Mempelai Pengganti Tuan Muda

Mempelai Pengganti Tuan Muda
Fabian pergi


__ADS_3

"Oh iya. Ngomong-ngomong, mana pengantin baru?" tanya Luna menatap ke sekeliling mencari Syanum.


"Syanum ada di depan tadi, lagi nyiram bunga," jawab Kak Dila.


"Kok, aku nggak lihat dia ya di depan."


"Mungkin dia sudah masuk ke dalam," ucap Bu Reva.


"Oh iya. Gimana kabar orang tua kamu?" tanya Bu Reva pada Luna.


"Baik Tan."


"Mereka nggak ikut kamu dan Ryan ke Jakarta?" tanya Bu Reva lagi.


Luna menggeleng.


"Mereka itu kan sekarang udah jadi orang sibuk Tan. Boro-boro mikirin anaknya. Yang mereka fikirin itu cuma usaha, usaha, dan usaha, saja."


Dila tersenyum.


"Kamu jangan gitu dong Lun. Mereka itu kerja juga untuk kamu dan Ryan."


"Yah, begitulah Kak Dila. Sekarang sih, aku udah gede. Nggak begitu butuh banget orang tua. Yang aku butuhkan itu uang sekarang. Karena tanpa uang, aku juga nggak mungkin bisa ikut perawatan wajah, perawatan rambut dan perawatan kulit. Dan tanpa mama dan papa, aku juga nggak akan pernah bisa seperti sekarang."


Dila tersenyum. Dia memang sangat mengenal betul siapa Luna. Luna sangat rajin ke salon dan ikut perawatan kulit dan wajah. Makanya dia selalu tampak cantik dan mulus. Selain itu, dia juga sangat pandai merias.


Di sisi lain, Ryan masih mengobrol dengan Pak Herman. Tiba-tiba, tatapannya terpaku pada sosok cantik yang sedang menyiram bunga. Ryan tersenyum saat melihat Syanum.


"Wah, ada Syanum tuh. Aku samperin ah,"ucap Ryan.


Ryan buru-buru melangkah ke arah Syanum.


"Hai cantik," sapa Ryan.


Syanum menoleh ke arah Ryan dan tersenyum.


"Eh, Ryan. Kamu ada di sini. Kapan kamu datang?" tanya Syanum.


"Barusan Kak. Dan aku sama Luna Kak."


"Oh, terus Luna ke mana?"


"Sudah masuk ke dalam Kak. Ngomong-ngomong, lagi ngapain Kak?"


"Aku lagi nyiram bunga. Apa kamu nggak lihat."


"Iya. Aku lihat. Kak Fabian ke mana?"


"Dia ada di kamarnya. Masih tidur tadi."

__ADS_1


"Ih, dasar cowok pemalas. Jam berapa ini jam segini masih tidur. Kenapa nggak dibangunin Kak?"


"Biarin lah. Untuk apa di bangunin?"


Hehe...


***


Di kamarnya, Fabian masih terlelap. Dia masih berada di atas sofa kamarnya. Beberapa saat, dia terbangun setelah cahaya mata hari sudah menyinari kamarnya dengan sempurna.


Fabian mengerjapkan matanya. Dia menatap ke tempat tidurnya. Syanum sudah bangun dan meninggalkannya sendiri di kamar. Fabian kemudian melangkah ke arah jendela.


Fabian terkejut saat mendapati pemandangan yang tidak mengenakan di bawah. Di halaman depan rumah, Fabian melihat Syanum dan Ryan sedang asyik mengobrol. Fabian tidak tahu apa yang sedang di obrolkan ke dua orang itu.


Fabian menghela nafasnya dalam dan mengepalkan tangannya geram.


"Hah, Syanum...! kenapa sih, lagi-lagi kamu ngobrol sama Ryan."


Fabian memukul dinding sampai tangannya terluka. Namun, dia tidak merasakan luka itu. Yang dia rasakan adalah panas. Hatinya benar-benar panas saat melihat Syanum dan Ryan.


Mungkin dengan lelaki lain, Fabian tidak akan secemburu ini. Tapi ini Ryan. Fabian sudah tahu sekali sepak terjang Ryan. Dia itu terkenal sebagai seorang playboy. Dan Luna adiknya sendiri, yang sering cerita kalau kakaknya itu sudah sering sekali gonta-ganti cewek. Dan entah berapa wanita yang selama ini sudah dia pacari. Dan Fabian tidak mau kalau Syanum akan terjerat juga pada Ryan.


"Hah, kenapa dengan hatiku. Kenapa aku marah, saat melihat Syanum dengan Ryan. Apa aku cemburu? nggak. Aku nggak boleh sampai cemburu apalagi sampai jatuh cinta sama istriku. Aku nggak mau, hal itu sampai terjadi."


Walau Fabian selalu mencoba menepis perasaan itu, namun semakin hari, perasaan sayang itu semakin dalam. Bahkan perasaan itu sekarang sudah berubah menjadi perasaan cinta. Dan mungkin sebentar lagi, Mentari akan tergeser dari hati Fabian.


Fabian melangkah untuk mengambil handuk. Setelah itu, dia melangkah ke arah kamar mandi. Fabian kemudian mandi. Selesai mandi, Fabian ganti baju.


Fabian melangkah menuruni anak tangga.


"Hai Kak Fabian," sapa Luna.


Fabian diam. Dia sama sekali tidak menyapa Luna sedikitpun.


"Bi. Kamu mau ke mana?" tanya Kak Dila.


"Aku mau pergi Kak,"


"Pergi ke mana?" tanya Bu Reva.


"Ke mana aja. Pusing aku di rumah."


Fabian kemudian mencium punggung tangan Bu Reva dan Kak Dila. Setelah itu,dia pun pergi meninggalkan ruang keluarga.


Fabian melangkah ke arah depan. Dia kemudian melangkah ke garasi mobilnya. Setelah itu, dia melajukan kendaraannya keluar dari gerbang rumahnya.


Syanum sejak tadi, masih memperhatikan kepergian suaminya.


"Suami kamu mau ke mana?" tanya Ryan.

__ADS_1


"Nggak tahu Ryan. Dia kalau pergi, nggak pernah bilang apa-apa sama aku. Aku juga bingung sama dia."


"Sabar ya." Ryan menepuk bahu Syanum.


Syanum hanya mengangguk.


****


Siang ini, Syanum dan Luna masih ngobrol di halaman samping rumah. Mereka masih bercakap-cakap di sisi kolam renang.


"Kak Syanum, lama sekali ya Kak, kita nggak ketemu," ucap Luna.


"Iya. Berapa bulan ya kita nggak ketemu?"


"Waktu kamu nikahan sama Kak Fabian."


"Oh iya."


"Aku lagi sibuk skripsi Kak. Jadi aku jarang pergi jauh-jauh. Dan waktu itu, aku juga kan ke sini cuma mau menghadiri pernikahan Kak Fabian aja. Terus, aku balik lagi ke Jogja. Kalau sekarang sih, aku sudah santai."


"Oh..." Syanum manggut-manggut. Sementara Luna sejak tadi, masih senyam-senyum sendiri.


"Lun. Kamu kenapa?" tanya Syanum menatap Luna lekat. Dia bingung kenapa sejak tadi Luna hanya senyam-senyum sendiri.


"Kak, bisikin dong sama aku. Berbagi pengalaman gitu, siapa tahu nanti aku juga akan sama seperti kakak."


"Apa sih? bisikin apa?" tanya Syanum tampak tak mengerti.


Luna mengisyaratkan dengan tangannya.


"Itu Kak. Em... malam pertama. Gimana malam pertama kamu sama Kak Fabian?"


Syanum melotot ke arah Luna. Baru pertama kalinya ada orang yang berani bertanya soal itu.


'Hah, malam pertama apaan. Sampai sekarang aja, suamiku belum pernah mau menyentuhku. Bagaimana ada malam pertama. Adanya juga malam-malam pahit yang setiap malam aku jalani.' batin Syanum.


"Kak, kok diam aja sih? gimana Kak?"


Syanum diam. Mungkinkah dia akan membicarakan masalah privasinya pada orang lain.


"Lun. Kamu ini apaan sih? nggak usah tanya sama aku soal malam pertama. Nanti, kamu juga tahu sendiri."


"Yah, kok gitu sih Kak."


"Ini itu soal privasi orang. Untuk apa kamu harus tahu."


"Kak, kan cuma sama aku doang. Nggak sama orang lain. Aku tahu ini rahasia. Tapi, nggak apa-apa kan kalau berbagi pengalaman, sesama perempuan."


Syanum menepuk bahu Luna.

__ADS_1


"Luna...! jangan tanyakan soal itu ke aku. Tanya sama orang lain aja. Karena aku tidak pernah punya pengalaman dalam hal itu. Aku ini masih gadis Luna, mana aku tahu bagaimana malam pertama."


Akhirnya Syanum keceplosan juga, kalau dia belum pernah merasakan malam pertama.


__ADS_2