Mempelai Pengganti Tuan Muda

Mempelai Pengganti Tuan Muda
Permintaan Syanum.


__ADS_3

"Sabar ya Mentari. Semua ini sudah takdir," ucap Fabian mencoba untuk menenangkan tangisan Mentari.


"Eeee... apa-apaan ini. Kenapa kalian malah peluk-pelukan di sini. Bukannya berdoa, malah umbar kemesraan di sini," ucap Aira.


Fabian melepas pelukannya. Begitu juga dengan Mentari.


"Mentari. Lebih baik kita pulang sekarang. Bagaimana kalau bayi kamu nangis di rumah," ucap Bu Novi.


Bu Novi tampak tidak suka melihat kedatangan Fabian.


Mentari menatap Bu Novi.


"Aku belum mau pulang Tan. Aku masih ingin di sini."


"Untuk apa kamu di sini? ayo kita pulang!" ajak Aira.


"Aku nggak mau Aira...! aku masih pengin di sini. Kalau kalian mau pulang, pulang aja sana. Aku bisa kok pulang sama Abi."


"Apa! pulang sama Abi. Mentari. Abi itu mau ke kantor lagi. Dia ke sini juga cuma mau melayat ke pemakaman ayah kamu saja. Bukan mau ketemu sama kamu," ucap Aira.


"Ra. Tolong, biarkan aku di sini. Walau Abi nggak mau ngantar aku pulang, aku bisa kok pulang sendiri."


"Dasar wanita keras kepala kamu itu Tar. Ya udah Ma. Tinggalin aja dia di sini. Kita pulang sendiri aja Ma," ucap Aira pada Bu Novi.


"Ya udahlah. Untuk apa kita memaksa Mentari. Dia udah dewasa. Pasti dia juga bisa pulang sendiri," ucap Bu Novi.


Sebelum pergi, Bu Novi menatap Mentari.


"Mentari. Jangan lama-lama pulangnya. Kasihan bayi kamu."


"Iya Tan."


"Fabian. Tante titip Mentari ya. Antarkan dia pulang nanti."


"Iya Tan."


Bu Novi dan Aira kemudian pergi meninggalkan Mentari dan Fabian.


Mentari sejak tadi masih menangis.


"Aku nggak tahu Bi. Bagaimana hidup aku, setelah Papa meninggal."


"Tari, kamu harus sabar ya. Kamu jangan menangis terus. Menangis tidak akan bisa membuat ayah kamu hidup lagi. Ikhlaskan dia. Sekarang kita pulang ya. Kasihan bayi kamu. Aku antar kamu pulang ya."


"Iya Bi."


Sebelum pulang, Mentari menabur bunga di atas pemakaman ayahnya. Dia kemudian meninggalkan makam itu, bersama Fabian.


Fabian dan Mentari masuk ke dalam mobil, setelah itu mereka meluncur pergi meninggalkan makam.


Fabian masih fokus menyetir. Sejak tadi dia masih memikirkan Syanum.


'Syanum, jadi cantik banget sekarang. Dia berubah banget setelah dia lama pergi dari aku. Aku benar-benar nggak nyangka deh.'


Fabian masih senyam-senyum sendiri memikirkan istrinya.


'Apa kabar ya, dengan anak aku. Aku ingin banget memegang perut Syanum. Aku ingin menyapa anak aku yang ada di dalam perut Syanum."

__ADS_1


Fikiran Fabian, tiba-tiba saja melayang ke masa depan. Di mana dia berkhayal kalau dia dan Syanum hidup bahagia dengan anak-anak mereka.


Sejak tadi Fabian hanya bisa senyam-senyum sendiri. Membuat Mentari bingung.


"Bi. Kamu kenapa sih?" tanya Mentari yang merasa aneh dengan Fabian.


Fabian hanya diam. Dia sama sekali tidak menjawab pertanyaan Mentari. Mentari benar-benar kesal. Karena sejak tadi, Fabian sangat cuek sekali padanya.


"Bi. Abi...!"


"Eh. Iya Tar."


"Kamu kenapa sih? senyum-senyum sendiri. Ada yang lucu?"


"Oh. Nggak kok."


"Tadi aku lihat kamu senyum-senyum sendiri. Kamu lagi mikirin apa? apa jangan-jangan, kamu lagi mengingat kenangan-kenangan indah kita? iya kan?" terka Mentari.


Dia berfikir, saat ini Fabian sedang mengingat kenangan-kenangan indah bersamanya.


Fabian diam. Dia kembali fokus ke depan.


"Memang Bi. Kenangan kita itu tidak akan pernah bisa terlupakan. Aku juga masih sering mengingat kenangan-kenangan indah kita," ucap Mentari.


Fabian melirik Mentari sejenak sebelum dia fokus lagi menyetir.


'Kamu salah Mentari. Aku lagi membayangkan hidup bahagia dengan Syanum. Entah kenapa aku jadi sangat merindukan dia. Tapi aku tidak tahu dia ada di mana sekarang.'


Sesampai di depan rumah Mentari, Fabian menghentikan laju mobilnya.


"Bi. Kamu nggak mau mampir dulu?" tanya Mentari.


"Maaf. Aku lagi banyak kerjaan di kantor."


"Bi. Sepulang kerja, apa kamu mau main ke rumah aku?"


"Main ke rumah kamu? untuk apa?"


"Aku kesepian Bi di rumah sendiri. Aku juga bingung, untuk merawat anak aku sendiri. Apa lagi aku baru melahirkan kemarin. Kondisi aku belum pulih benar Bi."


"Tar. Kan ada Bu Novi dan Aira. Kenapa kamu harus takut sendirian di rumah."


"Aku yakin, kalau mereka pasti akan pulang. Mereka pasti akan ninggalin aku setelah ini. Mereka nginap di sini, juga paling cuma beberapa hari aja."


"Tar. Maaf ya. Kalau malam-malam aku ke rumah kamu, aku nggak bisa. Aku nggak mau, ada orang yang melihat kedekatan kita, lalu mereka bisa salah paham sama kita."


"Tapi Bi. Kan kita nggak ngapa-ngapain. Kita juga kan nggak pacaran. Kita kan cuma teman. Jadi untuk apa takut sama omongan orang lain. Biarkan sajalah orang lain mau ngomong apa."


"Tari. Maaf, aku nggak bisa. Tapi kalau hari libur, mungkin aku bisa. Dan aku juga nggak tahu, akan ada waktu atau nggak nanti minggu ini."


Mentari tampak sedih. Sebenarnya dia masih ingin mendapatkan support dari Fabian. Dia masih berharap, Fabian itu mau menemani hari-harinya yang sepi tanpa ayahnya.


"Ya udah deh. Kamu yakin mau langsung ke kantor?" tanya Mentari.


"Iya."


"Ya udah. Aku turun dulu ya."

__ADS_1


"Iya."


Mentari kemudian turun dari mobil Fabian. Setelah itu Mentari masuk ke dalam rumahnya. Sementara Fabian melajukan mobilnya kembali untuk ke kantor.


****


Malam ini, Syanum masih berada di teras depan rumahnya. Sejak tadi dia masih sendiri. Menatap langit yang penuh bintang. Bulan di langit juga tampak bulat sempurna.


Syanum tersenyum saat melihat bintang jatuh.


Syanum memejamkan matanya dan berdoa dalam hati.


Ya Allah. Aku ingin mendapatkan seorang suami yang sangat mencintai aku apa adanya. Aku ingin punya seorang suami yang setia, dan aku juga ingin punya suami yang sayang sama anak aku. Seandainya Mas Fabian adalah jodoh terbaikku, maka panjangkan jodoh kami. Jika dia bukan yang terbaik untuk aku, maka biarkanlah aku berpisah darinya.


Syanum membuka matanya. Dia terkejut saat melihat Ryan sudah berada di depannya.


'Inikah jawaban untuk aku Tuhan. Nggak mungkin kalau jodoh aku Ryan.'


Ryan sejak tadi, masih memperhatikan wajah Syanum.


"Kenapa kamu Syanum?"


Syanum tersenyum.


"Nggak apa-apa Ryan."


"Kamu malam ini, kelihatan ceria banget. Seperti baru dapat undian berhadiah."


"Ah, nggak kok. Tadi aku baru melihat bintang jatuh."


"Terus, kamu minta apa?"


"Ada deh..."


Ryan menatap ke atas langit.


"Bulannya cantik banget Syanum."


"Iya Ryan. Malam ini cerah banget ya."


"Bulannya cantik seperti kamu."


Syanum menatap Ryan.


"Mulai deh gombalannya. Aku nggak akan ngaruh Ryan sama gombalan kamu. Udah basi. Garing banget tahu nggak."


Syanum bangkit berdiri.


"Lho. Syanum. Kenapa masuk. Kan aku baru duduk. Aku akan temani kamu Syanum melihat bulan itu."


Ryan hanya geleng-geleng kepala saat melihat Syanum.


'Kenapa ya, semakin hari aku semakin nyaman saja sama Syanum. Andai saja, Syanum bukan istri sepupu aku. Aku udah pacarin dia deh. Aku rela kok putusin semua cewek-cewek aku kalau Syanum mau dengan aku.'


"Ah Ryan. Apa sih yang kamu fikirkan. Kenapa fikiran aku jadi ngaco begini sih," gumam Ryan sembari memukul kepalanya sendiri.


Ryan kemudian melangkah pergi meninggalkan teras rumahnya dan masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


__ADS_2