
"Benar-benar menyebalkan lama-lama Mentari ada di rumah aku. Dia suka sekali meninggalkan anaknya begitu aja dengan Mama. Emang mama aku pembantu dia apa. Nggak tahu berterima kasih. Udah numpang, masih aja ngerepotin," gerutu Aira.
Siang ini, Aira masih berada di kantin kantor. Biasanya dia selalu dengan temannya saat berada di kantin. Saat ini, Aira tampak sendiri.
Aira terpaku, saat melihat Fabian datang ke kantin. Fabian kemudian duduk di kantin agak jauh dari Aira duduk.
"Ada Abi tuh. Aku samperin dia aja deh. Aku pengin tanyain siapa sih sebenarnya ayahnya Dani itu. Waktu itu, dia pernah cerita ke aku. Tapi, dia merahasiakan semuanya dari aku," gumam Aira.
Aira bangkit berdiri. Setelah itu, dia melangkah ke arah Fabian. Dengan sekejap, Aira sudah duduk di dekat Fabian.
"Hai Bi. Lagi ngapain?" tanya Aira.
"Aira. Mau ngapain ke sini?" tanya Fabian sinis.
"Kenapa sih. Kamu setiap ketemu aku, kamu pasti jutek terus. Ramah sedikit kek. Lagian, aku juga nggak mau ngejar-ngejar kamu lagi kok. Aku udah mau move on. Karena aku udah punya gebetan baru."
"Ya syukurlah kalau gitu," ucap Fabian.
Fabian kemudian bangkit berdiri.
"Mau ke mana?" tanya Aira.
"Mau pesan makan," jawab Fabian.
"Nanti ke sini lagi ya. Aku mau bicara penting sama kamu."
"Iya," ucap Fabian dengan singkat.
Fabian kemudian melangkah ke arah ibu kantin. Fabian kemudian memesan makanan untuk makan siangnya.
Beberapa saat kemudian, Fabian membawa satu mangkuk bakso dan es teh manis ke mejanya. Dia kemudian meletakan makanannya di atas meja.
"Kamu mau bicara penting apa Ra?" tanya Fabian.
Fabian sudah lekas menyuapkan bakso ke dalam mulutnya.
"Aku mau tanya. Siapa sebenarnya lelaki yang menghamili Mentari?" tanya Aira tanpa banyak basa-basi lagi.
Uhuk uhuk uhuk...
Fabian tersedak makanannya sendiri. Membuat Aira terkejut. Aira langsung mengambilkan air minum untuk Fabian.
"Hati-hati dong Bi..! kenapa kamu bisa batuk-batuk gini sih," ucap Aira.
Fabian langsung mengambil tisu untuk mengusap mulutnya.
"Kamu nggak apa-apa kan Bi?" tanya Aira.
"Aku nggak apa-apa kok Ra."
"Syukurlah kalau kamu nggak apa-apa."
"Tadi kamu bilang apa Ra?" tanya Fabian.
"Aku cuma mau tanya. Siapa lelaki yang sudah menghamili Mentari. Mantan pacar kamu?"
__ADS_1
"Kenapa kamu harus tanya sama aku? kenapa kamu tidak tanya langsung aja sama sepupu kamu. Emang aku tahu siapa lelaki yang sudah menghamili Mentari."
"Kamu bohong kan Bi. Kamu dulu pernah cerita sama aku tentang masalah ini. Kamu pasti tahukan siapa lelaki yang sudah menghamili Mentari."
"Sekarang, aku dan Mentari sudah tidak punya hubungan apa-apa lagi. Dan aku juga sudah tidak punya perasaan apa-apa lagi dengan Mentari."
"Kamu yakin Bi? kamu sudah bisa move on dari Mentari?"
"Ya yakinlah. Untuk apa aku mencintai wanita yang sudah punya anak dari lelaki lain. Aku saja, masih punya istri yang lagi hamil anak aku."
"Syukurlah kalau kamu bisa sadar Bi. Aku juga sadar, kalau cinta itu tidak bisa untuk dipaksakan. Lebih baik kita itu dicintai oleh seseorang dengan tulus. Dari pada, kita harus mencintai seseorang yang sama sekali tidak pernah mencintai kita."
"Iya. Kamu benar Ra."
"Bi. Aku nanya serius Bi. Kamu tahu kan apa yang sedang dirahasiakan sepupu aku."
"Kamu benar-benar mau tahu Ra? tapi aku udah janji sama Mentari. Kalau aku nggak akan mengatakan ini sama siapapun. Termasuk sama kamu Ra."
"Katakan saja lah Bi sama aku."
"Kalau aku mengatakan yang sejujurnya, lalu kamu mau apa?"
"Aku akan temui lelaki itu untuk meminta pertanggungjawaban darinya. Aku akan menyuruh dia untuk menikahi Mentari."
"Begitu? bagaimana kalau Mentari ngga mau?"
"Ya Mentari harus maulah. Kenapa dia harus tidak mau. Kan untuk kebaikan dia juga."
"Tapi lelaki itu adalah lelaki yang sangat Mentari benci dalam hidupnya."
"Iya. Dan belum tentu juga Mentari mau dinikahi lelaki itu."
"Siapa sih Bi? bisikin dong."
Fabian diam. Dia bingung dengan apa yang akan dia katakan. Tapi dia juga tidak akan mungkin menyembunyikan semua itu dari Aira. Karena Aira adalah saudara sepupu Mentari. Jadi dia berhak tahu apa yang sebenernya terjadi pada Mentari dan lelaki siapa yang sudah menghamili Mentari.
"Dia itu... " Fabian menggantungkan ucapannya tampak ragu untuk mengatakan.
Aira tampak mendengar dengan seksama ucapan Fabian.
"Mario." Dengan berat hati, akhirnya Fabian mengatakan kejujuran yang selama ini di tutup-tutupi Mentari.
"Apa!" Aira menutup mulutnya rapat-rapat. Tampak tidak percaya dengan semua itu.
"Kamu yakin Bi?" tanya Aira.
"Iya, aku yakin . Dia itu Mario. Karena Mentari sudah menceritakan semuanya padaku."
Aira mengepalkan tangannya geram. Dia tidak menyangka dengan apa yang Fabian katakan. Ternyata lelaki yang selama ini menghamili Mentari adalah Mario. Lelaki yang sangat Aira kenal. Lelaki yang sangat menyebalkan.
"Aku benar-benar nggak nyangka. Kenapa Mario bisa melakukan hal itu. Padahal yang aku tahu selama ini, Mario itu cinta banget sama Mentari."
"Yah, begitulah Ra yang namanya cinta buta."
"Makasih banyak ya Bi. Karena kamu udah mau cerita semua itu sama aku. Aku janji kok Bi. Aku nggak mau bilang apa-apa sama siapapun. Karena Mentari juga sepupu aku. Aku juga akan menjaga rahasia dia."
__ADS_1
"Aku tahu Ra. Sebenarnya kamu itu wanita yang pengertian."
****
Sepulang dari kantor, Aira tidak langsung pulang ke rumahnya. Sebelum pulang ke rumahnya, Aira memutuskan untuk mampir dulu ke rumah orang tua Mario. Dia ingin menemui Mario di sana.
Aira menghentikan laju mobilnya setelah dia sampai di depan rumah orang tua Mario.
Aira buru-buru turun dari mobilnya. Setelah itu dia melangkah untuk ke teras depan rumah
"Sepi banget ya. Orang tua Mario ada di dalam nggak ya. Kenapa sepi banget sih ini rumah," ucap Aira.
Aira kemudian mengetuk pintu rumah orang tua Mario. Beberapa saat kemudian, Bik Minah membuka pintu.
"Selamat sore." sapa Aira pada Bik Minah pembantu yang ada di rumah Mario.
"Sore. Mau ketemu dengan siapa ya?" tanya Bik Minah.
"Saya mau ketemu dengan Tante Adela. Ibunya Mario."
"Oh. Bu Adela, ada di dalam. Tunggu sebentar ya. Saya panggil dulu."
"Iya. Tolong panggilkan ya Bik."
Bik Munah mengangguk. Setelah itu, dia buru-buru melangkah masuk ke dalam rumah untuk memanggil majikannya.
Beberapa saat kemudian, Bu Adela melangkah mendekat ke arah Aira.
Bu Adela mengernyitkan alisnya. Dia tampak tidak mengenali Aira.
"Siapa ya?" tanya Bu Adela.
"Tante. Aku Aira Tan," jawab Aira.
"Aira siapa?" tanya Bu Adela lagi.
"Aku temannya Mario Tan. Teman sekolahnya."
"Oh, ada apa ya?"
"Saya mau cari Mario Tan. Mario ada di rumah nggak?"
"Untuk apa kamu cari Mario? ada keperluan apa kamu dengannya?"
"Aku cuma mau bicara penting sama Mario. Kalau Mario nggak ada, aku mau bicara dengan Tante saja."
"Ya udah. Masuk dulu yuk!"
Aira kemudian masuk ke dalam rumah orang tua Mario, setelah Bu Adela mempersilahkan dia masuk ke dalam.
"Silahkan duduk Aira!" pinta Bu Adela.
"Iya Tan. Makasih."
Aira kemudian duduk di ruang tamu. Begitu juga dengan Bu Adela yang mengikuti Aira duduk.
__ADS_1