Mempelai Pengganti Tuan Muda

Mempelai Pengganti Tuan Muda
Kabar buruk


__ADS_3

Pagi ini, Syanum masih menatap ke arah jendela kamarnya. Dia masih tampak sedih memikirkan nasib anaknya. Ibu mana yang tidak akan sedih, saat tahu kalau anaknya itu di culik. Dan sekarang Syanum tidak tahu, di mana keberadaan Firen, dan bagaimana keadaan Firen di tangan penculik itu.


"Firen. Kamu ada di mana Firen, mama kangen sama kamu Firen," ucap Syanum di sela-sela lamunannya.


Setetes air mata Syanum, mengalir dari pelupuk matanya dan membasahi pipi Syanum. Syanum buru-buru menyekanya.


Fabian yang masih berbaring di atas ranjangnya, menatap ke arah jendela kamarnya. Dia beringsut duduk dan menatap istrinya.


"Sayang," ucap Fabian memanggil istrinya.


Syanum menoleh ke arah Fabian.


"Mas, kamu udah bangun?" tanya Syanum.


Fabian turun dari ranjangnya. Dia kemudian melangkah ke arah Syanum dan mendekatinya.


"Kamu lagi mikirin Firen ya?" tanya Fabian.


Syanum menatap Fabian lekat.


"Bagaimana mungkin Mas, aku tidak memikirkan dia. Aku nggak bisa hidup tanpa anak aku. Semalaman aku nggak bisa tidur, karena ASI aku keluar deras Mas," jelas Syanum.


Fabian menatap dada Syanum yang basah karena air susu yang seharusnya diminum Firen itu keluar dengan sendirinya.


"Pasti, anak kita sekarang kelaparan atau dia sedang haus," ucap Syanum yang masih terus saja memikirkan Firen.


Fabian menghela nafas dalam. Sebagai seorang ayah, dan seorang suami, Fabian sangat mengerti dengan kondisinya saat ini. Tapi, Fabian bisa apa sekarang. Seharian penuh dia mencari keberadaan Firen, tapi sampai malam, Firen belum juga ditemukan. Dan Fabian tidak mungkin mencari anaknya sendirian. Dia butuh bantuan orang lain seperti polisi.


"Sabar ya sayang. Hari ini aku akan ke kantor polisi untuk melaporkan kejadian ini ke polisi. Karena , sampai sekarang penculiknya belum ngasih kita kabar lagi," ucap Fabian.


"Iya Mas."


Ring ring ring ...


Suara ponsel Fabian berdering. Fabian melangkah ke arah di mana ponselnya berada. Fabian kemudian mengangkat panggilan dari ayahnya.


"Halo Pa."


"Halo Bi. Ada apa sebenarnya Bi? benarkah kalau cucu Papa di culik?"


"Iya Pa. Kemarin pagi, Firen hilang."


"Kok bisa sih. Bagaimana kejadiannya Bi?"


"Kejadiannya, kemarin ada orang yang menelusup masuk ke dalam kamar Firen dan membawa Firen pergi."


"Astaga, siapa yang sudah berani melakukan hal itu Bi?"


"Abi juga nggak tahu. Tapi, orang itu nelpon Abi kemarin Pa. Dia minta tebusan uang satu milyar. Benar-benar gila kan Pa?"


"Apa! satu milyar? itu bukan uang yang sedikit Abi."


"Iya Pa."


"Terus, apa lagi yang diinginkan penculiknya?"


"Cuma itu doang Pa. Dan sampai sekarang, dia belum nelpon lagi."


"Ya udah Bi. Papa belum bisa pulang Bi. Tapi, papa akan ikut membantu kamu. Papa akan kerahkan seluruh anak buah papa untuk mencari keberadaan Firen."


"Iya Pa. Abi juga hari ini nggak akan ke kantor dulu. Abi mau nyari Firen lagi. Kasihan Syanum Pa. Semalaman dia tidak tidur. Dia nangis karena mikirin Firen."


"Ya udah. Kamu harus cari anak kamu sampai ketemu Bi. Bila perlu, lapor saja ke polisi agar polisi bisa membantu masalah kamu."


"Iya Pa."

__ADS_1


"Ya udah. Papa tutup dulu telponnya ya Bi. Assalamualaikum."


"Wa'alakiumsalam."


Fabian memutuskan saluran telponnya. Setelah itu dia kembali menghampiri istrinya yang sudah duduk di sisi ranjang.


"Sudah sayang. Jangan nangis," ucap Fabian sembari duduk di sisi Syanum.


Syanum menatap ke arah Fabian.


"Mas, apa boleh aku ikut mencari anak kita Mas?" tanya Syanum.


Fabian tersenyum.


"Boleh dong sayang. Kalau kamu mau ikut aku untuk mencari Firen. Sekarang, kamu jangan nangis ya."


Syanum tersenyum. Setelah itu, dia mengusap air matanya. Dia selalu mencoba ikhlas dengan semua ujian yang saat ini, sedang menimpanya.


"Sekarang, kamu mandi dan siap-siap ya. Nanti kita akan langsung mencari Firen."


"Iya Mas."


****


Siang ini, Dila sudah sampai di depan kantornya. Dia kemudian melangkah dan masuk ke dalam kantor.


"Pagi Kak..." sapa Ryan.


Dila tersenyum.


"Pagi Yan... tumben kamu jam segini sudah nyampe kantor," basa-basi Dila pada Ryan.


Ryan tersenyum.


"Enggak tahu. Mungkin sampai semua urusannya selesai," jawab Dila.


"Oh. Terus, Fabian ke mana? biasanya dia juga cepat banget datangnya."


Dila diam. Tiba-tiba saja wajahnya berubah menjadi sedih.


"Kenapa Kak?" tanya Ryan." Ada masalah?"


Dila menghela nafas dalam.


"Firen. Firen hilang Yan." Dila menjelaskan.


Ryan terkejut saat mendengar ucapan Dila.


"Apa! Firen hilang? hilang gimana maksud kakak?" tanya Ryan tidak mengerti.


"Kemarin pagi, ada yang menculik Firen. Dan sampai sekarang, Firen belum di temukan."


"Apa! serius Kak?" Ryan benar-benar tidak menyangka kalau ada yang menculik Firen.


"Iya Yan. Dan penculiknya itu minta tebusan uang yang sangat banyak."


"Berapa Kak?" tanya Ryan lagi.


"Satu milyar."


"Apa! satu milyar?" Ryan tampak terkejut saat mendengar nominal uang yang diinginkan penculik itu.


"Iya."


"Banyak banget Kak satu milyar."

__ADS_1


"Kakak juga nggak tahu, apa sebenarnya motif penculiknya itu," ucap Dila.


"Dan tadi, penculiknya itu nelpon lagi ke Fabian. Dan dia mengancam akan mencelakai Firen jika sampai Fabian melaporkan kejadian ini ke polisi." lanjut Dila.


"Ya ampun...! kasihan banget ya Firen."


'Kasihan Syanum, pasti sekarang dia lagi sedih banget karena anaknya ada yang culik. Aku harus melakukan apa sekarang. Aku benar-benar nggak tega, melihat Syanum sedih," batin Ryan.


Dari kejauhan, tampak Aira masih mendengar percakapan Dila dan Ryan. Aira terkejut bukan main saat mendengar kabar buruk itu.


"Jadi, bayinya Abi di culik? terus, siapa yang sudah berani menculik bayinya Abi. Yang aku tahu, Abi itu kan nggak punya musuh," ucap Aira.


"Duh, kasihan sekali Abi. Pasti sekarang dia lagi sedih banget deh. Tapi, bagaimana caranya, aku bisa membantu dia."


Dila menatap ke arah Ryan yang tampak masih bengong. Sepertinya, Ryan itu masih belum percaya dengan ucapan Dila. Ryan benar-benar merasa iba pada Syanum. Dia masih saja memikirkan bagaimana kondisi Syanum saat ini.


"Yan, Ryan."


"Eh, iya Kak."


"Kenapa kamu malah bengong," ucap Dila.


"Eh, iya Kak. Ada apa Kak?"


"Aku ke ruangan aku dulu ya."


"Oh. Iya Kak."


Dila kemudian melangkah pergi meninggalkan Ryan dan melangkah ke arah ruangannya.


Sesampai di dalam ruangannya, Dila kemudian duduk di tempat kerjanya.


Sebenarnya sejak menghilangnya Firen, kerjaan Dila jadi kurang fokus.


"Sekarang, Firen lagi ada di tangan penjahat. Ya Allah, lindungilah selalu keponakan aku di mana pun dia berada. Mudah-mudahan, penculik itu masih mau berbaik hati pada Firen," ucap Dila, yang tidak pernah putus untuk mendoakan ponakannya.


Dila kemudian membuka layar monitornya. Dia mencoba untuk fokus pada pekerjaannya.


Di sisi lain, Aira melangkah ke arah Ryan.


"Ryan. Benar apa yang di ucapkan Kakaknya Abi itu? benar kalau anaknya Abi itu ada yang menculik?" tanya Aira tiba-tiba.


"Iya. Kata Kak Dila Firen di culik," jawab Ryan.


"Siapa yang sudah menculik Firen?" tanya Aira.


"Ya mana aku tahu. Kalau ada yang tahu siapa penculiknya, sudah dari kemarin Firen ketemu kali," ucap Ryan.


"Duh, kasihan ya Abi. Aku jadi nggak tega ngelihat dia. Pasti sekarang dia lagi terpuruk banget."


"Kamu masih suka ya sama Fabian?" tanya Ryan yang membuat Aira terkejut.


"Heh, bisa di jaga nggak tuh mulut. Hati-hati ya kalau bicara. Siapa juga yang masih suka sama Fabian. Aku udah bisa move on kok dari dia."


"Yakin? tapi kelihatannya kamu masih perhatian gitu sama dia."


"Wajar dong kalau aku ikut prihatin melihat kondisi dia. Dia itu kan anaknya bos besar di sini. Dia juga teman aku, dan selama ini, dia juga lelaki yang sangat baik. Apa salah kalau aku mikirin juga kondisi dia."


"Yah nggak ada yang salah sih. Asal kamu nggak cinta aja sama suami orang. Rugi kalau kamu nggak bisa move on dari Fabian. Karena Fabian itu sekarang sangat mencintai istrinya."


Tanpa basa-basi lagi, Ryan melenggang pergi meninggalkan Aira.


"Dasar, cowok aneh. Dia itu benar-benar beda banget sama Abi. Dia itu nyebelin banget. Setiap hari, dia itu usil terus sama aku. Muak banget aku lihat cowok macam dia," gerutu Aira.


Aira kemudian melangkah pergi untuk ke ruangannya

__ADS_1


__ADS_2