Mempelai Pengganti Tuan Muda

Mempelai Pengganti Tuan Muda
Ke rumah Pak Riko


__ADS_3

"Mas, kasihan Mentari. Kenapa kita tidak kembalikan dia saja, ke rumah keluarganya," ucap Lisa menatap Fadlan lekat.


"Lis. Kalau aku tahu siapa keluarga Mentari, aku pasti sudah mengembalikan dia ke keluarganya sejak dulu. Tapi aku nggak tahu siapa orang tua Mentari, dan di mana dia tinggal. Karena Mentari itu tidak pernah cerita-cerita sama aku tentang keluarganya."


Fadlan dan Lisa sejak tadi masih berada di rumah kontrakan Mentari. Sudah dua hari Lisa menemani Mentari di rumah kontrakan Mentari.


Sebenarnya Lisa merasa iba melihat kondisi Mentari. Lisa ingin sekali mengembalikan Mentari pada keluarganya.


"Aku yakin Mas. Keluarga Mentari pasti sedang mencari keberadaan Mentari sekarang. Apa kita tidak pasang iklan saja Mas," ucap Lisa.


"Pasang iklan apa?"


"Pasang iklan tentang menemukan orang hilang."


"Sudah, sabar saja. Aku yakin, kalau Mentari sudah bisa menerima semuanya, dia pasti mau kok untuk kembali ke rumahnya. Kalau keadaan jiwanya sudah mulai stabil."


"Iya Mas. Kasihan Mentari. Aku juga nggak tahu bagaimana jika aku berada di posisi Mentari."


"Lis. Aku mohon, sampai Mentari sembuh, kamu di sini dulu menemani dia ya. Karena aku takut Mentari akan kabur lagi dan mengulangi hal yang kemarin lagi," ucap Fadlan.


"Iya Mas."


"Kamu itu kan perempuan. Kamu pasti yang jauh lebih tahu, keadaan hati Mentari ketimbang aku. Untuk sementara aku mohon, kamu hibur dulu Mentari dan jadilah teman untuknya. Jadilah pendengar yang baik untuk Mentari. Aku yakin, lama-lama Mentari bisa menerima semua kenyataan ini. Dan dia pasti akan mau pulang."


"Iya Mas. Tapi..." Lisa menggantungkan ucapannya.


"Tapi apa?"


"Kalau aku disuruh tinggal di sini terus, aku nggak betah Mas. Rumah ini sempit, nggak ada ACnya. Kenapa kita tidak bawa Mentari ke rumah aku aja. Kita rawat dia di rumah aku, sampai kita menemukan keluarganya."


"Kalau itu sih, terserah kamu Mas."


Hiks...hiks...hiks...


Di sela-sela Fadlan dan Lisa ngobrol, tiba-tiba saja Mentari menangis.


"Dokter Fadlan...!" seru Mentari dari dalam kamarnya.


Lisa dan Fadlan saling menatap. Tanpa berfikir panjang lagi, mereka bangkit berdiri dan melangkah menuju ke dalam kamar Mentari.


Fadlan dan Lisa menatap Mentari yang masih menangis dan memegangi perutnya.


"Dokter Fadlan. Aku mau minta bantuan sama Dokter," ucap Mentari.


Fadlan mendekat dan duduk di sisi ranjang Mentari.


"Kamu butuh apa Mentari?" tanya Fadlan.

__ADS_1


"Dokter Fadlan. Tolong, bantu aku! aku ingin aborsi. Aku ingin gugurkan kandungan ini."


Fadlan terkejut mendengar ucapan Mentari.


"Apa! aborsi?" Fadlan tampak terkejut mendengar ucapan Mentari.


"Iya Dokter. Kamu itu kan seorang Dokter, kamu pasti bisa kan, membantu aku untuk menggugurkan kandungan aku. Aku nggak mau hamil. Aku nggak mau punya anak dari lelaki itu. Aku nggak mau anak ini sampai lahir. Apa yang akan orang-orang katakan tentang anak aku. Pasti mereka akan menganggap anak aku ini anak haram. Dan aku nggak mau, itu terjadi. Hiks...hiks..."


"Mentari. Kamu nggak boleh ngomong seperti itu. Anak kamu nggak salah. Jangan sekali-kali kamu punya fikiran untuk menggugurkan kandungan kamu." Lisa mendekat ke arah Mentari.


"Lisa. Kamu nggak pernah tahu seperti apa berada di posisi aku. Semua serba sulit Lisa," ucap Mentari menatap Lisa tajam.


"Nggak ada yang sulit, selama kita bisa ikhlas dan bersabar Mentari. Dan aku juga sama-sama seorang wanita. Aku tahu perasaan kamu," ucap Lisa.


"Mentari. Benar apa yang di katakan Lisa. Kamu nggak boleh sampai menggugurkan kandungan kamu. Karena itu dosa besar. Kamu sama saja menjadi pembunuh anak kandung kamu sendiri. Anak kamu itu juga ingin diberi kesempatan untuk hidup di dunia. Dia ingin hidup, bisa


melihat dunia dan bisa melihat ibunya. Apa kamu tega, akan membunuh anak kamu sendiri," ucap Fadlan panjang lebar.


Fadlan ingin Mentari itu sadar, kalau semua yang akan dilakukannya itu salah. Bunuh diri dan menggugurkan kandungan itu sama-sama perbuatan dosa. Tidak pantas untuk dikakukan, apalagi untuk seorang Mentari yang berpendidikan tinggi dan seorang anak dari keluarga terpandang.


Fadlan dan Lisa sejak tadi hanya bisa memberikan dukungan pada Mentari, untuk membuat Mentari tenang.


****


Sesampai di rumah Pak Riko, Fabian turun dari mobilnya. Dia kemudian melangkah ke arah teras depan rumah Pak Riko. Dia ingin bertemu Pak Riko untuk membicarakan soal Mentari.


Tok tok tok ...


"Fabian," ucap Pak Riko.


"Om. Apa kabar Om?" tanya Fabian.


Fabian kemudian mencium punggung tangan Pak Riko.


"Yah, beginilah kondisi Om Fabian. "


Fabian menatap Pak Riko yang tampak agak kurusan setelah sebulan lebih menghilangnya Mentari. Mungkin karena dia selalu memikirkan anak semata wayangnya itu.


"Om jadi kurusan sekarang."


"Iya. Biasanya kan ada Mentari. Sekarang Om nggak ada yang ngurusin di rumah. Paling sama pembantu doang."


Pak Riko merangkul bahu Fabian dan mengajaknya masuk ke dalam rumahnya.


"Ayo masuk! kita ngobrol-ngobrol di dalam."


Fabian dan Pak Riko kemudian masuk ke dalam rumah. Setelah itu mereka duduk di ruang tamu.

__ADS_1


"Om. Apa udah ada kabar tentang Mentari?" tanya Fabian.


Pak Riko menggeleng.


"Apa! sampai sekarang, polisi belum menemukannya?"


"Entahlah Om juga nggak tahu."


"Om. Aku punya ide Om. Kita sebar foto Mentari saja Om. Dan kita kasih imbalan ke orang yang bisa menemukan Mentari."


"Iya Fabian. Om sudah tidak bisa mengandalkan polisi lagi. Om harus lakukan cara itu. Supaya bisa cepat menemukan Mentari."


"Iya Om. Percuma lapor polisi kalau nggak ada hasilnya seperti ini."


Di sela-sela Pak Riko ngobrol dengan Fabian, suara ketukan pintu terdengar.


Tok tok tok ..


Pak Riko bangkit berdiri dan menatap ke arah Fabian.


"Tunggu sebentar Fabian. Di luar seperti ada tamu. Om lihat dulu ya."


Fabian mengangguk. Setelah itu, Pak Riko melangkah ke arah pintu depan untuk membuka pintu.


Pak Riko terkejut saat melihat kedatangan Aira. Pak Riko tampak tidak mengenali keponakannya itu.


"Kamu siapa?"


"Om. Ini aku Aira. Masa Om lupa sih sama ponakan Om sendiri," ucap Aira.


"Oh, Aira. Apa kabar kamu."


"Baik Om."


"Kebetulan banget. Masuk yuk! di dalam lagi ada Fabian."


"Oh iya?" Aira tampak berbinar-binar. Sepertinya dia sangat bahagia saat mendengar kalau Fabian itu ada di dalam rumah Pak Riko.


"Fabian ada di sini juga. Kebetulan banget ya. Sejak kapan Om Fabian datang?" tanya Aira.


"Barusan."


Aira tersenyum. Dia kemudian melangkah masuk ke dalam rumah Pak Riko.


"Fabian," ucap Aira setelah sampai di ruang tamu.


Fabian tersenyum pada Aira.

__ADS_1


"Aira. Kamu ke sini juga?"


Aira membalas senyum Fabian. Dia kemudian melangkah dan duduk di dekat Fabian.


__ADS_2