Mempelai Pengganti Tuan Muda

Mempelai Pengganti Tuan Muda
Penolakan Mario.


__ADS_3

Mario perlahan-lahan mulai pulih dari sakitnya. Dia sudah bisa duduk dan berjalan walau kakinya masih sedikit pincang.


Saat ini, dia masih berada di halaman depan rumahnya. Setiap pagi, dia selalu ditemani Bu Adela berjemur untuk membantu kesembuhannya.


"Bun. Apa udah ada kabar lagi dari Mentari?" tanya Mario menatap ibunya lekat.


Sejak Mario pulang dari rumah sakit, Mentari tidak pernah menghubunginya lagi. Bahkan memberi kabar pun tidak.


"Mentari?" tanya Bu Adela.


"Iya Bun. Aku pengin lihat anak aku," jawab Mario.


Bu Adela tersenyum.


"Saat ini, bunda lagi mau fokus dulu dengan kesehatan kamu Mario. Bunda tidak mau terlalu memikirkan Mentari. Bunda tidak suka dengan Mentari. Dia itu tidak pernah punya sopan santun," ucap Bu Adela.


"Tapi Bun. Aku pengin nikahin dia. Untuk menebus semua kesalahan aku di masa lalu, karena aku sudah menghamili dia," ucap Mario.


Bu Adela tersenyum.


"Kamu yakin, akan bahagia jika kamu menikah dengan Mentari. Yang bunda lihat, dia itu tidak cinta sama kamu. Tatapannya, juga seperti membenci kamu," ucap Bu Adela.


"Tapi Bun. Aku yakin, kalau suatu saat, Mentari akan berubah mencintai aku. Barang kali, kalau kita sudah menikah, dia akan berubah," ucap Mario penuh keyakinan.


"Dari pada sama Mentari, kenapa kamu nggak nyoba dekatin Aira aja. Menurut bunda, Aira itu gadis yang sangat sopan. Yah, walaupun dia agak sedikit ketus, tapi dia baik dan dia juga gadis yang mandiri. Dan punya pekerjaan tetap." Bu Adela justru lebih mendukung Mario dengan Aira dari pada Mario dengan Mentari.


"Apa maksud bunda? kenapa bunda harus bawa-bawa Aira. Emang Aira mau sama aku? dan aku juga nggak cinta sama Aira."


"Tapi tetap aja. Bunda lebih suka sama Aira dari pada Mentari."


Bu Adela bangkit berdiri. Dia kemudian melangkah masuk ke dalam rumahnya.


Ring ring ring...


Tiba-tiba saja, suara deringan ponsel Mario terdengar.


Mario menatap ponselnya yang ada di atas meja. Dia tersenyum saat melihat panggilan dari Mentari.


"Halo sayang...!"


"Sayang, sayang, berhentilah kamu panggil aku sayang Mario. Jijik aku tahu ngga mendengarnya."


"Mentari. Kamu itu kenapa sih. Kenapa kamu harus jutek terus sama aku. Sekali-kali kek, kamu ramah-ramahin aku. Ada apa kamu nelpon aku?"


"Mario. Aku lagi bingung sekarang."


"Bingung kenapa?"

__ADS_1


"Aku lagi butuh teman untuk curhat."


"Kamu ceritanya mau curhat sama aku. Ya udah, datang aja ke rumah aku."


"Benar?"


"Iya. Tapi bawa anak kita juga ya sayang."


"Iya. Aku akan ke sana. Tapi sendiri...!"


Tut Tut Tut...


Tiba-tiba saja Mentari sudah memutuskan saluran telponnya.


"Kenapa sih ini cewek. Galak banget. Pagi-pagi gini, udah di galakin begini. Belum juga jadi istri. Gimana nanti kalau dia udah jadi istri aku. Aku harus benar-benar menjadi lelaki yang super sabar menghadapi istri sedingin Mentari," ucap Mario.


Dia tersenyum dan hanya bisa geleng-geleng kepala. Dia kemudian meletakan ponselnya kembali di atas meja.


Sebenarnya Mentari memang sedang punya masalah dengan keuangannya. Dia benar-benar bingung, karena uang sisa jual rumah sudah habis. Dan Mentari juga tidak mungkin terus menerus meminta pada Bu Novi ataupun Aira.


"Apa aku dekatin Mario aja ya. Mario kan orang tuanya tajir. Pasti Mario juga punya banyak duit dong. Apa aku, manfaatin Mario aja ya," ucap Mentari.


Mentari kemudian bersiap-siap untuk pergi ke rumah Mario. Setelah siap, dia melangkah ke boks bayi tempat di mana Dani tidur.


"Dani. Sekarang kamu harus ikut aku untuk ketemu Mario," ucap Mentari.


Mentari kemudian mengangkat tubuh Dani dan menggendongnya.


"Mentari. Kamu mau ke mana?" tanya Bu Novi.


"Aku mau ajak Dani jalan-jalan ke depan," jawab Mentari.


"Tapi Dani kan masih tidur. Dan dia juga belum mandi kan?"


"Yah, nggak apa-apa. Aku cuma mau bawa dia jalan-jalan aja. Dekat sini aja kok Tan."


"Ya udah. Jangan bawa dia jauh-jauh. Kasihan dia masih nyenyak gitu."


Mentari buru-buru melangkah pergi meninggalkan ruang tengah. Dia kemudian menuju ke jalan raya untuk menunggu taksi di sana. Pagi ini, dia akan pergi ke rumah Mario. Entah apa lagi rencana dan tujuannya.


Sesampai di depan rumah Mario, taksi yang di tumpangi Mentari berhenti. Mentari turun dari taksi dan melangkah masuk ke halaman depan rumah Mario.


Dia menatap Mario yang tampak masih duduk di teras. Mentari dengan menggendong bayinya, melangkah mendekat ke arah Mario.


"Mario," ucap Mentari.


Mario tersenyum. Dia bangkit berdiri dan melangkah mendekat ke arah Mentari.

__ADS_1


"Sayang," ucap Mario sembari merentangkan tangannya. Sepertinya dia akan memeluk Mentari.


"Berhenti Mario. Apa yang kamu kamu lakukan? kamu mau peluk aku?"


"Kenapa sayang? aku kangen sama kamu. Aku juga kangen dengan anak kita."


Mentari diam.


'Aku harus sabar menghadapi lelaki rese ini. Dari dulu, dia memang selalu rese,' batin Mentari.


"Ya udahlah. Duduk aja Mentari!" Mario mempersilahkan Mentari untuk duduk.


Mentari kemudian duduk di sisi Mario.


"Mana ayah dan ibu kamu?" tanya Mentari.


"Ayah ke kantor. Bunda aku, lagi pergi ke pasar," jawab Mario.


"Bunda kamu, sudah pergi dari tadi?"


"Nggak. Baru aja dia pergi."


Mario sejak tadi masih menatap ke arah Dani. Bayi mungil yang ada di gendong Mentari. Bayi yang sudah hampir menginjak empat bulan itu, tampak sangat nyenyak dalam gendongan ibunya.


"Waktu jam empat pagi dia bangun. Dan setengah enam, dia tidur sampai sekarang dia belum bangun," jelas Mentari.


Mario tersenyum.


"Kenapa kamu harus ajak dia. Kenapa kamu ngga tinggal dia di rumah aja. Kasihan dia di bawa pergi-pergi jauh sampai ke sini."


"Kan kamu yang nyuruh aku ngajak Dani. Gimana sih?" ucap Mentari kesal.


"Boleh aku menggendongnya Mentari?" tanya Mario.


"Nggak usah. Kamu nggak akan bisa menggendong dia. Sudahlah, lagian kamu juga baru pulih."


Mentari dan Mario saling diam. Mentari menghela nafasnya dalam.


"Mario. Aku lagi butuh uang banget sekarang Mario," ucap Mentari tanpa banyak basa-basi lagi.


"Butuh uang untuk apa?" tanya Mario.


"Kamu kan tahu, sejak rumah aku di jual dan papa aku meninggal, aku masih lontang-lantung nganggur seperti ini. Kerja pun, aku nggak bisa karena punya bayi. Tante Novi dan Aira, nggak ngizinin aku kerja. Jujur aku jenuh kalau aku harus di rumah terus. Aku juga butuh uang, untuk keperluan anak kita. Seharusnya, kamu itu ikut nafkahi anak kamu dong Mario. Bantu aku, untuk beli popok, dan beli susu untuk Dani."


Mario tampak berfikir.


"Kalau kamu mau aku nafkah dari aku, kamu harus nikah dulu dengan aku."

__ADS_1


"Aku mau nikah sama kamu, asal kamu mau menculik anaknya Fabian."


"Apa! kamu masih punya fikiran kotor itu. Untuk apa kita harus culik anaknya Fabian. Kalau itu aku nggak mau Mentari. Itu namanya aku berbuat kriminal. Aku nggak mau masuk penjara. Jangan gila kamu Mentari."


__ADS_2