
Satu minggu kemudian.
Bunyi sirene mobil polisi berbunyi. Mentari masih berada di dalam rumahnya. Mentari tampak panik saat mendengar suara sirine mobil polisi itu. Dia yakin, kalau Fabian yang sudah mengundang polisi-polisi itu untuk datang ke rumahnya.
Mentari buru-buru melangkah ke ruang tamu dan mengintip dari balik jendela. Ternyata memang benar, kalau sudah ada dua mobil polisi terparkir di depan rumahnya. Mentari sudah di kepung sekarang. Dan dia sudah tidak akan bisa lari lagi.
"Gawat. Kenapa Fabian harus bawa-bawa polisi segala sih. Kenapa mereka sampai tahu persembunyian aku di sini," ucap Mentari yang masih tampak panik.
"Jangan-jangan, mereka mau bawa aku ke penjara lagi," ucap Mentari.
Mentari buru-buru melangkah untuk mengambil Firen yang ada di tempat tidur.Dia kemudian menggendong Firen sampai ke belakang rumah. Mentari akan kabur lewat pintu belakang. Namun, Mentari sudah tidak bisa kabur lagi. Di belakang rumahnya juga sudah ada polisi yang mengepungnya.
Karena dua anggota polisi bersenjata, sudah mengepungnya, Mentari sudah tidak bisa berkutik lagi saat melihat kedatangan polisi itu.
Tok tok tok...
Suara ketukan pintu dari belakang rumah Mentari terdengar.
Mentari benar-benar ketakutan. Dia takut kalau polisi itu akan menangkapnya. Mentari tidak mau tertangkap dia tidakau masuk ke dalam penjara.
"Duh, aku haus bagaimana ini. Apa aku harus menyerahkan diri saja," gumam Mentari.
Akhirnya Mentari pun mau membuka pintu belakang.
"Selamat siang. Apakah anda yang bernama Mentari?" tanya salah satu dari polisi itu.
"Iya benar Pak," ucap Mentari.
"Anda kami tangkap atas tuduhan penculikan anaknya Pak Fabian" ucap polisi itu lagi.
"Aku nggak menculik anaknya Fabian Pak," ucap Mentari mencoba untuk mengelak.
"Tapi itu. Kenapa kamu bawa-bawa bayi. Sekarang kamu tidak bisa kabur lagi dari kami."
Seorang polisi, mengambil dengan paksa bayi yang ada di dalam gendongan Mentari. Mereka kemudian membawa bayi itu pergi dan akan menyerahkannya ke orang tuanya.
Sementara Mentari, hanya bisa pasrah dipaksa ikut bersama dengan ke dua polisi itu.
Di depan rumah Mentari, sudah ada Fabian dan Syanum. Mereka mendekat ke arah Mentari.
"Ternyata kamu orang yang sudah menyembunyikan bayi aku. Jahat banget sih kamu Mentari," ucap Syanum.
"Abi. Tolong aku Abi. Bebaskan aku. Maafkan aku Abi, aku udah salah sama kamu," ucap Mentari dengan berderaian air mata.
__ADS_1
Fabian diam. Entah apa yang sedang dia fikirkan.
'Kenapa Mentari bisa sejahat ini sih sama aku. Kenapa dia bisa melakukan hal kriminal begini.' batin Fabian.
"Mentari. Kamu harus bertanggung jawab dengan semua perbuatan kamu," ucap Fabian.
"Aku ngga nyangka sama kamu ya Mentari. Kenapa kamu bisa sejahat ini. Kenapa kamu tega menculik bayi aku dan Syanum" ucap Fabian lagi.
"Kamu itu seorang ibu juga Mentari. Seharusnya kamu fikirkan bayi kamu juga. Dan sekarang anak kamu meninggal saja, kamu sama sekali tidak mau hadir ke pemakamannya. Ibu macam apa kamu itu Mentari," ucap Syanum.
"Abi. Maafkan aku Abi. Tolong Abi, lepaskan aku. Cabut tuntutan kamu itu. Kamu nggak kasihan apa sama aku. Aku itu udah nggak punya siapa-siapa Abi." Mentari menatap Fabian lekat.
"Aku udah maafin kamu Mentari. Sudah sejak dulu aku maafin kamu. Tapi sekarang aku mohon, kamu harus mempertanggungjawabkan semua perbuatan kamu. Bertaubatlah Mentari dengan semua perbuatan yang sudah kamu perbuat. Karena apa yang kamu lakukan itu memang salah." ucap Fabian.
"Bertaubatlah segera Mentari. Sebelum Tuhan mengambil nyawa mu," ucap Syanum.
"Ayo ikut!" ucap salah satu polisi itu membawa paksa Mentari masuk ke dalam mobilnya.
Setelah itu, Mentari akhirnya pergi dengan beberapa polisi itu. Setelah kepergian Mentari,
Fabian menatap ke arah Syanum yang sudah menggendong Firen. Fabian mendekat ke arah Syanum dan tersenyum.
"Jangan kan Mentari. Bandar narkoba, pembunuh berantai, pun pasti akan tertangkap jika polisi sudah turun tangan," ucap Fabian.
Fabian dan Syanum kemudian melangkah pergi meninggalkan tempat itu. Mereka masuk ke dalam mobil dan meluncur untuk pulang ke rumah mereka.
Sesampainya di rumah, Fabian dan Syanum melangkah masuk ke dalam rumah. Di ruang tamu, tampak Bu Reva, Pak Damar, Dila, Adam, dan Dimas berkumpul. Mereka ternyata sejak tadi masih menunggu Fabian dan Syanum juga Firen.
Syanum dan Fabian kemudian duduk berbaur bersama mereka.
Tiba-tiba saja Dimas mendekat ke arah Syanum dan duduk di sisinya.
"Tante, ini Dede Firen. Aku pengin gendong dong," ucap Dimas.
Sepertinya Dimas itu kangen sama Firen.
"Emang kamu bisa gendongnya?" tanya Syanum.
"Bisa dong Tan," jawab Dimas.
"Kamu nggak usah gendong Dede Firen. Kamu aja sini, yang gendong Om," ucap Fabian.
Fabian kemudian langsung memangku Dimas. Semua orang hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Dimas. Sepertinya, Dimas sangat bahagia dengan kehadiran Firen.
__ADS_1
"Dede Firen, nggak akan ke mana-mana Lagi kan?" tanya Dimas.
"Nggak dong sayang." ucap Fabian.
"Em. Mumpung kalian masih pada kumpul di sini, aku cuma mau bilang," ucap Dila tiba-tiba.
Bu Reva, Pak Damar, Fabian dan Syanum menatap ke arah Dila.
"Aku cuma mau bilang, kalau aku mau mengenalkan calon ayahnya Dimas ke kalian semua."
Syanum dan Fabian tersenyum. Mereka sudah tahu, apa yang akan dibicarakan Kak Dila.
"Aku mau minta restu ke mama dan Papa," ucap Dila.
"Aku mau nikah lagi Ma, Pa,"
Bu Reva dan Pak Damar saling menatap.
"Nikah?"
"Iya. Aku sepertinya sudah menemukan ayah pengganti untuk Dimas. Dan dia Mas Adam."
"Oh. Jadi Adam lelaki yang beruntung itu," ucap Pak Damar.
Adam hanya tersenyum.
"Ya udah. Papa sih, setuju-setuju aja kalau kamu mau nikah sama Adam. Tapi ya, nggak bisa buru-buru begitu. Karena harus berproses juga."
"Mama juga setuju. Lagian yang mama lihat, Nak Adam juga baik banget sama Dimas. Dan dia juga sudah banyak membantu keluarga kita," ucap Bu Reva.
"Kalau saya sih, menurut aja yang Dila mau. Saya punya anak perempuan juga di rumah. Dia sepantaran Dimas. Dan dia juga sudah setuju kalau saya menikah lagi dengan Dila," ucap Adam.
"Ya udah. Nanti papa akan fikirkan biaya untuk pernikahan kalian. Tapi, nunggu setahun ya. Karena masih banyak urusan yang harus papa selesaikan."
"Iya Om. Saya akan tunggu setahun atau dua tahun nggak apa-apa. Yang penting, saya cuma mau minta restu aja pada Om dan Tante.
****
Tamat.
Terimakasih ya, untuk para pembaca yang sudah mengikuti cerita ini dari awal sampai akhir. Semoga selalu di lancarkan rezekinya. Terimakasih untuk yang sudah ngasih dukungan lewat like, vote, komen, dan lainnya.
Salam sayang untuk semuanya..
__ADS_1