
Fabian ke luar meninggalkan rumah sakit. Fabian melangkah ke parkiran. Dia mendekat ke arah mobilnya yang terparkir di sana.
Setetes air mata Fabian tiba-tiba saja mengalir dari pelupuk matanya. Fabian buru-buru mengusapnya kasar.
Baru kali ini, Fabian menangis karena wanita. Baru kali ini, Fabian merasakan sakit hati yang teramat sangat.Itu semua, karena istrinya sendiri.
"Kenapa Syanum tega banget sama aku. Dia akan memisahkan aku dari anak aku sendiri. Dia akan membawa jagoan kecilku ke kampung. Aku nggak mau, sampai hal ini terjadi," gumam Fabian.
Seseorang, tiba-tiba saja menepuk bahu Fabian. Fabian menoleh ke belakang. Fabian terkejut saat melihat Luna.
"Luna."
"Kak Abi. Mau ke mana?" tanya Luna.
"Aku mau pulang," jawab Fabian.
"Kenapa pulang? kan aku sudah belikan kamu nasi bungkus," ucap Luna.
"Tidak usah Lun. Buat kamu aja semua," Luna menatap Fabian lekat. Dia melihat ada air mata di sudut mata Fabian.
"Kak Fabian habis nangis?" tanya Luna.
Fabian kembali mengusap matanya.
"Nggak kok. Aku nggak apa-apa. Aku cuma kelilipan aja tadi," bohong Fabian.
"Kak Fabian yakin,kalau itu cuma kelilipan? kak Fabian jujur deh sama aku. Kenapa Kak Fabian mau pulang?"
"Aku capek. Aku lelah dan ngantuk. Sejak semalam, aku belum tidur," jelas Fabian.
"Kakak udah temui Kak Syanum?" tanya Luna.
Fabian hanya mengangguk.
"Iya. Tapi Syanum mengusir aku. Sepertinya dia sangat membenci aku. Sudah nggak ada harapan lagi untuk aku, kembali sama dia. Dia sudah bulat dengan keputusannya. Dia akan menggugat cerai aku setelah anaknya lahir. Dan dia akan membawa anaknya ke kampung. Aku nggak bisa berbuat apa-apa lagi Lun," ucap Fabian dengan wajah sedih.
"Terus, kamu akan menyerah begitu aja Kak? kamu nggak mau berjuang untuk mendapatkan hati Kak Syanum lagi?" tanya Luna.
Fabian diam.
"Berjuang?" Fabian menatap Luna tajam.
__ADS_1
"Iya. Kalau kamu cinta sama Kak Syanum, kenapa kamu tidak berjuang untuk cinta kamu. Apa kamu akan membiarkan Kak Syanum pergi, dan akhirnya dia jatuh ke pelukan lelaki lain? apakah kamu sanggup Kak, melihat wanita yang kamu cintai itu jatuh ke pelukan lelaki lain?" ucap Luna.
Dia ingin menyadarkan Fabian kalau cinta itu harus diperjuangkan.
Fabian mencoba untuk mencerna ucapan Luna.
"Coba sekarang kamu bayangkan Kak. Kalau seandainya Kak Syanum pergi dari kehidupan kamu dan membawa anak kamu. Apakah kamu rela, jika suatu saat nanti, Kak Syanum akan jatuh cinta lagi pada lelaki lain? dan mereka kemudian menikah dan akan hidup bahagia bersama Kak Syanum dan anak kamu?"
Fabian menggeleng.
"Sepertinya aku nggak akan sanggup Lun melihat semua itu. Aku nggak sanggup kehilangan Syanum dan anak aku. Apalagi kalau melihat Syanum bahagia dengan lelaki lain. Karena sekarang aku... aku..." Fabian menggantungkan ucapannya.
"Aku apa?" tanya Luna penasaran.
"Aku cinta sama Syanum Luna. Aku sangat mencintai dia dan aku sangat takut kehilangan dia."
"Kalau begitu. Kenapa kakak mau pulang. Kenapa kamu harus menyerah Kak. Cinta itu butuh pengorbanan dan perjuangan. Dan kakak harus tunjukkan pada Kak Syanum kalau Kak Abi itu cinta sama dia. Bilang sama Kak Syanum kalau sekarang cuma Kak Syanum satu-satunya wanita yang ada di hati Kak Fabian. Karena cuma itu yang bisa membuat Kak Syanum merubah semua keputusannya."
"Benarkah begitu?"
"Iya. Kak Fabian harus buat Kak Syanum jatuh cinta lagi sama kakak. Aku tahu, Kak Syanum itu sebenarnya wanita yang lemah dengan perasaannya. Dan aku yakin, dia juga belum bisa sepenuhnya melupakan kamu Kak."
"Kamu masih punya kesempatan untuk kembali dengan Kak Syanum. Jadi, jangan pernah menyerah Kak," lanjut Luna.
"Iya Lun. Benar apa kata kamu. Cinta itu memang butuh perjuangan. Aku akan pulang dulu Lun. Dan aku akan ke sini lagi. Syanum dan bayinya masih membutuhkan aku."
Luna tersenyum.
"Selamat berjuang Kak."
Fabian mengangguk. Dia kemudian masuk ke dalam mobilnya. Setelah itu dia meluncur pergi meninggalkan rumah sakit. Sementara Luna melangkah masuk ke rumah sakit untuk ke ruangan Syanum.
****
Bu Novi tampak panik. Semalaman dia tidak bisa tidur karena tubuh Dani panas. Dani menangis semalaman.
"Duh, gimana ini. Aira sudah berangkat ke kantor lagi. Dan Mentari, dia jam segini masih tidur. Dia sama sekali tidak perduli dengan Dani," gumam Bu Novi yang sejak tadi masih menimang Dani.
Oek...oek..oek...
Dani sejak tadi masih menangis. Dia juga tidak mau minum susu.
__ADS_1
Bu Novi melangkah ke arah kamar Mentari. Dia kemudian membuka kamar Mentari sembari menggendong Dani.
Bu Novi mencoba untuk membangunkan Mentari.
"Mentari, Mentari, bangun Mentari!" Bu Novi menggoyang-goyangkan tubuh Mentari.
Hoaamm...
Mentari mengerjapkan matanya. Dia kemudian menatap ke arah Bu Novi dan beringsut duduk.
"Mentari. Bangun...!" ucap Bu Novi.
"Ada apa sih Tan?" tanya Mentari sembari mengucek matanya.
"Ayo bangun! kamu harus bawa Dani ke rumah sakit."
"Ke rumah sakit? untuk apa?" tanya Mentari.
"Dani demam Mentari. Kita harus periksakan dia ke dokter. Ayo tar. Tante takut terjadi apa-apa sama Dani." Bu Novi tampak panik.
Bu Novi takut kalau Dani akan bernasib sama, dengan anak pertamanya. Dulu Bu Novi pernah punya anak dan anak itu meninggal karena panas tinggi dan kejang-kejang.
"Tan. Kenapa harus ajak-ajak aku sih. Aku masih ngantuk nih. Kenapa nggak sama Aira aja sih. Telpon kek Aira. Biar dia pulang dan ngantar Tante pergi ke rumah sakit. Kalau nggak, Tante pergi sendiri aja ke rumah sakit. Naik taksi atau apa kek." Mentari sama sekali tidak perduli dengan Dani anaknya.
Bu Novi menatap Mentari tajam.
"Tari. Kamu itu kenapa sih? kamu ini harusnya perduli sama Dani. Dia ini anak kamu. Anak yang ke luar dari rahim kamu. Kamu tega sekali sih sama anak kamu sendiri"
"Tapi aku nggak suka sama dia Tan. Aku nggak pernah mengharapkan kehadiran dia di dunia ini. Seharusnya anak ini sudah aku bikin meninggal aja dari dulu."
"Mentari. Cukup...! kamu bicara apa Mentari. Tarik semua ucapan kamu itu Mentari. Di luar sana, masih banyak seorang wanita yang membutuhkan anak. Mereka bahkan sampai rela membuang banyak uang dan tenaga hanya untuk mendapatkan seorang anak. Tapi kamu punya anak, malah mau di sia-siain."
"Kalau Tante masih sayang sama Dani, silahkan urus saja Dani. Tapi kalau Tante capek, buang aja anak itu ke panti asuhan. Atau kasihkan anak itu ke orang yang membutuhkan."
Mentari bangkit berdiri. Dia kemudian melangkah untuk ke kamar mandi. Sementara Bu Novi, hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakukan Mentari.
"Kenapa sih aku punya keponakan yang sama sekali tidak punya rasa perikemanusiaan seperti itu. Di mana sebenarnya hati nuraninya sekarang."
Bu Novi kemudian melangkah kembali ke luar dari kamar Mentari. Dia kemudian membawa Dani ke ruang tengah.
Bu Novi mengambil botol susu dan menyuapkan botol itu ke mulut Dani.
__ADS_1
"Dani. Minum susu dulu ya Nak. Nanti Oma akan bawa kamu ke rumah sakit. Mama kamu itu memang sudah nggak waras Dani. Kalau dia nggak mau antar kamu ke rumah sakit, nanti sama Oma saja ya Dani. Kita periksa ke dokter," ucap Bu Novi.