
Setelah mengantar Syanum sampai ke rumahnya, Fadlan tidak langsung pulang ke apartemennya. Dia mampir dulu ke rumah Lisa.
Sejak sore tadi, Fadlan masih berdiri di depan rumah Lisa. Fadlan sudah mengetuk pintu rumah Lisa berkali-kali, tapi Lisa tidak mau membuka pintu untuknya. Dan sepertinya, rumah Lisa juga sedang sepi. Mungkin ke dua orang tua Lisa sedang pergi. Dan Lisa sedang sendiri di rumah.
"Aku tahu Lis. Kamu ada di dalam. Kenapa kamu nggak mau buka pintunya Lis?"
Fadlan tidak akan pernah menyerah sebelum Lisa mau membuka pintu. Fadlan tidak mau Lisa salah faham terus sama dia.
Fadlan ke rumah Lisa, hanya ingin bertemu Lisa. Dia ingin menjelaskan yang sebenarnya pada Lisa, kalau Mentari dan Fadlan memang tidak punya hubungan apa-apa.
"Aku tahu, Lisa pasti sekarang ada di kamar. Mungkin, aku bisa lewat samping aja kali ya," gumam Fadlan.
Fadlan kemudian melangkah ke samping rumah Lisa untuk menghampiri kamar Lisa.
Tok tok tok...
Fadlan mengetuk jendela kamar Lisa.
"Lisa. Sayang, kamu ada di dalam kan? keluarlah Lis! aku ingin menjelaskan semuanya sama kamu Lis," ucap Fadlan.
"Lis. Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Mentari Lis. Aku cuma mau menyelamatkan dia saja. Karena waktu itu, dia mau bunuh diri. Percayalah sama aku sayang," lanjutnya.
Di dalam kamar, Lisa hanya diam sembari sesekali melirik ke jendela kamarnya. Dia kemudian menatap ke arah jam dinding yang sudah menunjuk ke angka tujuh.
"Kenapa sih, tuh orang. Keras kepala banget. Kenapa dia nggak mau pulang-pulang. Udah malam begini juga," ucap Lisa.
'Biarin sajalah dia. Nanti juga dia pergi sendiri. Aku lagi malas banget ketemu sama dia.' batin Lisa.
Lisa sama sekali tidak menghiraukan calon suaminya. Dia tidak mau membuka jendela kamarnya, apalagi pintu depan. Sampai membuat Fadlan lelaku dan putus asa.
"Ya udah, kalau kamu memang tidak mau keluar dan ketemu sama aku. Tapi aku tetap akan ke sini terus sayang, sampai kamu mau maafin aku."
Fadlan akhirnya memutuskan untuk pulang. Dia melangkah kembali ke halaman depan. Sebelum dia sampai ke mobilnya, sebuah mobil masuk ke dalam gerbang rumah Lisa.
"Tante dan Om sudah pulang," gumam Fadlan.
Fadlan kemudian buru-buru menghampiri mobil orang tua Lisa. Beberapa saat kemudian, orang tua Lisa turun dari mobilnya.
"Selamat malam Om, Tante," sapa Fadlan pada ke dua orang tua Lisa.
"Kamu kenapa di luar? nggak masuk ke dalam?" tanya ibu Lisa.
"Iya. Sudah dari tadi ya kamu di sini?" tanya ayah Lisa.
"Om, Tante, aku ke sini cuma mau bertemu Lisa. Tapi sejak tadi, Lisa tidak mau membuka pintu. Mungkin dia masih marah sama aku," jelas Fadlan.
__ADS_1
"Kalian berantem?" tanya ibu Lisa menatap Fadlan lekat.
"Ini cuma kesalahan pahaman aja kok Tante."
"Kami baru pulang makan malam di luar Fadlan. Tadi sore Lisa mau kami ajak, tapi dia tidak mau. Karena dia juga baru pulang. Mungkin dia masih capek," jelas ayah Lisa.
Fadlan hanya manggut-manggut.
Orang tua Lisa, sepertinya tidak tahu kalau tadi pagi Lisa sempat membuat orang kecelakaan. Karena dia kebut-kebutan di jalan. Dan Fadlan juga tidak mau bicara pada orang tua Lisa tentang masalah itu.
Fadlan tidak mau kalau Lisa sampai di marahi orang tuanya. Bisa-bisa, Lisa tambah marah sama Fadlan, kalau sampai Fadlan melaporkan kejadian watu pagi pada orang tua Lisa.
"Ayo masuk Fadlan!" ajak ayah Lisa.
"Aku mau langsung pulang aja deh Om. Aku capek banget. Dan besok aja deh, aku ketemu sama Lisa lagi."
"Ya udah. Kamu harus selesaikan baik-baik masalah kamu. Kamu jangan berantem terlalu lama sama dia. Tahun depan kalian sudah harus menikah. Bukankah seperti itu, keinginan orang tuamu?" ucap ayah Lisa lagi.
"Iya Om. Kalau begitu, aku pamit pulang dulu ya."
Fadlan berpamitan kepada ke dua orang tua Lisa. Fadlan kemudian mencium tangan ke dua orang tua Lisa. Setelah itu, dia masuk ke dalam mobilnya dan meluncur untuk pulang ke apartemennya.
****
Malam ini, Mentari masih duduk di sofa. Sejak tadi dia masih menunggu Fadlan pulang. Sudah jam sepuluh malam Fadlan belum juga pulang. Mentari tidak tahu ke mana sebenarnya Fadlan. Dan Mentari sangat mengkhawatirkan Fadlan.
"Coba aku telpon dulu deh. Mungkin dia masih di rumah sakit." Mentari kemudian mengambil ponselnya.
Setelah itu, Mentari menelpon Fadlan.
"Halo..."
"Dokter Fadlan. Kamu ada di mana? kenapa kamu belum pulang Dok?"
"Aku lagi di jalan Mentari. Sebentar lagi juga sampai kok."
"Oh. Ya udah. Aku cuma khawatir aja sama kamu."
"Ya udah. Aku masih ada di jalan Mentari. Aku tutup dulu ya telponnya."
"Iya. Assalamualaikum."
"Wa'alakiumsalam."
Mentari mengakhiri telponnya.
__ADS_1
Beberapa saat Mentari menunggu Fadlan . Tiba-tiba saja, bel dari luar berbunyi. Mentari segera melangkah untuk membuka pintu.
"Dokter Fadlan. Kamu sudah pulang?"
"Iya Mentari." Fadlan melangkah masuk ke dalam.
Mentari kemudian menutup pintunya kembali. Setelah itu, dia mengikuti Fadlan masuk. Mentari kemudian duduk kembali di sofa.
"Aku mau bicara sama kamu Dokter," ucap Mentari yang membuat Fadlan menatapnya.
"Bicara apa?" tanya Fadlan.
"Duduklah dulu Dokter!" pinta Mentari.
Dokter Fadlan, kemudian duduk di dekat Mentari duduk.
"Dokter, sebelumnya aku mau ngucapin terima kasih karena Dokter sudah mau menyelamatkan aku waktu aku mau bunuh diri. Tapi, sekarang aku mau minta maaf sama Dokter."
Fadlan mengernyitkan alisnya bingung.
"Kamu mau minta maaf soal apa?" tanya Fadlan.
"Soal tadi pagi. Maafkan aku, gara-gara aku, Dokter Fadlan jadi berantem sama calon istrinya."
"Oh. Masalah Lisa? kamu nggak perlu khawatirkan soal itu. Aku bisa selesaikan masalah ini sendiri. Lagian Lisa, juga nggak akan lama kok marahnya."
"Dokter Fadlan. Aku benar-benar tidak enak, kalau aku harus kelamaan tinggal di sini. Tapi aku juga bingung mau pulang ke rumah."
"Terus maksud kamu apa?"
"Aku mau pergi aja dari sini Dokter."
"Lho kok pergi."
"Aku kan sudah bilang, aku benar-benar tidak enak Dokter, kalau harus tinggal berdua di sini sama Dokter. Kita itu bukan suami istri, kita juga bukan muhrim. Nggak pantas aja dilihatnya. Dan aku juga tahu, kalau Dokter sudah punya tunangan. Pasti Lisa sekarang akan mikir macam-macam Dok tentang kita."
Dokter Fadlan diam. Mungkin ada benarnya juga apa yang dikataan Mentari. Dan Lisa juga tidak akan pernah mau memaafkan dia kalau Fadlan saja masih tinggal berdua dengan Mentari.
"Kalau kamu mau pergi, emang kamu mau pergi ke mana Mentari? apa baru bisa tenang kalau kamu mau pulang ke rumah orang tuamu."'
"Aku nggak tahu, aku mau pergi ke mana. Tapi, aku juga belum siap untuk pulang. Aku nggak mau membuat Papaku sedih. Aku sudah mengecewakannya. Bukan cuma mengecewakan Papaku saja. Aku juga sudah mengecewakan banyak orang. Pasti sekarang calon suamiku sedang mencariku ."
"Kalau kamu mau pulang, aku akan antar kamu pulang. Tapi kalau kamu nggak mau pulang, kamu mau tinggal di mana? apa kamu punya saudara lain."
"Aku nggak mungkin ke rumah saudara. Karena, Papa pasti akan menemukan aku. Aku pengin ngontrak rumah aja."
__ADS_1
"Ya udah. Kamu sekarang tidur aja Mentari. Nggak usah fikiran macam-macam. Besok, kita bicarakan lagi soal ini."
Mentari mengangguk. Setelah itu Dokter Fadlan melangkah pergi dan masuk ke dalam kamarnya.