Mempelai Pengganti Tuan Muda

Mempelai Pengganti Tuan Muda
Sikap aneh Fabian.


__ADS_3

Fabian masih berdiri di sisi jendela kamarnya. Dia masih menatap ke luar jendela kamarnya. Entah apa yang sedang Fabian fikirkan saat ini.


Ring ring ring...


Suara ponsel Fabian tiba-tiba saja, berdering. Dia melangkah ke arah tempat tidurnya untuk mengambil ponselnya.


Fabian menatap nama Mentari yang ada di dalam ponsel.


"Ah, ngapain sih Mentari nelpon. Malas banget aku angkatnya," ucap Fabian.


Fabian menghela nafas dalam. Dia kemudian duduk di sisi ranjangnya tanpa menyentuh ponselnya. Dia malas untuk mengangkat telpon dari Mentari.


Ring ring ring...


Suara ponsel Fabian lagi-lagi berdering. Dan masih dengan telpon dari Mentari.


"Mau apa sih Mentari nelpon. Aku malas berhubungan lagi sama dia. Gara-gara dia kan, aku di musuhi semua orang di rumah ini. Tapi kalau di angkat, nanti dia nelpon terus," gumam Fabian.


Fabian akhirnya mengangkat telpon Mentari.


"Halo Tar. Ada apa Tar?"


"Bi. Kamu lagi ngapain?"


"Aku nggak lagi ngapa-ngapain kok."


"Ganggu nggak Bi?"


"Nggak juga kok."


"Bi. Aku cuma mau cerita sama kamu Bi."


"Cerita apa?"


"Rumah aku mau di jual Bi. Untuk melunasi hutang-hutang Papa. Termasuk hutang aku ke kamu."


"Oh. Gitu. Terus?"


"Bi. Aku sedih banget Bi. Kalau rumah ini di jual, aku bingung mau tinggal di mana Bi."


"Ya kamu tinggal dengan Aira dan Tante Novi dong. Mereka kan saudara kamu."


"Bi. Aku nggak suka sama Aira. Kalau aku tinggal bersama Aira, aku akan berantem terus sama dia"


"Ya udah nggak usah di jual. Repot amat."


"Tapi Bi. Papa juga punya hutang di bank Bi. Gimana nanti kalau ada yang nagih ke rumah aku. Aku akan bayar hutang Papa itu pakai apa? pakai daun?"


"Mentari. Itu semua urusan kamu Mentari. Nggak ada urusannya sama aku."

__ADS_1


"Tapi aku kan cuma mau cerita sama kamu Bi. Aku bingung banget Bi. Sekarang aku nggak punya teman lagi untuk curhat."


"Mentari. Menurut aku nih ya. Kamu temuin Mario deh. Atau kamu temui orang tuanya. Kamu minta pertanggungjawaban dia atas anak itu. Aku yakin kok, Mario mau tanggung jawab. Dia itu kan cinta mati sama kamu. Dan aku tahu, kalau orang tuanya juga baik banget. Mereka pasti mau menerima kamu. Dan mereka juga pasti bisa menampung kamu di rumah mereka kalau kamu mau jadi istrinya Mario."


"Bi. Kok kamu bisa bicara seperti itu sih. Aku nggak mau Bi ketemu sama Mario lagi. Apalagi untuk meminta pertanggungjawaban dari dia."


"Ya terus kamu mau apa?"


"Bi. Sebenarnya aku mau bilang. Kalau aku susah sekali Bi untuk melupakan kamu. Aku pengin belajar untuk melupakan kamu. Tapi aku nggak bisa Bi. Susah banget Bi."


"Terus maksud kamu apa bilang seperti itu."


"Kalau bisa sih, aku ingin balikan lagi sama kamu."


"Apa kamu sudah gila Mentari. Aku ini sudah punya istri."


"Tapi kan, istri kamu pergi Bi. Katanya dia nggak cinta sama kamu. Kamu juga nggak cinta kan sama dia. Kalau kalian saling nggak cinta, untuk apa kalian bertahan. Mending kalian mencari kebahagiaan kalian masing-masing."


"Mentari. Aku nggak bisa Mentari. Aku nggak bisa meninggalkan istri aku. Dia sekarang lagi hamil anak aku. Aku nggak mau mengorbankan anak aku hanya karena keegoisan aku."


"Bi. Apa kamu sudah benar-benar melupakan aku. Apa kamu nggak punya keinginan untuk kita kembali. Atau sekarang, kamu sudah mulai mencintai istri kamu?"


"Aku nggak bisa jawab soal itu Mentari. Aku bingung Mentari. Kalau sudah tidak ada yang perlu di bicarakan lagi, lebih baik kamu tutup aja telponnya Mentari."


"Baiklah Bi. Maaf kalau ganggu."


Tut Tut Tut ..


Tok tok tok ...


Suara ketukan pintu kamar Fabian terdengar.


"Tuan muda, Tuan muda..." seru Mbak Asih.


Fabian melangkah untuk menghampiri pintu kamarnya. Dia kemudian membuka pintu kamarnya.


"Mbak Asih. Ada apa?" tanya Fabian.


"Tuan muda nggak mau makan? kalau mau makan, Mbak tunggu. Kalau nggak mau makan, Mbak akan beresin semua makanannya," tanya Mbak Asih.


"Aku memang lapar Mbak. Nggak usah di beresin, aku mau makan dulu."


"Iya Tuan muda."


Fabian kemudian melangkah turun ke bawah untuk makan. Sejak tadi, dia memang tidak selera untuk makan. Entah kenapa sekarang dia jadi lebih sering melamun memikirkan Syanum.


Fabian menghempaskan tubuhnya di atas kursi ruang makan. Dia kemudian mengambil piring dan mencedokan nasi dan lauk pauk.


"Ke mana semua orang?" tanya Fabian di sela-sela kunyahannya.

__ADS_1


"Mereka udah pada masuk kamar Tuan muda," jawab Mbak Asih sembari menuang air minum di gelas Fabian.


"Mbak Asih, Mbak Asih tahu nggak ke mana Syanum?" tanya Fabian yang membuat Mbak Asih terkejut.


"Lho. Kok Tuan muda nanyain Syanum ke Mbak. Tumben banget," ucap Mbak Asih.


"Emang nggak boleh aku nanyain Syanum? dia kan istri aku. Dia juga lagi mengandung anak aku."


"Tuan muda kangen ya sama Non Syanum?"


"Bukan gitu Mbak . Aku cuma penasaran aja, sama kandungan Syanum sekarang. Aku pengin pegang perut Syanum. Aku nggak sabar Mbak, pengin cepat lihat anak aku lahir ke dunia ini," gumam Fabian sembari senyam-senyum sendiri.


Mbak Asih merasa heran dengan perubahan sikap Fabian. Tidak biasanya dia bertanya soal Syanum padanya.


"Syanum nggak pernah nelpon Mbak atau chat Mbak gitu?" tanya Fabian menatap Mbak Asih yang sekarang sedang membereskan lauk pauk yang ada di atas meja makan.


"Nggak Tuan muda."


"Em, atau mungkin Syanum udah ganti nomer?"


"Mungkin aja Tuan muda."


"Kalau nanti, Syanum nelpon atau ngabarin Mbak, bilang sama aku ya. Kasih tahu nomernya Syanum ke aku. Biar aku bisa telpon dia. Aku ingin tahu keadaan anak aku Mbak."


"Iya Tuan muda. Nanti ya kalau Non Syanum ngabarin Mbak."


Mbak Asih melangkah untuk ke dapur. Namun, sebelum sampai ke dapur, Fabian mencegahnya.


"Mbak Asih. Sini deh!"


Mbak Asih mendekat ke arah Fabian.


"Ada apa Tuan muda?"


"Duduk dulu di sini. Temani aku."


"Apa!"


"Jangan salah paham. Aku cuma mau bicara sebentar. Aku nggak akan macam-macam kok sama Mbak Asih."


Mbak Asih kemudian menurut duduk di dekat Entah apa yang akan Fabian katakan.


Fabian kemudian menghabiskan makanannya sebelum dia melanjutkan bicara sama Mbak Asih.


"Tuan muda mau bicara apa sih?" tanya Mbak Asih yang sudah mulai tidak enak berada di dekat Fabian.


"Tuan muda. Cepetan mau bicara apa? Mbak lagi banyak kerjaan nih."


"Santai aja lagi Mbak."

__ADS_1


Fabian menatap Mbak sih lekat.


"Mbak kan sudah mengenal Syanum lama, menurut Mbak, Syanum itu wanita yang gimana sih?"


__ADS_2