Mempelai Pengganti Tuan Muda

Mempelai Pengganti Tuan Muda
Demam


__ADS_3

Malam ini, Fabian masih berada di perjalanan pulang. Sudah seharian penuh dia mencari Syanum. Namun, dia tidak menemukan keberadaan Syanum.


Fabian sebenarnya takut untuk pulang. Dia takut dengan kemarahan ayahnya. Karena dia sudah menjadi penyebab Syanum pergi dari rumah.


"Syanum. Kamu kemana sih, kenapa kamu selalu merepotkan aku. Kenapa kamu harus pergi Syanum. Apa salah aku Syanum," gumam Fabian di sela-sela menyetirnya.


Setelah sampai di depan rumahnya, Fabian melajukan mobilnya masuk ke dalam garasi. Dia kemudian turun dan masuk ke dalam rumah.


"Bi. Kamu baru pulang?" tanya Dila yang mengejutkan Fabian.


Fabian melangkah ke arah kakaknya dan menghempaskan tubuhnya duduk di sisi kakanya.


Malam ini, Fabian tampak lelah. Sejak tadi, dia masih menundukkan kepalanya.


"Maafkan aku Kak. Aku belum bisa menemukan Syanum," ucap Fabian penuh penyesalan.


"Bi. Kamu kenapa sih Bi. Kenapa semalam kamu ngamuk-ngamuk. Syanum itu ketakutan Bi. Belajarlah dewasa sedikit, aja Bi. Kamu itu sebentar lagi akan menjadi seorang ayah. Syanum itu sekarang sedang mengandung anak kamu. Apa kamu nggak kasihan sama dia?"


"Maaf Kak."


"Kakak kecewa banget dengan sikap kamu. Kurang baik apa Syanum selama ini sama kamu Bi. Sejak awal menikah, Kaka lihat perlakuan kamu ke dia sangat kasar. Kalau kamu tidak bisa menerima dia, tapi setidaknya belajarlah menghargai dia."


Hiks...hiks...


"Sekarang Syanum pergi Bi. Dan kita tidak tahu keberadaan dia di mana sekarang."


Setitik bening, menetes dari pelupuk mata Fabian, saat Fabian melihat kakaknya menangis.


"Kak, maafkan aku. Aku nggak tahu kalau Syanum itu akan pergi."


Dila mengusap air matanya.


"Bi. Sekarang di mana Syanum? Kaka telpon tapi hapenya nggak aktif. Kakak takut terjadi apa-apa sama dia Bi. Apalagi kata dokter Edo Syanum itu sekarang sedang hamil."


Fabian mengusap air matanya kasar.


"Kakak nggak usah nangis Kak. Jangan membuat aku merasa tambah bersalah. Aku akan cari Syanum sampai ketemu Kak. Aku janji sama kakak."


"Baiklah. Sekarang sana kamu tidur Bi. Sudah malam. Besok saja kamu cari Syanum."


"Iya Kak. Aku ke kamar dulu ya."


Fabian ke kamarnya dan dia menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidurnya. Dia kemudian menatap ke sekeliling.


"Syanum, kamu sebenarnya kemana Syanum."


Fabian meraba ke atas tempat tidur. Tempat terbiasa Syanum tidur. Dia kemudian melangkah ke lemari. Dia menatap baju-baju Syanum yang masih tertata rapi di dalam lemari.


"Syanum nggak pergi jauh dari sini. Buktinya, semua baju-bajunya masih ada di sini," gumam Fabian.


Fabian menutup lemarinya kembali. Dia kemudian ke kamar mandi untuk membasuh wajah dan kakinya.


Fabian menatap cermin. Sejak tadi, dia masih menatap pantulan dirinya di depan cermin.


"Syanum. Kamu di mana Syanum. Kenapa kamu pergi ninggalin aku. Aku nggak terbiasa tanpa kamu. Siapa yang akan menyiapkan baju kerja aku besok Syanum," gumam Fabian.


***


Ring ring ring...

__ADS_1


Suara deringan ponsel Luna berbunyi. Luna mengerjapkan matanya, dan meraba ke atas nakas untuk mengambil ponselnya.


Hoaammm...


"Ngapain sih Tante nelpon pagi-pagi gini. Nggak tahu orang lain ngantuk apa," gerutu Luna.


Luna mengangkat telpon dari Bu Reva.


"Halo Tan..."


"Halo Lun. Kamu masih tidur?"


"Hoaammm. Aku masih ngantuk Tan. Tante ngapain sih subuh-subuh gini nelpon."


"Tante cuma mau tanya. Apa kamu tahu di mana Syanum?"


Luna diam. Dia kemudian menatap Syanum yang masih lelap di sisinya.


'Maaf Tan. Kalau aku harus bohong sama Tante. Ini juga untuk kebaikan menantu Tante juga. Kasihan aku melihatnya.' batin Luna.


"Halo Lun... Luna. Dengar Tante bicara nggak?"


"Iya. Dengar kok Tan. Kenapa Tan tadi?"


"Em, Syanum nggak pulang ke rumah. Dia kemarin pergi dan kami semua tidak ada yang tahu di mana Syanum."


"Lho, emang Syanum pergi ke mana Tan?"


"Tante juga nggak tahu. Apa sebelumnya, Syanum pernah menghubungi kamu Lun?"


"Nggak Tan. Kenapa nggak Tante telpon aja Syanumnya."


"Tante nggak usah takut. Syanum itu udah gede. Dia pasti bisa kok jaga diri. Mungkin sekarang dia sedang main ke rumah saudaranya."


"Iya mungkin. Tante juga belum nelpon saudaranya."


"Ya udah. Aku masih ngantuk nih Tan. Masih jam lima juga."


"Ya udah. Tante fikir kamu tahu di mana Syanum. Karena Tante sangat mengkhawatirkannya. Dia juga sekarang sedang hamil muda."


"Ya udah Tan. Nanti kalau aku tahu info tentang Syanum, aku akan kabari Tante lagi ya."


"Iya Lun. Maaf ya, udah ganggu kamu."


"Iya Tan."


"Kalau kamu mau tidur lagi, silahkan Lun."


"Nggak Tan. Udah nggak ngantuk."


"Ya udah dulu ya Lun. Assalamualaikum."


"Wa'alakiumsalam."


Luna menutup saluran telponnya. Dia tidak enak juga harus membohongi tantenya. Tapi mau bagaimana lagi, Luna kasihan melihat Syanum.


Beberapa saat kemudian, Syanum mengerjapkan matanya. Dia beringsut duduk dan menatap Luna.


"Ada apa Lun?" tanya Syanum.

__ADS_1


"Ibu mertua kamu tadi yang nelpon."


"Kamu nggak bilang aku ada di sini kan?"


Luna menggeleng. "Nggak. Kamu tenang aja."


"Makasih ya Lun. Aku belum ingin ketemu Fabian. Aku muak banget Lun, sama dia."


Luna tersenyum. "Sabar ya."


Di sisi lain, Bu Reva menangis di sisi suaminya. Pak Damar beringsut duduk saat melihat Bu Reva.


"Ma. Mama kenapa?" tanya Pak Damar.


"Syanum belum ketemu Pa. Kata Dila, Fabian belum berhasil menemukan Syanum semalam. Syanum ke mana ya Pa. Mama takut terjadi apa-apa dengan menantu kita."


Pak Damar mendekat ke arah Bu Reva.


"Sabar ya Ma. Papa akan berusaha untuk mencari Syanum. Nanti Papa akan kerahkan semua anak buah papa untuk mencari Syanum."


"Makasih ya Pa."


Pak Damar memeluk Bu Reva. Mencoba untuk menenangkannya.


"Tadi Mama juga udah telpon Luna. Katanya Luna juga nggak tahu di mana Syanum."


Pak Damar tiba-tiba saja teringat dengan almarhum Pak Herman sopirnya. Sebelum meninggal, dia juga sempat berpesan, agar Pak Damar mau menganggap Syanum seperti anaknya sendiri.


Pak Herman sudah menitipkan Syanum pada Pak Damar. Pak Herman juga berpesan, agar Fabian mau mencintai Syanum dengan tulus. Pak Herman menginginkan pernikahan Syanum akan langgeng dan tidak ada perceraian di antara Fabian dan Syanum.


'Aku janji Herman. Aku akan mencari Syanum sampai ketemu dan akan mengembalikan anak kamu, ke rumah ini lagi.' batin Pak Damar.


"Sudah Ma. Kita ke luar sekarang. Kita temui Fabian dan Dila. Kita suruh mereka untuk mencari Syanum lagi ya." ucap Pak Damar.


Bu Reva mengangguk. Bu Reva dan Pak Damar kemudian melangkah ke luar dari kamar mereka. Mereka menuju ke ruang tengah dan duduk di atas sofa.


"Mbak. Ke mana anak-anak?" tanya Bu Reva pada Mbak Fani.


"Belum pada bangun Bu. Non Dila masih di kamar. Dan Tuan muda juga belum turun sejak tadi."


"Aku mau ke kamar Dila dulu Pa. Tumben banget dia belum keluar kamar jam segini."


Bu Reva pergi untuk ke kamar Dila.


Tok tok tok


"Dil... Dila...!" seru Bu Reva.


Dila segera melangkah ke pintu untuk membuka pintu.


"Ma. Ada apa Ma?" tanya Dila.


"Lho. Kamu kok di kamar aja. Emang kamu nggak mau ikut sarapan?"


"Dimas sakit Ma. Semalam badannya demam."


"Terus, dia mau sekolah? atau tidak?"


"Sepertinya libur dulu Ma."

__ADS_1


__ADS_2