Mempelai Pengganti Tuan Muda

Mempelai Pengganti Tuan Muda
Kedatangan Luna


__ADS_3

Syanum langsung memeluk suaminya.


"Ada apa Syanum?" tanya Fabian.


"Mas, tas aku. Tas aku di jambret," ucap Syanum menuturkan.


Fabian terkejut saat mendengar ucapan Syanum. Dia kemudian melepaskan pelukan Syanum dan menatapnya.


"Terus, ke mana larinya jambret itu? biar aku yang mengejarnya."


Syanum tampak kesal dengan suaminya.


"Ih, kenapa kamu lama sekali sih ke dalam. Jambretnya udah kabur dari tadi Mas. Kamu mau ngejar dia ke mana?"


Fabian menghela nafas dalam.


"Ya udahlah, biarkan aja tas kamu."


"Kok dibiarkan sih. Kan tas aku ada ATM, ada uang, dan ada KTP Mas, sayang banget kalau hilang," ucap Syanum


"Itu sih masalah gampang. Nanti kita buat lagi,"


"Mas, aku takut," ucap Syanum sembari memeluk kembali suaminya.


"Ehem ehem.." suara serak seorang lelaki berdehem di dekat Syanum dan Fabian.


Fabian dan Syanum melepaskan pelukannya. Mereka kemudian menatap lelaki yang ada di dekatnya.


Fabian tampak terkejut saat melihat lelaki siapa yang datang.


"Kamu, Mario kan?" ucap Fabian.


Mario juga sepertinya tampak terkejut saat melihat Fabian.


"Fabian. Kamu kok bisa ada di sini dan bersama wanita ini?" tanya Mario.


"Ini. Istri gue sekarang."


Mario membelalakkan matanya. Pura-pura terkejut mendengar ucapan Fabian. Padahal sudah sejak dulu Mario tahu, kalau Fabian itu gagal nikah dengan Mentari. Gara-gara Mentari kabur meninggalkannya.


Fabian menatap Mario dari atas ke bawah. Mario tampak sangat berubah. Dulu Mario tampan dan bersih. Sekarang Mario jadi dekil dengan membiarkan kumisnya tumbuh memanjang. Mungkin dia memang malas untuk mencukur kumis dan jenggotnya.


"Lu beda banget sekarang Mario."


"Beda gimana. Gue biasa aja kok."


"Penampilan lu sangat berubah."


Mario tersenyum sinis.


"Jangan mentang-mentang lu sekarang sudah kerja kantoran lu bisa seenaknya menghina gue," ucap Mario.


"Lho, siapa yang menghina. Gua cuma bilang kalau lu berubah."


"Gue ke sini mau mengembalikan tas bini lu yang tadi ke jambret. Hati-hati, di sini rawan copet dan begal. Mendingan lu hati-hati saja."

__ADS_1


Mario menyodorkan sebuah tas ke arah Fabian.


Syanum langsung menerimanya.


"Makasih ya," ucap Syanum.


Mario hanya mengangguk.


"Gue pergi dulu. Masih banyak urusan yang harus gue selesaikan."


Syanum mengangguk. Setelah itu, Mario pun pergi meninggalkan cafe.


Fabian masih menatap kepergian Mario. Dia benar-benar tidak menyangka akan bertemu Mario lagi. Mario yang dulu selalu memusuhinya karena cinta Mario yang bertepuk sebelah tangan pada Mentari. Karena Mentari lebih memilih Fabian lelaki yang jauh lebih baik dari pada Mario.


Fabian memang lelaki yang baik, dia tidak pernah minum-minuman keras, dia tidak pernah berantem, walau dia jago karate, dia juga tidak pernah menyentuh seorang wanita sebelum dia menikahinya. Bahkan sampai sekarang, dia juga belum berani untuk menyentuh istrinya yang sudah halal untuknya.


Setelah Mario menghilang dari hadapan Syanum dan Fabian, Syanum dan Fabian kemudian masuk ke dalam mobilnya. Mereka kemudian meluncur untuk pulang ke rumahnya.


Hooaammm...


Syanum tampaknya sangat mengantuk malam ini. Di sepanjang perjalanan pulang, dia tidur di bahu suaminya.


Beberapa saat kemudian, Fabian menghentikan laju mobilnya setelah dia sampai di depan rumahnya.


"Syanum, sudah sampai. Bangun dong...!" Fabian menepuk-nepuk pelan pipi Syanum. Namun, Syanum tidak mau bangun juga.


"Syanum, ayo bangun!"


Sejak tadi, Fabian tampak masih membangunkan Syanum. Tapi Syanum tidak mau bangun-bangun juga. Tanpa butuh waktu lama, Fabian turun dari mobilnya dan melangkah ke arah Syanum. Dia membuka pintu mobil Syanum dan menggendong Syanum sampai masuk ke dalam rumah.


Fabian menaiki anak tangga untuk sampai ke kamarnya. Sesampai di depan pintu kamar, Syanum terbangun.


"Kamu mau ngapain aku? kenapa kamu gendong-gendong aku?" tanya Syanum.


"Syanum. Kamu jangan salah sangka. Kamu tadi ketiduran di mobil. Makanya aku gendong kamu sampai ke sini."


Syanum yang tampaknya masih mengantuk, buru-buru turun dari gendongan suaminya dan masuk ke dalam kamar. Dia kemudian merobohkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Fabian hanya geleng-geleng kepala. Dia fikir, Syanum akan marah-marah lagi. Tapi ternyata dia malah masuk ke dalam kamar dan tidur kembali.


"Huh, dasar cewek aneh."


Fabian kemudian melangkah masuk ke dalam kamar. Dia membuka jas dan dasinya. Setelah itu, dia melangkah ke kamar mandi untuk membasuh wajah dan kakinya.


****


Minggu pagi, semua orang masih berada di ruang keluarga. Mereka tampak masih berbincang-bincang di ruang keluarga.


Tok tok tok ..


Suara ketukan pintu ruang tamu sudah terdengar.


"Siapa ya, yang pagi-pagi sudah datang ke sini," ucap Bu Reva.


"Tunggu dulu Ma, biar Dila yang buka pintu." Dila bangkit berdiri. Setelah itu dia membuka pintu ruang tamu.

__ADS_1


Dila terkejut saat melihat Luna sudah tampak berdiri di depan pintu. Dila tersenyum saat melihat Luna.


"Ya ampun Luna...!"


Dila langsung memeluk Luna adik sepupunya.


"Luna, apa kabar?" ucap Dila sembari melepas pelukannya.


Luna tersenyum.


"Alhamdulillah baik Kak Dila."


"Kamu ke sini sama siapa?" tanya Dila.


"Sama Kak Ryan."


"Terus, ke mana Ryan?"


"Tuh, lagi ngobrol sama Pak Herman di depan."


"Oh, suruh masuk dong."


"Nanti juga masuk sendiri."


"Ayo masuk!" ajak Dila sembari merangkul bahu adik sepupunya.


"Lama sekali kakak nggak lihat kamu. Sejak kakak tunggal di luar negeri, kakak jadi jarang ke Indonesia. Tapi sekarang, kakak akan menetap di Indonesia. Karena suami kakak juga sudah meninggal," ucap Dila sembari melangkah masuk ke dalam.


"Sabar ya Kak. Musibah memang tidak ada yang tahu."


"Dimas di mana Kak? pasti sekarang dia udah gede ya? tanya Luna.


"Dia ada di dalam. Sekarang dia udah sekolah lho."


"Oh iya? sekolah di mana?"


"Sekolah di TK."


"Oh..."


Sesampai di ruang keluarga, Luna dan Dila menghentikan langkahnya.


"Hai Lun, kamu ke sini kok nggak bilang-bilang dulu," ucap Bu Reva.


Luna langsung mendekat ke arah Bu Reva dan Pak Damar. Luna kemudian mencium punggung tangan Pak Damar dan Bu Reva bergantian.


"Ayo duduk Lun..! kamu ke sini sama siapa?" tanya Pak Damar.


"Sama Kak Ryan Om," jawab Luna.


" Terus, kakak kamu ke mana? dia nggak di suruh masuk?" tanya Bu Reva.


"Dia masih ada di depan. Tadi sih, dia lagi ngobrol sama Pak Herman di depan."


"Oh..." Pak Damar manggut-manggut. Pak Damar bangkit berdiri. Setelah itu dia melangkah ke luar untuk menghampiri Ryan yang ada di depan.

__ADS_1


__ADS_2