Mempelai Pengganti Tuan Muda

Mempelai Pengganti Tuan Muda
Pak Damar menemui Mentari


__ADS_3

Sore ini Pak Damar sudah ke luar dari ruangannya. Dia melangkah ke tempat parkiran mobil. Pak Damar masuk ke dalam mobilnya dan meluncur pergi meninggalkan kantor.


"Apa yang sebenarnya terjadi dengan Syanum, kenapa tiba-tiba saja Luna mengatakan kalau Syanum ingin cerai dari Fabian. Apa yang sudah Fabian lakukan pada Syanum selama ini," gumam Pak Damar di sela-sela menyetirnya.


Selama ini, Pak Damar memang tidak pernah tahu menahu dengan masalah Fabian dan Syanum. Dia fikir, hubungan rumah tangga yang Syanum dan Fabian jalani, selama ini baik-baik saja. Tapi ternyata hubungan rumah tangga mereka, tidak seperti apa yang Pak Damar fikirkan selama ini.


Pak Damar mengira, kalau Fabian dan Syanum sudah bisa saling mencintai. Karena mereka selalu mesra di depan Pak Damar. Tapi ternyata itu hanya pura-pura.


Sejak tadi, Pak Damar masih memikirkan permasalahan Syanum dan Fabian.


"Kalau mereka tidak saling cinta, kenapa Syanum bisa hamil. Aku benar-benar bingung dengan hubungan mereka berdua. Dan Syanum juga kenapa, udah tahu dirinya hamil. Masih minta cerai dengan Fabian."


Mendengar cerita dari Luna, fikiran Pak Damar menjadi tidak tenang. Sejak tadi dia masih bergumam sendiri di dalam perjalanan pulang.


"Apa benar Fabian sudah menemui Mentari. Apa itu yang membuat Syanum pergi. Aku harus ke rumah Pak Riko. Aku akan memastikan ucapan Luna itu benar atau tidak. Kalau benar begitu, aku akan bicara dengan Mentari, agar dia mau menjauhi anakku."


Pak Damar memutuskan untuk mampir ke rumah Pak Riko dulu sebelum pulang ke rumahnya.


Sesampai di halaman depan rumah Pak Riko, Pak Damar kemudian turun dari mobilnya. Dia melangkah ke depan teras rumah Pak Riko. Pak Damar kemudian mengetuk pintu.


Beberapa saat kemudian, Pak Riko membuka pintu. Dia tersenyum pada Pak Damar.


"Pak Damar. Tumben sekali anda datang kemari. Mari masuk Pak!"


Pak Damar mengangguk. Dia kemudian masuk ke dalam rumah Pak Riko, setelah Pak Riko mempersilahkan dia masuk.


"Silahkan duduk Pak!" Pak Riko mempersilahkan Pak Damar duduk.


"Iya," ucap Pak Damar sembari menghempaskan tubuhnya dan duduk di sofa ruang tamu rumah Pak Riko.


"Pak Riko, saya ke sini cuma mau menanyakan sesuatu sama bapak," ucap Pak Damar tanpa banyak basa-basi.


"Menanyakan soal apa ya Pak?" tanya Pak Riko.


"Apa anak saya pernah ke sini?"


"Fabian?"


"Iya. Apa dia datang ke sini dan menemui Mentari lagi?"


Pak Riko menghela nafas dalam. Fabian memang sudah pernah dua kali datang ke rumah Pak Riko. Namun, Pak Riko waktu itu masih sakit. Sehingga dia tidak bisa bicara dengan Fabian dan menemuinya.


"Iya. Fabian pernah datang ke sini."


"Apa benar, dia sudah menemui Mentari? apa benar kalau Mentari sudah kembali?" runtutan pertanyaan sudah terlontar dari mulut Pak Damar.

__ADS_1


Pak Damar tampaknya sudah mulai serius.


"Iya," jawab Pak Riko singkat.


"Terus sekarang. Bolehkan saya bertemu dengan Mentari?" tanya Pak Damar.


"Mentari ada di kamarnya."


"Saya ingin bicara dengan Mentari. Bisakah anda panggilkan Mentari. Saya ingin bicara sebentar dengannya."


"Baiklah. Saya akan panggilkan anak saya."


Pak Riko kemudian pergi ke kamar Mentari untuk memanggil anaknya.


Pak Riko mengetuk pintu kamar anaknya. Beberapa saat kemudian, Mentari membuka pintu.


"Ada apa Pa?" tanya Mentari.


"Ada Om Damar di ruang tamu. Dia mau bertemu kamu Mentari," jelas Pak Riko.


Mentari terkejut saat mendengarkan nama Pak Damar disebut.


"Om Damar ke sini? mau ngapain?" tanya Mentari.


"Dia mau ketemu kamu."


"Sudahlah Nak. Temui saja dia!" pinta Pak Riko.


"Tapi Pa. Bagaimana dengan perut aku. Om Damar pasti akan tahu kalau aku hamil. Aku malu Pa. Bagaimana kalau sampai Om Damar tanya macam-macam."


"Jelaskan saja Mentari. Papa tidak mungkin membohongi Om Damar. Tadi juga papa sudah bilang kalau kamu ada di dalam. Ayo, sekarang temui Pak Damar."


"Baiklah."


Mentari akhirnya mau juga ke luar untuk menemui Pak Damar.


Pak Damar terkejut saat melihat Mentari. Mentari kelihatan gemuk dan perutnya juga tampak sudah mulai membesar.


"Mentari. Kamu..." Pak Damar menunjuk ke arah perut Mentari. Dia tampak syok saat melihat Mentari.


"Iya Om. Saya lagi hamil," ucap Mentari.


"Jadi kamu pergi meninggalkan anak saya karena kamu memilih untuk menikah dengan lelaki lain. Dan sekarang kamu udah hamil?" Pak Damar masih tidak mengerti.


Mentari dan Pak Riko hanya bisa saling menatap. Mentari bingung bagaimana cara menjelaskan pada Pak Damar masalah yang sebenarnya. Tapi, sepandai-pandainya Pak Riko dan Mentari menutupi kehamilannya, pasti akan ketahuan juga. Dan sekarang mereka tidak bisa menyangkal lagi.

__ADS_1


Mentari mencium punggung tangan Pak Damar. Setelah itu dia pun duduk.


"Saya mau bicara empat mata dengan Mentari. Apa boleh tinggalkan kami Pak Riko?" Pak Damar menatap Pak Riko.


"Oh iya Pak Damar. Silahkan...!"


Pak Riko kemudian pergi meninggalkan Mentari dan Pak Damar di ruang tamu.


"Mentari. Kamu sudah menikah sekarang?" tanya Pak Damar.


Mentari menggeleng.


"Terus. Kenapa kamu hamil?"


Mentari tampak bingung. Dari mana dia harus memulai cerita ke Pak Damar.


Dengan berat hati, akhirnya Mentari menceritakan kejadian sebenarnya pada Pak Damar.


"Apa kamu tidak mencari lelaki itu untuk bertanggung jawab. Seharusnya kamu cari lelaki itu dan minta dia untuk bertanggung jawab."


"Aku belum sempat Om untuk mencarinya."


"Kamu tidak boleh lemah seperti ini Mentari. Suruh ayah kamu untuk mencari lelaki yang sudah menghamili kamu. Suruh lelaki itu untuk menikahi kamu. Kalau seperti ini terus, kamu bisa menjadi gunjingan orang Mentari.


Mentari tiba-tiba saja menangis.


"Pak Riko kenapa bisa membiarkan saja anaknya seperti ini. Seharusnya dia laporkan masalah ini ke polisi. Atau Pak Riko bisa cari lelaki itu dan nikahkan Mentari dengan lelaki itu."


Mendengar anaknya menangis Pak Riko buru-buru mendekat ke ruang tamu.


"Ada apa ini?" tanya Pak Riko.


Dia duduk di dekat anaknya.


"Ada apa Pak Damar?"


"Jadi anak kamu sekarang sedang hamil tanpa seorang suami?" tanya Pak Damar.


"Iya Pak Damar."


"Kenapa kamu diam saja dan tidak bertindak!"


"Saya diam saja, karena saya memang tidak tahu siapa lelaki yang sudah menghamili Mentari."


"Apa! mana mungkin Mentari tidak tahu dengan siapa lelaki itu. Pasti Mentari melihat dong bagaimana wajahnya. Kenapa tidak lapor polisi saja Pak Riko."

__ADS_1


"Pak Damar. Tolong jangan bahas lagi tentang ini di depan anak saya. Anak saya trauma dengan kejadian itu. Karena anak saya itu, cuma korban pemerkosaan lelaki yang tidak di kenal."


Pak Damar tidak habis fikir. Kenapa Pak Riko lelaki yang terkenal cerdas dan berwawasan luas, sama sekali tidak jantan dalam menghadapi masalah anaknya. Seharusnya dia sudah laporkan ke polisi kejadian itu. Agar ada keadilan untuk Mentari.


__ADS_2