


"Awas...! aaaahhhh....!" Lisa menginjak rem kuat-kuat agar mobilnya berhenti.


"Aaaahhhh...."


Fadlan yang berada di belakang Lisa, menghentikan laju mobilnya.


"Lho, Lisa kok malah berhenti di sini? ada apa?" ucap Fadlan. Dia tidak tahu kalau di depan Lisa, ada orang yang pingsan.


Fadlan buru-buru turun untuk menghampiri Lisa. Fadlan mengetuk pintu mobil Lisa dan menyuruhnya turun.


Tok tok tok...


"Sayang, turun sayang... sayang. Kamu sudah menabrak seseorang."

__ADS_1


Lisa menurunkan kaca mobilnya. Dia benar-benar ketakutan. Wanita yang ada di depannya, sekarang masih tergeletak tidak berdaya. Sayur-sayuran dan buah-buahan yang di bawa wanita itu, juga jatuh berserakan di tengah jalan.


__ADS_2