
Pagi ini, Fabian sudah sampai di kantor. Dia sudah duduk di ruangannya dan menatap ke arah monitor. Sepertinya, sekarang Fabian sudah tampak menguasai pekerjaannya.
Ting.
Tiba-tiba saja, suara notifikasi dari ponsel Fabian berbunyi. Fabian yang masih duduk di ruang kerjanya, mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja. Fabian membuka chat dari Aira.
(Bi, kita ketemuan yuk! kapan kamu ada waktu luang untuk aku?)
Fabian tersenyum. Dia tidak langsung membalas chat dari Aira . Tapi dia langsung menelepon Aira. Sudah sering sekali Aira ngajak Fabian ketemuan. Namun Fabian belum ada waktu luang untuk itu.
"Halo..."
"Halo Bi. Kok kamu nelpon? kamu kan lagi di kantor."
"Em, nanti sore sepulang kerja, aku jemput kamu ya ke rumah kamu. Nanti sore kita jalan."
"Wah, kamu serius nih mau ngajakin aku jalan?"
"Iya Ra. Aku serius. Kamu mau kan?"
"Mau banget Bi."
"Ya udah. Kalau gitu, aku lanjut kerja ya. Soalnya aku lagi sibuk banget di kantor. Assalamualaikum."
"Wa'alakiumsalam."
Fabian menutup saluran telponnya dan menatap ponselnya.
"Kalau aku nggak ngajak-ngajak Aira jalan, pasti dia akan ganggu aku terus."
Fabian meletakkan ponselnya kembali di atas meja. Setelah itu, dia menatap layar monitornya lagi.
Dia kemudian melanjutkan kerjanya.
**
Di sisi lain, Syanum masih sibuk memasak bersama ke dua pembantunya.
"Non. Ini masakan mau Non bawa ke mana?" tanya Mbak Asih yang tampak sedang mencedokan nasi dan lauk pauk ke dalam rantang yang sudah Syanum sediakan.
"Aku mau ke kantor suamiku," jawab Syanum.
"Oh, jadi Non mau bawa makanan ini ke sono?"
"Iya. Sekalian mau ngirim makanan ini untuk ayah dan papa."
Mbak Fani tersenyum.
"Memang ya, menantu idaman dan istri idaman. Sampai-sampai, rela masak untuk mertua dan suami," ucap Mbak Fani.
Syanum menatap Mbak Fani.
"Aku seperti ini juga nggak setiap hari Mbak. Baru kali ini kok. Kalau biasanya sih, aku cuma membawa makan siang untuk ayah. Selain jadi sopir, ayah juga kalau siang, suka bantu-bantu di kantor suamiku."
__ADS_1
Mbak Fani manggut-manggut, tampak mengerti. Dia memang pembantu baru di rumah Syanum. Jadi, dia belum tahu betul kegiatan-kegiatan yang ada di rumah itu.
Setelah semua makanan sudah Syanum masukan ke dalam rantang, Syanum kemudian melangkah ke kamarnya untuk bersiap-siap ke kantor suaminya.
Syanum sudah sangat hafal sekali jalan ke kantor Fabian. Karena sejak Syanum tinggal di rumah Bu Reva, Syanum sering sekali pergi ke kantor Fabian untuk mengantar makan siang untuk ayahnya.
Beberapa saat kemudian, Syanum turun dari lantai atas dan menuju ke dapur.
"Non ke sana mau naik apa? naik taksi?" tanya Mbak Fani.
"Biasa Mbak. Naik sepeda aja. Lagian, ongkos taksi itu kan mahal. Kalau sepeda kan lebih praktis."
"Panas-panas gini mau naik sepeda sampai ke kantor? kenapa nggak naik motor aja Non? di luar kan ada motor?" tanya Mbak Fani.
Syanum menyeringai.
"Aku takut naik motor. Karena dulu, waktu di kampung, aku pernah belajar naik motor, tapi aku jatuh dan kapok nggak mau naik motor lagi," jelas Syanum.
Mbak Fani dan Mbak Asih hanya terkekeh. Merasa lucu dengan cerita Syanum.
Setelah Syanum siap, Syanum kemudian membawa ke depan tiga rantang kecil untuk bekal makan siang suami, ayah, dan papa mertuanya.
Syanum meletakan rantang- rantang kecil itu di keranjang sepeda. Tanpa butuh waktu lama, dia menggoes sepeda sampai ke kantor suaminya.
Beberapa saat kemudian, Syanum sudah sampai di halaman tempat parkir kantor besar milik ayah mertuanya. Syanum masih menatap gedung bertingkat yang tampak megah itu.
Syanum tersenyum.
"Wah, ternyata kantor ini gede banget. Aku nggak nyangka, bakalan jadi menantu orang kaya raya seperti Pak Damar. Andai saja, suamiku itu tidak seperti Tuan muda. Pasti hidup aku akan terasa bahagia."
"Ih, kenapa aku harus mikirin dia sih. Aku ke sini sebenarnya cuma mau ngantar makanan untuk ayah dan papa Damar aja. Tapi, takut Tuan muda ngiri. Jadi aku bawakan dia sekalian. Andai saja Tuan muda mau baik sama aku. Pasti sudah aku masakin dia setiap hari untuk bekal makan siang. Tapi tuan muda jahat. Dia sudah berani-beraninya mau ngeduain aku."
Syanum kemudian memarkirkan sepedanya di parkiran. Setelah itu dia membawa rantang untuk ayahnya.
"Ke mana ya ayah."
Syanum masih celingak-celinguk menatap ke sekeliling. Namun, dia sama sekali tidak melihat ayahnya ada di depan kantor. Biasanya Pak Herman selalu ada di depan kantor.
Seorang pria sepantaran Fabian, melangkah ke arah parkiran mobil. Dia sejak tadi masih menatap Syanum. Syanum yang sepertinya sedang kebingungan.
"Cewek itu, seperti sedang nyari seseorang. Nyari siapa ya. Tapi, aku samperin aja deh," ucap lelaki itu.
Lelaki tampak berpawakan tinggi itu menghampiri Syanum.
"Hai..." sapa lelaki itu pada Syanum.
Syanum tersenyum.
"Kamu lagi nyari siapa?" tanya lelaki itu.
"Aku mau nyari ayah aku. Tapi sepertinya dia nggak ada deh di sini. Apa mungkin dia masuk ke dalam ya," Syanum menatap ke sekeliling.
"Ayah kamu siapa?"
__ADS_1
"Pak Herman namanya Mas. Biasanya dia ada di depan sini. Tapi kenapa dia nggak ada ya,"
"Pak Herman siapa?"
"Mas nggak kenal sama ayah aku? ayah aku kan di sini udah terkenal. Dia itu sopirnya Pak Damar pemilik kantor ini."
"Oh, jadi kamu anaknya Pak Herman sopirnya Om Damar?"
Syanum hanya mengangguk.
"Tadi sepertinya Om Damar dan sopirnya udah pergi dari kantor. Tapi kalau Fabian sih, ada di dalam."
"Jadi ayahku pergi?"
Lelaki tampan itu hanya mengangguk.
"Ya udah. Aku ke sana dulu ya."
Lelaki itu kemudian pergi meninggalkan Syanum. Dia melangkah ke arah mobilnya. Sementara sejak tadi, Syanum masih memperhatikan lelaki itu sampai lelaki itu masuk ke dalam mobil.
'Siapa sih lelaki itu. Aku baru pernah melihat dia ada di kantor ini. Apa dia karyawan baru di sini ya. Tapi, dia seperti orang kaya. Mobilnya juga mewah.' batin Syanum.
Setelah mobil lelaki itu pergi, Syanum mulai tersadar.
"Ih, sudah susah-susah aku masak untuk ayah dan papa mertua. Tapi malah mereka pergi."
Syanum tersenyum.
"Tapi kan, di dalam masih ada
Tuan muda. Pasti dia siang ini belum makan deh."
Syanum kemudian membawa salah satu rantangnya masuk ke dalam kantor.
Syanum masih celingak-celinguk di lobi kantor. Sepertinya dia memang masih bingung. Karena baru pertama kalinya dia masuk ke dalam kantor.
Seorang wanita cantik, tiba-tiba saja menghampirinya. Sepertinya wanita itu tidak mengenali Syanum.
"Selamat siang. Ada yang bisa saya bantu Mbak?" tanya wanita itu.
"Saya mau ketemu sama Pak Fabian."
"Oh, Pak Fabiannya lagi nggak bisa di ganggu Mbak."
"Lho. Terus, aku nggak boleh masuk ke ruangannya?"
"Nggak bisa Mbak. Apa Mbak sudah membuat janji dulu sebelumnya pada Pak Fabian?"
Syanum menggeleng.
"Kalau nggak buat janji dulu, Mbak nggak bisa sembarangan masuk ke dalam. Kalau mau masuk dan bertemu Pak Fabian, Mbak harus buat janji dulu," ucap wanita itu lagi.
"Untuk apa buat janji. Aku ini kan istrinya. Masak istrinya sendiri nggak boleh masuk ke ruangan suaminya sih," gerutu Syanum yang membuat karyawan Fabian terkejut.
__ADS_1
"Apa! jadi anda ini, istrinya Pak Fabian?"
Syanum mengangguk.