
Tiga bulan setelah kepergian Syanum. Fabian hanya menghabiskan waktu-waktunya untuk bekerja, bekerja dan bekerja.
Fabian jarang sekali ke luar kamar. Fabian lebih senang berdiam diri di kamar. Entah itu bermain game di ponselnya, membaca majalah, atau nonton tivi.
Fabian sudah putus asa. Karena dia tidak bisa menemukan Syanum setelah berhari-hari dia mencari Syanum.
Fabian saat ini, masih berada di atas sofa yang ada di kamarnya. Sejak tadi Fabian masih serius menatap ke layar monitornya.
Tok tok tok...
"Bi... Abi...!" seruan dari luar kamar Fabian sudah mengejutkan Fabian.
"Masuk Kak...!" seru Fabian.
Dila kemudian masuk ke dalam kamar Fabian. Dia menatap ke sekeliling. Kamar Fabian tampak sangat rapi.
"Wah, Bi. Tumben banget kamar kamu rapi begini. Enak banget dilihatnya."
"Mau ngapain ke sini?"
"Bi. Kamu nggak mau ikut makan?" tanya Dila.
"Nggak. Aku lagi sibuk."
Dila tersenyum dan duduk di sisi adiknya.
"Serius amat sih. Lagi ngapain sih?"
Fabian menegakan tubuhnya. Dia kemudian menatap ke arah Dila.
"Lagi banyak kerjaan di kantor Kak."
"Iya aku tahu. Papa juga bilang begitu sama aku. Kerjaan kantor nggak harus dikerjakan di rumah juga kan."
Fabian diam. Dia fokus kembali ke layar monitornya.
"Bi. Kamu kenapa jadi berubah sih?"
"Berubah gimana Kak? perasaan, nggak ada yang berubah deh," ucap Fabian.
"Bi. Kenapa sih akhir-akhir ini, kamu jarang banget ke luar kamar?" tanya Dila.
Dia merasa prihatin dengan perubahan sikap adiknya. Beberapa hari ini, Fabian jarang sekali ke luar kamar. Biasanya dia selalu berada di teras samping. Tapi sudah beberapa hari ini, Dila melihat Fabian berubah. Dila tidak tahu apa yang membuat adiknya itu berubah.
"Kak, Syanum nggak menghubungi kakak?" tanya Fabian tiba-tiba.
"Lho. Tumben amat kamu nanyain Syanum? kenapa? udah mula kangen ya?" ledek Dila.
"Bukan gitu. Aku cuma ngerasa bersalah aja. Karena aku yang sudah menyebabkan dia pergi dari rumah ini."
"Baru nyadar? kenapa kamu nggak cari Syanum?"
"Aku pusing Kak. Aku juga udah nggak mau mikirin Syanum lagi."
__ADS_1
"Kamu yakin? Syanum itu sekarang sedang mengandung anak kamu lho."
"Iya aku tahu. Makanya dari itu aku khawatir dengan kondisi dia sekarang."
'Syukurlah. Abi sudah mau sedikit-sedikit menyadari kesalahannya. Semoga saja, ini awal yang baik, untuk hubungan Abi dengan Syanum. Tapi, kemana Syanum ya. Dia hilang kabar begitu aja. Sudah lebih tiga bulan, dia nggak ngabarin aku.'
Dila bangkit berdiri.
"Bi. Aku ke luar dulu ya. Mama dan Papa pasti udah nunggu kita di bawah."
"Aku makannya nanti sajalah Kak. Kalian makan duluan aja,"
"Baiklah."
Dila kemudian pergi meninggalkan kamar Fabian. Dia melangkah turun ke bawah untuk ke ruang makan.
"Gimana Dil. Fabian lagi ngapain?" tanya Bu Reva.
Dila menggeleng.
"Dia nggak mau turun Ma." Dila menghempaskan tubuhnya di atas kursi meja makan.
"Kenapa lagi dengan Abi?" tanya Pak Damar.
"Biasalah. Lagi galau. Mungkin aja dia lagi kangen kan sama istrinya."
"Ya udah. Kita makan duluan aja," ajak Pak Damar.
"Dimas mana Dil? nggak ikut makan?" tanya Pak Damar.
"Dia udah tidur Pa. Kayaknya dia capek Pa."
"Dil. Setelah itu Papa mau bicara sama kamu," ucap Pak Damar tampak serius.
"Bicara apa?"
"Nanti, makan dulu aja kamu."
"Iya Pa."
Selesai makan malam, Pak Damar mengajak Dila untuk ke ruang tengah. Sepertinya dia ingin bicara serius dengan Dila.
"Ada apa Pa?"
"Dil. Papa ingin kamu kerja di kantor Papa Dil. Bantuin Ryan juga Abi."
"Lho. Kok gitu Pa?"
"Rencananya Papa ingin membuka cabang Dil."
"Oh iya?"
"Iya. Papa ingin kamu dan Abi nanti yang akan jadi seorang pemimpin untuk menggantikan Papa."
__ADS_1
"Papa mau, istirahat di rumah aja Dil. Papa ingin menghabiskan masa tua papa di rumah. Papa merasa udah lelah, harus bolak-balik ke kantor terus."
"Pa, kalau papa lelah, bolak-balik ke kantor, kenapa papa nggak cari sopir aja sih."
"Nggak Dil. Papa kurang percaya dengan orang baru. Papa cuma percaya sama Pak Herman."
"Ya Pak Herman kan udah meninggal. Kenapa papa nggak cari sopir yang lain aja. Kalau Dila kerja, lalu Dimas sama siapa Pa?"
"Di sini kan ada dua pembantu. Kamu kasihkan Dimas ke Mbak Fani atau Mbak Asih. Suruh mereka yang ngantar sekolah Dimas. Lagian Dimas itu kan udah gede Dil. Biarkan dia mandiri."
"Iya sih Pa. Aku tahu. Tapi aku belum tega ninggalin Dimas."
Bu Reva tiba-tiba saja duduk di sisi suaminya.
"Sudah hampir setahun suami kamu pergi Dil. Apa kamu, nggak mau cari pengganti untuk jadi ayahnya Dimas?" tanya Bu Reva.
"Mama ini bicara apa sih? ada angin apa, mama bicara seperti itu."
"Lho, kok gitu sih jawabannya. Kamu itu kan masih muda Dil. Perjalanan kamu masih panjang. Kamu tidak mungkin kan akan jadi single parents terus. Kamu juga pasti butuh seorang lelaki dalam kehidupan kamu."
"Betul apa yang dikatakan Mama kamu Dil. Kenapa kamu nggak cari suami lagi aja."
Dila tersenyum.
"Pa, Ma, Dimas itu masih kecil. Aku belum ada fikiran ke arah situ. Aku cuma mau fokus membesarkan anakku. Kalau soal nikah lagi, kalau sudah ketemu jodohnya, juga nanti nikah kok."
"Dil. Mama itu ingin punya banyak cucu. Biar rumah ini ramai terus. Jujur, kalau Papa pergi ke kantor dan kamu pergi ngantar Dimas sekolah, mama sangat kesepian."
Dila tersenyum.
"Mama, sebentar lagi mama juga akan punya cucu kok. Anaknya Abi. Apa mama lupa?"
Bu Reva tampak sedih.
"Tapi, mama nggak tahu di mana Syanum sekarang."
"Iya. Syanum kenapa lama banget menghilangnya. Kenapa dia nggak nelpon kita ya Ma," ucap Dila.
"Kalian nggak usah khawatir dengan Syanum. Dia sekarang ada di tempat yang aman," ucap Pak Damar tiba-tiba.
Dila dan ibunya saling menatap. Setelah itu dia menatap ke arah Pak Damar.
"Apa papa tahu, di mana Syanum?" tanya Bu Reva.
"Syanum sekarang ada di rumah Luna."
"Apa! kok papa nggak pernah bilang sama aku Pa?" Dila tampak terkejut.
"Kalau tahu dia ada di sana, aku pasti udah ke sana Pa."
"Papa emang sengaja. Papa nggak ngasih tahu kalian. Papa pengin tahu, bagaimana Abi setelah ditinggal Syanum."
"Aku yakin Pa. Abi itu sekarang sedang galau, dan dia lagi kangen sama Syanum. Makanya dia jadi berubah banget gitu. Tadi aja dia nanyain Syanum sama aku," ucap Dila.
__ADS_1