
Fabian menatap jam tangannya. Waktu sudah menunjukkan jam delapan malam. Sudah lebih dari satu jam Aira dan Fabian berada di cafe.
"Ra. Udah malam. Kita pulang yuk! aku akan antar kamu pulang."
Aira tersenyum.
"Iya Bi. Makasih ya Bi. Untuk makan malamnya."
"Iya Ra."
Fabian dan Aira kemudian melangkah pergi meninggalkan cafe. Mereka menuju ke parkiran mobil. Fabian membukakan pintu mobil untuk Aira.
"Masuk Ra!" pinta Fabian.
Aira mengangguk. Setelah itu, dia masuk ke dalam mobil. Aira duduk di depan bersama Fabian.
Fabian dan Aira meluncur pergi meninggalkan cafe.
Sejak tadi, Aira masih menatap ke luar jendela mobil. Bukannya bahagia karena dia sudah bisa jalan berdua dengan Fabian, tapi justru dia semakin sedih saja, saat tahu perasaan Fabian yang sebenarnya pada Mentari.
"Kamu kenapa Ra? kenapa kamu diam aja? kamu lagi mikirin apa?" tanya Fabian di sela-sela menyetirnya.
Aira menatap Fabian.
"Aku tidak apa-apa Bi. Cuma ngantuk aja."
"Hehe... jadi kamu ngantuk? pantas aja kamu dari tadi diam. Kalau ngantuk tidur aja Ra."
"Bi. Kalau boleh, aku mau pinjam bahu kamu untuk jadi bantal aku."
"Boleh Ra. Silahkan!"
Aira kemudian bersandar di bahu Fabian. Dia memutuskan untuk tidur. Aira tahu, Fabian belum bisa mencintainya. Tapi Aira yakin, suatu hari nanti, pasti Fabian mau membalas cintanya. Saat Fabian sadar, kalau Airalah wanita yang terbaik. Bukan Mentari atau wanita manapun.
Beberapa saat kemudian, Fabian sampai di depan rumah Aira. Fabian melirik ke samping. Aira tampak nyenyak sekali tidurnya. Fabian sebenarnya tidak enak, harus membawa Aira sampai malam, sampai dia tertidur. Dia juga tidak enak untuk membangunkan gadis itu.
"Ra, Aira. Bangun Ra...!" Fabian menepuk-nepuk pipi Aira.
Aira mengerjapkan matanya. Dia terkejut saat melihat, ternyata mobil Fabian sudah berhenti tepat di depan rumahnya.
"Turun Ra. Udah sampai."
Aira menegakan tubuhnya sembari mengucek matanya. Setelah itu dia menatap Fabian.
"Udah sampai ya. Cepat banget," ucap Aira.
Fabian tersenyum.
"Ra. Sejak tadi kamu itu pules banget tidurnya. Sampai aku aja, nggak enak untuk bangunin kamu."
"Ya udah. Aku turun ya Bi. Terimakasih untuk malam ini."
__ADS_1
"Kalau kamu mau, lain kali kita jalan-jalan lagi. Jujur, aku pusing kalau harus di rumah terus," ucap Fabian.
'Apa lagi, harus ketemu sama istri aku yang membosankan itu setiap hari,' batin Fabian.
Fabian tidak pernah cerita apapun tentang Syanum pada Aira. Menurut Fabian, lebih baik Aira itu tidak perlu tahu tentang Syanum. Karena Fabian malu, jika teman-teman yang lainnya tahu tentang Syanum. Cukup orang-orang yang hadir dalam pernikahan dia dan Syanum saja yang tahu.
"Boleh Bi. Lain kali kita jalan lagi ya. Aku juga nggak punya teman di sini. Teman dekat aku, sudah berkeluarga semua. Cuma tinggal kamu Bi, teman aku yang masih lajang."
Fabian mengangguk. Setelah itu dia menyalakan mesin mobilnya.
"Bi. Hati-hati di jalan ya."
"Iya Ra. Aku pergi dulu."
Aira melambaikan tangannya sebelum Fabian pergi. Begitu juga dengan Fabian. Dia ikut melambaikan tangannya sebelum dia pergi meninggalkan Aira.
***
Di sisi lain, Syanum masih berdiri di sisi jendela kamarnya. Sejak tadi, dia masih menunggu suaminya pulang. Karena tidak biasanya Fabian pulang malam. Biasanya jam lima sore Fabian sudah pulang dari kantor. Kecuali ngelembur.
"Mas Fabian ke mana ya. Kenapa dia nggak pulang-pulang juga. Apa dia nggak tahu, kalau sejak tadi aku nungguin dia. Bukannya aku kangen sama dia, tapi aku khawatir aja sama dia. Aku takut dia kenapa-kenapa di jalan. Karena dari tadi, dia nggak balas chat aku. Dia juga nggak mau angkat telpon dari aku."
Deru mobil dari luar rumah, tiba-tiba saja terdengar. Syanum melihat dari atas, mobil suaminya sudah memasuki halaman depan rumahnya. Syanum tersenyum saat melihat Fabian pulang.
"Akhirnya suamiku pulang juga."
Syanum melangkah ke luar dari kamarnya. Dia kemudian menuruni anak tangga dan sampailah dia di ruang keluarga.
"Syanum. Aku fikir, kamu udah tidur," ucap Dila.
"Belum Kak. Aku lagi nunggu Mas Fabian pulang."
"Tadi mama dengar suara mobil di depan. Mungkin itu Fabian. Coba aja kamu lihat."
Syanum mengangguk. Dia kemudian melangkah untuk menyambut kehadiran suaminya.
Syanum membuka pintu depan sebelum Fabian mengetuknya. Syanum tersenyum saat menatap Fabian.
"Tuan muda. Kenapa baru pulang?" tanya Syanum.
"Aku lagi ada urusan sedikit di luar kantor."
"Urusan apa?"
"Untuk apa kamu tanya-tanya. kepo banget sih!"
Fabian melenggang masuk ke dalam rumahnya dan meninggalkan Syanum di depan. Syanum buru-buru menutup pintu rumahnya. Dia kemudian mengikuti Fabian masuk.
Sesampai di ruang keluarga, Pak Damar menatap tajam ke arah anaknya.
"Kenapa jam segini kamu baru pulang. Dari mana aja kamu?" tanya Pak Damar.
__ADS_1
"Aku lagi ada urusan sebentar Pa sama teman."
"Kamu kan sekarang sudah punya istri. Lain kali, kalau mau pulang malam atau pulang telat, kamu harus kasih kabar ke istri kamu. Agar istri kamu itu tidak nungguin kamu," ucap Pak Damar lagi.
"Lihat tuh istri kamu. Dari tadi cemas nungguin kamu."
"Iya aku tahu. Aku lagi capek banget Ma, Pa. Aku mau langsung ke kamar."
"Ya udah. Sana Syanum. Temani suami kamu ke kamar."
Syanum mengangguk. Setelah itu, Fabian dan Syanum bersamaan melangkah untuk ke kamar mereka.
Fabian dan Syanum sudah berada di dalam kamar. Seperti biasa, kalau di dalam kamar, mereka hanya bisa saling diam. Mereka cuma pura-pura mesra saja di depan keluarganya. Namun di dalam kamar, mereka seperti orang asing saja.
Syanum duduk di sisi ranjang sembari masih mengamati suaminya.
"
'Sebenarnya, suami aku ini dari mana sih. Apa mungkin, dia itu baru saja ketemuan sama wanita yang sering menelponnya itu. Huh, kenapa sih aku punya suami nyebelin banget gitu. Pernikahan baru seumur jagung, aja udah berani-beraninya mau selingkuh.' batin Syanum.
Entah kenapa, akhir-akhir ini hati Syanum selalu sakit, saat memikirkan Fabian yang sering diam- berteleponan dengan wanita. Mungkinkah Syanum sekarang sudah mempunyai perasaan cinta untuk suaminya.
"Kenapa kamu ngelihatin aku seperti itu?" tanya Fabian sembari membuka dasinya.
Syanum menatap ke arah lain.
"Siapa juga yang lagi ngelihatin kamu. Aku cuma tadi lagi ngelihatin nyamuk."
"Hehe...mana ada di sini nyamun Syanum. Kamar aku ini anti nyamuk. Kamar kamu mungkin yang banyak nyamuk."
"Kata siapa nggak ada nyamuk. Semalam aja aku digigit."
Setelah membuka dasi, Fabian kemudian membuka kemejanya. Setelah itu dia melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
"Kamu mau mandi Tuan muda?" seru Syanum.
"Kalau mau mandi, aku akan siapkan baju kamu."
"Ambilkan aku handuk saja Syanum. Setelah ini kamu ke luar. Karena aku mau ganti baju."
"Iya."
Syanum kemudian melangkah untuk mengambil handuk Fabian. Setelah itu dia mengetuk pintu kamar suaminya.
Tok tok tok...
"Tuan. Ini handuknya."
Fabian membuka pintu kamar mandi, dengan salah satu tangannya ke luar untuk mengambil handuk.
"Terimakasih."
__ADS_1
"Iya. Sama-sama. Aku ke luar dulu ya."