Mempelai Pengganti Tuan Muda

Mempelai Pengganti Tuan Muda
Pertengkaran Aira dan Mentari.


__ADS_3

Sepulang kerja, Aira memutuskan untuk ke rumah sakit, untuk melihat keadaan Om dan sepupunya di sana.


Sebelum ke rumah sakit, Aira sudah menelpon ibunya agar ibunya mau ikut bersamanya ke rumah sakit.


Aira naik taksi untuk sampai ke rumahnya.


"Tunggu di sini Pak. Saya mau panggil mama saya dulu."


"Baik Mbak."


Aira turun dari taksi. Setelah itu, dia melangkah masuk ke dalam rumahnya untuk memanggil ibunya.


Beberapa saat kemudian, Bu Novi dan Aira ke luar. Mereka kemudian masuk ke dalam taksi.


"Kita mau ke mana lagi?" tanya sopir taksi.


"Kita ke rumah sakit ya Pak," jawab Bu Novi.


"Baik Bu."


Bu Novi dan Aira kemudian meluncur ke rumah sakit. Sesampai di rumah sakit, mereka turun dari taksi. Mereka kemudian melangkah masuk ke dalam rumah sakit dan langsung menghampiri resepsionis.


"Ma, Mama temui Om Riko. Dan aku temui Mentari. Nanti kalau Mama udah menemui Om Riko. Mama ke ruangan Mentari ya Ma. Aku mau bicara dulu sebentar sama Mentari. Setelah itu, aku akan jengukin Om Riko. "


"Iya."


Bu Novi dan Aira kemudian menanyakan ruangan Pak Riko dan Mentari. Setelah itu, mereka melangkah untuk ke ruangan masing-masing. Aira ke ruangan Mentari. Dan ibunya ke ruangan Pak Riko.


Di ruangannya, Mentari masih menangis di kesendiriannya. Dia bingung dengan apa yang akan dia lakukan sekarang. Dia merasa sangat kerepotan. Dia juga belum bisa bebas bergerak karena kondisinya yang masih sangat lemah.


Ceklek.


Pintu ruangan Mentari terbuka lebar. Mentari terkejut saat melihat Aira tiba-tiba saja datang. Mentari langsung menghapus air matanya.


"Aira. Kenapa kamu masuk nggak bilang-bilang dulu sih?" gerutu Mentari.


"Mentari. Kamu itu kenapa sih? Om Riko sakit, bukannya kamu yang ngasih kabar ke Mama atau ke aku. Malah Fabian yang ngasih kabar," ucap Aira.


"Maaf Ra. Aku nggak sempat ngasih kabar ke kamu Ra. Aku panik banget waktu itu. Aku cuma ingat sama Fabian saja waktu itu."


"Lagian ya. Aku heran ke kamu. Kenapa sih kamu itu masih dekatin aja Fabian. Fabian itu sudah punya istri lho Tar. Move on kek. Harusnya kamu nggak usah nyuruh Fabian ke sini segala. Pakai acara temani kamu lahiran lagi."


Aira tampak cemburu saat mengetahui kalau Fabian nginap di rumah sakit demi menemani Mentari melahirkan.

__ADS_1


Mentari tidak terima dengan ucapan Aira.


"Kamu bilang apa tadi? siapa yang mau dekati Fabian. Bukannya kamu Ra yang selama ini masih selalu pepetin Fabian. Buktinya kamu, bela-belain kerja di kantor dia. Ngaca deh Ra. Fabian itu nggak pernah suka sama kamu. Dia itu cuma cinta sama aku Ra. Nggak akan ada wanita yang bisa gantikan aku di hati Fabian. Termasuk istrinya Fabian, si Syanum Syanum itu."


"Yakin banget kamu ngomong kayak gitu? sekarang aku yang lebih tahu tentang Fabian Tar. Setiap hari, aku sekantor dengannya. Aku dekat dengan dia, dan aku yang menjadi tempat curhat dia. Aku tahu perasaan Fabian ke istrinya itu seperti apa. Kamu nggak usah kepedean deh Tar. Fabian itu udah lama move on dari kamu. Dan aku yakin, kalau Fabian itu sekarang sudah mulai mencintai Syanum," ucap Aira.


Aira memang sengaja membuat hati Mentari panas. Padahal, Aira cuma ngaku-ngaku saja kalau selama ini, Aira itu dekat dengan Fabian. Padahal akhir-akhir ini, Fabian tidak pernah mau bergaul dengan orang. Apalagi dengan Aira.


"Apa! kamu yakin? bukankah istri Fabian itu sudah meninggalkan Fabian. Nggak mungkin kalau sekarang Fabian itu mulai mencintai istrinya. Syanum kan sudah meninggalkan Fabian. Fabian sudah cerita semua sama aku."


"Fabian juga cerita sama aku. Dan aku yakin. Syanum pergi juga pasti karena kamu kan Tar. Setelah kamu kembali di kehidupan Fabian, hidup Fabian jadi berantakan. Istrinya juga pergi. Ini pasti semua gara-gara kamu."


"Kok kamu jadi nyalahin aku sih Ra. Harusnya kamu belain aku dong Ra. Aku ini kan sepupu kamu."


"Aku nggak mau punya sepupu pelakor macam kamu Mentari. "


Mentari tiba-tiba saja mendorong tubuh Aira.


"Jangan munafik kamu Ra! kamu juga kerja di kantor Fabian karena ada maunya kan. Waktu aku pergi, kamu ingin dekatin Fabian kan. Kamu ingin merebut dia dari aku."


"Hei...Mentari. Kamu lupa. Kalau Fabian itu sekarang milik Syanum. Jangan ngaku-ngaku kalau Fabian itu milik kamu. Kamu kan yang sudah membuang Fabian. Kamu yang sudah mengecewakan semua orang dengan pergi dari pesta pernikahan kamu."


Pertengkaran adu mulut, di antara Mentari dan Aira tidak bisa dihentikan lagi. Mereka saling dorong, hingga akhirnya saling jambak. Mereka tidak menyadari kalau sejak tadi, bayi Mentari itu nangis.


Ceklek.


"Apa-apaan ini Aira, Mentari. Kok aku tinggal sebentar, malah berkelahi seperti ini."


Bu Novi bingung. Di sisi lain, dia harus mengambil bayi yang ada di boks, dan di sisi lain, dia harus memisah perkelahian Aira dan Mentari.


"Aira...! stop Aira...!" teriak Bu Novi.


"Mentari. Hentikan...!"


Bu Novi jadi bingung. Akhirnya dia mengambil bayi Mentari dan melangkah pergi meninggalkan ruangan itu untuk memanggil suster. Bu Novi tidak tega melihat bayi itu sejak tadi menangis terus.


"Suster. Tolong pisahkan anak saya dan ponakan saya. Mereka berantem. Kasihan bayinya Sus," ucap Bu Novi.


"Baik Bu."


Suster melangkah ke arah ruangan Mentari. Dia kemudian melerai Mentari dan Aira. Namun, tampaknya suster itu kewalahan saat menghadapi Mentari dan Aira.


Beberapa saat kemudian, seorang satpam masuk ke dalam ruangan Mentari. Dia memisahkan Mentari dan Aira.

__ADS_1


"Berhenti...! jangan pada berantem di sini. Ini rumah sakit. Kalau kalian mau berantem, silahkan ke luar. Nggak usah berantem di sini...!" ucap Satpam dengan nada tinggi.


Mentari dan Aira kemudian berhenti. Dia menatap ke arah satpam, suster, dan Bu Novi.


"Apa-apaan sih kalian ini. Kenapa kalian malah berantem. Kalian nggak kasihan sama bayi ini?" tanya Bu Novi menatap Aira dan Mentari bergantian.


Aira dan Mentari menatap ke arah bayi yang ada di dalam gendongan Bu Novi.


"Mbak Mentari. Anda baru saja melahirkan. Kenapa anda malah nekat berkelahi sih. Apa anda tidak kasihan dengan diri anda sendiri dan bayi anda?" suster menatap Mentari tajam.


"Dia duluan yang mulai Sus." Mentari menunjuk ke arah Aira yang sejak tadi masih merapikan rambutnya yang acak-acakan karena Mentari.


"Apa kamu bilang. Kamu duluan yang mulai dorong aku. Dia duluan Ma, yang mulai."


"Sudah. Jangan ada yang saling menyalahkan. Kalian salah semua," ucap Bu Novi. Dia tidak membela salah satu dari mereka sedikitpun.


Bu Novi menatap satpam.


"Pak. Terimakasih untuk bantuannya Pak."


"Baik Bu." Satpam menatap ke arah Mentari dan Aira. "Saya peringatkan untuk kalian berdua. Kalau sekali lagi saya melihat kalian berdua berantem lagi seperti tadi. Saya tidak akan segan-segan mengusir kalian berdua dari rumah sakit ini. Termasuk kamu...!" Pak Satpam menunjuk ke arah Aira.


"Kok aku sih Pak Satpam."


"Iya. Karena kamu itu kan bukan pasien di sini."


Pak satpam kemudian pergi meninggalkan ruangan Mentari.


"Aduh perut aku..." Mentari tiba-tiba memegangi perutnya.


Bu Novi buru-buru mendekat ke arah Mentari..


"Kenapa perut kamu Mentari?" tanya Bu Novi.


"Perut aku sakit banget Tan."


"Perut kamu sakit?"


"Iya Tan."


"Suster. Tolong periksa Mentari Sus. Saya takut terjadi apa-apa sama ponakan saya."


"Baik Bu."

__ADS_1


Suster kemudian memeriksa kondisi Mentari.


__ADS_2