
Pagi ini, Mentari masih berada di kamar kecil, yang ada di dalam sebuah rumah kontrakan. Lebih tepatnya, rumah persembunyian Mentari dari kejaran keluarga besar Firen. Mentari masih menatap Firen bayi kecil itu.
"Seharusnya aku yang jadi ibunya anak ini. Seharusnya aku yang hamil anaknya Abi. Seharusnya aku, yang sekarang ada di sisi Abi. Tapi kenapa harus Syanum, wanita kampung itu yang harus mendapatkan kebahagiaan. Kenapa bukan aku. Kenapa....!" ucap Mentari.
"Tuhan, kenapa Engkau benar-benar nggak adil...! Engkau berikan aku hidup seperti ini. Papa meninggal, rumahku di jual, dan Engkau memberikan aku anak haram. Tapi Engkau memberikan Syanum kebahagiaan terus."
Sejak tadi, Mentari hanya bisa merancau tidak karuan. Hatinya benar-benar merasakan sakit yang teramat dalam, saat dia tahu kalau Fabian sudah balikan lagi sama Syanum.
Mentari dendam, dengan Fabian dan Syanum. Karena dia sudah tidak bisa mendapatkan cinta dari Fabian lagi.
Setetes air mata Mentari membasahi pipinya. Mentari menangis di kesendiriannya. Saat ini, dia masih di kamar, hanya bersama Fabian kecil. Dia sejak kemarin, hanya mengurusi anak Fabian, namun mengabaikan anaknya yang ada di rumah Aira.
Sesekali Mentari itu menatap ke arah Firen dan tersenyum.
"Kenapa ayah kamu tega sekali mencampakkan aku. Kenapa dia malah memilih untuk bertahan dengan Syanum. Padahal, seharusnya ayah kamu itu meninggalkan Syanum dan kembali pada aku. Dia sudah banyak memberikan aku harapan palsu. Dia sudah benar-benar menyakiti hatiku dan membuat aku gila."
"Dan kamu...!" ucap Mentari sembari menunjuk ke arah Firen yang masih tertidur.
"Dan kamu adalah penyebab kehancuran hidupku. Kamu tidak pantas berada di tengah-tengah keluarga Abi. Kamu itu seharusnya ikut bersama Syanum ke kampung. Atau kamu ikut saja dengan kakek dan nenek kamu yang sudah meninggal itu. Atau seharusnya kamu itu tidak pernah ada di rahim Syanum. Aku benci kamu...!"
Tok tok tok...
"Bos. Bos...!" ucap seseorang dari luar kamar Mentari.
Mentari kemudian membuka pintu kamarnya.
"Ada apa?"
"Bos. Saya sudah menuruti keinginan Bos. Saya sudah menelpon Fabian. Saya sudah meminta dia, untuk membawa uang satu milyar."
"Bagus. Tapi aku hanya akan meminta uangnya. Tapi, aku tidak akan pernah mengembalikan anak ini. Aku akan jual saja anak ini, atau aku akan buang dia ke panti asuhan. Agar Syanum merasakan kehilangan anaknya untuk selamanya."
"Bos. Kalau bos membenci anak itu, kenapa bos tidak melenyapkan dia sekalian."
Mentari menatap nanar lelaki yang ada di depannya.
"Diam kamu! jangan sok tahu kamu. Aku tidak akan pernah mengotori tanganku dengan membunuh bayi yang tak berdosa ini. Aku hanya ingin Syanum merasakan, bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang di cintai."
Ring ring ring...
__ADS_1
Suara deringan ponsel Mentari mengejutkan Mentari.
"Siapa sih," ucap Mentari sembari melangkah mendekati nakas untuk mengambil ponselnya yang ada di atas nakas.
Mentari kemudian mengangkat panggilan dari Tantenya.
"Halo Tan.."
"Halo Mentari. Kamu ada di mana? kapan kamu akan pulang?"
"Tan. Aku masih ada di luar kota. Aku masih lama pulangnya."
"Apa! masih lama. Kamu sebenarnya di mana sih?"
"Aku lagi ada urusan Tan di luar kota. Sudah deh, Tante kenapa sih, harus nelpon-nelpon aku terus."
"Ya ampun Mentari. Kenapa kamu harus seperti ini sih. Kasihan anak kamu, kamu tinggal-tinggal terus."
"Tan. Sudah deh nggak usah cerewet. Kalau Tante mau ngurus Dani, ya silahkan. Urus aja Dani. Tapi kalau Tante, sudah nggak mau ngurus dia lagi, kasihkan saja dia ke Mario. Atau bawa saja dia ke panti asuhan.
Tut Tut Tut...
Mentari menghampiri Andra.
"Kenapa kamu masih di sini hah... Sana pergi ! bayi ini, akan menjadi urusanku."
"Baik bos."
Andra kemudian pergi meninggalkan kamar Mentari.
Andra adalah salah satu orang kepercayaan Mentari sekarang. Mentari sudah membayarnya mahal untuk menculik Firen. Karena Mario orang yang Mentari harapkan bisa di ajak kerja sama, justru menolak mentah-mentah keinginan Mentari itu.
****
Bu Adela dan Pak Sofyan menatap ke arah Mario yang saat ini sudah memakai baju kantoran lengkap. Setelah sembuh dari sakitnya, Mario mencoba untuk bangkit dan menjadi orang yang lebih baik lagi.
Mario ingin merubah semua kebiasaan buruknya. Dan dia sudah ingin bertaubat dari semua kesalahannya di masa lalu.
Dan, dia juga sudah ingin melupakan Mentari. Karena menurut dia, Mentari yang sekarang berbeda dari Mentari yang dulu. Mentari yang sekarang, sudah berubah jahat. Dan Mario paham, apa yang sedang Mentari rasakan. Karena dia juga sudah pernah merasakannya. Mencintai seseorang yang sama sekali tidak pernah mencintainya.
__ADS_1
"Selamat pagi, Ma, Pa," ucap Mario pada ke dua orang tuanya.
Bu Adela tersenyum.
"Kamu sudah siap mau ke kantor?" tanya Bu Adela.
"Iya Ma."
Mario lekas mendekat ke arah Bu Adela dan Pak Sofyan. Dia kemudian duduk di antara ke dua orang tuanya.
"Kamu kelihatan tampan sekali."
Mario tersenyum.
"Ma, Pa, boleh nggak kalau aku ke rumah Mentari?" tanya Mario tiba-tiba.
"Mau ngapain kamu ke sana?" tanya Bu Adela
"Aku mau ketemu sama anak aku Ma, Pa," ucap Mario.
"Ya udah. Nggak apa-apa. Dani juga kan anak kandung kamu Mario. Kamu masih punya tanggung jawab untuk menafkahi anak itu. Karena dia darah dagingmu," ucap Pak Sofyan.
"Iya Pa."
"Gimana kabarnya si Mentari? apa kalian masih berkomunikasi?" tanya Bu Adela.
"Udah nggak Ma. Sejak kedatangan Mentari waktu itu, dia sudah tidak pernah menghubungi aku lagi. Dan aku juga malas, untuk menghubungi dia."
"Mario. Mama tahu kalau kamu itu sangat mencintai Mentari. Tapi mama sarankan, mendingan kamu nggak usah deh, menikahi wanita seperti dia."
"Emang kenapa Ma?"
"Mama cuma nggak suka aja melihat tingkah laku Mentari. Dia itu seperti kurang didikan orang tua. Dan dia juga nggak pernah sayang dan perhatian sama darah dagingnya sendiri. Dia lebih mentingin kebahagiaannya sendiri dari pada kebahagiaan anaknya," ucap Bu Adela.
"Buktinya, Dani itu sudah tidak menyusu ke Mentari lagi, sejak usianya sebulan. Kamu bayangin deh. Ibu mana yang tega seperti itu sama anaknya. Tidak mau menyusuinya anaknya yang masih bayi."
"Iya Ma. Aku tahu kok. Dan aku juga pengin pilih wanita yang baik-baik aja untuk jadi istri aku. Tapi, kalau Mentari mau berubah sih, nggak apa-apa. Aku akan tetap kasih Mentari kesempatan. Siapa tahu, dia bisa berubah dan bisa menerima aku. Dan kami akan hidup bahagia dengan anak kami."
"Yah, semoga sih Mentari mau menerima kamu dan sadar. Kalau cinta kamu ke dia itu sangat besar Mario. Papa salut sama kamu Mario. Andai lelaki lain yang jadi kamu, Papa yakin, kalau dia akan memilih melupakan sejak dulu."
__ADS_1