
Sesampainya di rumah Syanum, Dokter Fadlan turun dari mobilnya. Setelah itu dia membukakan pintu mobil untuk Syanum dan Mbak Asih.
"Makasih Dokter," ucap Syanum sembari ke luar dari mobil Fadlan.
Dokter Fadlan hanya mengangguk. Setelah itu, dia merangkul bahu Syanum dan mengantar Syanum sampai ke teras depan rumah Syanum.
"Ini rumah kamu?" tanya Fadlan.
"Iya Dok."
Di sisi lain, Fabian masih menatap tajam ke arah Syanum dan Fadlan.
"Siapa lelaki yang bersama Syanum? kenapa lelaki itu merangkul Syanum. Aku harus samperin mereka," ucap Fabian yang sekarang masih berada di dalam mobil.
Fabian buru-buru turun dari mobilnya dan melangkah menghampiri istrinya yang masih bersama Dokter Fadlan.
"Ehm. Maaf, ada apa ya ini?" tanya Fabian.
Syanum dan Fadlan menoleh ke belakang. Syanum segera menyingkirkan tangan Fadlan dari bahunya, saat melihat suaminya.
Syanum dan Fadlan memutar tubuhnya dan menatap ke arah Fabian.
"Maaf Dokter. Ini suamiku," Syanum langsung memperkenalkan Fabian pada Fadlan.
Fadlan terkejut saat melihat Fabian. Fadlan benar-benar lupa, kalau Syanum itu sudah punya suami.
"Maaf, saya ke sini, cuma mau mengantar Syanum pulang. Dan tidak ada maksud lain," ucap Fadlan.
Fadlan mengulurkan tangannya untuk memperkenalkan diri.
"Nama saya Fadlan. Saya yang sudah menolong Syanum waktu dia kecelakaan tadi pagi di jalan. Dan sekarang saya mengantarnya pulang. Dia sudah boleh pulang, karena tidak ada luka yang serius," jelas Fadlan panjang lebar.
Fabian diam. Dia sama sekali tidak mau berjabat tangan dengan Fadlan.
"Maaf, Saya tidak nanya," ucap Fabian.
Fadlan menarik tangannya kembali.
"Mas Fabian, jangan begitu sama Dokter Fadlan. Dia memang yang sudah menolong aku. Karena tadi pagi, aku kecelakaan. Coba kamu tanya saja sama Mbak Asih," jelas Syanum.
"Siapa yang nyuruh kamu bicara?" Fabian menatap Syanum sinis.
Syanum bingung. Ada apa sebenarnya dengan suaminya. Fabian terlihat sangat kesal saat melihat Dokter Fadlan. Padahal Fabian itu sebenarnya sosok lelaki yang sangat ramah pada semua orang. Apalagi, dengan orang yang belum di kenalnya.
"Syanum. Sekarang kamu masuk ke dalam! sudah sore. Dan biarkan lelaki ini pergi."
"Iya Mas."
Sebelum Syanum masuk, Fadlan berucap. "Syanum. Jangan lupa obatnya di minum ya. Dan salep lukanya juga jangan lupa di pakai."
"Iya Dok."
__ADS_1
"Syanum. Aku bilang masuk...!" sentak Fabian.
"Iya Mas, iya."
Syanum kemudian buru-buru melangkah masuk ke dalam rumahnya meninggalkan Fadlan dan Fabian di teras.
"Kalau sudah tidak ada urusan dengan istri saya, anda bisa tinggalkan rumah saya. Silahkan anda pergi dari sini...!"
Fadlan mengangguk.
"Iya. Saya juga sudah mau pulang kok."
Fadlan benar-benar tidak enak, saat bertemu Fabian. Fabian terlihat sangat kesal sama dia. Seharusnya Fabian mau berterima kasih sama Fadlan, karena Fadlan sudah mau menolong istrinya dan mau mengantar istrinya pulang. Tapi dia malah bersikap sinis sama Fadlan.
Fadlan kemudian masuk kembali ke mobilnya. Tanpa banyak basa-basi, dia kemudian meluncur pergi meninggalkan rumah Syanum.
Setelah mobil Fadlan sudah menghilang dari pandangan Fabian, Fabian kemudian masuk ke dalam rumahnya.
Dia menatap Syanum yang saat ini masih berada di sofa ruang tengah.
Fabian menghempaskan tubuhnya di atas sofa dan menatap Syanum tajam.
"Sebenarnya apa yang terjadi Syanum?" tanya Fabian.
Syanum mengangkat kepalanya dan menatap suaminya lekat.
"Tanyakan saja sama Mbak Asih. Seharian ini, aku bersama Mbak Asih."
"Siapa lelaki tadi?"
"Kamu tadi pagi kecelakaan dan di rawat di rumah sakit? kenapa kamu tidak menghubungiku?"
"Untuk apa aku menghubungimu Tuan muda. Bukankah selama ini, kamu itu tidak pernah perduli denganku. Jika aku menghubungimu, juga percuma. Kamu tidak akan pernah mau datang menolongku. Kamu pasti akan selalu beralasan sibuklah, ini lah, itu lah..."
Fabian menghela nafas dalam.
'Ah, kenapa aku harus mengkhawatirkan dia sih," batin Fabian.
"Sebenarnya aku mau minta kamu untuk bawakan tas aku ke dalam. Tapi, berhubung katanya kamu sedang terluka, jadi aku bawa sendiri aja tas aku." Fabian bangkit berdiri. Setelah itu dia melenggang pergi membawa tasnya sampai ke kamarnya.
Di sisi lain, Mbak Asih masih mengaduk minuman hangat yang akan dia berikan untuk Fadlan. Mbak Asih fikir, Fadlan itu akan mampir dulu dan masuk ke dalam.
Mbak Asih kemudian membawa dua teh hangat ke depan. Sesampainya di ruang tengah, Mbak Asih menghentikan langkahnya.
"Non Syanum. Kenapa Non Syanum ada di sini? mana Dokter Fadlan?" tanya Mbak Asih.
Syanum menatap ke arah Mbak Asih.
"Dokter Fadlan sudah pulang," jawab Syanum singkat.
"Lho. Kok pulang. Kenapa nggak di suruh mampir aja dulu Non?"
__ADS_1
"Ini semua itu, gara-gara Tuan muda. Dia yang sudah membuat Dokter Fadlan pergi."
"Maksudnya gimana?"
"Nggak tahu tuh Tuan muda. Aku juga lagi kesal sama dia. Masak Dokter Fadlan ngajak jabat tangan dia nggak mau. Dia malah menyuruh aku masuk. Nyebelin banget kan."
"Terus, sekarang dia sudah pergi Non?"
"Ya udahlah. Udah pergi dari tadi."
"Yah, sayang sekali. Padahal, Mbak sudah buatkan minuman untuk dia."
"Ya udah. Taruh di meja aja Mbak. Nanti juga ada yang minum kok."
Mbak Asih kemudian meletakkan dua gelas teh hangat itu di atas meja ruang tengah.
"Non Syanum kenapa masih ada di sini. Non nggak mau masuk ke kamar? kalau mau ke kamar, Mbak antar ya."
"Nggak mau Mbak. Di kamar ada Tuan muda. Aku lagi malas ketemu sama dia."
"Ya udah. Kalau begitu, Mbak ke dapur dulu ya. Masih banyak pekerjaan yang harus Mbak kerjakan di sana."
"Iya Mbak."
Mbak Asih kemudian kembali ke dapur.
"Syanum. Kamu sudah pulang Nak?" Bu Reva buru-buru mendekat ke arah menantunya. Dia kemudian duduk di sisi menantunya itu.
"Nak, apa yang terjadi? katanya kamu kecelakaan. Apa itu benar? dan bagaimana kondisi kamu? kamu tidak apa-apa kan?" tanya Bu Reva.
Runtutan pertanyaan sudah Bu Reva lontarkan pada Syanum.
"Hehe...Ma. Bisa nggak sih, Mama tanyanya satu-satu. Aku kan jadi bingung mau jawab yang mana." Syanum terkekeh.
"Iya Nak. Soalnya Mama sangat khawatir sama kamu."
"Aku nggak apa-apa kok Ma. Cuma kecelakaan kecil aja. Dan aku juga nggak terluka. Paling, di kepala sama di siku aja. Itu juga cuma sedikit."
Bu Reva menatap perban yang ada di kepala Syanum.
"Kamu yakin nggak apa-apa? tapi kenapa kepala kamu sampai di perban gitu Syanum?"
"Aku nggak apa-apa Ma. Nggak usah khawatir."
Beberapa saat kemudian, Pak Herman dan Pak Damar masuk ke dalam rumah.
"Syanum. Papa dengar kamu kecelakaan ya? terus, bagaimana keadaan kamu?" tanya Pak Damar menatap menantunya lekat.
"Iya Nak. Kamu nggak apa-apa? apa ada yang terluka?" tanya ayah Syanum.
"Papa, Ayah, tidak ada yang perlu kalian khawatirkan. Aku tidak apa-apa kok."
__ADS_1
"Benar Nak, kamu tidak apa-apa?"
"Benar ayah aku tidak apa-apa."