
Malam ini, Fabian sudah tampak terlelap di atas tempat tidurnya.
Ring ring ring ..
Tiba-tiba saja, ponselnya berdering. Fabian mengerjapkan matanya dan mengambil ponselnya yang ada di atas bantalnya. Fabian kemudian mengangkat telponnya.
"Hiks...hiks..hiks..."
Tangisan seorang wanita, tampak sudah terdengar jelas dari balik telpon.
Fabian terkejut saat mendengar suara itu. Fabian sangat mengenal betul suara siapa itu.
"Halo Mentari. Ada apa? kenapa kamu nangis?"
"Tolong aku Bi. Tolong."
"Ada apa?"
"Ayah aku, barusan terjatuh di dalam kamar mandi Bi. Sekarang dia pingsan. Aku bingung, mau minta tolong siapa. Dari tadi, aku neleponin saudara juga tidak ada yang mau angkat telpon aku. Hiks...hiks... kamu bisa ke sini nggak Bi? Nggak mungkin kan Bi, aku nyetir sendiri ke rumah sakit, dalam keadaan hamil besar seperti sekarang."
"Iya iya. Aku akan ke sana sekarang. Kamu tunggu ya "
Fabian kemudian memutuskan saluran telponnya. Setelah itu dia beringsut duduk.
"Ada apa dengan Mentari. Kenapa tadi dia nangis-nangis. Apa yang terjadi dengan Om Riko ya," gumam Fabian.
Fabian tampak berfikir. Dia ingin ke rumah Mentari. Tapi dia melihat waktu sudah menunjukkan jam sepuluh malam.
"Udah malam. Apa aku harus ke sana ya untuk menolong Mentari. Tapi, aku udah janji sama mama, kalau aku nggak akan menemui Mentari lagi. Tapi kasihan Mentari. Kalau dibiarkan, bagaimana dengan Om Riko. Ini kan menyangkut nyawa seseorang."
Sejak tadi Fabian masih mondar-mandir di dalam kamarnya. Dia ragu untuk ke rumah Mentari. Di satu sisi, Fabian takut dengan kemarahan ibunya. Karena dia sudah janji pada ibunya kalau dia akan menjauhi Mentari. Dan di satu sisi, dia tidak tega membiarkan Mentari kesusahan.
"Seharusnya jam segini itu masih sore. Dan masih ada orang yang bisa untuk dihubungi. Tapi kenapa Mentari harus telpon aku sih," gerutu Fabian.
Setelah lama berfikir, akhirnya Fabian memutuskan untuk ke rumah Mentari. Dia takut akan tejadi apa-apa dengan Pak Riko. Karena kata Mentari ditelpon tadi, kalau Pak Riko itu baru saja terpeleset dan jatuh di kamar mandi.
Fabian mengambil jaket. Setelah itu dia mengambil kunci mobilnya. Fabian buru-buru melangkah pergi meninggalkan kamarnya.
Fabian menuruni anak tangga. Dia menatap ke sekeliling. Hanya ada Mbak Fani yang masuk berada di ruang makan.
"Tuan muda...!" seru Mbak Fani sembari mendekat ke arah Fabian.
"Ada apa Mbak?" tanya Fabian.
"Tuan muda mau ke mana? r banget begitu?" tanya Mbak Fani.
__ADS_1
"Ada urusan sebentar di luar."
"Emang ngga izin dulu sama Nyonya. Gimana nanti kalau Nyonya Reva nanyain Tuan ada di mana?"
"Mbak. Sekarang itu kan Mama pasti udah tidur. Dia nggak akan mungkin nanyain aku. Kalau mama nanya, bilang aja aku ada di kamar ya Mbak. Bilang aja kalau aku sudah tidur."
"Tapi, itu sama aja bohong dong Tuan muda. Aku nggak mau bohongin Nyonya."
"Sssttt... kali ini aja ya Mbak. Berbohong untuk kebaikan sekali-kali kan nggak apa-apa."
"Sebenarnya mau ke mana sih tuan muda?"
"Nggak usah kepo. Aku kan udah bilang kalau aku itu ada urusan di luar. Nggak akan lama kok. Cuma sebentar."
Fabian sudah tidak ingin berlama-lama lagi bicara dengan Mbak Fani. Fabian kemudian buru-buru ke luar untuk mengambil mobilnya yang ada di garasi. Fabian kemudian masuk ke dalam mobil dan meluncur pergi meninggalkan rumahnya.
Fabian masih menyetir dan menerjang kegelapan di malam ini. Mobilnya meluncur cepat sampai ke rumah Mentari. Sesampai di depan rumah Mentari, Fabian turun.
Dia terkejut saat melihat Mentari sudah berada di teras sembari menangis.
Fabian menghampiri Mentari.
"Ada apa Mentari? kenapa kamu tadi nelepon aku?" tanya Fabian setelah menghampiri Mentari.
"Ya udah. Ayo kita masuk!" ajak Fabian.
Fabian juga sepertinya penasaran dengan kondisi Pak Riko.
Fabian dan Mentari kemudian masuk ke dalam rumah. Mereka terkejut saat melihat Pak Riko tampak tergeletak di atas kamar mandi.
Fabian buru-buru mendekat dan membopong tubuh Pak Riko. Setelah itu Fabian melangkah ke depan untuk membawa Pak Riko ke rumah sakit.
Fabian dan Mentari masuk ke dalam mobil. Setelah itu, mereka pergi ke rumah sakit membawa Pak Riko.
Sesampai di depan rumah sakit, Fabian dan Mentari turun. Fabian dan Mentari tidak tinggal diam. Mereka masuk ke dalam rumah sakit untuk memanggil suster.
"Suster. Tolong ayah saya suster. Dia sekarang ada di mobil. Baru saja dia terjatuh dari kamar mandi. Dan dia pingsan tidak sadarkan diri," ucap Mentari menjelaskan.
"Baik. Tunggu, saya akan memanggil teman-teman saya untuk membawa ayah anda ke ruang UGD."
Beberapa saat kemudian, dua orang perawat laki-laki menghampiri Fabian.
"Di mana pasiennya?" tanya salah satu dari mereka.
"Ada di dalam mobil saya," jawab Fabian.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, Fabian dan Mentari sudah berjalan beriringan melangkah mengikuti dua orang perawat lelaki yang mendorong Pak Riko masuk ke dalam ruang UGD.
"Kalian tunggu di sini. Biar kamu para medis yang akan menangani pasien," ucap salah satu suster sebelum masuk ke dalam ruang UGD.
"Baik Sus," ucap Fabian.
Hiks...hiks...
Mentari menangis sesenggukan di dekat Fabian. Namun, Fabian tidak bisa melakukan apapun sekarang. Karena semua ini terlalu mendadak. Dan Fabian sebenarnya juga masih lelah dan mengantuk.
"Mentari. Jangan nangis. Kkta doakan saja ya ayah kamu. Agar tidak terjadi apa-apa sama dia."
"Iya Bi."
Mentari yang saat ini kandungannya sudah memasuki sembilan bulan, dengan sigap langsung memeluk Fabian dan menangis dipelukan Fabian.
"Hiks...hiks...Abi. Aku takut kehilangan ayah aku Bi. Bagaimana kalau terjadi apa-apa sama ayah aku Bi."
Fabian sejak tadi hanya diam. Dia sama sekali tidak membalas pelukan Mentari. Entah kenapa, perasaannya sekarang berubah pada Mentari. Dia seperti sudah tidak punya perasaan cinta lagi ke wanita itu. Dia sejak tadi masih ragu untuk mengusap kepala Mentari atau kembali memeluk Mentari.
"Maaf Mentari. Jangan seperti ini. Kita bukan muhrim," ucap Fabian tiba-tiba.
Mentari melepaskan pelukannya. Setelah itu dia menghapus air matanya.
"Maaf Bi. Maafkan aku."
"Nggak apa-apa Mentari. Kita duduk aja dan tunggu dokter ke luar."
Mentari mengangguk. Dia kemudian duduk diikuti Fabian yang duduk juga di sampingnya.
Beberapa saat kemudian, seorang dokter ke luar dari ruang UGD. Mentari buru-buru melangkah mendekat ke arah dokter.
"Dokter. Bagaimana keadaan ayah saya Dok?" tanya Mentari.
Dokter diam. Dia sejak tadi masih menatap ke arah Mentari yang berperut buncit. Dia tampak tidak tega untuk mengatakan kalau Pak Riko sekarang dalam keadaan kritis.
"Dengan berat hati, saya akan sampaikan. Kalau ayah anda sekarang dalam keadaan kritis. Tapi anda tenang saja. Karena kami para dokter, akan menangani ayah anda dengan maksimal. Doakan saja semoga ayah anda mendapatkan keajaiban. Agar dia bisa melewati masa kritisnya," ucap Dokter.
"Iya Dok," ucap Fabian.
Dokter kemudian melangkah pergi meninggalkan Mentari dan Fabian.
Mentari semakin sedih saat mendengar ucapan Dokter. Tangisannya semakin kencang saja. Dia kembali duduk. Tubuhnya tampak lemas.
"Abi. Aku takut kehilangan ayah aku. Kalau ayah aku pergi, bagaimana dengan nasib aku. Cuma dia yang aku punya sekarang Bi. Usia kandungan aku sekarang sudah memasuki sembilan bulan. Sebentar lagi aku akan melahirkan. Jika ayah pergi meninggalkan aku untuk selamanya. Siapa yang akan menjaga dan mengurus aku Bi. Hiks...hiks..."
__ADS_1