
Sesampai di kamar, Fabian menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidurnya. Dia benar-benar lelah hari ini. Fabian kemudian berbaring di atas tempat tidur berukuran king size itu.
"Mentari, di mana kamu sebenarnya sayang." Fabian menatap langit-langit kamar. Dia masih memikirkan kekasihnya yang menghilang dengan misterius saat resepsi pernikahannya.
Tok tok tok.
Ketukan pintu kamar Fabian tiba-tiba saja terdengar.
"Siapa?" tanya Fabian.
"Aku Syanum, Tuan muda."
Fabian bangkit berdiri. Dia kemudian melangkah membuka pintu untuk Syanum.
"Syanum. Mau ngapain kamu ke sini?" tanya Fabian ketus.
"Aku cuma mau..." ucapan Syanum menggantung saat menatap wajah Fabian.
Bukan karena Syanum terpesona dengan lelaki itu. Tapi karena dia tidak enak sendiri, mendapatkan tatapan kebencian dari suaminya sendiri.
"Tuan baru pulang?" tanya Syanum.
"Nggak usah banyak basa-basi kamu Syanum. Kamu mau apa ke sini? aku lagi capek banget Syanum."
"Tuan muda, apa Tuan muda mau makan atau minum? biar aku siapkan."
Fabian melotot ke arah Syanum.
"Siapa yang nyuruh kamu ke sini heh...!" ucap Fabian dengan nada tinggi.
Syanum terkejut saat Fabian membentaknya. Niat Syanum sebenarnya baik. Dia ingin mencoba melayani suaminya. Tapi Fabian malah membentaknya sampai membuat Syanum ketakutan.
"Em...aku ke sini cuma mau tanya. Semalam Tuan muda dari mana saja? tadi pagi, Tuan Damar mencari Tuan."
"Syanum. Mau aku ke mana aja, itu urusanku Syanum. Nggak ada urusannya sama kamu. Jadi jangan pernah kamu urus-urus masalah pribadiku."
"Tapi Tuan. Sekarang aku ini istrimu. Aku cuma khawatir aja, kalau Tuan pergi tanpa pamit dulu."
"Syanum. Kamu itu memang istriku. Tapi aku tidak pernah cinta sama kamu Syanum. Jadi, jangan pernah berharap lebih dariku. Karena kamu itu cuma gadis kampung, mana pantas kamu jadi istriku. Dan sampai kapanpun, jangan berharap, aku akan mencintaimu."
Syanum benar-benar sedih mendengar ucapan suaminya. Dia memang sudah menduga, kalau Tuan Fabian akan bersikap kasar padanya.
Sebenarnya Syanum ingin menangis. Tapi dia tidak mau di anggap bod*h oleh suaminya. Syanum mencoba untuk selalu tegar menghadapi sikap suaminya yang dingin.
****
Deru mobil sudah terdengar dari depan rumah Pak Damar. Sepulang kantor, Pak Damar memarkirkan mobilnya di garasi rumahnya. Dia buru-buru turun dari mobil dan melangkah masuk ke dalam rumahnya.
__ADS_1
"Sudah pulang Pa, sini mama bawakan tas papa." Bu Reva sudah menyambut suaminya dengan ramah. Dia juga membawakam tas suaminya.
"Fabian udah pulang?" tanya Pak Damar.
"Sudah Pa. Dia sekarang ada di kamarnya."
"Pulang jam berapa dia?"
"Baru saja Pa."
Pak Damar menghentikan langkahnya setelah sampai di ruang tengah. Dia kemudian menghempaskan tubuhnya di atas sofa.
Pak Damar membuka dasinya. Setelah itu dia menatap istrinya.
"Ma, bisa mama panggilkan Fabian?" tanya Pak Damar.
Bu Reva mengangguk. Tanpa butuh waktu lama, dia pun langsung melangkah pergi untuk memanggil anaknya yang masih berada di kamar.
Tok tok tok...
Bu Reva mengetuk pintu kamar Fabian.
"Ada apa lagi sih Syanum...!" Fabian membuka pintu dengan malas. Dia fikir, Syanum lagi yang mengetuk pintu kamarnya.
"Fabian. Ini mama. Bukan Syanum," ucap Bu Reva.
"Mama. Ada apa?" tanya Fabian.
"Iya Ma."
Fabian melangkah menuju ke ruang tengah. Sesampai di sana, dia duduk di sisi ayahnya.
"Ada apa Pa?" tanya Fabian.
Pak Damar menatap lekat anaknya.
"Dari mana saja kamu semalam?" tanya Pak Damar.
"Em, semalam aku..." Fabian menggantungkan ucapannya.
"Fabian dari rumah temannya Pa. Semalam dia menginap di sana," ucap Bu Reva menimpali.
Bu Reva kemudian berbaur duduk bersama anak dan suaminya.
Bu Reva ingin menyelamatkan Fabian dari kemarahan Pak Damar. Karena Bu Reva tahu, kalau Fabian berkata jujur, Pak Damar akan marah besar pada Fabian.
"Nginap? nginap di mana?" Pak Damar menatap lekat anaknya.
__ADS_1
"Semalam aku menginap di rumah Farel Pa," bohong Fabian.
"Untuk apa kamu menginap di rumah Farel heh...!" ucap Pak Damar dengan nada tinggi.
"Biasanya juga begitu kan," ucap Fabian.
"Kamu ini sekarang udah punya istri. Kamu nggak boleh sering ninggalin istri kamu."
"Tapi Pa, aku tidak suka dengan Syanum. Dan aku tidak pernah menginginkan pernikahan ini terjadi Pa. Aku nggak cinta sama Syanum."
"Fabian. Kamu sudah menikah dengan Syanum. Seharusnya kamu itu mau belajar mencintai dia."
"Tapi Pa, aku tidak mencintai Syanum. Jangan paksa aku untuk mencintai dia Pa."
"Papa, sudahlah Pa. Jangan paksa Fabian. Fabian itu masih capek Pa. Papa harus sabar. Semua itu butuh proses Pa. Apalagi kan, Syanum dan Fabian baru saling mengenal," ucap Bu Reva.
Pak Damar hanya manggut-manggut.
"Baiklah. Papa ngga akan maksa kamu Fabian. Tapi kamu harus janji sama papa. Jangan pernah kamu tinggalkan Syanum. Sekarang dia istrimu. Dan sudah kewajiban kamu, untuk menjaga dia dan memberikan nafkah untuknya."
"Iya Pa. Aku ngerti."
"Oh iya Fabian. Sekarang kamu itu kan sudah punya istri, papa ingin mulai besok, kamu kerja di kantor papa."
"Kerja?"
"Iya."
Bu Reva tersenyum.
"Fabian. Benar apa kata papa kamu. Sudah saatnya kamu menggantikan papa kamu di kantor. Karena papa kamu itu sudah semakin tua. Dan kamu harus menjadi penerus usaha papa kamu. Kamu harus menggantikan papa kamu untuk mengurus perusahaan."
"Iya aku tahu. Aku capek banget Pa, Ma. Aku mau ke kamar dulu."
Tanpa aba-aba, Fabian kemudian melangkah pergi meninggalkan ruang keluarga. Dia kemudian melangkah ke kamarnya.
"Pa, kalau untuk soal pernikahan Fabian dan Syanum, lebih baik papa jangan terlalu ikut campur dengan urusan mereka. Biarkan saja mereka. Mama yakin, suatu saat Fabian mau kok menerima Syanum sebagai istrinya. Tapi semua butuh proses Pa. Kalau papa terus saja memaksa dan mengekang Fabian, mama takut Fabian malah ngelawan dan dia bisa pergi dari rumah ini. Mama nggak mau, itu terjadi."
Pak Damar menatap tajam istrinya.
"Pergi dari rumah?"
"Iya. Mungkin saja kan. Makanya jangan terlalu memaksa Fabian."
"Iya. Benar juga apa kata mama. Aku nggak boleh terlalu memaksanya. Aku tahu, Fabian itu anaknya keras kepala. Ya udah. Papa ke kamar dulu ya Ma. Papa juga capek. Pengin istirahat."
Bu Reva hanya mengangguk. Sementara itu, Pak Damar bangkit berdiri. Dia kemudian melangkah untuk ke kamarnya.
__ADS_1
Pak Damar membuka pintu kamarnya. Setelah itu dia masuk ke dalam kamarnya. Pak Damar menatap ke luar jendela.
"Mudah-mudahan saja, suatu saat nanti, Fabian bisa menerima Syanum sebagai istrinya. Aku selalu berharap, pernikahan mereka bisa langgeng sampai kakek nenek. Dan tidak akan pernah ada perceraian di antara mereka."