
Dokter Anita tersenyum setelah dia masuk ke dalam ruangan Syanum. Dokter Anita kemudian mendekat ke arah Syanum.
"Selamat pagi Syanum! bagaimana kondisi kamu saat ini? ada keluhan apa?" tanya Dokter Anita pada Syanum.
"Alhamdulillah Dok. Udah nggak ada keluhan apa-apa. Paling, cuma di perut doang Dok. Masih sedikit sakit," jelas Syanum.
"Nggak apa-apa. Wajar itu mah. Saya periksa dulu ya."
Syanum mengangguk."Iya Dok."
"Ya udah. Kalau gitu, aku ke luar dulu ya. Kak, nggak apa-apa kan kalau aku tinggal sendiri. Aku mau beli sarapan di luar," ucap Luna.
Syanum menatap Luna.
"Iya Lun. Silahkan!"
Luna kemudian melangkah pergi meninggalkan Syanum dan Dokter Anita. Dia kemudian melangkah ke luar dari ruangan itu.
Luna merasa lapar, setelah semalaman dia begadang bersama Fabian menunggui Syanum lahiran.
****
"Luna. Kamu mau ke mana?" tanya Fabian saat melihat Luna ke luar dari ruangan Syanum.
"Aku mau beli sarapan Kak. Aku lapar," jawab Luna.
"Syanum lagi ngapain?"
"Lagi diperiksa Dokter Kak. Kalau kakak mau masuk. Masuk aja ke dalam!"
"Iya. Nanti aja."
"Ya udah. Aku pergi dulu ya Kak. Tolong jagain Kak Syanum."
"Lun. Sekalian belikan buat aku juga ya."
"Iya Kak."
Luna kemudian pergi meninggalkan rumah sakit untuk membeli sarapan di luar. Sementara Fabian masih setia menunggu di depan ruangan Syanum.
Setelah memeriksa kondisi Syanum, Dokter Anita ke luar. Dia masih melihat Fabian duduk di depan.
"Kenapa kamu belum masuk?" tanya Dokter Anita.
Fabian bangkit berdiri dan menatap dokter Anita.
"Syanum baik-baik aja kan?" Fabian menatap lekat ke arah Dokter Anita.
__ADS_1
"Iya. Dia baik-baik aja. Kalau mau masuk, masuk aja."
"Iya Dok."
Setelah dokter Anita pergi, Fabian kemudian masuk ke dalam ruangan istrinya.
"Syanum," ucap Fabian.
Syanum menoleh ke arah Fabian. Dia terkejut saat melihat suaminya tiba-tiba saja sudah ada di dalam ruangannya.
"Mas Fabian. Mau ngapain kamu ke sini? dan dari mana kamu tahu aku ada di sini?" tanya Syanum menatap tajam suaminya.
Ternyata sejak tadi, Luna tidak mengatakan keberadaan Fabian pada Syanum. Makanya Syanum terkejut saat melihat Fabian masuk ke dalam ruangannya.
Fabian melangkah mendekat ke arah Syanum.
"Stop! jangan dekati aku!" pekik Syanum yang membuat Fabian terkejut.
"Apa! Syanum. Kenapa aku nggak boleh mendekati kamu?" tanya Fabian heran.
"Aku nggak mau Mas, melihat kamu lagi. Aku nggak suka kamu ada di sini."
Syanum membuang wajahnya ke arah lain. Dia tidak mau menatap suaminya lagi.
"Syanum. Kenapa kamu jadi bersikap seperti ini sama aku."
"Keputusan apa yang kamu maksud Syanum?" tanya Fabian.
"Aku ingin cerai dari kamu."
'Benarkan apa dugaan ku . Pasti Syanum akan mengungkit hal ini lagi. Apa yang harus aku lakukan. Aku tidak mau kehilangan dia dan anak aku,' batin Fabian.
Fabian sejak tadi masih berdiri mematung di dekat pintu. Sementara istrinya melengos tidak mau menatapnya.
'Apa maksud semua ini. Kenapa Syanum berubah. Dia seperti sangat membenciku. Apakah kesalahan aku selama ini tidak pantas untuk dimaafkan.'
"Syanum. Aku mau minta maaf, atas semua kesalahan aku Syanum. Maafkan aku karena selama ini, aku sudah menjadi suami yang tidak baik untuk kamu. Maafkan aku, karena aku sudah sering sekali melukai hati kamu," ucap Fabian penuh penyesalan.
Syanum menatap Fabian.
"Kata maaf saja tidak cukup Mas untuk aku bisa memaafkan kamu. "
"Jadi kamu belum mau maafin aku? terus, kamu mau aku melakukan apa Syanum? haruskah aku bersujud di kaki kamu, supaya kamu mau memaafkan aku? kalau keinginan kamu seperti itu, aku akan lakukan sekarang. Atau kamu mau aku minta maaf di depan orang-orang? aku akan lakukan Syanum."
Syanum sejak tadi masih diam.
"Syanum. Katakan! apa yang harus aku lakukan agar kamu mau memaafkan semua kesalahan aku. Syanum. Aku mohon kasih aku kesempatan satu kali lagi, untuk memperbaiki hubungan rumah tangga kita Syanum."
__ADS_1
Setetes air mata Syanum menjatuhi pipi mulusnya. Syanum kemudian menatap kembali suaminya.
"Aku nggak butuh kamu melakukan apapun. Keinginan aku sederhana Mas. Aku hanya ingin dicintai dengan tulus. Aku hanya ingin kamu setia sama aku. Aku ingin menjadi wanita satu-satunya di hati kamu. Tapi, nyatanya kamu tidak pernah bisa menjadi seperti apa yang aku mau," ucap Syanum.
"Kamu masih saja mencintai wanita masa lalu kamu. Kalau kamu tidak bisa melupakan mantan kamu, lebih baik aku yang mundur Mas. Aku ingin mencari kebahagiaanku sendiri dengan anak aku. Aku ingin pulang kampung dan mengajak anak aku. Silahkan kamu, berbahagia sana dengan Mentari. Aku sudah bebaskan kamu sekarang Mas."
Fabian menghela nafas dalam. Dia kemudian mendekat ke arah Syanum.
"Syanum."
"Pergilah Mas. Aku nggak mau kamu ada di sini. Percuma raga kamu ada di sini, kalau jiwa kamu ada bersama Mentari."
"Cukup Syanum! kamu sudah terlalu banyak bicara. Kapan kamu mengizinkan aku untuk bicara. Aku sudah melupakan Mentari Syanum. Aku sudah lama tidak berhubungan lagi dengan dia. Syanum aku mohon, maafkan aku dan kasih aku kesempatan sekali lagi."
"Aku nggak mau. Aku akan tetap dengan keputusan aku. Aku akan pulang kampung dengan membawa bayi aku. Aku fikir, cuma itu jalan yang terbaik untuk kita Mas Fabian."
"Ngga Syanum. Kamu salah. Kita masih bisa mempertahankan rumah tangga kita, demi anak kita."
"Sekarang kamu bisa bicara begitu Mas? kenapa kamu tidak bicara seperti ini sejak dulu Mas...!"
Di sela-sela percakapan Syanum dengan Fabian, pintu ruangan Syanum terbuka.
Bu Reva dan Dila datang. Mereka menatap tajam ke arah Syanum dan Fabian.
"Ada apa ini Abi?" tanya Bu Reva mendekat ke arah Syanum.
"Nggak ada apa-apa Ma. Sepertinya, aku sudah tidak dibutuhkan lagi di sini. Aku mau pulang aja Ma."
"Lho. Kok pulang," ucap Dila.
"Syanum tidak suka dengan keberadaan aku di sini. Dia tidak mau maafin aku. Lebih baik aku pulang. Terserah Syanum ajalah mau sekarang. Susah untuk meyakinkan dia."
Fabian kemudian melangkah pergi meninggalkan ruangan Syanum.
Dila menatap ke arah Syanum dan mendekati adik iparnya. Dila kemudian duduk di sisi Syanum.
"Syanum. Kamu tidak apa-apa kan? apa yang terjadi sama kamu dan Abi?"
"Tidak ada apa-apa kok Kak. Aku cuma bilang sama dia. Kalau setelah ini aku mau pulang kampung. Dan aku akan bawa anak aku."
"Kamu seriusan Syanum?" tanya Bu Reva menatap Syanum lekat.
"Mungkin, jodoh aku dan Mas Fabian sudah berakhir sampai di sini," ucap Syanum.
"Maksud kamu apa Syanum? Mama nggak setuju, kalau kamu cerai dengan Fabian. Tolong, maafkan Fabian Syanum."
"Aku udah maafin dia. Tapi, luka di hati aku, susah sekali untuk aku sembuhkan. Aku tidak bisa melupakan apa yang sudah Mas Fabian lakukan padaku. Dia sudah berkali-kali membuat hatiku terluka."
__ADS_1