
Sore ini, Bu Novi masih tampak mondar-mandir di dalam kamarnya. Sejak tadi dia masih menunggu Aira pulang. Bu Novi ingin mengajak Aira untuk ke rumah sakit menjenguk Mario. Ayah kandung dari Dani cucunya.
"Ke mana sih Aira. Udah sore gini, nggak pulang-pulang," ucap Bu Novi.
Sejak Bu Novi tahu keadaan Mario yang sebenarnya, dia tampak cemas dan khawatir. Sebenarnya dia tidak ingin terjadi apa-apa dengan Mario. Karena Bu Novi tidak mau, cucunya menjadi anak yatim karena ayah kandungnya meninggal.
Deru mobil sudah terdengar dari luar rumah Bu Novi. Bu Novi mengintip dari balik jendela. Dia tersenyum saat melihat Aira datang.
Bu Novi kemudian melangkah ke luar dari kamarnya untuk menghampiri anaknya.
Sesampai di depan rumah, Aira turun dari mobilnya. Dia kemudian melenggang masuk ke dalam rumahnya. Di ruang tamu, sudah tampak ibunya duduk.
"Mama. Mama mau ke rumah sakit kapan Ma? sekarang atau nanti malam?" tanya Aira.
"Sekarang aja. Mumpung Mentari ada di rumah," jawab Bu Novi.
"Mama nggak mau ajak Mentari juga untuk menjenguk Mario?" tanya Aira lagi.
"Dari kemarin Mama juga udah ngajak dia. Tapi dia nggak mau. Ya udah, biarkan dia tunggu di rumah aja sama anaknya. Lagian, kasihan Dani kalau dia harus di ajak ke rumah sakit. Banyak virus di sana. Nanti dia bisa ikutan sakit karena tertular virus," jelas Bu Novi.
"Iya juga sih. Ya udah Ma. Sekarang aja Ma," ucap Aira.
"Lho. Kamu kan baru pulang Ra. Kamu nggak mau mandi dulu dan ganti baju?" Bu Novi menatap Aira lekat.
"Aku kan cuma mau ngantar Mama aja ke sana. Terus aku mau pulang lagi. Nanti aku jemput mama lagi, kalau mama mau pulang."
"Begitu?"
Aira mengangguk. "Iya Ma. Aku juga malas kalau harus lama-lama di rumah sakit."
"Ya udah. Kamu tunggu di sini! Mama mau siap-siap dulu."
"Dani ke mana?" tanya Aira.
"Ada di kamarnya Mentari. Biarkan saja mereka. Mama capek gendong Dani terus. Biarkan dia sama mamanya."
Bu Novi kemudian melangkah pergi untuk ke kamarnya. Dia kemudian bersiap-siap untuk ke rumah sakit. Bu Novi mengambil tasnya dan melangkah kembali ke ruang tamu untuk menemui Aira.
Aira dan Bu Novi kemudian melangkah ke luar dari rumahnya.
__ADS_1
"Tunggu ...!" seru Mentari yang membuat Bu Novi dan Aira menghentikan langkahnya. Mereka menoleh ke belakang dan menatap ke arah Mentari.
"Ada apa?" tanya Bu Novi.
"Kalian mau ke mana?" Mentari balik bertanya.
"Tante mau ke rumah sakit. Mau jenguk Mario," jawab Bu Novi.
"Kenapa mesti dijengukin sih Tan. Biarkan ajalah dia. Mau dia hidup atau pun mati, nggak ada urusannya kan sama kita. Saudara bukan, tetangga juga bukan,"ucao Mentari.
Aira dan Bu Novi saling menatap.
"Berhentilah kamu bicara seperti itu. Walau bagaimanapun juga, dia itu ayah kandungnya Dani. Dan tes DNA juga sudah membuktikan kalau 99% Mario itu ayah kandungnya Dani," ucap Bu Novi menatap Mentari tajam.
"Iya aku tahu. Tapi nggak usah sebegitunya kali Tan. Aku mau ikut ke sana," ucap Mentari tiba-tiba.
"Aku nggak mau ditinggal sendiri di rumah sama bayi itu. Aku nggak mau, Tante lama-lama perginya. Aku malas kalau harus ngurus Dani sendiri. Nanti dia nangis, minta susu, rewel lah, inilah, itulah. Nggak bisa bayanginnya deh."
Aira menatap tajam ke arah Mentari.
"Heh. Mentari. Ngeselin banget sih kamu. Emang kamu fikir, mama aku babu kamu, yang harus ngurusin bayi kamu terus. Seharusnya kamu itu sadar diri. Di sini kamu itu cuma numpang. Nggak pantas kamu nyuruh- nyuruh Mama aku terus. Aku yang anaknya aja nggak pernah manja sama mama. Lah, kamu siapa? dasar nggak tahu diri. Kualat nanti kamu Tari." Aira tampak kesal dengan Mentari.
"Sudah Aira. Jangan berantem. Mama pusing kalau harus setiap hari mendengar kalian berantem," ucap Bu Novi.
Bu Novi kemudian menatap ke arah Mentari.
"Mentari. Kalau kamu mau ikut, siapa yang akan jaga bayi kamu. Mending kamu nggak usah ikut. Di rumah aja jagain Dani. Biar Mama yang akan ke sana bersama Aira."
"Aku juga pengin tahu Ma, kondisi Mario sekarang," ucap Mentari.
"Ya udah. Kalau kamu mau ikut. Bawa Dani juga. Sekarang sana ambil Dani!" pinta Bu Novi.
"Iya Ma."
Mentari buru-buru melangkah ke dalam untuk mengambil bayinya. Setelah itu dia ke luar menghampiri Bu Novi dan Aira.
Mentari, Bu Novi, dan Aira kemudian masuk ke dalam mobil mereka. Setelah itu, mereka meluncur pergi meninggalkan rumah untuk menuju ke rumah sakit.
Sesampai di rumah sakit, mereka bertiga turun dari mobilnya. Mereka kemudian melangkah untuk ke ruangan operasi di mana orang tua Mario berada.
__ADS_1
"Selamat sore Om, Tante," ucap Aira. Buru-buru dia mencium punggung tangan ke dua orang tua Mario.
"Bu Adela, Pak Sofyan. Bagaimana keadaan Mario sekarang?" tanya Bu Novi setelah dia sampai di depan Bu Adela dan Pak Sofyan.
Bu Adela dan Pak Sofyan menatap lekat ke arah Bu Novi.
"Mario belum selesai operasi. Karena belum ada satu orang dokter pun yang ke luar. Mungkin sebentar lagi," ucap Pak Sofyan menuturkan.
Pak Sofyan dan Bu Adela kemudian menatap Mentari.
"Bu Novi. Ibu bawa Mentari dan bayinya juga ke sini?" tanya Bu Adela.
"Iya. Dia yang memaksa ikut." Bu Novi menuturkan.
"Kasihan bayi kamu Mentari. Di sini, banyak orang sakit. Bagaimana nanti, kalau dia tertular virus. Dia masih sangat kecil," ucap Bu Adela khawatir.
Mentari yang di ajak bicara hanya diam. Sama sekali tidak ada sopan santunnya. Dia malah membuang muka ke arah lain dan tidak menghiraukan ucapan mamanya Mario.
Mentari selama ini, memang sangat membenci Mario. Dan sekarang dia juga membenci anaknya sendiri karena Dani adalah darah daging Mario. Mentari membenci sesuatu yang berhubungan dengan Mario. Dan dia tidak suka berhadapan dengan orang tua Mario.
"Mentari. Kamu yang sopan sama Bu Adela. Dia itu calon mertua kamu lho," ucap Aira lirih.
Mentari menatap tajam ke arah Aira.
"Kamu bicara apa Aira. Siapa yang akan menikah dengan Mario. Aku harap Mario itu mati saja! nggak usah dia hidup. Karena jika dia hidup, dia akan menjadi orang yang selalu menyusahkan kita semua, termasuk aku," bisik Mentari.
"Susah bicara sama kamu Mentari. Perempuan yang nggak punya otak. Yang nggak tahu malu."
"Apa kamu bilang hah...!"
"Emang itu kamu nggak tahu malu. Orang lelaki punya istri masih aja di kejar."
"Siapa yang kamu maksud?"
"Fabian. Siapa lagi."
"Apa bedanya kamu dengan aku. Kamu juga masih cinta kan sama Fabian Ra. Sok Sokan aja ngomong gitu."
Bu Novi, Pak Sofyan dan Bu Adela menatap ke arah Mentari dan Aira.
__ADS_1
"Sssttt... jangan berisik. Ini rumah sakit. Apa lagi sih yang kalian ributin Mentari, Aira," ucap Bu Novi yang sudah tampak kesal dengan anak dan ponakannya itu.