Mempelai Pengganti Tuan Muda

Mempelai Pengganti Tuan Muda
Malu


__ADS_3

"Ng...nggak Bi. Aku nggak bicara apa-apa sama istri kamu. Aku hanya memberi dia selamat aja kok, atas kelahiran anak kalian," bohong Mentari.


Padahal sejak tadi Mentari sudah membuat Syanum itu emosi sampai dia menangis.


Fabian masih menatap Mentari tajam. Dia seperti tidak percaya dengan kata-kata Mentari.


"Yakin kamu nggak bicara macam-macam sama Syanum?"


"Iya Bi. Aku nggak bicara apa-apa kok sama dia. Tanya saja sama Syanum."


Fabian menyingkirkan tubuh Mentari dan melangkah masuk ke dalam ruangan Syanum.


"Ih. Menyebalkan sekali sih Abi sekarang. Ini semua pasti gara-gara wanita kampung itu. Awas aja ya Syanum kamu. Aku nggak terima. Gara-gara kamu Abi jadi berubah sama aku"


Mentari melangkah pergi meninggalkan ruangan Syanum. Sementara Fabian masuk ke dalam ruangan istrinya.


Fabian terkejut saat melihat istrinya menangis. Fabian buru-buru mendekat ke arah Syanum.


"Syanum. Apa yang terjadi denganmu? kamu kenapa nangis? kamu nggak apa-apa kan Syanum?" tanya Fabian khawatir.


Syanum buru-buru menyingkirkan tangan Fabian.


"Pergi! jangan sentuh aku!" Syanum sudah menatap Fabian tajam.


"Syanum. Kenapa kamu nyuruh aku pergi? aku ini suami kamu Syanum."


"Aku muak melihat wajah kamu Mas. Kamu dan Mentari sama saja. Sama-sama nggak tahu malu dan menyebalkan. Pergi kamu dari sini Mas!" Syanum mengusir Fabian dari rumah.


"Syanum. Aku nggak akan pergi dari sini sebelum kamu menjelaskan. Kamu kenapa menangis? apakah Mentari bicara sesuatu sampai membuat kamu menangis?" tanya Fabian menatap lekat istrinya.


Hiks...hiks...hiks...


"Kamu itu jahat Mas. Kamu udah jahat sama aku. Aku benci sama kamu Mas...!" Syanum sudah memukul-mukul dada bidang suaminya dengan ke dua tangannya.


"Aku benci Mas, sama kamu. Aku benar-benar membenci kamu...!"


Fabian benar-benar tidak mengerti. Apa yang membuat Syanum menangis histeris seperti itu. Fabian yakin, ini semua pasti ulah Mentari.


'Apa yang sudah Mentari lakukan pada istriku'


Fabian tiba-tiba saja memeluk tubuh istrinya.


"Apa yang sudah Mentari katakan tentang aku semua tidak benar sayang. Percayalah, kalau aku sudah tidak punya hubungan apa-apa sama dia. Aku sudah tidak cinta sama dia lagi sayang," bisik Fabian.


Syanum menghentikan tangisannya.


'Apa aku ngga salah dengar. Mas Fabian panggil aku sayang.'


Syanum melepaskan pelukan Fabian.


"Jangan peluk-peluk aku Mas, aku bilang pergi kamu dari sini...!"


Fabian tersenyum.

__ADS_1


"Kenapa kamu mengusirku? apakah kamu tidak mau maafin aku. Tuhan saja, maha pemaaf Syanum. Kenapa kamu ngga mau maafin aku."


Syanum diam. Sebenernya dia masih kesal dengan Fabian. Tapi tidak mungkin dia marah-marah terus dengan suaminya. Syanum lelah.


Beberapa saat kemudian, seorang suster melangkah masuk dengan membawa seorang bayi mungil yang berada di dalam gendongannya.


Suster itu kemudian melangkah mendekat ke arah Syanum.


"Bu Syanum. Ini bayi ibu. Apakah ibu sudah bisa menggendongnya?" tanya suster.


"Tentu aku bisa. Aku kan ibunya. Mana mungkin aku tidak bisa menggendong bayi aku sendiri."


"Bu Syanum sudah bisa ya, menyusui bayi ibu sekarang."


"Ta-tapi Sus. ASI saya belum keluar."


"Makanya ibu coba dulu susui bayi ibu. Agar bisa cepat merangsang ASI ibu agar cepat ke luar."


Suster kemudian memberikan bayi itu pada Syanum. Syanum menerima bayi itu dengan seneng hati.


"Ya udah. Kalau begitu, saya pergi dulu ya. Nanti kalau ada apa-apa, Bu Syanum bisa panggil saya," ucap suster sebelum pergi meninggalkan ruangan Syanum.


"Iya Sus."


Suster kemudian pergi meninggalkan ruangan Syanum.


'Apakah aku harus susui bayi aku, di depan Mas Fabian. Tapi aku malu'


Sejak tadi Syanum masih diam. Dia merasa tidak enak, kalau harus buka-bukaan di depan Fabian.


"Bagaimana mungkin aku akan menyusui bayi aku. Sementara kamu aja masih duduk di sini."


"Lho. Apa masalahnya emang kalau aku duduk di sini. Kamu tinggal susui dia aja. Apa susahnya sih."


"Tapi aku pengin kamu ke luar dulu Mas. Biar aku susui bayi aku dulu."


"Kamu kenapa sih? kamu malu sama aku? apa kamu lupa kalau aku ini suami kamu. Kita itu kan sudah halal. Dan kita juga sudah pernah..."


"Diam! aku bilang pergi ya pergi Mas..! kamu nggak tuli kan!"


Oek...oek... oek...


Tiba-tiba saja bayi itu menangis saat mendengar suara lantang Syanum.


"Iya. Aku pergi. Kasihan anak kita nangis. Cepat susui dia. Jangan biarkan dia kelaparan."


Fabian kemudian pergi meninggalkan ruangan Syanum. Dia kemudian duduk di depan ruangan itu. Sementara Syanum mencoba untuk menyusui bayinya.


"Aaagghhhh..."


Fabian terkejut saat tiba-tiba saja mendengar teriakan Syanum. Fabian buru-buru melangkah masuk kembali ke dalam ruangan itu.


"Syanum. Kamu kenapa?" tanya Fabian khawatir. Dia takut Syanum kenapa-kenapa.

__ADS_1


"Sakit Mas."


"Apanya yang sakit?" Fabian menatap lekat ke arah istrinya.


"Bayinya gigit Mas."


"Apa! mana mungkin bayinya gigit. Kamu ada-ada saja. Anak kita itu belum tumbuh gigi Syanum."


Beberapa saat kemudian, Luna tiba-tiba saja masuk ke dalam ruangan Syanum. Dia terkejut saat melihat Fabian dan Syanum tampak akur.


"Kak Abi, Kak Syanum. Kalian lagi ngapain?" tanya Luna.


Fabian menoleh ke arah Luna.


"Luna."


Luna melangkah menghampiri Fabian dan Syanum. Dia terkejut saat melihat sosok bayi ada di dalam pangkuan Syanum.


"Wah, ini bayi kalian? boleh aku gendong?" tanya Luna.


"Silahkan Lun!"


Luna kemudian mencoba untuk menggendong bayi itu.


"Wah, kok mirip Kak Abi ya."


Fabian dan Syanum saling menatap.


"Iya itu kan anak aku. Jelas mirip sama aku dong."


Syanum menatap suaminya dengan malas.


'Sekarang aja dia berkata seperti itu. Dulu dia selalu menyalahkan aku karena aku hamil. Dia selalu bilang kalau dia belum siap punya anak' batin Syanum.


"Tampan sekali anak kamu Kak. Imut banget sih. Jadi gemes deh," ucap Luna sembari menimang-nimang bayi itu.


"Lun. Jangan lama-lama Lun. Aku juga pengin gandong bayi aku."


"Nggak boleh. Kamu nggak boleh sentuh anak aku Mas."


"Apa kamu bilang! kamu nggak boleh sentuh anak aku sendiri. Dia anak aku Syanum."


"Tapi kamu kan nggak pernah mengharapkan dia."


"Tapi aku sayang sama dia. Karena dia darah daging aku."


"Iya aku tahu. Kamu itu cuma sayang sama anak kamu doang. Tapi kamu nggak pernah sayang dengan ibu yang sudah melahirkan dia."


Fabian menatap lekat istrinya?


"Maksud kamu apa?"


"Aku tahu. Kamu itu cuma pura-pura bahagia dengan kelahiran anak kamu. Padahal hati kamu sekarang masih untuk Mentari."

__ADS_1


"Apa! jangan sok tahu Syanum. Aku udah lama nggak berhubungan lagi dengan Mentari.


"Aku nggak percaya. Kamu aja waktu Mentari lahiran, bela-belain nggak ke kantor dan nggak pulang, hanya untuk menemani Mentari lahiran. Kalau kamu cinta sama Mentari, kenapa kamu tidak nikah saja sama dia dan ceraikan aku."


__ADS_2