Mempelai Pengganti Tuan Muda

Mempelai Pengganti Tuan Muda
Pengakuan Fabian.


__ADS_3

Syanum masuk ke dalam kamarnya. Setelah itu, dia naik ke atas tempat tidur dan menatap suaminya yang sekarang sudah berada di sofa.


Syanum menatap ke arah Fabian yang sejak tadi masih menatap ke layar ponselnya.


"Tuan muda. Lagi ngapain sih? serius amat?" tanya Syanum.


Fabian menatap sejenak ke arah Syanum.


"Kepo!" ucap Fabian.


"Aku tahu, kalau kamu sejak tadi lagi chatan dengan seorang wanita kan?" terka Syanum.


"Kalau iya emang kenapa? nggak ada urusannya sama kamu."


"Ya jelas ada urusannya dong sama aku. Aku kan sekarang istri kamu. Walaupun kita tidak saling cinta, apa kamu nggak bisa gitu sedikit saja menghargai aku sebagai istri kamu?"


"Syanum. Bisa diam nggak! aku lagi malas mendengar ocehan-ocehan kamu yang nggak penting itu."


Syanum diam. Dia kemudian membaringkan tubuhnya di atas tempat tidurnya.


"Kemarin aku lihat ada cowok cakep banget, ada di depan kantor kamu," ucap Syanum tiba-tiba.


Fabian menatap ke arah Syanum.


"Cowok?"


"He em. Cowoknya pakai mobil mewah gitu."


"Cowok yang mana?"


Fabian meletakan ponselnya di atas meja. Syanum sudah berhasil mengalihkan perhatian Fabian. Fabian melangkah ke arah Syanum dan duduk di sisi istrinya yang sedang berbaring.


"Kamu ingat nggak waktu aku ke kantor kamu bawa makanan. Aku ketemu dia Tuan muda."


"Terus? apa yang sudah kalian lakukan?" tanya Fabian penuh selidik.


Syanum beringsut duduk.


"Aku nggak melakukan apapun kok."


"Terus, kenapa kamu membicarakan dia di depan aku? kamu suka sama dia?" tanya Fabian yang sudah mendekatkan wajahnya ke wajah Syanum.


Hanya tinggal beberapa centi saja bibir mereka saling menempel. Membuat Syanum takut dan gugup.

__ADS_1


'Ah, kenapa Tuan muda membuat aku deg degan begini sih. Ngapain dia tiba-tiba dekat-dekat aku.'


Syanum menggeleng. "Aku nggak suka sama dia Tuan muda. Aku aja, nggak kenal sama dia. Aku cuma penasaran aja. Kenapa dia cakep banget," ucap Syanum yang membuat Fabian semakin murka.


Fabian memang tidak suka saat istrinya di sentuh lelaki lain. Seperti beberapa waktu lalu, saat Dokter Fadlan tidak sengaja merangkul Syanum. Karena Fabian merasa kalau dia sudah memiliki Syanum seutuhnya.


Walau dia enggan untuk mengatakan, kalau dia sudah mulai cinta sama Syanum. Mungkin Fabian tidak menyadari kalau diam-diam selama ini dia sudah mulai mencintai istrinya. Tapi bayang-bayang kenangan, bersama Mentari yang membuatnya buta dan tidak pernah bisa melihat ada cinta dalam hatinya untuk istrinya.


"Ingat Syanum. Kamu jangan pernah macam-macam sama aku! kalau kamu sampai berani macam-macam sama aku, kamu akan tahu akibatnya. Jangan pernah kamu bicarakan lelaki lain saat sedang berdua dengan suamimu!" ancam Fabian.


Syanum buru-buru mendorong tubuh suaminya.


"Jangan dekat-dekat! apa yang mau kamu lakukan Tuan muda? apa kamu mau menciumku?" Fabian terkejut saat mendengar ucapan Syanum.


"Apa! mencium kamu? siapa juga yang mau mencium kamu. Jangan geer kamu."


"Tapi ngapain Tuan muda dekat-dekat aku. Seperti mau..."


"Hah, kenapa sih aku harus punya istri super nyebelin seperti kamu," rutuk Fabian sembari melangkah kembali ke sofa.


Fabian duduk di sofa dan bersandar di sana. Dia sejak tadi masih mengamati istrinya.


"Ngapain kamu ngelihatin aku seperti itu?" tanya Syanum yang sangat tidak enak, saat melihat tatapan nanar suaminya.


Fabian sejak tadi tidak berhenti menatap Syanum. Dan Syanum tidak tahu, apa yang ada di dalam fikiran suaminya sekarang. Sepertinya suaminya sekarang memang sedang marah padanya. Mungkinkah dia marah, karena Syanum tadi sempat memuji lelaki lain di depan Fabian.


"Bukankah selama ini, kamu itu tidak pernah menganggap aku ada dan menganggap pernikahan ini hanya mainan saja," lanjutnya.


"Kenapa kamu bicara seperti itu? kamu itu kan memang istri aku. Dan kita sudah sah menjadi suami istri secara hukum dan agama. Lalu apa aku salah kalau aku bilang aku ini suamimu dan kamu itu istri aku. Karena itu memang status kita sekarang. Beda lagi kalau kita sudah cerai. Kita akan menjadi mantan suami istri."


"Terserahlah kamu mau ngomong apa Tuan muda. Aku ngantuk banget, aku mau tidur."


"Dan satu hal lagi Syanum. Jangan panggil aku dengan sebutan Tuan muda!"


Syanum menatap ke arah Fabian.


"Kenapa? terus kamu mau minta dipanggil apa?"


"Benar apa kata orang tuaku. Kamu itu sekarang bukan lagi pembantu. Tapi kamu sudah menjadi bagian dari keluarga aku. Dan mulai sekarang kamu boleh deh, panggil aku dengan sebutan apa aja."


Syanum mengernyitkan alisnya bingung.


"Aku harus panggil apa dong?"

__ADS_1


"Panggil Fabian aja nggak apa-apa."


"Tapi, aku nggak bisa panggil kamu cuma nama aja. Perbedaan usia kita juga cukup jauh. Kamu 28 tahun dan aku masih 22 tahun. Masa aku harus panggil Fabian saja. Nggak sopan namanya. Aku panggil Mas aja ya."


"Terserahlah. Yang penting jangan panggil sayang," Fabian menatap Syanum sinis."


"Ih... kenapa sih hidup aku begini banget. Harus punya suami rese seperti kamu Tuan muda! ups, Mas Fabian maksud aku."


"Sudah. Nggak usah banyak bicara. Tidur aja, udah malam. Besok kamu harus bangunin aku pagi-pagi sekali. Supaya aku bisa sampai ke kantor pagi-pagi. Karena kata Papa pagi ini, akan ada meeting besar di kantor bersama klien."


Syanum mengangguk."Iya."


****


Siang ini, Lisa masih berada di rumah kontrakan Mentari. Sudah beberapa hari ini dia menginap di kontrakan Mentari.


"Lis. Kamu nggak mau pulang ke rumah?" tanya Mentari.


Lisa menggeleng. "Nggak. Aku mau temani kamu aja di sini Mentari."


"Lis. Mending kamu pulang aja ke rumah kamu. Aku sudah nggak apa-apa kok."


"Nggak. Kalau aku tinggalin kamu sendiri di sini, nanti Mas Fadlan bisa marah besar sama aku. Bagaimana kalau kamu nekat lagi seperti kemarin."


Mentari menundukkan wajahnya. Dia kemudian menatap lekat ke arah Lisa..


"Maafkan aku ya Lis. Karena aku sudah banyak merepotkan kamu dan Fadlan. Dan aku juga mau minta maaf, karena aku sudah membuat kamu dan Fadlan berantem waktu itu."


Lisa tersenyum.


"Ngga apa-apa Mentari. Aku juga minta maaf ya. Karena sempat menuduh kamu waktu itu. Aku benar-benar tidak tahu keadaan kamu waktu itu."


"Nggak apa-apa."


"Oh iya Mentari. Kalau sementara kamu nanti tinggal di rumah aku gimana?" Lisa mengusulkan.


"Tinggal di rumah kamu?"


"Iya. Aku akan ngajak tinggal di rumah aku yang lebih nyaman. Di sana, aku tinggal cuma sama adik aku, dan ke dua orang tuaku aja kok. Dan kamu nggak akan kesepian lagi kalau tinggal di rumah aku."


"Tapi aku masih nyaman di sini."


"Please, mau ya kamu tinggal di rumah aku. Di sana, kamu nggak sendirian. Kamu bisa tidur sama aku. Kamar aku luas dan kamar mandiku juga ada di dalam. Kamu pasti akan betah tinggal di sana."

__ADS_1


"Iya. Makasih untuk tawarannya. Nanti aku akan fikirkan lagi untuk itu," ucap Mentari.


Lisa belum bisa meninggalkan Mentari begitu saja. Lisa takut Mentari akan nekat lagi seperti kemarin. Dia juga masih bersikeras ingin melakukan aborsi. Dan Lisa tidak akan membiarkan itu semua terjadi. Lisa kasihan melihat bayi yang ada di kandungan Mentari jika saja, Mentari sampai melakukan aborsi.


__ADS_2