
Pak Herman melangkah dan duduk di samping Syanum.
"Kok kepala kamu diperban? katanya kamu nggak apa-apa?" tanya Pak Herman khawatir.
"Aku memang nggak kenapa-kenapa Ayah. Ini cuma luka kecil saja."
Pak Damar menatap ke sekeliling.
"Fabian ke mana? dia sudah pulang belum?" tanya Pak Damar.
"Mas Fabian sudah ke kamar Pa," jawab Syanum.
"Fabian...! Fabian...!"seru Pak Damar.
"Pa. Mungkin, Fabiannya lagi mandi Pa. Dia kan baru pulang dari kantor," ucap Bu Reva.
"Kenapa sih Fabian itu. Istri lagi sakit begini, bukannya di bawa ke kamar, malah di biarkan saja di sini," gerutu Pak Herman.
"Saya permisi ke belakang dulu Pak Damar, Bu Reva," ucap Pak Herman.
"Oh. Iya Herman. Makasih ya," ucap Pak Damar.
Pak Herman mengangguk. Setelah itu, dia kemudian melangkah pergi ke belakang dan meninggalkan anaknya.
"Ma. Panggilkan Fabian Ma!" pinta Pak Damar. Dia kemudian menghempaskan tubuhnya di atas sofa ruang tengah.
Bu Reva bangkit berdiri. Tanpa banyak aba-aba, dia melangkah naik ke lantai satu untuk memanggil Fabian.
Tok tok tok...
Bu Reva mengetuk pintu kamar Fabian, setelah dia sampai di depan kamar Fabian.
"Fabian. Kamu lagi ngapain di dalam?" tanya Bu Reva.
Tidak ada sahutan dari dalam kamar Fabian.
"Ke mana sih Fabian," gumam Bu Reva.
Bu Reva kemudian membuka pintu kamar Fabian.
"Kok gelap banget begini kamarnya."
Bu Reva menyalakan lampu kamar Fabian. Bu Reva terkejut, saat melihat Fabian sedang terlelap di atas tempat tidurnya.
"Ya ampun ini anak. Aku fikir dia sedang mandi. Tapi ternyata dia malah tidur di sini. Benar-benar menyebalkan."
Bu Reva buru-buru membangunkan Fabian.
"Fabian. Bangun...! maghrib-maghrib kok kamu malah tidur sih...!" gerutu Bu Reva.
Fabian mengerjapkan matanya. Dia langsung menutup matanya dengan salah satu lengannya karena silau.
"Ma, kenapa lampunya di nyalakan sih Ma."
__ADS_1
"Udah maghrib Fabian."
"Aku capek banget Ma. Bisa nggak sih banguninnya nanti aja. Aku ngantuk banget nih Ma."
"Fabian. Mama fikir kamu masuk ke kamar mau mandi. Nggak tahunya malah tidur. Sana, temui Papa. Dia manggil kamu tadi."
"Mau ngapain Papa manggil aku?"
"Mama nggak tahu."
Fabian beringsut duduk. Setelah itu, dia turun dari tempat tidurnya dan melangkah pergi meninggalkan kamarnya.
Fabian mulai menuruni anak tangga. Dia kemudian melangkah ke arah ruang tengah.
"Ada apa Pa? katanya Papa manggil aku."
"Kamu dari mana aja sih Fabian?" tanya Pak Damar menatap anaknya tajam.
"Dari kamar lah Pa."
"Ngapain aja kamu di kamar?"
"Nggak ngapa-ngapain kok."
"Duduk!" pinta Pak Damar.
Fabian mengangguk dan duduk di sofa ruang tengah.
"Hah, apa Pa!"
"Kenapa? Syanum itu kan istri kamu. Dia baru saja kecelakaan dan masih terluka. Tapi kamu malah cuekin dia begitu aja. Sekarang antar dia ke kamarnya."
"Pa. Syanum itu udah gede Pa. Kalau dia mau ke kamar, dia juga bisa kan jalan sendiri. Kenapa harus aku yang repot sih. Kalau mau ke kamar, pergi aja sendiri," ucap Fabian.
Fabian sebenarnya malas banget satu kamar dengan Syanum. Apalagi untuk menggandeng Syanum masuk ke dalam kamar.
"Kamu nggak boleh bicara seperti itu Fabian. Syanum itu sekarang istri kamu. Belajarlah untuk mencintainya."
Kata-kata Pak Damar, membuat Fabian muak. Lagi-lagi, Pak Damar menyuruh Fabian untuk belajar mencintai Syanum. Sesuatu yang tidak bisa Fabian lakukan. Mencintai wanita selain Mentari.
"Fabian, ajak istrimu masuk ke dalam kamar!" Pak Damar sudah menaikan nada suaranya.
Fabian menatap Syanum. Dia menggerutu kesal dalam hati.
'Ih, gadis kampung. Benar-benar menyusahkan. Ngapain sih, dia harus ikut tinggal di sini dengan ayahnya. Seharusnya dia itu tinggal di kampung aja. Nggak usah tinggal di sini. Gara-gara dia, hidup aku jadi susah begini. Gara-gara dia, Papa jadi sering banget ngatur-ngatur aku.'
"Fabian. Lebih baik ajak Syanum ke kamar. Kasihan Syanum. Dia masih terluka dan lukanya juga belum sembuh," ucap Bu Reva sembari mendekat ke arah anaknya.
"Ya udah Fabian. Tunggu apa lagi. Gendong Syanum ke kamar!" pinta Pak Damar.
"Kalian itu suami istri. Kalian harus selalu kompak. Seperti kita. Iya kan Ma." Pak Damar menatap Bu Reva.
Bu Reva tersenyum dan mengangguk.
__ADS_1
Fabian benar-benar geram dengan sikap ayah dan ibunya. Mereka selalu memaksa Fabian untuk mesra dengan Syanum. Padahal Fabian saja malas jika saja dia dekat dengan Syanum.
Syanum bangkit berdiri.
"Biar aku ke kamar sendiri saja," ucap Syanum.
"Jangan Syanum! kamu masih lemah. Dan kamu kan punya suami. Biar suamimu yang gendong kamu ke kamar," ucap Pak Damar.
"Mama juga selalu berharap. Semoga kalian bisa cepat-cepat punya anak. Mama pengin nambah cucu. Untuk menjadi teman Dimas main," ucap Bu Reva.
Fabian malas jika dia harus berdebat terlalu lama dengan ayah dan ibunya. Fabian akhirnya mengalah juga dengan ke dua orang tuanya.
Tanpa basa-basi lagi, Fabian menggendong Syanum.
Fabian melangkah pergi meninggalkan orang tuanya. Dia naik ke atas lantai dua sembari menggendong istrinya. Sementara Bu Reva dan Pak Damar hanya senyam-senyum sendiri melihat tingkah anaknya.
"Huh, semoga saja mereka bisa saling mencintai," ucap Pak Damar.
"Ternyata mereka pasangan yang serasi ya Pa. Kenapa kita tidak nikahkan saja mereka dari dulu."
"Hah, Mama. Kayak nggak tahu aja siapa Fabian. Bagaimana bucinnya dia sama Mentari."
Sejak tadi, Syanum masih menatap wajah Fabian. Dia hanya bisa diam dalam gendongan suaminya.
'Apa aku lagi mimpi ya. Tuan Fabian mau menggendongku sampai ke kamar. Wah, nggak nyangka. Ternyata, Tuan Fabian baik banget sama aku. Di balik sifatnya yang dingin, tapi dia bisa baik juga,' batin Syanum.
Sesampai di depan kamarnya, Fabian kemudian melangkah masuk ke dalam kamar. melangkah ke arah tempat tidurnya. Tiba-tiba saja.
"Auh..." teriak Syanum saat Fabian membanting tubuhnya di atas tempat tidurnya.
Syanum beringsut duduk. Dia kemudian menatap Fabian tajam.
"Kalau nggak ikhlas gendong aku, kenapa kamu harus gendong aku sih. Ih, keterlaluan banget kamu Tuan muda."
"Kenapa hah...! nggak usah baper kamu! aku melakukan ini juga terpaksa karena menuruti keinginan Papa. Sebenarnya sih, ogah banget aku harus gendong- gendong kamu. Tubuh kamu berat Syanum."
"Huh, untung ini kasur empuk. Bagaimana kalau aku di jatuhkan di lantai atau di ranjang yang ada di kamarku. Nggak tahu bagaimana nasib aku," gumam Syanum.
"Sudah. Tidur aja di situ! nggak usah ke mana-mana. Aku nggak mau Papa sama Mama nyalahin aku lagi kalau sampai terjadi apa-apa sama kamu lagi."
Syanum hanya mengangguk.
Fabian melangkah ke arah lemarinya.
"Kamu mau ngapain Tuan muda?" tanya Syanum.
"Mau ambil baju. Aku gerah, belum mandi. Aku mau mandi."
"Oh. Kamu mau mandi di sini?"
"Ya nggaklah. Di luar juga ada banyak kamar mandi. Ngapain aku harus mandi di sini."
Fabian mengambil handuk. Setelah itu dia ke luar dari kamarnya dan melangkah ke kamar mandi yang ada di luar. Mungkin dia malu, mandi di dalam kamar mandinya karena ada Syanum di sana.
__ADS_1