
"Terus, mobil kamu ini mau kamu apakan Bi? apa kamu mau ganti ban?" tanya Aira. Dia sejak tadi masih menatap ke arah ban mobil Fabian.
"Aku bingung Ra. Soalnya, aku sudah kesiangan nih. Sebenarnya, aku ingin cepat-cepat sampai ke kantor," ucap Fabian.
"Kalo gitu, kamu tinggal dulu aja mobil kamu di sini. Terus, kamu ikut mobil aku aja Bi. Gimana?" Aira menawarkan tumpangan pada Fabian.
"Em, boleh deh," tanpa berfikir lama, Fabian menerima tawaran dari Aira.
"Ayo Bi, ikut aku!" ajak Aira.
Aira dan Fabian, kemudian melangkah ke arah mobil Aira yang berada tepat di belakang mobil Fabian.
"Kamu aja ya Bi, yang nyetir mobilnya," ucap Aira.
Fabian mengangguk.
"Mana kuncinya?"tanya Fabian.
"Nih." Aira menyodorkan kunci mobilnya pada Fabian. Dengan senang hati, Fabian menerimanya.
Setelah itu, Aira dan Fabian masuk ke dalam mobil. Mereka kemudian meluncur meninggalkan tempat itu.
Sejak tadi, Aira masih memperhatikan lelaki tampan yang ada di sampingnya. Lelaki yang selama ini, tidak bisa dia lupakan.
Cinta Aira ke Fabian itu sangat besar, sehingga sulit untuk Aira melupakan Fabian. Dan Aira bahagia, saat dia mendengar kalau Mentari dan Fabian tidak jadi menikah. Itu artinya, masih ada kesempatan Aira untuk mendekati Fabian lagi.
'Abi, kamu tambah cakep aja Bi. Dari dulu sampai sekarang, kamu itu memang cakep. Dan tidak ada yang berubah dari kamu. Begitu juga dengan cintaku yang tidak pernah berubah. Aku janji Bi, mulai saat ini, aku akan perjuangkan cinta aku. Karena sekarang aku tahu, Mentari sudah pergi. Mentari sudah melepaskan kamu,' batin Aira.
"Bi. Kamu mau ke kantor ayah kamu kan?" tanya Aira.
Fabian mengangguk. "Iya Ra."
"Ra. Kamu sebenarnya ke mana aja selama ini Ra? sejak kelulusan kita waktu SMA, kamu ngilang begitu aja tanpa kabar."
Aira diam saat mendapatkan pertanyaan dari Fabian.
'Sebenarnya, aku menghilang, karena aku ingin mencoba untuk melupakan kamu Bi. Tapi sekarang aku sadar, kalau aku tidak bisa melupakan kamu sedikitpun. Semakin aku melupakan kamu, semakin aku cinta sama kamu.'
"Ra, Aira... kok kamu malah ngelamun sih? lagi mikirin apa sih?" tanya Fabian.
"Eh, apa tadi?"
"Kamu kemana aja selama ini? kenapa kamu nggak pernah ngabarin aku?" tanya Abi mengulang pertanyaannya.
"Waktu itu, ada yang nawarin aku beasiswa untuk kuliah di luar negeri. Dan aku ambil aja beasiswa itu. Jadi, Mamaku, nggak terlalu banyak pengeluarannya," jawab Aira.
__ADS_1
"Oh iya? kamu dapat beasiswa juga, seperti Mentari?"
"Iya Bi."
"Aku nggak nyangka deh. Kamu sama Mentari itu memang sama-sama perempuan cerdas dan mandiri."
Aira tersenyum. Baru kali ini, Aira mendengar Fabian memujinya. Biasanya, Fabian itu selalu meledeknya. Dengan mengatakan Aira si gendut. Karena dulu Aira memang gendut. Berbeda dari Mentari. Sejak remaja, sampai sekarang, tubuhnya masih sama proposional, seperti tubuh model papan atas.
"Kamu juga sekarang cantiknya, jadi ngalahin Mentari. Coba saja ya, kalau Mentari mau mengambil beasiswa S1 di luar negeri. Pasti, dia akan berubah juga, seperti kamu. Tapi sayang sekali, Mentari nggak mau ninggalin aku," ucap Fabian.
Fabian senyum-senyum sendiri saat mengingat Mentari dan kenangan manis bersamanya.
"Mungkin, Mentari itu sangat cinta sama aku, dan tidak mau kehilangan aku. Aku dekat sama kamu aja, dia cemburu Ra. Apa kabar dia sekarang ya, dan bagaimana keadaannya," lanjut Fabian.
Wajah Fabian, tiba-tiba saja berubah menjadi sedih. Semua cita-cita yang di impikan bersama Mentari kandas begitu saja, saat Mentari pergi meninggalkannya.
Padahal Fabian dan Mentari ingin sekali membangun rumah tangga yang sakinah mawadah warahmah, dan mereka juga sudah bercita-cita, pengin punya banyak anak.
"Bi. Kamu kenapa?" tanya Aira.
"Aku nggak apa-apa. Aku cuma ke ingat Mentari saja. Sampai sekarang, aku nggak tahu keberadaan Mentari itu di mana. Dan Om Rio juga, sampai sekarang belum ngabarin aku lagi. Mungkin, Om Rio memang belum mendapatkan kabar tentang Mentari."
Aira mengelus bahu Fabian.
"Sabar ya Bi. Mungkin ini adalah ujian buat kamu. Mungkin kamu dan Mentari itu emang belum berjodoh. Dan mungkin, Tuhan sudah menyiapkan jodoh yang lain buat kamu."
Fabian mengangguk.
"Doakan aku ya Ra. Semoga, semua masalah aku cepat selesai. Dan aku bisa menemukan keberadaan Mentari."
Wajah Aira berubah saat mendengar ucapan Fabian.
"Kamu masih tetap mau nyari dia Bi?" tanya Aira.
"Iya. Kenapa nggak? aku aja sampai sekarang nggak pernah tahu, alasan Mentari pergi. Mentari berhutang penjelasan padaku. Dan saat aku ketemu dengannya nanti, aku akan tanyakan kenapa dia pergi. Mungkinkah dia pergi, karena ada lelaki lain, atau dia pergi, dengan alasan lain."
"Bagaimana, kalau sekarang Mentari sudah menikah dengan lelaki lain dan kamu nggak tahu?"
Fabian menggeleng.
"Itu nggak mungkin Ra. Aku tahu, siapa Mentari. Dia cinta mati sama aku. Dan dia tidak akan pernah mungkin, mengkhianati aku. Dan aku juga sangat mencintainya. Aku akan cari dia sampai ketemu. Aku takut, dia kenapa-kenapa Ra," ucap Fabian.
'Segitu cintanya ya Bi kamu sama Mentari. Mungkin, jika Mentari pergi sampai ke ujung dunia pun, kamu akan selalu berusaha untuk mencarinya dan menemukannya.'
Aira sebenarnya sedih dan cemburu, jika saja Fabian masih membicarakan Mentari di depannya. Tapi, Aira tidak mau menunjukan sikap cemburunya itu pada Fabian. Karena Aira tidak ingin, Fabian tahu tentang perasaannya pada Fabian.
__ADS_1
Sejak dulu sampai sekarang, Aira memang tidak pernah menunjukkan rasa cintanya pada Fabian. Dia selalu memendam rasa cinta itu di dalam hatinya. Karena dulu, dia malu dan minder dengan tubuhnya yang gendut.
Waktu itu, memang banyak orang yang membully Aira. Sampai-sampai, Fabian lelaki yang dulu di pacari Aira, berpaling pada Mentari adik sepupu Aira yang jauh lebih cantik dan menggoda.
Sesampainya di depan kantor Fabian, Fabian menghentikan laju mobilnya. Fabian kemudian menatap Aira.
"Makasih banyak Ra. Untuk tumpangannya," ucap Fabian.
Aira mengangguk. "Iya. Sama-sama."
Fabian akan membuka pintu. Namun, buru-buru Aira mencekal tangan Fabian.
"Tunggu," ucap Aira.
Fabian menoleh ke arah Aira.
"Ada apa Ra?"
"Boleh nggak aku minta nomer handphone kamu?" tanya Aira.
Fabian tersenyum.
"Boleh."
Fabian kemudian bertukeran nomer hape dengan Aira.
"Sebenarnya, aku kangen Fabian sama teman-teman sekolah kita yang dulu. Lima tahun, aku nggak pulang ke Indonesia. Rasanya aku kangen banget sama mereka," ucap Aira sembari menatap Fabian lekat.
"Biasanya, teman-teman kita selalu ngadain reunian setiap tahun baru. Kalau kamu mau, tahun baru nanti, kamu bisa ikut reunian."
"Iya. Aku mau banget." Aira tampak bersemangat.
"Ya udah. Aku turun dulu ya," ucap Fabian.
Aira mengangguk.
"Nanti, aku chat kamu ya Bi."
"Iya. Tapi jangan sekarang ya. Aku mau kerja dulu."
"Iya Bi. Nunggu kamu udah santai."
Fabian kemudian turun dari mobil Aira dan melangkah masuk ke dalam kantornya. Sementara sejak tadi Aira masih menatap kepergian Fabian.
"Aku nggak tahu, kenapa jantung ini, selalu berdetak lebih cepat dari biasanya, saat berada di dekat Fabian. Dan aku juga nggak nyangka, kalau aku akan bertemu Fabian lagi. Mungkinkah, aku dan Fabian berjodoh. Andai saja, aku bisa jadi istrinya Fabian. Aku pasti akan menjadi wanita yang paling beruntung di dunia ini karena bisa memiliki Fabian," ucap Aira sembari memegang dadanya.
__ADS_1
Setelah itu, Aira meluncur pergi meninggalkan kantor Fabian.