Mempelai Pengganti Tuan Muda

Mempelai Pengganti Tuan Muda
Desakan Pak Riko


__ADS_3

Fabian langsung masuk ke dalam mobilnya untuk mengejar taksi yang ditumpangi Mentari. Dia benar-benar penasaran dengan wanita itu.


Taksi itu, berhenti tepat di depan rumah Mentari. Mentari kemudian membayar taksi dan buru-buru turun dari taksi.


Dia kemudian buru-buru melangkah masuk ke dalam rumahnya.


"Mentari. Ada apa?" tanya Pak Riko yang saat ini, masih berada di ruang tengah.


Mentari tidak mengatakan apapun. Dia buru-buru melangkah ke arah kamarnya dan masuk ke dalam kamarnya. Rasanya, Mentari belum siap untuk bertemu Fabian.


"Mentari kenapa ya," gumam Pak Riko yang tampak heran.


Pak Riko kemudian melangkah untuk ke ruang tamu. Dia ingin melihat apa yang terjadi pada anaknya.


Pak Riko terkejut saat melihat Fabian turun dari mobilnya. Fabian buru-buru melangkah ke arah teras depan rumah Mentari dan langsung mengetuk pintu.


Pak Riko yang sejak tadi menatap ke luar jendela, buru-buru membuka pintu rumahnya.


"Fabian. Ada apa?" tanya Pak Riko.


"Om. Tadi aku melihat Mentari Om. Apa Mentari sudah kembali Om?"


Pak Riko diam. Sebenarnya dia malu, jika Fabian tahu tentang kondisi anaknya sekarang. Pak Riko tidak bisa cerita kalau sekarang anaknya hamil di luar nikah. Karena itu merupakan aib juga untuk keluarga Pak Riko.


"Fabian. Tidak ada Mentari di sini. Lebih baik sekarang, kamu pulang Fabian!"pinta Pak Riko.


"Om. Tadi aku melihat Mentari naik taksi dan dia menuju ke sini," jelas Fabian.


"Fabian. Nggak ada Mentari di sini. Lebih baik, sekarang kamu pulang!"


"Nggak Om. Aku nggak mau pulang, sebelum ketemu sama Mentari. Aku ingin bicara dengan dia. Kasih aku waktu sebentar saja Om. Aku mohon!"


"Fabian. Walaupun Mentari ada di sini, Mentari juga tidak akan mau bertemu dengan kamu."


"Tapi kenapa Om?"

__ADS_1


"Karena kamu sudah punya istri. Dan Mentari anak Om itu, tidak akan mau menghancurkan rumah tangga kamu dengan Syanum."


"Om. Aku tahu kalau Mentari sudah kembali. Dan sekarang dia pasti ada di kamarnya kan? izinkanlah aku untuk bertemu Mentari Om."


"Untuk apa kamu mau bertemu Mentari. Kamu itu sudah punya istri Fabian," ucap Pak Riko meninggikan nada suaranya.


"Tapi aku nggak cinta sama istri aku Om. Aku cuma cinta sama Mentari."


Fabian sejak tadi, masih ngotot ingin bertemu Mentari. Sebenarnya, cinta Fabian untuk Mentari itu sudah semakin memudar. Karena Fabian sudah tidak terlalu banyak mengingat wanita itu. Tapi sekarang, dia penasaran dengan Mentari. Mentari pasti punya alasan kenapa dia pergi meninggalkan pernikahannya waktu itu.


"Fabian. Pergilah dari sini! dan jangan cari Mentari lagi! kasihan istri kamu. Seharusnya, kamu itu belajar untuk melupakan Mentari dan belajar untuk mencintai istri kamu Syanum."


"Tapi Om."


"Fabian. Pulanglah! nggak usah kamu mencari Mentari lagi."


Fabian tidak bisa memaksa Pak Riko lagi. Dia dengan tampang kecewa, kemudian pergi meninggalkan rumah Mentari.


Di sisi lain, Mentari masih menatap kepergian Fabian dari jendela kamarnya. Sejak tadi, Mentari tidak berhenti menangis. Sebenarnya dia rindu pada Fabian. Tapi, Mentari harus bisa melupakan lelaki itu, karena Fabian sekarang sudah punya istri.


"Abi, maafkan aku Abi. Aku sudah menghancurkan impian-impian kita," ucap Mentari.


Setelah mobil Fabian menghilang dari halaman depan rumah, Mentari kemudian kembali ke tempat tidurnya. Dia kemudian berbaring di atas ranjangnya.


Beberapa saat kemudian, ketukan terdengar dari luar kamar Mentari.


"Masuk Pa. Nggak aku kunci kok "ucap Mentari.


Pak Riko kemudian masuk ke dalam kamar Mentari. Dia kemudian duduk di sisi Mentari.


"Kamu kenapa?"


Mentari menghapus sisa-sisa air matanya.


"Tadi Fabian ke sini Pa?"

__ADS_1


Pak Riko hanya mengangguk.


"Iya. Dia ngotot ingin ketemu kamu. Tapi, papa melarangnya. Papa nggak mau Fabian tahu kehamilan kamu. Karena Papa juga malu dengan aib ini."


Mentari bangkit duduk. Dia kemudian meraih tangan ayahnya.


"Maafkan aku, Pa. Aku sudah mengecewakan Papa."


Pak Riko menggenggam erat tangan Mentari.


"Ini semua sudah menjadi suratan takdir. Nggak ada yang bisa merubahnya. Sebenernya, Papa ingin tahu. Siapa lelaki yang sudah membuat kamu seperti ini Nak? dari kemarin, kamu belum cerita sama Papa."


Mentari diam. Dia memang tidak pernah memberi tahu siapapun soal siapa lelaki yang sudah menghamilinya. Entah itu sama Fadlan, sama Lisa, ataupun sama ayahnya.


Mentari jijik jika dia harus mengingat kejadian malam itu. Dia benar-benar sangat membenci Mario. Seandainya dulu, Fadlan dan Lisa tidak melarangnya untuk aborsi, mungkin Mentari juga sudah membunuh bayi yang ada di dalam kandungannya. Karena Mentari membenci benih yang tertanam di rahimnya. Benih seorang lelaki yang sangat dibencinya dalam kehidupan Mentari.


"Kamu nggak usah takut Nak. Kamu bicara saja sama Papa. Siapa yang sudah menghamili kamu?"


"Aku nggak tahu siapa lelaki itu," bohong Mentari.


"Bagaimana mungkin kamu nggak tahu? kamu pasti masih ingat kan dengan wajahnya?"


Mentari masih diam.


"Kamu katakan jujur sama Papa, siapa lelaki yang sudah menghancurkan kamu Mentari?" Pak Riko sudah memegang kedua bahu Mentari dengan erat. Dia berharap anaknya mau mengatakan yang sejujurnya.


"Kamu katakan sama Papa. Agar Papa bisa meminta pertanggungjawaban sama dia. Dia harus tanggung jawab dengan kehamilan kamu. Kamu tidak boleh diam terus seperti ini. Bila perlu, kita laporkan dia ke polisi."


"Hiks...hiks...hiks... Tidak perlu Pa. Kita akan mencari dia ke mana. Aku juga nggak kenal sama dia."


Sejak tadi Mentari masih berbohong. Dia memang tidak mau ada orang yang tahu, hubungan satu malamnya dengan Mario. Karena dia benci dengan Mario juga dengan anak yang dikandungnya.


Jika saja Mentari jujur kalau yang menghamilinya itu Mario, pasti ayahnya akan meminta Mario untuk menikahi Mentari. Dan Mentari tidak mau menikah dengan lelaki jahat seperti Mario. Lelaki pemabuk, suka buat onar dan sangat hobi sekali berkelahi. Mentari tidak mau anaknya punya ayah seperti Mario. Bagi Mentari, lebih baik Mentari membesarkan anaknya sendiri dari pada dia disuruh nikah dengan Mario.


"Mentari. Lelaki itu harus mau menikahi mu. Karena dia sudah menghamili kamu. Dia harus tanggung jawab."

__ADS_1


Sejak tadi, Mentari hanya bisa menangis. Membuat Pak Riko, jadi sedih.


"Ya udah, kalau kamu nggak mau cerita sekarang. Tapi satu hal yang harus kamu ingat Nak. Kamu harus minta pertanggungjawaban pada lelaki itu. Dan Papa harap, kamu akan bertemu lelaki itu di kemudian hari dan papa harap, dia mau bertanggung jawab atas kehamilan kamu. Walau bagaimanapun juga, anak kamu itu masih butuh seorang ayah."


__ADS_2