
Setelah memeriksa kondisi Mentari, Suster kemudian pergi ke luar dari ruangan itu.
Aira masih duduk di atas sofa, sementara sejak tadi, Bu Novi masih menenangkan bayi Mentari.
"Mama itu nggak tahu lagi sama kamu Aira. Kenapa sih kamu datang-datang malah berantem sama Mentari. Malu-maluin aja sih. Malam-malam begini, berantem di rumah sakit. Kalau tahu akan seperti ini kejadiannya, mending kamu di rumah aja nggak usah ke rumah sakit."
Aira sejak tadi masih menyisir rambutnya. Sementara Bu Novi hanya bisa ngomel-ngomel ke anaknya.
"Ma. Kok mama marahin aku sih. Harusnya mama marahin dia juga dong." Aira menunjuk ke arah Mentari yang masih berbaring di atas ranjang rumah sakit.
Sejak tadi. Mentari masih diam. Dia masih kesakitan akibat jambakan Aira tadi.
"Kenapa kamu malah nyalahin Mentari sih. Mentari itu baru melahirkan. Dia masih sakit Ra. Harusnya kamu itu bicara yang baik-baik saja sama dia. Sekarang Mama minta, kamu minta maaf sama Mentari."
"Aku nggak mau. Orang dia yang salah kok. Kenapa aku yang harus minta maaf."
Bu Novi hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah keras kepala anaknya.
Oeeek.. oeeek...
Bayi Mentari yang ada di dalam gendongan Bu Novi, kembali menangis.
"Mentari. Anak kamu nangis. Sekarang kamu berikan dia ASI ya!" pinta Bu Novi.
"Iya Tan."
Mentari beringsut duduk. Setelah itu dia menatap ke arah anaknya. Bu Novi memberikan bayi itu ke Mentari.
"Asi kamu udah ke luar kan?" tanya Bu Novi
"Udah kok Tan," jawab Mentari.
"Ya udah. Berikan dia ASI. Kasihan dia. Dari tadi dia belum menyusu."
Bu Novi duduk di sisi Mentari. Dia menatap Mentari dan juga bayi mungil yang ada di pangkuan Mentari.
Bu Novi tersenyum, saat menatap buah hati Mentari yang masih sangat imut itu.
"Kamu akan beri nama dia siapa Tar?" tanya Bu Novi.
"Belum tahu Tan."
"Kok belum di kasih nama."
"Aku bingung Tan."
"Ya udah. Sekarang kasih nama dong. Biar Tante dan Aira manggilnya gampang."
Mentari tampak berfikir.
"Aku akan kasih dia nama Dani aja Tan."
"Nama yang bagus itu."
"Kasihan ya Dani. Lahir tanpa seorang ayah. Pasti kalau dia udah gede, dia akan sedih banget. Karena dari kecil dia nggak pernah mengenal sosok ayah kandungnya," celetuk Aira.
__ADS_1
Bu Novi menatap Aira tajam.
"Aira. Kamu bicara apa sih?"
"Aku bicara fakta yang ada Ma. Mungkin, seandainya Fabian belum nikah, pasti dia akan minta Fabian untuk bertanggung jawab dan menikahinya. Sekarang aja Mentari udah mulai dekatin dia lagi."
"Sudah Aira. Berhentilah kamu bicara. Biarkan Dani minum ASI dulu. Tuh kan, lihat Aira. Dani itu sangat menggemaskan. Dia lahap banget tuh minum susunya. Persis seperti ibunya waktu bayi."
Mentari tersenyum. Sejak tadi dia tidak berhenti menatap Dani yang ada di pangkuannya.
"Aira. Dari pada kamu ngantuk di situ, mending kamu pulang aja dan tidur di rumah. Jangan buat rusuh terus di sini," ucap Bu Novi.
Hoaaamm...
"Aku nggak mau pulang. Kalau mama aja masih di sini," ucap Aira.
"Mama akan tetap di sini nungguin Om kamu dan Mentari."
"Terserah Mama. Aku juga mau tidur di sini."
Bu Novi bangkit berdiri.
"Aira. Mama akan ke ruangan Om kamu. Kamu mau ikut Mama, atau mau jagain Mentari di sini?"
"Aku mau ikut Mama. Aku juga khawatir dengan kondisinya Om Riko."
"Ya udah. Ayo kita ke ruangan Om kamu."
Aira bangkit berdiri. Bu Novi kemudian menatap Mentari.
"Iya Tan."
Bu Novi dan Aira kemudian melangkah pergi ke ruangan Pak Riko. Mereka masuk ke dalam ruangan Pak Riko.
"Mbak Novi. Kebetulan banget Mbak ke sini," ucap Pak Riko dengan nada yang masih sangat lemah.
"Ada apa Riko?" Aira dan Bu Novi mendekat kearah Pak Riko.
"Mbak. Aku punya hutang pada Fabian dua puluh juta," ucap Pak Riko yang membuat Aira dan Bu Novi terkejut.
Bu Novi dan Aira saling menatap.
"Untuk apa uang sebanyak itu Om?" tanya Aira penasaran.
"Untuk operasi Om kemarin Aira," jawab Pak Riko.
"Kok Om minjam ke Fabian sih. Kenapa Om nggak pinjam ke saudara aja. Ke aku atau Mama,"ucap Aira.
"Mentari yang minjam untuk biaya operasi Om ke Fabian Ra."
'Mentari lagi, Mentari lagi. Lagi-lagi Fabian. Kenapa sih Mentari harus terus punya urusan dengan Abi. Malu-maluin banget deh Ah.' batin Aira.
"Terus?" Bu Novi ingin mendengar penjelasan lain dari sang adik.
"Aku juga masih punya hutang di bank. Hutang yang belum aku lunasi. Aku ingin menjual rumah untuk melunasi semua hutang aku. Termasuk hutang aku yang di bank, dan hutang aku ke Fabian."
__ADS_1
"Kamu yakin dengan ucapan Kamu Riko? kalau kamu jual rumah kamu, kamu mau tinggal di mana sama anak kamu?" tanya Bu Novi.
"Penyakit aku sudah semakin memburuk. Dan umur aku juga mungkin, udah tidak akan lama lagi Mbak. Aku cuma mau titip Mentari dan cucuku ke Mbak Novi. Kalau nanti aku pergi, tolong jaga mereka. Anggap mereka seperti anak kandung Mbak sendiri. Kasihan Mentari. Dia sudah tidak punya ibu. Dan sekarang dia punya bayi, yang belum diketahui siapa ayahnya."
"Riko. Kamu sudah terlalu banyak bicara Riko. Lebih baik kamu tidur sekarang. Dari pada kamu berfikiran yang bukan-bukan. Kematian itu hanya Allah yang tahu. Kamu nggak boleh bicara seperti itu Riko."
"Iya Om. Aku yakin. Om pasti akan sembuh kok. Dan Om bisa berkumpul lagi dengan kami semua,termasuk Dani cucu Om."
Pak Riko tersenyum.
"Aku pengin ketemu sama Mentari dan bayinya. Dan mungkin pertemuan aku dengannya akan menjadi pertemuan yang terakhir. Bisakah kalian bawa Mentari dan bayinya ke sini?" tanya Pak Riko.
"Baiklah. Saya akan panggilkan Mentari."
Bu Novi kemudian buru-buru pergi ke luar dari ruangan Pak Riko untuk memanggil Mentari.
"Tari," ucap Bu Novi. Mentari menatap ke arah Tantenya.
"Iya Tan."
"Kamu bisa ikut Tante dan bawa anak kamu juga ke ruangan ayah kamu. Kamu udah bisa jalan kan?"
"Iya Tan."
"Sini. Daninya biar Tante yang gendong."
Bu Novi mengambil Dani dari gendongan Mentari. Setelah itu Bu Novi membantu Mentari untuk turun dari ranjangnya. Mereka kemudian melangkah ke arah ruangan Pak Riko.
Aira tampak panik saat tiba-tiba saja Pak Riko sesak nafas. Dia bingung dengan apa yang harus dia lakukan.
"Om. Om kenapa?" tanya Aira yang masih menggenggam erat tangan Pak Riko.
"A-ku... su-dah...tidak...ku...at lagi..." Pak Riko kembali mengambil nafasnya dalam-dalam.
Beberapa saat kemudian, Mentari buru-buru menghampiri ayahnya. Pak Riko menatap Mentari.
"Mentari. Ja-ga di-ri kamu-dan anak ka-mu... baik-baik..."Pak Riko memegang pipi Mentari yang sudah basah penuh air mata.
"Papa. Papa harus kuat Pa. Papa tidak boleh pergi tinggalin aku."
"Aira. Panggil Dokter Aira. Panggil Dokter sekarang..!" seru Bu Novi.
"Iya Ma." Aira buru-buru ke luar dari ruangan Pak Riko untuk memanggil Dokter.
Setelah Aira ke luar dari ruangan Pak Riko, Pak Riko akhirnya menghembuskan nafasnya yang terakhir.
"Papa...! Papa....! bangun Pa...! hiks...hiks...hiks..."
Bu Novi dan Mentari menangis. Beberapa saat kemudian, Aira dan Dokter masuk ke dalam ruangan Pak Riko.
"Inalilahi wa Inna ilaihi Raji'un," ucap Dokter setelah memeriksa denyut nadi dan denyut jantung Pak Riko.
"Kalian yang sabar ya. Pak Riko sudah meninggal dunia." Dokter menatap Bu Novi, Mentari dan Aira.
"Nggak mungkin. Nggak mungkin papa aku meninggal... Hiks hiks...papa. Jangan tinggalin aku."
__ADS_1