Mempelai Pengganti Tuan Muda

Mempelai Pengganti Tuan Muda
Perubahan Dila


__ADS_3

Sudah lebih dari tiga hari Fabian sakit. Dia sudah tidak bisa ke kantor lagi seperti biasanya. Fabian hanya bisa berbaring di kamarnya.


Sejak tadi, Syanum masih membujuk Fabian agar dia mau makan.


"Tuan muda. Kapan kamu mau sembuh kalau kamu seperti ini terus. Nggak mau makan, nggak mau minum obat," ucap Syanum sembari memegang gagang sendoknya.


"Syanum. Aku itu lagi malas untuk makan. Kamu harus ngerti itu dong," ucap Fabian.


"Tuan muda. Tuan muda harus makan, walaupun cuma sedikit. Dan setelah makan, nanti Tuan muda minum obat."


"Syanum. Aku malas kalau harus minum obat terus."


"Kamu mau sembuh nggak sih? kalau kamu malas makan dan minum obat, kapan kamu akan sembuhnya."


"Baiklah. Tapi, satu suap saja ya."


Fabian kemudian membuka mulutnya. Syanum langsung menyuapi Fabian.


"Satu kali lagi ya Tuan muda."


Fabian menggeleng.


"Nggak mau. Aku udah kenyang."


"Kan baru satu suap. Sekali lagi ya, Aaaa..."


Fabian kembali membuka mulutnya. Setelah itu dia makan satu suap lagi.


Sejak Fabian sakit, Syanum yang dengan telaten mengurus dan merawat suaminya. Mulai dari mengompres, sampai menyuapi, Syanum semua yang melakukannya. Berbeda dari Fabian saat masih sendiri. Pasti, Bu Reva yang selalu merawatnya sampai dia sembuh.


Bu Reva masih berdiri di depan pintu kamar Fabian yang sedikit terbuka. Sehingga Bu Reva bisa melihat aktifitas Fabian dan Syanum dari depan kamar mereka. Bu Reva tersenyum saat melihat Syanum dan Fabian dekat.


"Mudah-mudahan, ini awal dari kedekatan mereka. Aku senang mereka bisa dekat seperti ini. Mudah-mudahan tidak akan ada masalah dalam pernikahan mereka. Aku harap, tidak akan ada perceraian di antara mereka," Bu Reva kemudian melangkah pergi meninggalkan kamar Fabian.


Setelah beberapa suap sudah masuk ke dalam mulut Fabian, Syanum kemudian meletakan mangkok bubur Fabian di atas nakas.


Syanum mengambil obat untuk diminumkan pada Fabian.


"Sekarang, kamu minum obat ya."


Fabian mengangguk.


Syanum mengambilkan kapsul obat untuk Fabian minum. Fabian, kemudian meminum obat itu. Setelah itu, Fabian meminum air putih.


"Sudah. Aku mau istirahat Syanum. Silahkan saja, kalau kamu mau pergi."


Syanum mengangguk. Sebenarnya, dia tidak betah berlama-lama berada di kamar. Dia lebih senang melakukan aktifitas di luar seperti membantu pekerjaan Mbak Asih seperti, bersih-bersih rumah dan beres-beres rumah.


"Baiklah. Aku pergi dulu. Tuan muda istirahat saja ya di sini," ucap Syanum.

__ADS_1


Setelah itu, Syanum pergi meninggalkan suaminya yang sekarang masih sakit. Syanum melangkah ke luar dari kamarnya dengan membawa mangkok bubur bekas suaminya makan.


Syanum menuruni anak tangga untuk sampai ke dapur. Sebelum sampai ke dapur, Syanum menghentikan langkahnya. Dia kemudian menatap ke arah Kak Dila yang sejak tadi masih melamun.


Syanum melangkah di mana Kak Dila duduk.


"Kak Dila," ucap


Syanum.


Dila yang ditanya hanya diam. Sepertinya sejak tadi, fikirannya sedang tidak berada di tempatnya


Syanum melangkahke arah Dila dan duduk di sisi Dila.


"Kak, kakak lagi ngapain?" ucap Syanum sembari menepuk pelan bahu Kak Dila.


Kak Dila menoleh ke arah Syanum.


"Syanum."


Syanum tersenyum.


"Kakak kenapa duduk sendiri di sini? Ke mana Mama dan Dimas?" tanya Syanum.


"Mama, lagi ngajak Dimas main di luar," jawab Dila.


Syanum tahu, kalau Dila sangat terpukul dengan semua masalahnya sekarang. Pertama dia sudah kehilangan calon anaknya. Dan yang ke dua, dia juga sudah kehilangan suaminya. Dalam sekejap, Dila harus di hadapkan dengan peristiwa tragis yang membuat dia harus kehilangan dua orang yang si sayanginya.


Untunglah, Dimas masih selamat dalam kecelakaan itu. Bagaimana jika Dimas juga tidak selamat. Entah Dila akan seperti apa.


"Kakak kenapa nggak ikut ke luar?"tanya Syanum.


"Aku lagi malas banget Syanum ke mana-mana."


"Aku tahu apa yang kakak rasakan. Kakak harus yang sabar ya menghadapi ini semua."


"Iya Syanum. Aku udah ikhlaskan ayahnya Dimas pergi kok. Aku juga udah ikhlaskan calon adik Dimas pergi. Mungkin sudah waktunya mereka pergi meninggalkan dunia ini."


"Yakinlah Kak. Kalau semua yang ada di dunia ini, cuma titipan. Semua yang hidup tidak akan pernah kekal Kak. Tapi di balik itu semua, akan ada hikmah dari semua cobaan itu."


"Iya Syanum, kakak ngerti. Oh iya. Gimana kondisi Fabian? apa dia sudah membaik?"


"Sudah. Dia sudah sedikit-sedikit mau makan. Kemarin sih dia sama sekali tidak mau makan. Kalau makan, pasti muntah lagi."


"Ya udah. Temani dia aja di kamar. Nggak usah kamu tinggal-tinggal. Siapa tahu nanti dia butuh sesuatu."


"Dia udah minum obat kok. Biarlah dia istirahat dulu. Aku nggak mau ganggu dia dulu. Aku mau bantu-bantu Mbak Asih."


"Syanum. Kamu kenapa sih, selalu bantu-bantu Mbak Asih dan Mbak Fani. Biarkan sajalah mereka. Kamu nggak usah bantuin mereka."

__ADS_1


"Tapi aku udah terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah. Aku udah biasa bantu-bantu mereka. Kalau aku berdiam diri aja, aku jenuh banget Kak."


"Ya udah. Terserah kamu. Tuh, mereka ada di depan. Lagi main sama Dimas dan Omanya."


"Ya udah. Aku susulin mereka ya. Kakak mau ikut ke depan?"


Dila menggeleng. "Aku di sini aja Syanum. Kamu aja yang keluar."


"Iya. Aku mau naruh mangkuk dulu di dapur."


Syanum bangkit berdiri. Setelah itu, dia melangkah ke arah dapur untuk menaruh mangkuk bekas suaminya makan ke dapur.


Setelah itu, Syanum melangkah ke halaman depan rumahnya. Dia tersenyum saat melihat Dimas sedang bermain bola dengan Mbak Asih dan Mbak Fani.


"Wah, seru banget mereka. Senang deh aku bisa melihat Dimas ceria lagi seperti itu."


Dimas menendang bolanya. Tiba-tiba saja, bola itu menggelinding sampai di depan Syanum.


"Tante," ucap Dimas sembari melangkah ke arah Syanum.


Dimas mengambil bolanya.


"Tante mau ikut main bola?" tanya Dimas.


"Nggak usah, Tante nggak bisa main bola. Tante ngelihatin aja ya di sini."


"Om Abi mana? dia masih sakit ya?"


Syanum hanya mengangguk.


"Yah, nggak enak kalau yang main bola cewek semua. Aku pengin main bola sama Om Abi dan Opa. Andai saja ayah masih hidup..." Dimas terlihat sangat sedih sangat mengingat ayahnya.


Dimas sekarang sudah tahu kalau ayahnya itu sudah meninggal. Awalnya juga Dimas sedih. Tapi lama-lama, dia jadi lupa dengan kesedihannya. Karena semua orang yang ada di rumah itu, selalu mau menghibur anak itu.


"Sayang. Nggak apa-apa. Karena di sini kebanyakan cewek. Yang cowok seperti Opa dan Om Fabian belum bisa menemani Dimas main. Karena Opa lagi sibuk, dan Om kamu juga lagi sakit. Dan Oma..."


Syanum mencari kesekeliling. Tapi Bu Reva tampak tidak ada di tempat itu..


"Kemana Oma sayang?"


"Tadi Oma ikut sama temannya. Naik mobil temannya."


"Oh. Mungkin dia mau arisan di rumah teman. Ya udah deh, Dimas main lagi sana sama Mbak."


Dimas mengangguk. Setelah itu dia kembali bermain dengan Mbak Fani dan Mbak Asih.


"Dimas. Sini...! ayo lempar bolanya...!" seru Mbak Fani.


Dimas tersenyum dan langsung melempar bolanya ke arah Mbak Fani pembantu baru itu. Dia kemudian bermain kembali dengan ke dua pembantu rumahnya itu.

__ADS_1


__ADS_2