
"Mentari. Sekarang kamu sudah bisa tinggal di sini," ucap Fadlan setelah sampai di rumah yang akan di kontrak oleh Mentari.
Mentari menatap Fadlan lekat dan tersenyum.
"Makasih banyak Dok. Sudah selalu membantuku. Aku janji, suatu hari nanti, aku akan membalas semua kebaikan Dokter."
"Sudahlah, nggak usah difikirkan Mentari. Aku ikhlas membantu kamu."
Mentari kemudian masuk ke dalam rumah kontrakan itu, sembari membawa tas yang berisi baju-bajunya.
Rumah minimalis, dengan dua kamar tidur dan satu kamar mandi itu, sengaja Fadlan pilih untuk menjadi rumah kontrakan Mentari. Dan letaknya pun sangat strategis. Fadlan bisa mengunjungi Mentari kapan pun dia mau. Karena rumah itu, terletak di pinggir jalan.
"Mudah-mudahan kamu akan merasa betah ya tinggal di sini. Kamu nggak usah fikirkan apa-apa lagi. Karena di sini kamu aman. Dan ingat satu hal. Kamu jangan pernah berfikir untuk mengakhiri hidup. Karena itu merupakan tindakan orang bodoh dan orang yang berputus asa."
"Iya Dokter."
"Kalau gitu, aku pergi dulu ya. Aku mau langsung ke rumah sakit. Karena sudah banyak pasien yang harus aku tangani sekarang."
"Iya Dok. Makasih untuk semuanya."
Setelah Dokter Fadlan berpamitan pada Mentari, Dokter Fadlan kemudian pergi meninggalkan rumah kontrakan Mentari. Dia kembali untuk ke rumah sakit tempat kerjanya.
****
Tok Tok Tok...
Ketukan pintu yang sangat keras sudah terdengar dari luar apartemen Fadlan.
"Mas Fadlan...! buka pintunya Mas...!" ucap Lisa dari luar apartemen.
Fadlan yang baru pulang dari rumah sakit, segera membuka pintu. Fadlan terkejut saat melihat Lisa, orang tuanya, dan ke dua orang tua Lisa sudah berada di depan pintu apartemennya.
"Lisa, Mama, Papa, Om, Tante, ada apa ini rame-rame ke sini?" tanya Fadlan.
"Om, Tante, percaya sama aku. Kalau Mas Fadlan di sini tinggal dengan seorang perempuan. Kenapa sih Mas Fadlan itu tidak Tante dan Om suruh tinggal di rumah aja. Nggak usah di apartemen. Kalau dia tinggal di sini sendiri, dia bisa saja kan mengajak selingkuhannya datang ke mari dan bersenang-senang di sini. Kalau di rumah kan, Mas Fadlan tidak akan berani macam-macam lagi. Karena ada yang ngawasin," ucap Lisa.
"Lis. Kamu bicara apa sih? kamu jangan fitnah orang sembarangan dong. Aku nggak pernah mengajak selingkuhan aku tinggal di sini. Lagian, siapa sih yang selingkuh. Aku nggak selingkuh." Fadlan membela diri.
"Tapi kemarin. Aku lihat ada wanita di dalam apartemen kamu Mas. Dan wanita itu namanya Mentari. Ngaku aja kamu Mas," ucap Lisa.
"Aku nggak pernah bawa selingkuhan aku ke sini. Karena aku memang tidak pernah selingkuh dengan siapapun," ucap Fadlan.
"Lisa. Apa kamu benar-benar melihat, kalau ada wanita di dalam apartemen Fadlan? rasanya Om kurang percaya sama ucapan kamu. Om tahu siapa Fadlan. Dia lelaki yang setia," ucap Pak Fakih ayah Fadlan.
"Nggak Om. Om Fakih harus lihat sendiri, kalau Mas Fadlan itu sudah menyimpan wanita di dalam apartemen."
"Pak Fakih. Alangkah baiknya, kita selidiki dulu. Kita masuk ke dalam, ada wanita atau nggak di dalam," ucap Pak Bandi ayah Lisa.
"Iya Pa. Ayo kita masuk ke dalam," ucap Bu Mona ibu Fadlan tampak penasaran.
__ADS_1
"Ya udah. Ayo kita masuk. Tunggu apa lagi," ucap Bu Ratih ibu Lisa.
Mereka tampak penasaran dengan ucapan Lisa. Benar atau tidak kalau di dalam apartemen Fadlan ada wanita yang Fadlan sembunyikan seperti apa yang di katakan Lisa.
Orang tua Fadlan, orang tua Lisa, dan Lisa kemudian melangkah untuk melihat di dalam. Mereka masuk untuk membuktikan ucapan Lisa itu benar atau tidak, kalau Fadlan menyembunyikan wanita di dalam.
Fadlan hanya bisa geleng-geleng kepala saat melihat kelima orang itu buru-buru masuk ke dalam.
'Apa-apaan sih Lisa. Masalah sepele seperti ini aja di besar-besarin. Malah ngajak-ngajak orang tua lagi. Untung saja, aku sudah membawa Mentari ke rumah kontrakan. Kalau nggak, bisa mati aku di marahin mama dan papa,' batin Fadlan.
Fadlan kemudian mengikuti ke lima orang itu masuk. Orang tua Fadlan sudah ngecek di semua tempat yang ada di dalam apartemen. Namun, tidak ditemukannya sosok wanita di dalam apartemen Fadlan.
"Mana Lisa, wanitanya?! tidak ada siapa-siapa di sini," ucap Bu Mona.
"Tapi kemarin aku itu lihat Tante. Dan dia tinggal berdua dengan Mas Fadlan."
"Tapi nyatanya Om dan Tante, tidak menemukan wanita di dalam apartemen ini," ucap Bu Mona lagi.
"Coba deh Tante dan Om lihat lagi. Barang kali dia sembunyi di dalam lemari. Atau di mana gitu," ucap Lisa.
Ck ck ck...
"Lisa. Kamu jangan ngada-ngada deh. Tidak ada siapa-siapa di sini, kamu ini menyuruh kami semua ke sini, cuma buang-buang waktu kami saja," ucap Pak Bandi.
"Pa. Papa harus percaya sama aku. Kalau Mas Fadlan sudah selingkuh di belakang aku. Dan dia mengajak selingkuhannya untuk tinggal berdua di sini."
"Tapi ucapan kamu itu tidak terbukti Lisa. Tidak ada apa-apa di sini. Lalu kamu mau membuktikan apa lagi," ucap Bu Ratih.
"Dan juga, tidak ada tanda-tanda ada penghuni lain di sini. Karena di lemari juga tidak ada baju-baju wanita. Cuma ada baju Fadlan," ucap Pak Fakih.
"Ya udahlah, Lisa ini cuma ngada-ngada. Kita pulang aja. Kerjaanku aja sedang banyak di kantor. Buang-buang waktu aja," gerutu Pak Bandi.
Orang tua Lisa dan orang tua Fadlan menatap ke arah Fadlan.
"Nggak ada apa-apa kan di sini? kenapa kalian harus percaya sih sama Lisa. Lisa ini memang lagi halu. Entah kenapa dengan Lisa," ucap Fadlan.
"Ya udah. Maafkan Om ya. Udah nggak percaya sama kamu Fadlan. Om fikir, ucapan Lisa itu benar. Kalau kamu tinggal bersama seorang wanita di sini." Pak Bandi menepuk-nepuk bahu Fadlan.
"Lagian, untuk apa aku membawa wanita ke sini dan tinggal di sini," ucap Fadlan.
Setelah itu, orang tua Fadlan dan orang tua Lisa, berpamitan untuk pulang. Mereka akan pulang ke rumah mereka masing-masing setelah mereka tidak menemukan bukti apapun di apartemen Fadlan.
Setelah orang tua Lisa dan Fadlan pergi, hanya ada Lisa dan Fadlan yang masih berada di dalam apartemen.
'Huh, untunglah Mentari sudah pergi dari sini. Jika dia masih ada di sini, bisa berabe urusannya. Pasti mereka semua tidak akan mempercayaiku. Mereka pasti akan lebih percaya sama Lisa dari pada percaya sama aku. Pasti semuanya akan salah paham padaku seperti Lisa. Ah, kenapa jadi runyam begini sih,' batin Fadlan.
Lisa menatap tajam ke arah Fadlan.
"Mana Mentari Mas? Di mana wanita itu kami sembunyikan?" Mentari melangkah ke sana ke mari untuk menemukan Mentari.
__ADS_1
"Apaan sih Lis. Kamu lagi nyari apa di sini?"
"Aku lagi nyari wanita yang kemarin Mas. Yang bersama kamu tinggal di sini."
"Mentari nggak ada di sini. Dia sudah pergi dari sini Lisa."
"Apa? nggak mungkin. Aku yakin, kamu pasti sembunyikan selingkuhan kamu itu ke suatu tempat. Iyakan Mas? katakan...!" ucap Lisa sembari mendorong tubuh Fadlan.
"Lis. Kamu itu kenapa sih. Masalah sepele seperti ini harus di besar-besarin. Mentari itu udah nggak ada di sini. Dia sudah pergi dari sini." Fadlan menjelaskan.
Lisa menghela nafas dalam.
"Sayang. Kamu itu kenapa sih. Kenapa kamu harus tidak mempercayai aku. Percayalah, kalau aku nggak punya hubungan apa-apa dengan wanita lain. Termasuk dengan Mentari."
"Tapi aku nggak suka kalau kamu dekat dengan wanita lain Mas. Hati aku sakit banget Mas," ucap Lisa sembari memegang dadanya.
Fadlan meraih tubuh Lisa dan mendekap Lisa dalam pelukannya.
"Lisa. Kita itu sudah lama menjalin hubungan. Sebuah hubungan itu, akan langgeng, kalau kita berdua itu saling percaya. Hilangkan ego kamu sayang. Sebentar lagi kita akan menikah. Cemburu boleh. Tapi jangan keterlaluan seperti ini. Nggak usah melibatkan orang tua dalam masalah kita sayang," ucap Fadlan sembari mengelus rambut Lisa dan memeluknya dengan erat.
"Aku itu berani sumpah. Kalau aku itu cinta banget sama kamu. Aku sayang sama kamu dan tidak akan pernah ada wanita lain yang bisa menggantikan posisi kamu di hati aku." Fadlan mengecup puncak kepala Lisa yang membuat Lisa semakin tenang.
Lisa mendongak dan menatap lekat suaminya.
"Siapa sebenarnya Mentari? apa benar, kalau dia itu bukan siapa-siapa kamu?"
Fadlan melepaskan pelukannya dan menatap wajah calon istrinya.
"Mentari itu, adalah seorang gadis yang kabur dari pesta pernikahannya. Waktu itu, aku menemukan dia berada di jembatan. Dan kamu tahu apa yang akan dia lakukan?"
"Apa Mas?"
"Dia akan melakukan bunuh diri. Dia sangat frustasi karena ada seseorang yang telah memperkosanya sebelum pernikahannya."
"Apa! Mentari sudah diperkosa? jadi dia adalah korban pemerkosaan? Dan karena itu, dia akan bunuh diri? dan kamu yang sudah menolong dia Mas?"
"Iya sayang. Dan aku bawa dia untuk sementara ke sini. Kamu mengerti kan sekarang?" Fadlan menangkup wajah istrinya.
"Kenapa kamu nggak bilang dari kemarin Mas."
"Karena kamu nggak mau mendengar penjelasanku."
"Sekarang di mana gadis itu?"
"Aku udah kontrakan dia rumah. Karena dia masih trauma dan belum mau pulang ke rumah orangtunya."
"Aku jadi merasa bersalah karena sudah menuduhnya Mas. Maafkan aku. Karena aku juga nggak mau percaya sama kamu."
"Nggak apa-apa Lis. Yang penting. Sekarang semua sudah jelas. Kalau aku dan Mentari tidak ada hubungan apa-apa. Aku cuma mau nolongin dia aja. Sekarang kamu percayakan sama aku?"
__ADS_1
"Iya Mas. Aku percaya sama kamu. Maafkan aku."
Lisa memeluk Fadlan kembali dan semakin mengeratkan pelukannya.