
"Mario. Kamu mau bawa aku ke mana Mario?"tanya Mentari saat berada di dalam perjalanan.
"Turunkan aku Mario. Cepat turunkan aku..!"rengek Mentari.
Sejak tadi, Mentari merengek minta diturunkan.
Beberapa saat kemudian, Mario menghentikan laju motornya setelah dia sampai di sebuah rumah kecil.
"Turun...!" pinta Mario.
Mentari kemudian turun. Begitu juga dengan Mario.
"Mario. Apa yang mau kamu lakukan padaku?" tanya Mentari dengan takut-takut.
"Nggak usah banyak tanya. Ikut aku." Mario mencengkeram pergelangan tangan Mentari dengan kuat.
"Mario, lepaskan aku!"
Mario kemudian membawa masuk Mentari ke dalam rumah kecil yang entah rumah siapa.
Mentari buru-buru melepaskan tangannya dari genggaman tangan Mario. Dia merasa kesakitan. Pergelangan tangannya juga, tampak memerah.
"Mario. Apa sebenarnya mau kamu Mario. Kenapa kamu bawa aku ke sini." Mentari sudah menatap tajam Mario.
Mario menyeringai.
"Tenang aja sayang.Aku tidak akan macam-macam lagi sama kamu. Aku cuma ingin kita bicara. Duduklah!"
Mario menyuruh Mentari untuk duduk. Mentari menurut duduk.
"Ada apa Mario?" tanya Mentari.
"Ke mana anak aku?" Tiba-tiba saja Mario menanyakan soal anaknya. Membuat Mentari bingung untuk menjawabnya.
'Kenapa dia harus tanyakan soal anaknya.' batin Mentari.
"Anak siapa yang kamu maksud?" tanya Mentari yang pura-pura tidak tahu.
"Anak kita."
"Anak kita yang mana?" ucap Mentari.
"Jangan pura-pura tidak tahu Mentari. Aku tahu, kalau kamu sempat hamil kan? dan sekarang kamu sudah melahirkan."
Mentari membuang wajahnya ke arah lain. Dia malas sekali untuk menatap lelaki itu. Mentari sangat membenci Mario. Tidak pernah terpikir sedikit pun di benaknya, kalau dia akan dinikahi Mario, dan membina rumah tangga dengannya.
"Mario. Kenapa sekarang penampilan kamu jadi berubah begitu?" tanya Mentari.
Mario menatap tubuhnya sendiri.
"Oh, ini. Memang kenapa kalau sekarang aku berubah. Aku memang berubah. Tapi, cintaku ke kamu tidak pernah berubah."
Hoek...
"Siapa juga Mario, wanita yang mau sama kamu. Apalagi penampilan kamu jelek begitu. Aku juga nggak akan mau. Bikin mual ini perut," ucap Mentari
"Itu sih terserah kamu. Nggak usah mengalihkan topik pembicaraan. Aku ingin tahu Mentari. Di mana anak aku?"
"Anak, anak, anak, untuk apa kamu tanyakan soal anak padaku. Aku nggak punya anak."
__ADS_1
"Bohong. Aku tahu kalau kamu hamil anak aku."
"Kalau iya, lalu kamu mau apa? kamu mau ngambil anak aku. Silahkan...! silahkan ambil bayi aku Mario kalau kamu peduli dengannya. Aku yakin, kamu juga nggak akan mampu untuk mengurusnya."
Mario diam. Yah, dia tahu kalau sekarang hidupnya sangat tidak jelas. Karena orang tuanya sudah mengusirnya dari rumah. Tidak mungkin Mario bisa mengurus seorang bayi dengan keadaannya yang sekarang.
Mentari bangkit berdiri.
"Mau ke mana kamu. Aku belum selesai bicara."
"Aku mau pulang."
"Pulang. Tapi aku belum selesai bicara Mentari."
"Kamu mau apa sebenarnya Mario...! jangan tahan aku di sini. Di rumah aku punya bayi. Dan dia sudah aku tinggal sejak sore tadi. Dan sekarang sudah malam."
Mario meraih tangan Mentari.
"Izinkanlah aku untuk ketemu anak aku Mentari."
"Untuk apa?"
"Aku ingin tanggung jawab atas semua perbuatanku."
"Tanggung jawab? apa yang mau kamu tanggung jawabkan Mario. Kamu lihat diri kamu sekarang. Kamu ngaca dulu Mario. Kamu tidak pantas menjadi ayah dari bayi aku."
"Apa kamu bilang?"
"Lihat dulu. Penampilan kamu kayak gembel gitu. Tanggung jawab seperti apa yang kamu maksudkan."
"Aku akan menikahi kamu Mentari. Kita akan rawat anak kita sama-sama."
"Apa! menikah? sama kamu. Apa aku nggak salah dengar. Aku nggak mau nikah sama kamu. Bagaimana caranya kamu menafkahi aku dan anakku kalau hidup kamu aja lontang-lantung nggak jelas kayak gini."
"Kamu selalu bilang seperti ini Mario. Tapi nyatanya, ucapan kamu itu bohong semua. Aku malas Mario, untuk berdebat dengan kamu. Buang-buang waktu aku aja kamu Mario."
Mentari buru-buru melangkah pergi meninggalkan Mario. Namun, Mario tidak tinggal diam, dia buru-buru melangkah untuk mengejar Mentari.
"Mentari."
"Mau apa lagi Mario. Kamu mau, anak kita nangis kelaparan di rumah. Aku harus pulang Mario. Jangan tahan-tahan aku lagi."
"Baik. Silahkan kalau kamu mau pergi."
Mario akhirnya mengizinkan Mentari untuk pergi.
Akhirnya Mentari pun pergi meninggalkan Mario. Sementara Mario hanya bisa menatap kepergian Mentari.
"Siapa wanita itu?" tanya lelaki yang sudah ada di dekat Mario. Sepertinya dia adakah teman baru Mario selama Mario menjadi gelandangan.
"Dia cintaku," jawab Mario singkat.
"Apa! cintamu? kamu sangat mencintai dia?" tanya lelaki itu lagi.
"Iya. Dan aku juga sudah punya anak dari dia."
"Maksudnya?"
"Karena aku sudah menghamili dia."
__ADS_1
Lelaki itu terkejut.
"Apa! menghamili dia. Bagaimana bisa?" lelaki itu tampak heran.
"Aku nggak rela, dia dimiliki lelaki lain. Aku nggak mau, wanita itu berbahagia dengan suaminya di atas penderitaanku. Jika aku menderita, dia juga harus ikut merasakannya. Karena dia, sudah berkali-kali menolak aku. Bahkan sampai sekarang pun, dia masih menolak untuk aku nikahi. Padahal tujuan ku kan cuma untuk mempertanggungjawabkan semua perbuatanku."
"Kamu harus sabar menghadapi wanita seperti dia Mario. Kalau menurutku sih, kamu lupakan saja dia."
"Lupakan dia?"
"Iya. Kamu bisa kan cari wanita yang lain. Lebih baik, kita dicintai dari pada kita mencintai tapi tidak terbalaskan. Kalau aku jadi kamu, mending aku nyerah saja dan cari wanita lain. Kelihatannya,wanita tadi juga wanita yang sangat sombong."
***
Maafkan aku, untuk semua kesalahan aku Syanum. Aku janji, aku akan menebus semua kesalahan aku.
"Apa! Syanum? ternyata ini bunga buat Kak Syanum. Aku fikir, ini bunga buat aku."
Setelah membaca tulisan yang ada di dalam kartu ucapan itu, Luna terkejut. Karena bunga itu bukan untuknya tapi untuk Syanum.
Luna melangkah ke arah Syanum dan Ryan. Dia kemudian memberikan bunga itu kepada Syanum.
"Ini bunga buat kamu Kak."
Syanum terkejut. Dia kemudian meraih bunga yang ada di tangan Luna.
"Bunga dari siapa?"
"Nggak tahu. Nggak ada namanya. Di dalam kartu ucapan itu, cuma tertulis kata maaf saja untuk kamu Kak."
Syanum mengernyitkan alisnya.
"Bunga dari siapa ya?"
"Dari suaminya mungkin," celetuk Ryan.
"Kak Fabian? Kak Fabian yang ngirim bunga ini. Mustahil banget tahu nggak sih. Aku mah nggak percaya kalau Kak Fabian yang ngirim bunga ini," ucap Luna.
"Kalau bukan Fabian lalu siapa. Kecuali kalau diam-diam Syanum punya penggemar rahasia," ucap Ryan.
"Bunga ini, bukan dari kamu kan Kak ?" Luna menatap mata Ryan. Mencari tahu apa ada kebohongan di sana.
"Aku? ya nggaklah. Kalau aku mau ngasih bunga, aku kasih langsung aja ke Syanum. Untuk apa aku taruh di depan pintu. Nggak banget deh."
"Iya juga sih. Lalu, siapa dong yang ngirimin Kak Syanum bunga. Jadi pusing deh."
Syanum tersenyum.
"Ya udahlah. Yang penting aku suka bunganya. Bunganya sangat bagus."
Syanum bangkit berdiri.
"Mau ke mana Kak?" tanya Luna.
"Aku mau bawa bunga ini ke kamar."
"Kamu udah mau tidur Kak?" tanya Luna lagi.
Syanum mengangguk."Iya."
__ADS_1
"Kalau gitu, aku juga deh. Aku juga udah ngantuk," ucap Luna.
Syanum dan Luna kemudian melangkah untuk pergi ke kamar meninggalkan Ryan sendirian di ruang tengah.