Mempelai Pengganti Tuan Muda

Mempelai Pengganti Tuan Muda
Kedatangan Ryan


__ADS_3

Makan malam kali ini, Pak Damar tampak tak ada di ruang makan. Mungkin malam ini, Pak Damar masih berada di kantor. Begitu juga dengan Fabian dan Syanum. Sejak tadi, sepertinya mereka masih berada di dalam kamar mereka.


"Ma, kok sepi banget begini ya," ucap Dila.


"Papa ke mana sih Ma?" tanya Dila.


"Papa kamu kan belum pulang kantor Dil," jawab Bu Reva.


"Terus, pengantin baru ke mana? mereka udah pulang kan?"


"Mereka udah pulang dari tadi pagi. Mungkin mereka masih capek Dil. Makanya sejak pagi mereka mengurung diri terus di kamar," jelas Bu Reva.


"Capek? palingan tuh mereka juga lagi mesra-mesraan di dalam kamar. Jadi lupa waktu kan. Sejak tadi pagi, aku juga belum pernah lihat mereka ke luar dari kamar tuh," ucap Dila.


"Ya udahlah. Biarkan saja mereka. Kita makan berdua aja," ucap Bu Reva.


Bu Reva dan Dila kemudian makan bersama.


"Dil. Dimas kenapa nggak kamu ajakin makan di sini?" tanya Bu Reva di sela-sela kunyahannya.


"Dimas tidur Ma. Sepertinya dia lagi kurang enak badan," jawab Dila.


"Oh." Bu Reva tampak mengerucutkan bibirnya.


Dila dan ibunya kemudian makan bersama. Mereka tampak menikmati makanan mereka malam ini. Walau Pak Damar, Syanum, dan Fabian tidak ikut makan malam, seperti malam-malam sebelumnya.


"Kemarin waktu aku mampir ke kantor Papa, aku ngelihat Ryan Ma. Dan penampilan Ryan beda banget," ucap Dila.


Bu Reva menatap lekat ke arah Dila.


"Ryan siapa?"


Bu Reva tampak sedang mengingat nama Ryan.


"Itu lho Ma. Kakaknya Luna. Ponakan Papa. Lama sih, mereka nggak di Jakarta. Jadi mama sampai lupa kan sama mereka."


"Luna dan Ryan anaknya Om Fandi? Luna yang kemarin datang ke sini dan merias Syanum?"


"Oh, Luna pintar merias Ma?"


"Iya. Waktu pernikahan Syanum dan Fabian, dia kan datang. Dan Papa kamu, nyuruh Luna untuk ngerias Syanum."


"Luna udah nikah Ma?" tanya Dila.


"Belumlah. Ryannya aja belum nikah."


"Kapan ya, Om Fandi punya mantu. Anaknya itu kan sudah dewasa."


"Entahlah. Mungkin belum ada jodoh yang pas buat mereka."


Di sisi lain, deru mobil sudah terdengar dari luar rumah. Syanum menatap suaminya yang sudah terlelap.


"Mobil siapa yang datang," ucap Syanum.


Syanum kemudian melangkah ke arah jendela untuk melihat siapa yang datang.


Seorang lelaki bertubuh tinggi tegap, tampan, dan berpakaian seperti orang kantoran itu, turun dari mobilnya.

__ADS_1


Syanum terkejut saat melihat lelaki tampan itu.


"Bukannya itu lelaki yang sempat aku lihat di kantor Papa. Mau ngapain lelaki itu ke sini," gumam Syanum yang sejak tadi tidak berkedip menatap lelaki tampan yang ada di bawah.


Beberapa saat kemudian, Pak Damar ke luar dari mobil.


"Kok dia bisa bareng sama Papa. Apa hubungannya dia sama Papa," ucap Syanum lagi.


Syanum masih bertanya-tanya dalam hati. Siapa sebenarnya lelaki yang pernah ditemuinya di kantor mertuanya beberapa hari yang lalu itu. Syanum tampak penasaran dengan lelaki tampan itu. Karena dia datang tidak sendiri. Tapi sama ayah mertuanya.


Syanum melangkah ke luar dari kamarnya. Dia menuruni anak tangga dan melangkah ke ruang tengah. Tampak di ruang tengah, masih ada Dila dan ibu mertuanya.


"Mama, Kak Dila. Di luar ada tamu. Tamu siapa?" tanya Syanum.


Dila dan ibunya saling menatap.


"Tamu siapa?" mereka malah balik bertanya.


"Aku juga nggak tahu. Dia naik mobil Papa. Semobil sama Papa," Syanum tampak menjelaskan.


"Siapa ya Dil. Coba kamu lihat. Mama jadi penasaran," ucap Bu Reva.


Dila bangkit dari duduknya. Dia juga sepertinya tampak penasaran dengan tamu yang dimaksudkan Syanum.


Dila kemudian melangkah pergi ke ruang tamu. Dila langsung membuka pintu depan untuk melihat siapa yang datang bertamu. Tampak di depan, seorang lelaki sedang mengobrol dengan ayahnya.


"Papa, Ryan," ucap Dila.


Ryan dan Pak Damar serentak menoleh ke arah Dila.Ryan tersenyum saat melihat kakak sepupunya sudah berdiri di pintu depan.


"Kak Dila," ucap Ryan. Tampaknya Ryan masih mengenali Dila. Sementara Dila masih pangling dengan Ryan.


"Ryan, kamu sekarang beda banget. Dulu aku sering melihat kamu, masih kecil. Sekarang kamu sudah besar banget seperti ini. Kamu hampir menyamai Fabian."


Ryan hanya senyam-senyum sendiri. Ryan memang masih muda. Dia masih seusia Syanum. Begitu juga dengan Luna adiknya. Luna dan Ryan cuma beda setahun saja. Mereka masih sangat muda dan baru lulus dari bangku perkuliahan.


"Kak Dila apa kabar?" tanya Ryan.


"Baik. Alhamdulillah," jawab Dila.


"Kamu katanya kuliah di luar negeri? benar nggak sih?"


Ryan menggeleng.


"Dulu sempat sih, ingin kuliah di sana. Tapi, mama nggak izinin Kak. Jadi, aku kuliah di Jogya."


"Terus. Apa kamu sudah lulus?"


"Alhamdulillah sudah Kak. Dan sekarang aku juga lagi nyoba kerja di kantor Om Damar. Siapa tahu nanti ketularan bisa sukses seperti Om Damar," ucap Ryan.


Dila manggut-manggut. Dia bahagia bisa bertemu dengan adik sepupunya itu lagi.


"Kenapa nggak disuruh masuk Pa. Ryannya? "


"Iya." Pak Damar melangkah masuk, "Ayo Ryan, masuk!"


Ryan hanya mengangguk. Dia kemudian masuk ke dalam rumah Omnya.

__ADS_1


Ryan melangkah ke ruang keluarga dan dia menghentikan langkahnya setelah sampai di ruang keluarga.


"Ryan," ucap Bu Reva.


Ryan segera mencium punggung tangan Bu Reva.


"Duduk Ryan!" pinta Bu Reva.


Ryan mengangguk dan langsung duduk. Begitu juga dengan Dila. Dia ikutan duduk di sisi Ryan.


"Ryan, ngobrol-ngobrol dulu dengan Dila ya. Om tinggal dulu ke kamar," ucap Pak Damar.


Ryan mengangguk. "Iya Om."


Pak Damar kemudian pergi meninggalkan Ryan.


"Ryan, apa kabar? lama sekali Tante nggak ketemu kamu. Terakhir Tante ketemu kamu, waktu kamu baru lulus SMP ya," ucap Bu Reva.


"Iya Tan. Selama ini, aku dan keluargaku itu kan pindah ke Yogyakarta. Kita kan jarang juga ke Jakarta. Dan Ryan jadi rindu dengan Jakarta. Makanya Ryan kembali ke sini."


"Kamu sudah berapa hari di sini?" tanya Dila.


"Aku udah satu bulan Kak, kerja di perusahaan Om Damar."


"Oh..." Bu Reva manggut-manggut.


"Kenapa Papa nggak pernah cerita-cerita ke Mama ya," ucap Bu Reva.


"Dan kenapa kamu baru main ke sini. Padahal kamu sudah lama tinggal di Jakarta," ucap Dila.


"Belum sempat main Kak."


Bu Reva menatap Dila.


"Dil. Tolong ambilkan minum untuk Ryan!" pinta Bu Reva.


Dila mengangguk. Dia kemudian bangkit berdiri. Setelah itu, dia melangkah pergi ke dapur untuk mengambil minum.


Di dapur, tampak Syanum sedang menuang air minum ke dalam gelas.


"Syanum. Kakak fikir kamu masuk ke kamar. Ternyata kamu ada di sini," ucap Dila.


Syanum menoleh ke arah Dila.


"Emang kenapa Kak?"


"Itu. Di luar ada tamu. Bisa kamu buatkan minuman?"


"Minuman apa?"


"Teh atau kopi, terserah aja."


"Tapi Kak. Aku nggak tahu, mau buat minuman apa?"


Dila tersenyum.


"Dia mah, bebas. Kopi, teh, susu, doyan semua. Nggak kayak suami kamu, suka pilah-pilih."

__ADS_1


Dila kemudian melangkah pergi meninggalkan Syanum untuk kembali ke ruang tengah.


__ADS_2