
"Kenapa kamu masih bengong saja di sini Sus. Ayo sana, cari anak saya sampai ketemu...!" ucap Fabian pada baby sitter barunya dengan nada tinggi.
Fabian benar-benar emosi dengan suster baru itu. Bisa-bisanya suter itu meninggalkan Dani sendirian.
"Ta-tapi. Saya harus cari ke mana Tuan muda." Lili tampak bingung. Dia benar-benar takut dengan kemarahan majikannya.
Tapi Lili tidak sengaja meninggalkan Firen. Biasanya juga Firen selalu ditinggal di kamar waktu Lili membuatkan susu.
"Ya ke mana aja, terserah kamu...!" ucap Fabian yang masih penuh amarah.
"Baik Tuan muda." Lili akhirnya menuruti majikannya untuk mencari Firen. Dan entah kemana Lili harus mencari Firen sekarang. Lili saja tidak tahu, siapa yang sudah membawa Firen pergi.
Lili kemudian ke luar dari rumah mewah itu untuk mencari Firen.
"Mas, anak kita Mas. Anak kita. Siapa yang sudah menculik dia? hiks..hiks.." Syanum masih menangis di sisi suaminya. Dia benar-benar sedih sekali, anaknya menghilang. Ibu mana yang tidak akan sedih, saat tahu kalau anak bayinya itu di bawa pergi oleh orang yang tak dikenalnya.
"Mas, aku takut Firen kenapa-kenapa. Aku nggak mau kehilangan anak kita Mas. Cari Firen Mas. Cari Firen sampai ketemu...! hiks..hiks...hiks..." ucap Syanum di sela-sela tangisannya.
"Tenang sayang. Aku akan cari Firen sekarang. Kamu tenang saja ya. Firen pasti nggak akan jauh dari sini," ucap Fabian mencoba untuk menenangkan istrinya.
"Aku nggak mau terjadi apa-apa sama Firen Mas."
Fabian mengusap air mata istrinya. Sejak tadi dia masih mencoba untuk menenangkan istrinya. Setelah Syanum sudah mulai tenang, Fabian menatap Mbak Fani.
"Mbak Fani. Bisa tolong saya untuk jagain Syanum?" tanya Fabian.
Mbak Fani mengangguk. " Iya Tuan muda."
"Kamu tunggu di sini dulu ya sayang sama Mbak Fani. Mas akan masuk untuk mengecek CCTV di dalam."
Syanum mengangguk.
Fabian kemudian masuk ke dalam rumahnya untuk mengecek CCTV yang ada di dalam rumahnya. Karena di setiap bagian rumahnya, ada CCTV yang sudah di pasang dari dulu. Mungkin dengan melihat CCTV, Fabian bisa melihat wajah penculiknya.
"Ah, sial. Kenapa CCTV bisa mati begini. Aku yakin, semua ini pasti ada yang sengaja merusak CCTV di rumah ini. Kurang ajar. Ternyata ada orang yang mau macam-macam sama saya. Saya yakin, ini kerjaan orang yang sudah menculik anak saya," ucap Fabian.
Fabian masih tidak habis fikir. Kenapa CCTV di rumahnya bisa mati. Dia yakin, pasti ada yang sengaja merusak CCTV itu.
Fabian sudah mengepalkan tangannya geram. Fabian mendobrak meja karena kesal.
"Aku sudah kecolongan. Siapa orang yang sudah berani macam-macam sama aku. Kalau sampai anak aku kenapa-kenapa, aku nggak akan pernah mengampuni orang itu," geram Fabian.
Fabian menghela nafasnya dalam. Dia kemudian mengusap wajahnya kasar. Setelah itu, dia ke luar dari kamarnya untuk menemui istrinya kembali.
"Mas, bagaimana?" tanya Syanum.
"Sayang, sepertinya orang itu sudah merencanakan semuanya. CCTV nya mati sayang."
"Ya ampun Mas. Terus, kita harus bagaimana Mas."
"Kamu sabar ya sayang. Aku akan cari anak kita sekarang. Aku pergi sekarang ya. Aku janji, aku akan bawa Firen ke rumah secepatnya."
"Hati-hati Mas."
Fabian mengangguk. Setelah itu, Fabian ke luar dari rumahnya dan melangkah ke arah garasi untuk mengambil mobilnya. Fabian kemudian masuk ke dalam mobil dan meluncur pergi meninggalkan rumahnya untuk mencari Firen.
****
Syanum masih menangis di ruang tamu. Sejak tadi, dia masih bersama Mbak Fani menunggu kabar dari Fabian. Mbak Fani benar-benar tidak tega melihat Syanum. Syanum tampak sedih sekali saat ini.
"Non. Non harus sabar ya. Mbak yakin, pasti nanti Tuan muda akan bawa Firen pulang," ucap Mbak Fani mencoba untuk menenangkan Syanum.
"Kenapa tega banget penculik itu sih sama aku. Apa salah aku sama dia, punya dendam apa dia sama aku," ucap Syanum.
"Saya sudah menghubungi Non Dila tadi Non. Dan Non Dila akan segera datang ke sini Non," ucap Mbak Fani.
Syanum sejak tadi masih sesenggukan menangis. Dia benar-benar bingung dengan apa yang harus dia lakukan sekarang.
Syanum menatap ke arah Mbak Fani. Dia kemudian mengusap air matanya.
"Mbak Dila mau pulang?"
__ADS_1
Mbak Fani mengangguk.
Beberapa saat kemudian, deru mobil sudah terdengar dari luar rumah Syanum.
"Itu pasti Non Dila datang," ucap Mbak Fani.
Sesampai di depan rumahnya, Dila, Dimas dan Adam turun dari mobilnya. Setelah itulah mereka masuk ke dalam rumah. Mereka buru-buru menghampiri Syanum dan duduk di dekat Syanum.
"Ada apa sebenarnya ini Mbak Fani?" tanya Dila menatap Mbak Fani lekat.
"Firen Non Dila. Firen di culik," jawab Mbak Fani.
"Apa!" Dila, Adam, dan Dimas terkejut.
"Mama, kenapa Mama? mana dedek Firen? apa benar dedek Firen di culik?" tanya Dimas.
Dila menatap Adam dan Dimas.
"Firen di culik," ucap Dila lemah.
Dila kemudian menatap ke arah Mbak Fani dan Syanum lagi.
"Terus, sekarang mana Abi?" tanya Dila.
"Tuan muda, lagi nyari Firen Non," jawab Mbak Fani.
"Masalah apa lagi ini Tuhan! kenapa sejak tahun kemarin, keluarga aku terkena musibah terus sih," ucap Dila sedih.
Dila bangkit berdiri. Dia kemudian menatap Adam.
"Mas, apakah kamu mau bantuin aku nyari ponakan aku? ponakan aku diculik Mas. Dia masih bayi. Aku takut penculiknya akan berbuat jahat paca Firen," ucap Dila.
"Iya Dil. Kita pergi sekarang yuk!" ajak Adam.
"Iya Mas."
Sebelum pergi, Dila menatap anaknya.
Dimas mengangguk. "Iya Ma."
Dila dan Adam kemudian melangkah pergi meninggalkan Syanum, Dimas dan Mbak Fani. Mereka melangkah ke depan.
Sesampai di depan rumah, Dila dan Adam masuk ke dalam mobil. Mereka kemudian meluncur pergi meninggalkan rumah Dila untuk ikut mencari Firen.
"Duh, aku harus cari Firen ke mana ya. Kasihan banget ponakan aku. Dia masih bayi, tapi dia malah hilang di culik orang. Sebenernya, apa mau penculiknya itu," gumam Dila.
Dia tidak habis fikir aja. Kenapa ada orang yang berani menculik Firen.
"Kamu sabar ya Dil. Aku yakin, Firen tidak akan kenapa-kenapa kok," ucap Adam.
"Aku heran Mas. Kenapa bisa sih, Firen di culik. Apa motif tuh orang nyulik Firen coba," ucap Dila.
"Mungkin, penculiknya itu lagi butuh uang. Aku yakin, sebentar lagi dia pasti akan nelpon dan minta tebusan."
"Kamu kok bisa mikir kayak gitu Mas?" Dila menatap tajam ke arah Adam.
"Sekarang kan lagi jamannya kesulitan uang Dil. Siapa tahu kan, kalau penculiknya itu menginginkan uang. Apalagi kalian kan orang kaya. Mereka pasti akan minta tebusan yang sangat banyak."
"Apa iya. Apa kita laporkan langsung saja ke polisi?"
"Jangan Dil. Kita cari dulu sampai ketemu ponakan kamu. Kalau sudah dua puluh empat jam, baru kita bisa lapor polisi, biar langsung di proses."
"Iya Mas."
"Berdoa aja. Semoga penculiknya tidak sampai ngapa-ngapain Firen."
"Iya Mas."
****
Di sebuah rumah kontrakan kecil, Mentari masih duduk di ruang tamu. Sejak tadi dia tampak masih menelpon seseorang.
__ADS_1
"Bagaimana? apa kamu berhasil menculik anaknya Fabian?"
"Iya saya berhasil bos. Saya lagi otw ke rumah kontrakan bos."
"Bagus. Cepat bawa bayi itu ke sini!"
"Baik bos."
Mentari tersenyum puas setelah anak buahnya itu berhasil menculik Firen. Itulah rencana Mentari selanjutnya. Dia ingin menghancurkan kehidupan Syanum dan Fabian karena dia dendam dengan mereka bedua.
"Aku memang nggak bisa memiliki Fabian. Tapi setidaknya, aku bisa memiliki anaknya. Aku ingin Syanum merasakan bagaimana rasanya kehilangan seorang anak. Kehilangan seseorang yang sangat dicintai. Seperti aku yang sudah kehilangan cinta Fabian," ucap Mentari.
Ring ring ring...
Suara ponsel Mentari tiba-tiba saja berdering. Mentari langsung mengangkat ponselnya.
"Halo."
"Mentari kamu ada di mana?"
"Ada apa sih Tan?"
"Dani nangis terus dari tadi. Tante fikir, dia lagi di kamar sama kamu. Ternyata, kamu nggak ada di kamar. Gimana sih Mentari, kalau pergi-pergi, bilang dulu ke Tante...!"
"Iya Tan. Maaf, sudah buat Tante cemas. Aku lagi ada urusan sebentar di luar. Tolong jaga Dani ya Tan."
"Iya. Cepat pulang, kalau urusannya sudah selesai ya. Dani jangan di tinggal-tinggal terus. Kasihan dia."
"Iya Tan, iya."
Tok tok tok ..
Suara ketukan sudah terdengar dari luar rumah Mentari.
"Halo Tan. Sudah dulu ya. Nanti aku telpon lagi,"
Tut Tut Tut...
Mentari langsung memutuskan saluran telponnya dengan sepihak. Mentari bangkit berdiri. Dia kemudian buru-buru melangkah untuk membuka pintu depan.
Mentari menatap tajam ke arah lelaki yang membawa bayi itu.
"Bagaimana Ndra? kamu berhasil membawa bayinya?" tanya Mentari.
"Iya bos. Ini bayi yang bos minta." Andra memperlihatkan bayi itu pada Mentari.
Mentari mengambil bayi yang ada di tangan Andra anak buahnya.
"Kerja yang bagus. Sekarang kamu boleh pergi," ucap Mentari.
Mentari langsung mengusir Andra pergi tanpa memberikan dia imbalan.
"Lho. Kok bos nyuruh aku pergi. Sebelum aku pergi, aku mau minta pembayaran aku dulu bos," ucap Andra.
"Apa! bayaran?" Mentari membelalakkan matanya.
"Ya iyalah. Sesuai kesepakatan kita. Kamu akan bayar aku, setelah aku berhasil menculik bayi Fabian," ucap Andra.
"Bayarannya nanti. Aku belum punya uang untuk bayar kamu. Kita minta tebusan dulu satu milyar ke Fabian. Baru setelah itu, kita bagi dua hasilnya. Bagus kan ide aku?"
"Yakin kan kamu nggak akan ingkari janji kamu?" tanya Andra.
"Yakin lah. Aku janji, nggak akan bohongin kamu. Nanti setelah kita berhasil mendapatkan uang itu, kita bagi dua hasilnya oke."
"Baik bos. Kalau begitu, saya permisi dulu."
Lelaki itu kemudian pergi meninggalkan rumah Mentari.
Mentari sekarang memang sengaja menyewa rumah untuk menyembunyikan bayi Syanum. Karena tidak mungkin untuk dia membawa bayi itu ke rumah Aira.
Mentari tidak mau, ada satu orangpun yang tahu tentang rencana dia. Dan dia juga tidak ingin ada yang tahu, rumah persembunyiannya yang sekarang. Termasuk Aira dan Bu Novi.
__ADS_1
"Aku akan sembunyikan terus bayi Abi di sini. Karena cuma dia tambang emas ku sekarang "