
Pagi ini, Pak Bandi, tampak masih menyeruput kopi di teras depan rumahnya. Sejak tadi, dia masih membaca surat kabar. Tiba-tiba, tatapannya terpaku pada sosok cantik yang ada di dalam sebuah surat kabar.
"Ini bukankah Mentari?" gumam Pak Bandi. Pak Bandi sejak tadi masih membaca info orang hilang. Dan dia menemukan foto Mentari di sana.
"Lisa...! Lisa...!" seru Pak Bandi dari luar rumahnya. Dia memanggil Lisa anaknya.
Beberapa saat kemudian, Lisa keluar dan menghampiri ayahnya.
"Papa. Ada apa?" tanya Lisa.
"Lisa. Coba kamu lihat deh ini. Ini bukankah gadis yang kamu bawa ke rumah ini?" Pak Bandi menunjuk ke arah gadis cantik yang ada di dalam surat kabar.
Lisa langsung merebut surat kabar itu dari tangan ayahnya.
"Coba sini aku lihat...!"
Lisa kemudian membaca nama Mentari di sana dan ciri-cirinya.
"Papa. Benar, ini Mentari. Ternyata sekarang, orang tuanya sedang mencari keberadaannya," ucap Lisa.
"Lisa. Kamu harus antarkan Mentari pulang ke rumah Nak. Kasihan orang tuanya. Pasti sejak Mentari menghilang dari kehidupan mereka, mereka terus saja cemas memikirkan keberadaan Mentari."
Lisa duduk di sisi ayahnya.
"Tapi, Mentari belum mau pulang ke rumah orang tuanya Pa."
"Lisa. Kamu harus kembalikan Mentari ke orang tuanya. Bagaimanapun kondisinya saat ini, orang tua yang punya kewajiban untuk menjaganya. Fadlan dan kamu, itu cuma orang lain. Kalian boleh saja membantu. Tapi kasihan orang tua Mentari. Bagaimana jika Papa yang ada di posisi orang tua Mentari. Kamu kabur dari rumah dan tak tahu di mana keberadaan kamu. Papa pasti akan sangat sedih," ucap Pak Bandi panjang lebar.
Lisa tampak berfikir. Benar juga apa yang dikatakan ayahnya.
"Benar apa kata Papa. Tapi aku harus bilang Mas Fadlan dulu Pa."
"Pokoknya kamu dan Fadlan harus bawa Mentari pulang. Kalian harus mengembalikan Mentari ke rumah orang tuanya dan tidak boleh menyembunyikan dia terus."
Lisa mengangguk.
"Iya Pa. Tapi tolong, untuk sekarang, jangan bilang-bilang dulu sama Mentari. Nanti aku akan bicarakan ini dengan Mas Fadlan."
"Iya Lis."
Pak Bandi bangkit berdiri. Setelah itu dia melangkah masuk ke dalam rumahnya. Sementara Lisa masih berada di teras.
****
Ring ring ring...
Suara deringan ponsel Fadlan, mengejutkan Fadlan yang sedang memakai baju.
Fadlan buru-buru melangkah ke tempat tidurnya untuk mengambil ponselnya yang ada di dekat bantal.
__ADS_1
"Halo..."
"Mas, kamu lagi ada di mana? kamu sudah berangkat ke rumah sakit ya?"
"Aku lagi ganti baju sayang. Baru mandi dan mau berangkat kerja."
"Kamu lagi ada di apartemen?"
"Nggak sayang. Aku ada di rumah orang tuaku. Ada apa? tumben pagi-pagi gini udah nelpon."
"Mas, aku punya kabar penting."
"Kabar penting apa sayang?"
"Mas, ini soal Mentari."
"Kenapa lagi dengan Mentari? dia sudah aman kan sama kamu? dia nggak mau melakukan hal yang aneh-aneh lagi kan?"
"Nggak Mas. Tapi tadi Papa aku baca surat kabar, dan di info orang hilang ada foto Mentari. Ada juga alamat dan nomer yang harus dihubungi. Kata Papa aku, kita harus kembalikan Mentari ke rumahnya."
"Oh, gitu sayang. Ya udah. Kamu simpan dulu surat kabar itu sayang. Nanti, kita fikirkan sama-sama ya untuk mengantar Mentari ke rumahnya. Biar aku nanti yang bicara dan bujuk Mentari."
"Iya Mas. Nanti, sepulang dari rumah sakit, kamu langsung ke rumah aku ya Mas. Kita bujuk Mentari. Rasanya, semakin hari kondisi kejiwaannya juga sudah semakin membaik."
"Iya, iya. Nanti aku akan atur semuanya. Kalau gitu, aku tutup dulu ya sayang telponnya. Assalamualaikum."
"Wa'alakiumsalam."
Sesampai di ruang makan, Fadlan duduk berbaur bersama ibu dan ayahnya.
"Selamat pagi Pa, Ma," sapa Fadlan setelah duduk.
"Selamat pagi, kamu udah mau berangkat ke rumah sakit ya?" tanya Bu Mona.
"Iya Ma," jawab Fadlan singkat.
Fadlan kemudian meraih segelas susu.
"Ini buat aku Ma?" tanya Fadlan.
"Iya. Itu memang mama buatkan untuk kamu," ucap Bu Mona.
Pak Fakih menatap Fadlan.
"Fadlan. Kamu masih betah menjadi seorang dokter di rumah sakit?" tanya Pak Fakih.
"Ya betah lah Pa. Kenapa Papa tanyakan itu sama aku."
"Sebenarnya Papa tidak suka kamu mengambil kuliah jurusan kedokteran. Karena Papa ingin kamu meneruskan usaha Papa untuk menjadi direktur di salah satu perusahaan Papa. Papa kan tidak punya anak lagi selain kamu."
__ADS_1
"Pa, sudahlah, nggak usah khawatir kan soal itu. Kalau papa pensiun, papa masih bisa kan cari orang kepercayaan Papa untuk mengolah perusahaan itu. Atau, tunggu saja nanti, kalau aku dan Lisa nikah dan punya anak. Nanti aku akan kasih Papa banyak cucu lelaki," ucap Fadlan.
Bu Mona hanya bisa senyam-senyum sendiri.
"Ada-ada saja kamu Fadlan," ucap Bu Mona.
"Aku serius lho Ma. Aku memang sudah punya rencana seperti itu."
"Masih lama Fadlan. Sampai anak kamu besar, usia Papa juga sudah tua. Belum tentu papa bisa melihat anak kamu besar."
"Pa, jangan bicara seperti itu. Siapa tahu nanti Tuhan kasih umur panjang untuk Papa. Kita tidak tahu kan umur manusia. Kita berdoa saja Pa. Kalau nggak, ponakan papa kan banyak. Suruh aja ponakan papa untuk meneruskan usaha Papa."
"Iya Fadlan. Sekarang kita makan yuk!" ajak Pak Fakih.
Fadlan mengangguk. Setelah itu, Fadlan, Pak Fakih, dan Bu Mona makan bersama di ruang makan.
"Papa kan tahu, cita-cita aku itu menjadi seorang Dokter. Dan cita-cita aku sekarang sudah tercapai. Dan aku juga punya cita-cita ingin mendirikan rumah sakit sendiri," ucap Fadlan di sela-sela kunyahannya.
"Kalau itu, Mama setuju Fadlan. Mama akan selalu mendukung kamu."
Fadlan tersenyum. Setelah itu dia kembali untuk menghabiskan makanannya.
Selesai makan, Fadlan bangkit berdiri. Dia kemudian mengambil tas dan kunci mobilnya. Sebelum berangkat kerja, Fadlan berpamitan pada ke dua orang tuanya. Setelah itu, dia mencium tangan ibu dan ayahnya.
"Aku pergi dulu ya Ma, Pa," ucap Fadlan.
"Hati-hati di jalan Nak."
"Iya Ma, Pa," ucap Fadlan.
Fadlan kemudian melangkah ke luar dari rumahnya. Setelah itu, dia menuju ke garasi untuk mengambil mobilnya.
Fadlan kemudian meluncur pergi meninggalkan rumahnya. Sebelum ke rumah sakit, Fadlan ingin mampir dulu ke rumah Lisa. Dia ingin tahu, apakah benar ada berita info tentang orang hilang yang ada di surat kabar, seperti apa yang dituturkan Lisa.
Sesampai di rumah Lisa, Fadlan menghentikan mobilnya. Dia kemudian turun dari mobilnya dan melangkah ke teras depan rumah Lisa.
Tok tok tok...
Fadlan mengetuk rumah Lisa setelah dia sampai di depan rumah Lisa. Beberapa saat kemudian, Lisa membuka pintu rumahnya.
Lisa tersenyum pada Fadlan.
"Mas Fadlan. Kok ke sini?" tanya Lisa.
"Mentari ke mana?"
"Dia masih ada di kamar Mas. Ada apa?"
"Kamu yakin, kalau yang ada di surat kabar itu, Mentari?"
__ADS_1
"Iya. Aku yakin Mas. Tunggu dulu di sini. Aku akan tunjukkan ke kamu."