
Syanum, Nek Retno, Fabian dan Pak Herman saat ini, masih berada di makam Bu Asti. Sesampai di rumah Nek Retno, mereka langsung pergi ke makam Bu Asti. Dan kebetulan, makam Bu Asti memang dekat dari rumah Nek Retno.
"Ayah. Apa ayah mau langsung pulang ke Jakarta?" tanya Syanum.
Pak Herman, menatap anaknya lekat.
"Iya Syanum. Ayah mau langsung pulang ke Jakarta. Karena ayah masih banyak kerjaan di sana," jawab Pak Herman.
"Herman. Kamu nggak capek apa, kenapa kamu mau langsung pulang. Kamu nggak mau nginap dulu di sini?" tanya Nek Retno.
"Nggak Bu. Saya ke sini cuma mau nganter Syanum dan Fabian saja. Dan saya mau langsung pulang," jelas Herman.
"Tapi ayah. Kenapa nggak nunggu besok aja sih ayah?"
"Nggak apa-apa Syanum. Satu minggu lagi ayah ke sini jemput kalian."
"Ya udah deh. Terserah ayah saja."
Syanum sebenarnya sedih. Kalau ayahnya tidak ikut menginap di rumah neneknya. Tapi, Syanum juga tidak bisa melarang ayahnya untuk kembali ke Jakarta.
Nek Retno dan Pak Herman memutuskan untuk pulang ke rumah, setelah lama mereka berada di makam ibunya Syanum.
"Syanum. Sudah sore banget. Kita pulang yuk!" ajak ayah Syanum.
Syanum menggeleng.
"Ayah, aku masih pengin di sini ayah. Aku masih kangen sama ibu."
"Ya udah. Ayah pulang dulu ya."
"Nenek juga ya. Nanti, kalian berdua langsung pulang aja ke rumah nenek. Kamarnya juga udah rapi," ucap Nek Retno.
Syanum mengangguk. Setelah itu Nek Retno dan Pak Herman kemudian melangkah pergi meninggalkan makam. Sementara Fabian dan Syanum masih berada di makam.
"Syanum. Kita pulang yuk! udah sore nih. Kalau kamu masih kangen sama ibu kamu, kita pulang dulu. Nanti besok kita masih bisa kan ke sini lagi," ucap Fabian.
Syanum menatap suaminya.
"Kamu udah nggak betah Mas?" tanya Syanum.
"Bukannya gitu. Tapi aku capek. Aku ingin istirahat."
__ADS_1
"Ya udahlah."
Syanum akhirnya mau pulang juga ke rumah. Dia melangkah pergi meninggalkan makam bersama suaminya.
****
Malam ini, waktu sudah menunjukkan jam sepuluh malam. Ayah Syanum langsung kembali ke Jakarta. Karena dia tidak enak, jika harus ikut menginap. Karena setiap hari, dia harus nyopirin Pak Damar ke kantor. Sepulang dari makam, Pak Herman kemudian langsung meluncur untuk kembali ke Jakarta.
Malam ini, Nek Retno sudah tidur di kamarnya. Sementara Syanum masih berada di ruang tengah bersama suaminya.
"Mas, kamu nggak mau tidur?" tanya Syanum.
"Apa! tidur? bagaimana aku bisa tidur di sini Syanum. Kamar nenek kamu aja sempit banget. Aku mau tidur di mana. Nggak ada sofa di kamar. Ranjangnya pun sempit banget."
"Kan kita bisa tidur di tempat tidur Mas."
"Apa! seranjang dengan kamu?"
"Iya. Nggak apa-apa kan. Kemarin juga gitu."
"Ogah banget aku tidur di tempat tidur sempit seperti itu. Dan kamarnya juga nggak ada ACnya lagi."
"Mas. Jangan samakan kampung dengan kota dong. Dan jangan samakan rumah nenek aku dengan rumah kamu yang ada di Jakarta. Rumah kamu itu istana. Sementara, rumah nenek aku hanya rumah orang kampung. Ya kayak gini."
"Mas, kalau kamu nggak suka tidur di kamar. Ya udah. Nggak usah tidur di kamar. Tidur di sini saja. Kalau kamu nggak seneng juga tidur di sofa ruang tengah, Mas bisa tidur di luar rumah. Di luar rumah kan banyak angin. Dingin dan nggak usah pakai AC."
"Apa! kamu nyuruh aku tidur di luar? kamu ngusir aku?" Fabian mulai emosi.
"Aku nggak ngusir kamu Mas. Aku cuma mau kamu memilih. Mau tidur di luar, tidur di sini, atau tidur di kamar bersama aku. Nggak usah kebanyakan protes deh."
Syanum kemudian melangkah dan meninggalkan suaminya di ruang tengah. Syanum masuk ke dalam kamar dan naik ke atas ranjang.
"Ah...! heran deh aku. Kenapa sih Syanum harus ngajak aku untuk tinggal di sini," gerutu Fabian.
Syanum sudah terlelap di kamarnya. Sementara Fabian sejak tadi, masih membolak-balikkan tubuhnya di atas sofa ruang tengah. Fabian sama sekali tidak bisa tidur malam ini. Dia tidak betah tinggal di rumah nenek Syanum.
Jederrrr....
Suara petir tiba-tiba saja terdengar. Kilat pun, sudah mulai menyambar-nyambar. Beberapa saat kemudian, hujan pun turun dengan derasnya.
"Hah, pakai acara hujan lagi. Syanum dan neneknya udah tidur nyenyak. Mereka sama sekali tidak pernah memikirkan nasib aku."
__ADS_1
Tes tes tes...
Fabian terkejut, saat tetesan hujan sudah mulai membasahi wajahnya. Ternyata ruang tengah rumah Nek Retno bocor. Membuat Fabian semakin geram.
"Gila ini rumah. Pakai acara bocor lagi. Ini pasti Syanum memang sengaja ngerjain aku. Dia enak-enakan tidur di kamar. Sementara dia nyuruh aku tidur di luar. Apa dia memang sengaja mau balas dendam sama aku."
Fabian benar-benar kesal.
"Apes banget deh hidup aku, gara-gara Syanum. Dasar istri nggak guna. Egois. Cuma maunya mementingkan dirinya sendiri aja."
Fabian sejak tadi, masih menggerutu sendiri. Dia menunggu hujan reda. Namun, sepertinya hujan tidak mereda juga. Sampai membuat Fabian menyerah.
"Masak aku nggak mau tidur semalaman gara-gara hujan dan bocor. Pasti di kamar Syanum nggak bocor. Makanya dia masih bisa nyenyak. Gue ke kamar Syanum aja kali ya."
Fabian bangkit berdiri dan melangkah ke arah kamar. Dia membuka pintu kamar Syanum dan masuk ke dalam kamar Syanum.
"Tapi, aku mau tidur di mana. Tidur di lantai, dingin. Apa aku harus tidur sama Syanum. Ranjangnya sempit banget. Sebenarnya, ini rumah apa bukan sih. Gentengnya pada bocor begini."
Fabian mendekat ke arah Syanum. Dia kemudian berbaring di samping Syanum.
"Kenapa malam ini, dingin banget ya."
Fabian mencari selimut. Namun, tidak ada selimut di sekitar kamar. Hanya ada satu selimut. Itupun di pakai sama Syanum. Padahal malam ini, Fabian sudah sangat kedinginan gara-gara kebocoran tadi.
Fabian akhirnya berbaring di sisi Syanum.
Fabian berbisik di telinga Syanum.
"Syanum. Aku tidur di sini ya" ucap Fabian.
Syanum yang di ajak bicara tampaknya tidurnya sangat nyenyak sekali malam ini.
"Syanum. Kamu nggak dengar aku ngomong apa."
Syanum yang merasa terusik tidurnya hanya menggeliat.
"Syanum. Kamu izinin aku tidur di sini ya."
Setetes air, membasahi wajah Syanum. Syanum terkejut saat ada air menetes di wajahnya. Syanum mengerjapkan matanya dan dia kembali terkejut saat melihat suaminya sudah berbaring di sampingnya.
"Mas Fabian. Kamu kok ada di sini?" Syanum beringsut duduk.
__ADS_1
"Di ruang tengah bocor Syanum. Dan dingin banget. Makanya aku pindah ke sini. Nggak apa-apa kan aku tidur di sini."
"Iya. Nggak apa-apa Mas. Kalau kamu mau sempit-sempitan sama aku"